Indonesia Dinilai Hanya Menjadi Pemasok Sekunder dalam Industri Kecerdasan Buatan Global

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 05 Feb 2026, 15:39 WIB
Kholikul Alim dari Jaring.id dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kholikul Alim dari Jaring.id dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lampu notifikasi di ponsel cerdas itu berkedip pelan di atas meja kayu sebuah kafe yang ramai. Di seberangnya, dua orang tengah terlibat obrolan hangat tentang rencana membeli sepatu hiking untuk pendakian pekan depan. Mereka membahas merek, harga, hingga jalur pendakian yang ingin ditempuh.

Tak lama setelah percakapan itu berakhir, salah satunya terdiam. Layar ponselnya tiba-tiba dipenuhi iklan sepatu gunung dari berbagai merek ternama. Ia terkejut. Jemarinya belum sempat menyentuh kolom pencarian Google. Tidak ada riwayat pencarian. Hanya obrolan santai di meja kafe.

Kholikul Alim dari Jaring.id, mengatakan peristiwa semacam itu bukan lagi sekadar kebetulan teknologi. Ia melihatnya sebagai sinyal ancaman serius terhadap privasi pengguna.

Alim mengingatkan pada putusan pengadilan di California yang menjatuhkan denda triliunan rupiah kepada perusahaan teknologi raksasa.

“Google terbukti menguping semua pembicaraan kita di handphone. Data yang direkam itu kemudian dipakai untuk marketing targeting,” ungkapnya dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” yang di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). 

Menurut Alim, kecerdasan buatan saat ini bekerja dengan cara mengumpulkan hampir seluruh jejak digital manusia. Setiap percakapan, klik, dan instruksi menjadi bahan bakar gratis untuk melatih mesin agar semakin memahami perilaku manusia.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, posisi Indonesia dalam ekosistem global AI masih lemah. Negara ini lebih banyak berperan sebagai pemasok data dan infrastruktur, bukan sebagai pengembang utama teknologi.

Kolonialisme Digital

Dalam lima tahun terakhir, investasi kecerdasan buatan yang masuk ke Indonesia mencapai Rp9,16 triliun. Angka ini terlihat menjanjikan. Namun, Alim mengingatkan agar publik tidak terburu-buru merasa bangga.

Sebagian besar dana tersebut, kata dia, hanya digunakan untuk membangun pusat data di kawasan strategis seperti Batam dan Bekasi.

“Indonesia selalu dijadikan sumber tenaga kerja murah dan lahan murah. Kalau bangun data center di California mahal, buat sewa tanah dan air pendinginnya. Jadi dibangun di Indonesia saja karena lebih murah,” ujarnya.

Pola ini mengingatkan pada praktik lama eksploitasi sumber daya. Indonesia menyediakan lahan, energi, dan air. Sementara riset, pengembangan teknologi inti, dan keuntungan utama tetap berpusat di Amerika Serikat dan Eropa.

“Sementara pengembangan teknologi dasar tetap dilakukan di luar negeri, Indonesia tertinggal,” tambah Alim.

Keberadaan pusat data berskala raksasa juga membawa dampak ekologis. Data center beroperasi 24 jam tanpa henti dan membutuhkan sistem pendinginan berbasis air dalam jumlah besar.

Alim membayangkan risiko jangka panjang yang mungkin muncul.

“Suatu saat warga Bekasi bisa antre air bersih, sementara air itu dipakai untuk mendinginkan mesin perusahaan besar,” katanya.

Selain persoalan air, lonjakan permintaan teknologi AI juga memicu kelangkaan komponen komputer. Harga RAM dan SSD melonjak hingga tujuh kali lipat karena perusahaan teknologi memborong stok chip global.

Situasi ini semakin memperlebar jarak antara negara pengembang dan negara pengguna teknologi.

Menjaga Jarak dengan Sang Mitra

Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan, Alim menekankan pentingnya menjaga jarak kritis terhadap teknologi. AI, menurutnya, seharusnya tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti daya pikir manusia.

Ia bahkan menyoroti kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.

“Jangan nambahin kata ‘tolong’ di prompt. Itu bikin mesin bekerja lebih keras. Emisinya jadi lebih besar,” ujarnya.

Bagi Alim, setiap interaksi digital memiliki konsekuensi energi dan lingkungan. Semakin panjang instruksi, semakin besar pula beban komputasi yang harus dijalankan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi. Kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat publik lupa pada dampak struktural yang menyertainya.

Jika tidak disikapi dengan kritis, kemajuan teknologi justru berpotensi membangun kesejahteraan pihak luar di atas sumber daya negeri sendiri.

Alim berharap masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif dalam arus digital global.

“Kita harus sadar. Jangan sampai hanya jadi objek eksploitasi di balik narasi kemajuan teknologi,” katanya.

Berita Terkait

News Update

Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 21:11 WIB

Polemik Tambang Galian C, Gerus Perbukitan Bandung Setiap Tahun

Walhi mencatat 15–20 hektare perbukitan hilang tiap tahun di Kabupaten Bandung akibat tambang. Kawasan imbuhan air ikut tergerus.
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 06 Feb 2026, 19:52 WIB

Rahasia Pondok Pesantren di Ciwidey Menjadi Penyelamat Pasokan Pangan Jawa Barat Saat Beban Ekonomi Semakin Berat

Fokus pada sektor domestik, terutama ketahanan pangan, kini menjadi prioritas utama agar guncangan ekonomi dunia tidak langsung memukul daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.
Al-Ittifaq bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan telah bertransformasi menjadi "pusat saraf" distribusi pangan yang mampu menggerakkan ekonomi desa secara profesional. (Sumber: instagram.com/alittifaq.coop)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 18:05 WIB

Bahasa Iklan Ramadan: Antara Religiusitas dan Strategi Komersial

Dalam dunia pemasaran, Ramadan adalah musim puncak.
Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)
Bandung 06 Feb 2026, 17:14 WIB

Salon Jadi Galeri, Bentuk Eksperimen Estetika Baru di Bandung ala Grey Hair and Nail Artistry

Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya.
Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 15:06 WIB

Enak dan Asyik, Munggahan di Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar TKI

Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya.
Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 06 Feb 2026, 14:51 WIB

AI Menjanjikan Kemudahan dan Kecepatan, Tapi Siapa yang Menanggung Risikonya?

Isu AI kerap hanya dijadikan alat untuk memperkuat pujian terhadap kecanggihan teknologi, tanpa membuka ruang kritik yang konstruktif.
Ilustrasi penggunaan mesin AI dalam pekerjaan. (Sumber: Berke Citak on Unsplash)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 14:21 WIB

Tasbih Digital sebagai Sarana Zikir di Tengah Perkembangan Teknologi

Tasbih digital menjadi bukti nyata bagaimana Islam mampu menyesusikan dirinya dengan setiap medan perkembangan zaman yang deras ini
Ilustrasi tasbih yang belum digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 13:48 WIB

Jejak Tentara Bayaran Rusia dari Indonesia, Kisah Para Desertir di Bawah Komando Kremlin

Perang ribuan kilometer dari Indonesia tetap menarik warga Indonesia. Dua desertir ini memperlihatkan sisi gelap konflik global dan tekanan hidup personal.
Muhammad Rio (tengah), mantan polisi Indonesia yang menjadi tentara bayaran di Rusia berfoto bersama kesatuannya.
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 13:12 WIB

Hayu Opsih

Tradisi kampung yang terkadang dianggap sederhana, kolot, justru syarat makna yang terdalam.
Tradisi bersih-bersih di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) jelang Ramadan. (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 11:35 WIB

Tanda-Tanda Ramadan dan Berkah di Bulan Suci

Berikut beberapa “rasa” yang saya alami yang menunjukkan semakin dekatnya Ramadan.
Alquran dan kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Dalangan)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 08:16 WIB

Bila Munggahan di Bandung: Alhamdulillah Bisa Botram Khidmat di Kebon Binatang

Dalam tradisi Sunda, munggahan memang bukan sekadar makan bersama.
Warga memanfaatkan ruang terbuka hijau di Kebun Binatang Bandung untuk bersantai dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Farisi)
Beranda 06 Feb 2026, 07:26 WIB

Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

Ruang publik ini berada di persimpangan antara tujuan awal sebagai ruang bersama warga dan realitas pengelolaan yang belum konsisten.
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 05 Feb 2026, 21:08 WIB

Jawa Barat Kerahkan Strategi Demi Amankan Stok Pangan dan Stabilitas Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026

Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen.
Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 05 Feb 2026, 19:29 WIB

Grey Cube, Nafas Baru di Dago dan Ambisi Memperkuat Jantung Seni Rupa Bandung

Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer.
Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 05 Feb 2026, 18:20 WIB

Sejarah Peristiwa Cimareme 1919, Perlawanan Petani Garut yang Dipicu Krisis Pangan

Krisis pangan Hindia Belanda mengubah kebijakan wajib jual padi menjadi kekerasan. Cimareme 1919 mencatat bagaimana sawah berubah menjadi medan perang.
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)
Ayo Netizen 05 Feb 2026, 17:25 WIB

10 Netizen Terpilih Januari 2026: Resolusi untuk Bandung 2026

Sepuluh penulis terbaik yang berhasil menorehkan karya-karya berkualitas di kanal Ayo Netizen sepanjang Januari 2026.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: uji kanggo gumilang)
Bandung 05 Feb 2026, 17:04 WIB

AyoBandung Gelar Workhsop Pembuatan Konten Media Sosial untuk Umum, Pemula hingga Pelaku UMKM Merapat!

AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya
AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya.
Bandung 05 Feb 2026, 16:49 WIB

Surabi Mang Encu: Jajanan Jadul, Bertahan di Malam Kosambi yang Kian Sepi

Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat.
Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 05 Feb 2026, 15:45 WIB

Sawala Pemajuan Kebudayaan 12 Februari 2026: Mengembalikan Kebudayaan ke Warga, Menjaga Bandung dari Kehilangan Nurani

Sawala Pemajuan Kebudayaan Bandung 12 Februari 2026 penting dihadiri warga, karena di sanalah arah kebudayaan ditentukan.
Pendopo Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)