Indonesia Dinilai Hanya Menjadi Pemasok Sekunder dalam Industri Kecerdasan Buatan Global

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Kholikul Alim dari Jaring.id dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kholikul Alim dari Jaring.id dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lampu notifikasi di ponsel cerdas itu berkedip pelan di atas meja kayu sebuah kafe yang ramai. Di seberangnya, dua orang tengah terlibat obrolan hangat tentang rencana membeli sepatu hiking untuk pendakian pekan depan. Mereka membahas merek, harga, hingga jalur pendakian yang ingin ditempuh.

Tak lama setelah percakapan itu berakhir, salah satunya terdiam. Layar ponselnya tiba-tiba dipenuhi iklan sepatu gunung dari berbagai merek ternama. Ia terkejut. Jemarinya belum sempat menyentuh kolom pencarian Google. Tidak ada riwayat pencarian. Hanya obrolan santai di meja kafe.

Kholikul Alim dari Jaring.id, mengatakan peristiwa semacam itu bukan lagi sekadar kebetulan teknologi. Ia melihatnya sebagai sinyal ancaman serius terhadap privasi pengguna.

Alim mengingatkan pada putusan pengadilan di California yang menjatuhkan denda triliunan rupiah kepada perusahaan teknologi raksasa.

“Google terbukti menguping semua pembicaraan kita di handphone. Data yang direkam itu kemudian dipakai untuk marketing targeting,” ungkapnya dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” yang di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). 

Menurut Alim, kecerdasan buatan saat ini bekerja dengan cara mengumpulkan hampir seluruh jejak digital manusia. Setiap percakapan, klik, dan instruksi menjadi bahan bakar gratis untuk melatih mesin agar semakin memahami perilaku manusia.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, posisi Indonesia dalam ekosistem global AI masih lemah. Negara ini lebih banyak berperan sebagai pemasok data dan infrastruktur, bukan sebagai pengembang utama teknologi.

Kolonialisme Digital

Dalam lima tahun terakhir, investasi kecerdasan buatan yang masuk ke Indonesia mencapai Rp9,16 triliun. Angka ini terlihat menjanjikan. Namun, Alim mengingatkan agar publik tidak terburu-buru merasa bangga.

Sebagian besar dana tersebut, kata dia, hanya digunakan untuk membangun pusat data di kawasan strategis seperti Batam dan Bekasi.

“Indonesia selalu dijadikan sumber tenaga kerja murah dan lahan murah. Kalau bangun data center di California mahal, buat sewa tanah dan air pendinginnya. Jadi dibangun di Indonesia saja karena lebih murah,” ujarnya.

Pola ini mengingatkan pada praktik lama eksploitasi sumber daya. Indonesia menyediakan lahan, energi, dan air. Sementara riset, pengembangan teknologi inti, dan keuntungan utama tetap berpusat di Amerika Serikat dan Eropa.

“Sementara pengembangan teknologi dasar tetap dilakukan di luar negeri, Indonesia tertinggal,” tambah Alim.

Keberadaan pusat data berskala raksasa juga membawa dampak ekologis. Data center beroperasi 24 jam tanpa henti dan membutuhkan sistem pendinginan berbasis air dalam jumlah besar.

Alim membayangkan risiko jangka panjang yang mungkin muncul.

“Suatu saat warga Bekasi bisa antre air bersih, sementara air itu dipakai untuk mendinginkan mesin perusahaan besar,” katanya.

Selain persoalan air, lonjakan permintaan teknologi AI juga memicu kelangkaan komponen komputer. Harga RAM dan SSD melonjak hingga tujuh kali lipat karena perusahaan teknologi memborong stok chip global.

Situasi ini semakin memperlebar jarak antara negara pengembang dan negara pengguna teknologi.

Menjaga Jarak dengan Sang Mitra

Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan, Alim menekankan pentingnya menjaga jarak kritis terhadap teknologi. AI, menurutnya, seharusnya tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti daya pikir manusia.

Ia bahkan menyoroti kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.

“Jangan nambahin kata ‘tolong’ di prompt. Itu bikin mesin bekerja lebih keras. Emisinya jadi lebih besar,” ujarnya.

Bagi Alim, setiap interaksi digital memiliki konsekuensi energi dan lingkungan. Semakin panjang instruksi, semakin besar pula beban komputasi yang harus dijalankan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi. Kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat publik lupa pada dampak struktural yang menyertainya.

Jika tidak disikapi dengan kritis, kemajuan teknologi justru berpotensi membangun kesejahteraan pihak luar di atas sumber daya negeri sendiri.

Alim berharap masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif dalam arus digital global.

“Kita harus sadar. Jangan sampai hanya jadi objek eksploitasi di balik narasi kemajuan teknologi,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)