Sejarah dan Kontroversi Asep Berlian, Saudagar Kaya yang Bikin Geger Bandung

3 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Tak semua tokoh dalam sejarah Indonesia dikenang karena perjuangan, pemikiran, atau jasanya. Sebagian lainnya tercatat lantaran hikayatnya yang dramatik. Asep Berlian adalah salah satunya. Ia bukan pejuang, bukan tokoh pergerakan, bukan pula orang besar dalam pengertian biasa. Tapi namanya tetap tertinggal di antara baris-baris koran zaman kolonial, terikat pada satu hal: harta yang berlimpah dan konflik yang menyertainya.

Nama aslinya adalah Kiagoes Asep Abdoellah. Ia berasal dari keluarga terpandang yang memiliki akar panjang dalam dunia perdagangan di Hindia Belanda. Kakeknya, Kiagoes Hadji Moehamad Tamim. Disebut juga Ki Agus Tamin oleh wartawan senior Her Suganda. Tamin, bukan Tamim. Ia merupakan pedagang rempah-rempah asal Palembang yang menikah dengan perempuan dari Semarang. Dari pernikahan ini lahir tiga anak, termasuk ayah Asep, yaitu Kiagoes Hadji Abdoelsoekoer.

Dari Abdoelsoekoer inilah muncul tiga anak: Kiagoes Asep Abdoellah (Asep Berlian), Kiagoes Moehamad Tamim alias Endang, dan Kiagoes Ascharie atau Asari. Silsilah ini dicatat dalam beberapa versi, termasuk versi Her Suganda yang menyebut nama mereka lengkap dengan embel-embel "Abdul Sjukur".

Asep dikenal bukan karena karya, tapi karena harta. Ia menikahi empat perempuan. Istri pertamanya, Nyi Raden Mintarsih, berasal dari Sukabumi. Istri kedua, Nyi Ajoe Aliah, dari Bandung. Istri ketiganya, Nyi Raden Komariah, juga berasal dari Sukabumi. Dari ketiga pernikahan ini, Asep tak memiliki anak. Baru dari istri keempat, Nyi Sartika (atau Nyi Ika), ia memperoleh keturunan: empat orang anak. Versi Her Suganda menyebut nama lengkap istri keempat ini adalah Atikah Khaerani.

Kehidupan rumah tangga Asep, sejauh diketahui, berlangsung dalam bayang-bayang kekayaan. Namun setelah wafatnya, rumah itu berubah menjadi arena konflik dan kekerasan.

Polemik Warisan dan Pembantaian di Kebon Kalapa

Catatan kematian Asep Berlian pun tak sepenuhnya jelas. Her Suganda menulis bahwa Asep meninggal dunia pada tahun 1936. Namun koran Sipatahoenan tertanggal 21 Juli 1934 menyebutkan bahwa Asep sudah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Artinya, informasi resmi mengenai tanggal wafatnya simpang siur, sebuah isyarat bahwa dari sejak kematian pun, jejak Asep sudah diliputi misteri.

Namun yang paling mencengangkan datang dua hari setelah laporan itu terbit. Pada 23 Juli 1934, rumah keluarga Asep di Kebonkalapaweg (kini kawasan Kebon Kalapa, Bandung) menjadi lokasi pembantaian brutal. Tiga orang tewas, dua lainnya luka berat. Semuanya diserang menggunakan linggis oleh seorang pembantu rumah tangga bernama Tarmidi, pemuda 18 tahun asal Rancaekek yang telah bekerja selama lima tahun untuk Nyi Mintarsih, istri pertama Asep.

Berita tentang peristiwa berdarah di rumah Asep Berlian (Sumber: Sipatahoenan)
Berita tentang peristiwa berdarah di rumah Asep Berlian (Sumber: Sipatahoenan)

Tragedi ini segera menyedot perhatian. Media menurunkannya sebagai berita utama. Her Suganda menyebutnya sebagai Geger Bandung, sementara Haryoto Kunto menyebut tragedi ini dengan istilah Guyur Bandung. Dua istilah yang berbeda gaya, namun sama-sama menggambarkan suasana mencekam dan absurditas dari peristiwa tersebut.

Motif pembunuhan tidak pernah jelas. Ada versi yang menyebut soal asmara antara pelaku dan salah satu korban. Ada pula yang meyakini pembantaian itu terkait erat dengan sengketa warisan yang belum selesai sejak Asep wafat. Saat pembunuhan terjadi, kasus perebutan harta peninggalan Kiagoes Tamim memang sedang berlangsung di pengadilan tinggi dan belum menemukan titik terang.

Kasus pembunuhan ini tidak berdiri sendiri. Ia menempel erat pada konflik perebutan warisan yang kian membara setelah Asep meninggal. Pada Januari 1936, Nyi Ika, istri keempat Asep, menggugat haknya atas kekayaan yang ditinggalkan mendiang suami. Ia dibantu oleh pengacara Idih Prawirasapoetra. Namun kerabat keluarga menyebut bahwa harta Asep sudah habis. Entah habis karena pembagian yang tak adil, karena konflik berkepanjangan, atau karena digunakan tanpa perhitungan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)