Sejarah Sanatorium Pacet Cianjur, Pusat Pengobatan TBC Pertama di Priangan

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Bangunan Sanatorium Pacet Cianjur. (Sumber: KITLV)
Bangunan Sanatorium Pacet Cianjur. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di lereng selatan pegunungan Priangan, sekitar dua puluh kilometer dari Cianjur, pernah berdiri sebuah kompleks bangunan putih dengan jendela-jendela besar yang selalu terbuka ke arah lembah. Udara di sana dingin dan kering. Burung-burung kecil berkejaran di antara cemara, sementara kabut turun setiap sore, menutup separuh atap dengan selimut tipis. Di tempat itulah, sejak 6 September 1919, pemerintah kolonial Belanda meresmikan Sanatorium Pacet, lembaga perawatan khusus untuk penderita tuberkulosis (TBC), penyakit menular paling mematikan di dunia kala itu.

Dalam ejaan lama ia disebut Sanatorium Patjet, dan oleh banyak kalangan dianggap sebagai sanatorium pertama di Hindia Belanda yang terbuka bagi semua bangsa dan golongan. Di masa ketika kolonialisme membelah masyarakat secara tajam, konsep “untuk semua” terdengar seperti kemewahan yang tidak biasa. Tetapi bagi dokter-dokter Eropa yang baru memahami cara TBC menyebar, wabah itu tidak mengenal warna kulit. Baik pegawai Eropa, Indo, maupun bumiputra, semuanya bisa terjangkit.

Sanatorium Pacet menjadi hasil kerja panjang dari Central Vereeniging tot Bestrijding der Tuberculose in Nederlandsch-Indië (CVT) atau Perhimpunan Pusat untuk Pemberantasan Tuberkulosis di Hindia Belanda yang berdiri sejak 1908. Kala itu, TBC bukan sekadar urusan medis; ia adalah krisis sosial. Penyakit ini menyebar di kota-kota yang mulai padat, di barak-barak pekerja perkebunan, hingga ke rumah-rumah elite yang tak luput dari ancaman infeksi.

Baca Juga: Jejak Sejarah Cimahi jadi Pusat Tentara Hindia Belanda Sejak 1896

Pemilihan Pacet bukan kebetulan. Udara di dataran tinggi Cianjur bagian selatan dikenal bersih dan kering. Bagi dunia medis pada awal abad ke-20, iklim pegunungan dianggap penawar terbaik bagi penderita penyakit paru. Tanpa antibiotik, terapi bergantung pada udara segar, makanan bergizi, dan istirahat panjang. Karena itu, sanatorium dibangun bukan seperti rumah sakit, melainkan seperti tempat beristirahat permanen di udara terbuka.

Bangunan Sanatorium Pacet dirancang sederhana namun lapang. Setiap paviliun memiliki beranda luas dengan kursi berjemur. Pasien menghabiskan sebagian besar hari mereka di sana—membaca, tidur, atau hanya menatap pepohonan di kejauhan. Ruangan dibiarkan terbuka, cahaya matahari dibiarkan masuk sebanyak mungkin, sementara ventilasi didesain untuk memperlancar sirkulasi udara.

Pada masa itu, para dokter percaya bahwa “udara adalah obat”. Prinsip open-air treatment menjadi dasar perawatan. Pasien TBC yang masih kuat diminta berjalan perlahan di pagi hari dan beristirahat panjang di siang hari. Mereka yang sudah lemah dibiarkan berbaring di tempat tidur di luar ruangan dengan selimut tebal, menantang udara gunung yang dingin.

Kehidupan di sanatorium diatur dengan disiplin: makan di jam yang sama, tidur di jam yang sama, berjemur di jam tertentu. Tidak ada obat yang benar-benar menyembuhkan. Yang dilakukan hanyalah menjaga tubuh agar tetap kuat melawan bakteri. Beberapa pasien bertahan dan pulih perlahan, tapi banyak juga yang meninggal di tempat itu.

Sanatorium Pacet menjadi pelopor model perawatan TBC di Hindia Belanda. Dalam waktu dua dekade setelah berdirinya, muncul beberapa sanatorium lain di Jawa Barat seperti Ngamplang di Garut (1926) dan Cisarua di Bogor (1930), yang seluruhnya meniru pola Pacet. Dari sinilah konsep perawatan paru berbasis iklim menyebar ke berbagai wilayah.

Sejumlah pasien berjemur di Sanatorium Pacet. (Sumber: KITLV)
Sejumlah pasien berjemur di Sanatorium Pacet. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Perkembangan Sanatorium Pacet berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya TBC. Dalam laporan De Locomotief tanggal 2 Juni 1933, disebutkan bahwa lembaga ini mendapat izin kerajaan untuk diubah menjadi Paviliun Emma, mengambil nama Ratu Ibu Emma dari Belanda, pelindung kegiatan amal pemberantasan TBC di negeri induk. Nama baru itu bukan sekadar penghormatan, melainkan penegasan bahwa lembaga di pegunungan Priangan itu kini menjadi bagian dari jaringan internasional melawan penyakit paru.

Pada periode itu, Dinas Kesehatan Umum Hindia Belanda mulai mencatat meningkatnya kasus TBC secara sistematis. Data dari akhir 1920-an menunjukkan penyakit ini telah menjadi penyebab utama kematian di banyak kota besar Jawa. Di Semarang, misalnya, tahun 1927 tercatat 509 kematian akibat TBC, atau hampir 10% dari total kematian tahunan. Angka itu tidak banyak berubah hingga 1929, berkisar di 26 kasus per 10.000 penduduk.

TBC juga menggerogoti kalangan pegawai negeri yang dalam catatan kolonial sering dianggap kelompok paling sehat. Dari 230 ribu pegawai sipil di Jawa Tengah, enam dari seribu orang terinfeksi setiap tahun, dan seperempat kematian di rumah sakit disebabkan oleh TBC. Anak-anak pun tak luput. Di Batavia tahun 1939, sekitar 2,4% kematian anak usia 0–4 tahun disebabkan penyakit ini.

Kondisi itu menggambarkan kenyataan pahit: Hindia Belanda hidup dalam bayang-bayang epidemi TBC. Penyakit yang berasal dari Eropa itu menumpang pada urbanisasi cepat, pemukiman padat, dan sistem sanitasi buruk di kota-kota kolonial.

Baca Juga: Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

Sanatorium Pacet kemudian menjadi pusat rujukan di wilayah barat Jawa. Pasien datang dari Bandung, Sukabumi, hingga Batavia. Di dalam kompleks itu, perawatan dijalankan dengan metode modern, mengombinasikan istirahat total dengan pengawasan medis ketat. Di ruang perawatan, terdapat suster-suster Eropa yang dikenal gigih dan berani, karena bekerja di lingkungan yang penuh risiko tertular.

Pada akhir 1930-an, jaringan lembaga serupa semakin luas. Data 1939 mencatat terdapat 15 sanatorium TBC di seluruh Hindia Belanda dan 20 consultatiebureau, semacam klinik konsultasi untuk penyuluhan dan pemeriksaan. Dari total 17 sanatorium pada 1940, lima dikelola pemerintah dengan 254 tempat tidur, sementara 12 lainnya milik organisasi swasta yang sebagian besar mendapat subsidi negara. Tujuh di antaranya menampung hingga 760 pasien secara bersamaan.

Di Jawa Barat, Pacet tetap menjadi rujukan penting. Udara sejuknya membuat banyak dokter kolonial merekomendasikan pasien beristirahat di sana. Setelah Pacet, pemerintah membangun Sanatorium Ciloto di kawasan Cianjur bagian atas, yang kemudian menjadi tempat perawatan penyakit paru paling terkenal di masa pasca-kemerdekaan.

Laporan dinas kesehatan kolonial tahun 1937 menunjukkan bahwa di Jawa bagian barat, tuberkulosis telah menjadi endemik. Penelitian di sekolah-sekolah menunjukkan antara 24 hingga 76% anak memiliki reaksi Mantoux positif, tanda bahwa mereka pernah terpapar bakteri TBC. Di Bandung, Semarang, dan Cirebon, angka-angka serupa menunjukkan penyebaran yang masif. Bahkan di kalangan pegawai negeri pribumi, 22% cuti sakit disebabkan oleh TBC.

Pada periode yang sama, peralatan sinar-X mulai digunakan untuk diagnosis, tanda bahwa teknologi kedokteran modern mulai masuk ke koloni. Namun, semua upaya itu belum mampu menahan laju wabah. Sampai menjelang Perang Dunia II, TBC tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Hindia Belanda.

Baru setelah Perang Dunia II berakhir, dunia medis menemukan harapan baru. Pada 1921, dua ilmuwan Prancis, Albert Calmette dan Camille Guérin, berhasil menciptakan vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin). Meski efektivitasnya sempat diperdebatkan, vaksin ini kemudian diadopsi secara luas oleh WHO dan UNICEF setelah 1945 melalui program vaksinasi massal. Di Indonesia, vaksin BCG baru benar-benar dikenal luas setelah kemerdekaan, ketika pemerintah mulai mengintegrasikannya dalam program kesehatan nasional.

Sanatorium Pacet sendiri menempati posisi penting dalam sejarah kesehatan Indonesia. Ia bukan sekadar rumah sakit kolonial, tetapi cikal bakal lembaga perawatan paru di Nusantara. Dari kompleks sederhana di kaki gunung itu, berkembang sistem sanatorium yang melahirkan generasi dokter dan perawat spesialis penyakit paru di masa berikutnya.

Di masa kini, banyak yang tak tahu bahwa perjuangan panjang melawan TBC di Indonesia pernah berawal dari sana. Dari sebuah tempat sunyi di Pacet, Cianjur, di mana udara pegunungan pernah dijadikan obat utama bagi mereka yang berjuang bernapas di bawah bayang-bayang penyakit mematikan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!