Jalan Gelap di Bandung Memperbesar Risiko Keselamatan bagi Semua Pengguna Jalan

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Jalan 'miskin lampu' di Bandung. (Sumber: Instagram @infobandungkota)
Jalan 'miskin lampu' di Bandung. (Sumber: Instagram @infobandungkota)

Keluhan warga tentang jalan gelap di Kota Bandung belakangan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata. Dalam perspektif ilmu transportasi, kondisi tersebut merupakan indikator kegagalan sistem keselamatan jalan. Jalan yang gelap bukan hanya mengurangi kenyamanan visual, tetapi secara langsung meningkatkan risiko kecelakaan dan menurunkan rasa aman pengguna jalan.

Dalam pendekatan modern seperti konsep safe system, keselamatan lalu lintas tidak boleh bergantung pada perilaku manusia semata, melainkan harus dijamin melalui desain sistem yang mampu mengantisipasi kesalahan manusia. Salah satu elemen kunci dalam sistem tersebut adalah visibilitas, yang dalam konteks jalan raya sangat bergantung pada keberadaan dan kualitas penerangan jalan umum (PJU).

Mengapa Visibilitas Menentukan Keselamatan

Secara ilmiah, visibilitas merupakan faktor krusial dalam proses pengambilan keputusan pengemudi. Ketika pencahayaan tidak memadai, kemampuan pengemudi untuk mendeteksi adanya rintangan—seperti pejalan kaki, pesepeda, kendaraan berhenti, atau kerusakan jalan—menurun drastis. Hal ini berdampak langsung pada waktu reaksi yang lebih lambat dan meningkatnya kemungkinan terjadinya tabrakan.

Dalam kerangka safe system, kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem untuk menciptakan forgiving road environment, yaitu lingkungan jalan yang tetap aman meskipun pengguna melakukan kesalahan. Dengan kata lain, jalan gelap bukan sekadar kondisi yang tidak ideal, melainkan bentuk kegagalan struktural dalam menjamin keselamatan.

Data terbaru tahun 2025 memperlihatkan bahwa persoalan keselamatan jalan masih jauh dari kata selesai. Di wilayah hukum Polresta Bandung, tercatat 454 kejadian kecelakaan lalu lintas sepanjang 2025 dengan 156 korban meninggal dunia, 50 korban luka berat, serta 390 korban luka ringan. Angka ini menunjukkan bahwa setiap bulan rata-rata sekitar 13 orang kehilangan nyawa di jalan raya di Kota Bandung. Dalam konteks ini, kondisi infrastruktur seperti penerangan jalan umum (PJU) menjadi sangat relevan, terutama karena banyak kecelakaan fatal terjadi pada malam hari ketika visibilitas menjadi faktor penentu keselamatan.

Bandung dan Kesenjangan Infrastruktur Penerangan

Kondisi di Kota Bandung memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan dan penyediaan infrastruktur penerangan. Pemerintah kota mencatat pembangunan 501 PJU pada 2025, namun jumlah tersebut belum sebanding dengan luas jaringan jalan dan pertumbuhan mobilitas perkotaan.

Di sisi lain, berbagai laporan warga menunjukkan masih banyaknya titik jalan yang gelap akibat lampu yang padam atau tidak berfungsi. Di ruas jalan kota seperti Jalan Cipaganti (Jalan R.A.A. Wiranatakusumah), pengguna jalan mengeluhkan kondisi minim penerangan yang membuat perjalanan di malam hari terasa berbahaya. Dalam situasi seperti ini, jalan tidak hanya kehilangan fungsinya sebagai ruang mobilitas, tetapi juga berubah menjadi ruang berisiko tinggi.

Kecelakaan lalu lintas melibatkan dua kendaraan roda empat terjadi di Jalan Cipaganti, Kota Bandung, pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. (Sumber: https://www.instagram.com/p/DT6t76Ik1Le/?img_index=2 | Foto: Instagram @infobandungkota)
Kecelakaan lalu lintas melibatkan dua kendaraan roda empat terjadi di Jalan Cipaganti, Kota Bandung, pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. (Sumber: https://www.instagram.com/p/DT6t76Ik1Le/?img_index=2 | Foto: Instagram @infobandungkota)

Pengguna Jalan Rentan Paling Terdampak

Dampak dari minimnya penerangan jalan tidak dirasakan secara merata. Kelompok yang paling terdampak adalah vulnerable road users seperti pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor. Tanpa perlindungan fisik yang memadai, kelompok ini sangat bergantung pada visibilitas lingkungan.

Dalam kondisi jalan gelap, mereka menjadi sulit terlihat oleh pengemudi kendaraan lain, sehingga risiko tertabrak meningkat secara signifikan. Berbagai studi keselamatan lalu lintas menunjukkan bahwa kecelakaan fatal pada malam hari sering kali melibatkan kelompok rentan ini. Dengan demikian, jalan yang gelap pada dasarnya menciptakan ketidakadilan dalam sistem transportasi, karena meningkatkan risiko bagi mereka yang paling tidak terlindungi.

Selain meningkatkan risiko kecelakaan, jalan yang gelap juga berkorelasi dengan meningkatnya potensi tindak kejahatan. Dalam perspektif environmental criminology, pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan pengawasan alami (natural surveillance).

Jalan yang minim penerangan cenderung menjadi ruang dengan visibilitas rendah, sehingga memudahkan pelaku kejahatan untuk beroperasi tanpa terdeteksi. Sejumlah laporan di berbagai kota di Indonesia menunjukkan bahwa jalan gelap tidak hanya diidentikkan dengan kecelakaan, tetapi juga dengan kekhawatiran terhadap begal, pencurian, dan kekerasan jalanan. Dengan demikian, PJU memiliki fungsi ganda sebagai infrastruktur keselamatan sekaligus keamanan publik.

Regulasi Ada, Implementasi yang Tertinggal

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah keberadaan regulasi yang sebenarnya sudah cukup memadai. Indonesia telah memiliki standar teknis melalui SNI 7391:2008 yang mengatur tingkat pencahayaan jalan di kawasan perkotaan.

Dalam kerangka safe system, kegagalan memenuhi standar ini dapat diartikan sebagai kegagalan dalam menyediakan sistem jalan yang aman secara struktural. Ketika kecelakaan terjadi di jalan yang gelap, tanggung jawab tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pengguna jalan, melainkan juga pada desain dan pengelolaan infrastruktur yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Dalam konteks pembangunan kota, minimnya PJU juga berdampak lebih luas terhadap kualitas hidup. Jalan yang gelap menurunkan rasa aman, membatasi mobilitas malam hari, serta menghambat aktivitas ekonomi.

Kota kehilangan vitalitasnya ketika ruang publik tidak dapat digunakan secara aman setelah matahari terbenam. Hal ini bertentangan dengan konsep kota layak huni (livable city) yang menekankan pentingnya keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas bagi seluruh warga.

Baca Juga: Pedagang Mengenang Terminal Cicaheum yang Tak Lagi Ramai

Pada akhirnya, penting untuk menempatkan kembali PJU sebagai bagian integral dari sistem transportasi, bukan sekadar elemen pelengkap. Jalan tanpa penerangan yang memadai pada malam hari pada dasarnya adalah jalan yang belum selesai dibangun.

Dalam sistem transportasi yang berkeselamatan, tidak boleh ada ruang gelap karena setiap titik gelap menyimpan potensi kehilangan nyawa. Jika Bandung ingin menjadi kota yang benar-benar maju dan manusiawi, maka memastikan setiap ruas jalan terang dan aman bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.