Bencana Alam Itu Tidak Jauh, Sudah di Depan Hidung Kita

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Hiruk-pikuk pemberitaan tentang bencana di Pulau Sumatera beberapa hari terakhir menyedot perhatian. Bagaimana tidak setidaknya hingga Minggu (7/12) malam, jumlah korban tewas mencapai 916 jiwa.

Namun tanpa banyak diekspose, hanya sekitar 23 kilometer dari Gedung Sate yang menjadi pusat jantung pemerintahan Jawa Barat, sebuah bencana alam terjadi begitu dekat dan begitu sunyi.Tanah longsor besar di Kampung Condong, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Longsor itu datang pada Jumat sore, 5 Desember 2025, ketika hujan deras mengguyur sejak siang. Warga awalnya hanya merasakan getaran ringan, mirip gempa kecil. Namun beberapa detik kemudian, suara gemuruh seperti helikopter terdengar dari arah lereng bukit. Tanah pun bergerak, ambrol, dan menghantam persawahan serta permukiman di bawahnya.

Dirman, seorang warga, masih mengingat jelas momen ketika tanah di bawah kakinya bergetar. Ia bersama warga lain berlari menuju Masjid At-Taqwa untuk menyelamatkan diri. Tak ada waktu membawa barang-barang penting. Keselamatan menjadi satu-satunya tujuan.

Di antara teriakan dan kepanikan, kabar buruk menyebar dengan cepat: beberapa rumah tertimbun. Sebanyak lima rumah yang berdiri tepat di jalur longsor dilibas material tanah dan batu berukuran besar. Ada korban di dalamnya.

Tiga orang dinyatakan tertimbun: Asiyah (60), cucunya Citra (20), dan Arjuna (10). Sementara seorang remaja bernama Ramdan berhasil ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri lebih dari seratus meter dari rumahnya. Ia langsung dibawa ke rumah sakit oleh petugas dan warga.

Tim SAR Gabungan segera dikerahkan. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menyebut pencarian difokuskan pada dua titik berdasarkan pemetaan drone thermal. Setiap sudut longsoran digali manual karena alat berat sulit masuk ke medan curam dan labil.

Posko pengungsian di Kampung Condong, Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Posko pengungsian di Kampung Condong, Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Namun upaya pencarian tak mudah. Tanah terus bergerak, membuat petugas harus ekstra hati-hati. Seorang relawan, Bayu Triseptian, mengatakan bahwa tim sempat menghentikan pencarian beberapa kali karena khawatir terjadi longsor susulan. “Pergerakan tanah masih ada. Takutnya kejadian lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, ratusan warga harus dievakuasi. Setidaknya 337 orang mengungsi dari dua RT yang berada di lereng bukit. Mereka ditempatkan di rumah penduduk, balai desa, hingga GOR terdekat untuk menghindari ancaman bencana susulan.

Eni, salah satu warga yang mengungsi, mengaku panik ketika mendengar suara gemuruh dan dinding rumahnya bergetar. Ia bergegas membawa keluarga menuju tempat aman. Ia kini tinggal bersama lebih dari 20 pengungsi lain di sebuah rumah milik warga yang jaraknya sekitar 10 menit dari lokasi longsor.

Meski bantuan terus berdatangan, warga seperti Yanti dan Eni tetap harus bolak-balik ke rumah pada pagi dan siang hari. Mereka memasak makanan sendiri karena bahan pangan yang tersedia di posko dianggap belum cukup untuk kebutuhan semua pengungsi.

Di tengah kesedihan dan ketidakpastian, persoalan lama kembali muncul ke permukaan: kerusakan lingkungan. Mantan Bupati Bandung, Dadang M. Naser, yang meninjau lokasi menyampaikan bahwa lereng setinggi 80 meter itu minim pohon besar yang mampu mengikat tanah. Lahan tersebut kerap dijadikan kebun sayuran oleh warga.

Ia menilai penggunaan lahan miring untuk pertanian menjadi salah satu faktor yang memperlemah struktur tanah. Dadang meminta agar kawasan itu segera dihijaukan kembali dengan tanaman berakar kuat, misalnya alpukat, untuk menahan erosi di masa depan.

Bencana alam tanah longsor di Kampung Condong, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Bencana alam tanah longsor di Kampung Condong, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Selain itu, ia menyoroti praktik pembabatan dan pembukaan lahan tanpa kontrol. Menurutnya, kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga kemiringan lahan dan tidak membuang sampah sembarangan harus ditingkatkan. Jika tidak, bencana serupa akan terus berulang.

Sungai Cilebak yang melintas di lereng pun tak mampu menahan tambahan volume air dari hujan deras. Arus yang meningkat membuat tanah di bagian atas semakin jenuh air hingga tak lagi sanggup menopang bebannya sendiri.

Kini, kawasan yang sebelumnya adalah persawahan berubah menjadi hamparan tanah cokelat tebal bercampur batu-batu besar. Air sungai pun berubah keruh, membawa jejak kerusakan yang terjadi di hulu.

Meski begitu, harapan masih dipegang warga. Proses pencarian yang berlangsung hingga malam hari tetap dipantau dengan cemas. Namun kondisi gelap dan cuaca buruk memaksa tim untuk menghentikan operasi sementara waktu.

BPBD Jawa Barat menyebut pencarian akan dilakukan maksimal tujuh hari sesuai prosedur. Jika ada permintaan khusus dari keluarga, proses bisa diperpanjang. Namun keterbatasan akses membuat pencarian harus dilakukan lebih banyak secara manual.

Hingga Sabtu malam, ketiga korban masih belum ditemukan. Harapan bercampur kecemasan memenuhi pikiran para keluarga dan warga. Bencana ini kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Sumatera. Tetapi bagi mereka, luka ini nyata, kehilangan ini dekat—bahkan terlalu dekat.

Fakta yang yang tidak bisa disanggah, data bencana alam BNPB tahun 2024 menyatakan Jabar sebagai provinsi yang paling sering mengalami bencana, yakni sebanyak 461 kejadian. Bencana itu tidak jauh, tapi ada di depan hidung kita.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)