Bukan demi Gaya-gayaan, Alasan Pengguna Knalpot Bising yang Tak Selalu Dipahami Warga

4 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Kendaraan roda doa melintas di Simpang Dago. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Kendaraan roda doa melintas di Simpang Dago. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Bising dari suara knalpot menyapa salah satu jalan di Kota Bandung. Riuhnya terbukti menghasilkan suara nyaring yang bergema, lalu terdengar memantul ke berbagai gang-gang sempit pemukiman warga yang kokoh berdiri di antaranya. Bagi mayoritas warga, suara itu bagai tombol pemancing emosi dan kerutan di dahi sebab nyaringnya yang tak berkompromi dengan indera pendengaran. 

Bak kutub magnet yang saling tolak menolak, di sisi lain para pengendara yang rutin memakai knalpot bising itu pun angkat suara melalui sudut pandangnya yang berbeda. Bukan hanya sebagai alat untuk bergaya, knalpot bising justru membawa alasan personal yang mendalam bagi mereka. 

Salah satu pengguna, yakni Koko Rizal (21) berkata bahwa alasan dibalik keputusan dirinya dalam memilih jenis knalpot yang Ia pakai, tidak didorong oleh gaya hidup yang terbilang ‘sekedar ikut-ikutan’ atau jurus fear of missing out (Fomo) dalam kamus bahasa Gen-Z. 

Alasan mengejutkan yang terucap dari lisan Koko, “Kalau malam-malam lewat jalan sepi, jadi nggak takut.” Koko menjelaskan lebih detail, bahwa knalpot bising membuatnya merasa aman, sebagai tanda kehadirannya terdengar jelas di jalanan ketika harus pulang dan pergi dari aktivitasnya sebagai salah satu mahasiswa, khususnya di waktu-waktu sepi malam hari—yang tentunya rawan akan kriminalisasi terhadap pengendara motor tak bersenjata.

Walaupun pada realitasnya, tidak semua pengendara motor mempunyai rasa rentan ketika berkendara seperti Koko. Adapun Idan Nurhakam, pengendara seusia Koko berdalih, justru terdapat kepuasan tersendiri yang hadir dalam sisi adrenalin dirinya ketika memakai knalpot bising di jalanan. 

Bagi Idan, bukan sekedar ikutan-ikutan trend saja yang menjadi pemicu utama, tetapi juga gaya berkendara yang kemudian mempengaruhi dirinya dan performa motor ketika harus mengemudikan kendaraan beroda dua itu di jalanan. 

Hal menarik lainnya justru terlihat dari tanggapan kedua pemuda ini, yang ternyata tidak serta-merta abai terhadap dampak yang ditimbulkan pada aktivitasnya dalam memakai knalpot bising. Sikap dari kesadaran diri yang tertanam dalam hati, beriringan dengan munculnya rasa empati mereka kepada warga yang terdampak. 

Perwujudan nilai pada sikap empati itu terdapat pada upaya Idan yang selalu mawas diri, serta sudah mempunyai solusi dari meredam kebisingan dengan sikap yang rendah hati dan beradaptasi pada situasi lingkungan. 

“Kalau ada yang merasa terganggu, saya minta maaf,” ungkap salah satu mahasiswa Universitas di Bandung itu, sambil memberikan solusi sederhana darinya. Salah satunya dengan cara mematikan mesin motor ketika sudah melewati pemukiman padat di dekat lingkungan rumahnya, lalu berakhir dengan mendorong motor miliknya sampai rumah atau baru menyalakan mesin motor di saat dirinya baru akan menghadapi jalanan yang sepi.  

Keputusan memakai knalpot bising memang terlihat sangat personal, apalagi jika pemilihan keputusan itu dipilih hanya berdasarkan ego semata. Namun, kerendahan hati Idan membuktikan bahwasanya di tengah perdebatan hangat soal pemakaian knalpot bising di kalangan Gen-Z seputar Bandung Raya, dirinya sebagai pengguna tetap mawas diri dan berusaha untuk mengurangi kontak langsung yang akan menimbulkan keluhan pada warga. 

Bukan hanya soal kekhawatiran warga secara umum, mereka pun tetap peka terhadap kategori beberapa orang yang berpotensi sebagai kelompok yang tidak boleh diganggu sama sekali, seperti kelompok bayi, lansia, orang sakit, hingga pekerja yang memiliki waktu istirahat di malam hari. Mereka paham tentang pengaturan soal waktu dan latar tempat untuk berkendara memakai knalpot bising. 

Bagi Kiki dan Idan, kebisingan memang tidak bisa dibenarkan walau ada latar belakang hobi serta kebutuhan ego pribadi dalam hal pemakaian sehari-hari. Meskipun dalam hal razia, ada kekhawatiran khusus karena mereka belum sama sekali terkena peringatan keras oleh aparat setempat. 

“Belum pernah ditegur oleh aparat, namun soal aturan jam pemakaian knalpot bising, saya rasa itu bisa jadi jalan tengah untuk kami sebagai pengguna,” ungkap Koko menjelaskan lebih detail.

Realitas hukum yang berkaitan dengan aturan penggunaan knalpot bising tertera pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang membahas perihal Lalu Lintas beserta Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam aturan tersebut, disebutkan bahwa kendaraan wajib memenuhi standar persyaratan teknis. 

Salah satunya yang termasuk ke dalam kategori knalpot yang harus sesuai dengan standar dan penggunaan knalpot bising yang berdampak pada kenyamanan bersama, dapat menyebabkan seseorang terkena sanksi hingga denda sebesar Rp. 250.000,- dan sanksi kurungan sekitar satu bulan lamanya. 

Aturan penggunaan ini kemudian semakin diperkuat dengan adanya presensi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 56 Tahun 2019 yang membahas tentang urgensi batas kebisingan kendaraan bermotor yaitu maksimal ada di 80 desibel untuk jenis kendaraan bermotor.

Pemusnahan knalpot bising. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rahmat Kurniawan)
Pemusnahan knalpot bising. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rahmat Kurniawan)

Tentu saja aturan penggunaan tersebut digunakan bukan untuk menakut-nakuti warga sipil maupun mengancam, tetapi berlaku untuk menjadi pengingat yang pada akhirnya dapat membangkitkan sikap mawas diri bahwa masih terdapat etika pengawasan terhadap aktivitas yang melibatkan modifikasi kendaraan, terlebih dalam hal mengutamakan kenyamanan setempat. 

Sementara itu, untuk menciptakan jalan tengah yang tetap bisa merangkul warga terdampak serta pemakai knalpot bising yang masih ingin mempertahankan knalpot bisingnya, Idan pun berharap, 

“Semoga ada sosialisasi aturan yang lebih jelas untuk kami, serta ruang dialog yang dibuka antar pengguna knalpot bising supaya jalan tengahnya dapat tercipta lewat sebuah diskusi,” pungkasnya menambahkan di akhir percakapan.  

Knalpot bising bukan hanya sekedar ego dan bahan pemuas diri, tetapi juga hadir sebagai peredam emosi, penumbuh rasa empati, hingga kompromi yang berarti pada diri Koko dan Idan selayaknya seorang pemuda yang hidup dalam lingkup sebuah kota. Kehadiran knalpot bising juga menjadi sebuah penanda adanya suara yang harus diredam untuk membuka ruang saling mendengar antar warga. 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)