Tetap Mudik, Meski yang Dibawa Cuma Harapan Bukan Baju Baru

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Minggu 22 Mar 2026, 20:21 WIB
Pemudik di Stasiun Leuwipanjang pada Kamis 19 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pemudik di Stasiun Leuwipanjang pada Kamis 19 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Siang yang teduh di bawah pepohonan tepi jalan kawasan ITB Bandung itu terasa biasa saja. Lalu lintas mengalir, motor datang dan pergi, dan orang-orang berkejaran dengan urusan masing-masing.

Namun, bagi sebagian orang, hari-hari menjelang Lebaran lalu bukan sekadar rutinitas tapi melainkan soal mudik, tentang menuntaskan rindu, meski yang dibawa tak selalu cukup.

Di tengah kondisi ekonomi yang menekan, keputusan untuk mudik tetap diambil, seperti yang tercermin dari proyeksi Kementerian Perhubungan. Jumlah pemudik Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta orang, sedikit menurun dari 154,6 juta pada 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh faktor utama akibat ekonomi.

Di antara angka-angka besar itu, ada cerita kecil yang tak kalah berarti. Salah satunya datang dari Ujang Nurdin (43).

Pria asal Majalengka tersebut baru saja mengantarkan pelanggan yang turun di kawasan Jalan Ganesa Kota Bandung. Seragam hijau yang dikenakannya tampak rapi, sementara motornya terparkir tenang di sisi jalan.

Ujang Nurdin mudik ke Majalengka meski dalam keterbatasan finansial yang penting bertemu dengan anaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ujang Nurdin mudik ke Majalengka meski dalam keterbatasan finansial yang penting bertemu dengan anaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sekilas, Ujang tak berbeda dari pengemudi ojek online lainnya. Ia lebih banyak diam. Namun ketika diajak berbincang, ceritanya mengalir pelan. Ia akan mudik meski yang dibawa cuma harapan bukan baju baru untuk anaknya.

Sebagai pengemudi ojek online, penghasilannya tak pernah pasti. Meski begitu, ia selalu berusaha menyisihkan sebagian kecil dari pendapatannya. Sedikit demi sedikit, ia kumpulkan untuk satu tujuan sederhana: pulang ke Majalengka saat Lebaran.

“Udah lama nabung, buat mudik sama beli baju anak. Ada sekitar sembilan ratus ribu,” kata Ujang.

Jumlah itu tidak ia ucapkan dengan kebanggaan berlebih, melainkan dengan rasa cukup. Uang itu bukan sekadar angka, melainkan hasil dari hari-hari panjang di jalan, dari setiap pesanan yang ia jalani.

“Ya disisihin aja tiap dapet, walaupun sedikit. Yang penting ada buat pulang,” lanjutnya.

Di balik tabungan itu, tersimpan janji sederhana untuk anaknya. Ia akan membelikan baju baru saat Lebaran. Sebuah janji kecil yang ia genggam erat, apa pun keadaan yang dihadapi.

THR yang Tak Dapat Dinikmati

Harapan Ujang sempat bertambah ketika ia menerima Tunjangan Hari Raya dari aplikator pada pertengahan Ramadan. Sekitar Rp350 ribu masuk ke dompet digitalnya—tambahan yang berarti di tengah keterbatasan.

“Malam itu masuk ke OVO, sekitar tiga ratus lima puluh ribu,” ucapnya.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Keesokan paginya, saat ia membuka ponsel, saldo tersebut sudah lenyap.

“Pas subuh dicek, udah hilang. Hilang sama tabungan saya juga. Saya terpukul banget itu, kayaknya kena hack,” ujar Ujang pelan.

Ia tidak meluapkan amarah. Hanya jeda sejenak dalam ucapannya yang menandakan ada kekecewaan yang ia simpan sendiri.

“Padahal udah bilang ke anak, tenang aja nanti beli baju,” tambahnya.

Ia sempat berniat mengurus ke kantor layanan, berharap ada kemungkinan uangnya kembali. Namun harapannya tak besar.

“Katanya akun nya bisa balik, tapi uangnya nggak bisa,” kata Ujang.

Kalimat itu terdengar datar, seperti sesuatu yang sudah ia terima—bahwa tak semua hal bisa ia kendalikan.

Penumpukan penumpang terjadi Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Kamis 19 Maret 2026 akibat keterlambatan kedatangan armada yang terjebak kemacetan arus mudik Lebaran 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penumpukan penumpang terjadi Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Kamis 19 Maret 2026 akibat keterlambatan kedatangan armada yang terjebak kemacetan arus mudik Lebaran 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kewajiban Pulang

Kehilangan itu sempat menggoyahkan rencananya. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, setiap rupiah memiliki arti.

“Ya sempat kepikiran nggak jadi mudik,” ungkap Ujang.

Ia mulai menghitung ulang ongkos perjalanan, kebutuhan di jalan, dan sisa uang yang dimilikinya. Semua terasa makin sempit.

Namun di balik hitungan itu, ada sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka.

“Tapi ya gimana, pengen ketemu keluarga,” katanya.

Kerinduan perlahan mengalahkan keraguan. Ujang memutuskan tetap pulang, meski dengan bekal yang jauh dari rencana awal.

“Ya diusahain aja, paling nambah narik (pelanggan) lagi,” ucapnya.

Ia menutup kekurangan dengan satu cara yang paling ia kuasai: bekerja lebih lama. Waktu di jalan ia tambah, tenaga ia dorong lebih jauh.

“Sekarang mah yang penting jalan terus aja, dapet berapa juga dijalanin,” kata Ujang.

Baginya, selama masih bisa bekerja, harapan belum benar-benar hilang.

Perjalanan ke Majalengka, yang berjarak sekitar 100 kilometer, tetap ia rencanakan dengan perhitungan sederhana. Ongkos bensin sekitar Rp50 ribu, ditambah biaya makan saat beristirahat di perjalanan.

“Paling bensin sama makan pas istirahat. Nggak banyak juga,” ujarnya.

Lebaran yang Sederhana

Bagi Ujang, mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ada makna yang tak tergantikan—tentang kembali, tentang bertemu.

“Yang penting bisa kumpul sama keluarga,” kata Ujang.

Kalimatnya sederhana, tapi diucapkan dengan keyakinan penuh. Di tengah kesibukannya sebagai perantau, Lebaran menjadi satu-satunya waktu untuk benar-benar pulang.

“Jarang ketemu, jadi Lebaran itu waktunya silaturahmi,” lanjutnya.

Ia tak menuntut banyak. Bukan soal membawa uang berlimpah atau hal-hal mewah.

“Yang penting bisa ketemu, itu aja udah senang,” ucapnya.

Di tengah tekanan ekonomi, kehilangan yang sempat membuatnya ragu, dan perjalanan panjang yang menanti, Ujang tetap memilih pulang.

Bagi Ujang dan sepenanggungan yang memiliki keterbatasan finansial untuk mudik, Lebaran bukan tentang apa yang dibawa. Melainkan tentang siapa yang menunggu, meski yang dibawa hanya harapan bukan baju baru.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)