Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 18 Apr 2026, 11:47 WIB
Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Industri seni rupa di Indonesia terus berkembang sebagai medium ekspresi yang tidak hanya estetis, tetapi juga reflektif terhadap pengalaman personal dan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang alternatif seperti independent gallery dan creative space menjadi wadah penting bagi perupa muda untuk menampilkan karyanya ke publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa seni tidak lagi eksklusif, melainkan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pameran “Rona Makna” yang digelar di Howl Library and Creative Space yang digagas oleh mahasiswa Seni Rupa ITB menjadi salah satu contoh bagaimana ruang kecil mampu menghadirkan pengalaman besar khususnya bagi perupa dan pengunjung yang datang. Di antara sebelas karya yang dipamerkan, setiap lukisan membawa cerita personal yang beragam, mulai dari keresahan hingga refleksi diri. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul “Uang Kecil” karya Vania Kamila Zahra (20).

Lukisannya terlihat begitu nyata, dengan pilihan warna merah bata yang berani—membuat mata melirik. Lukisan tersebut menampilkan lembaran uang nominal Rp5 ribu dan Rp2 ribu yang terlipat, kusut, dan tampak usang di atas lantai tua dengan tekstur menyerupai bata. Tak lupa uang koin pecahan melengkapi latar lukisannya. Sekilas sederhana, namun komposisi visualnya menyimpan lapisan emosi yang kompleks. Dari visual itu, muncul pertanyaan tentang nilai, perjuangan, dan relasi manusia dengan uang dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman Emosional yang Personal

Bagi Vania, “Uang Kecil” berangkat dari pengalaman emosional yang sangat personal. Ia mengaku ketimpangan yang ia rasakan menjadi pemantik utama dalam proses penciptaan karyanya.

“Ide dasar dari lukisan ini itu pas aku ngerasa iri. Orang-orang tuh udah achieve banyak banget hal, tapi kayak effortless banget,” ucap Vania menjelaskan sambil berdiri di samping lukisannya. “Sedangkan aku tuh harus kasih effort lebih, jauh lebih dalam untuk dapetin hal yang sama,” keluhnya.

Dalam ceritanya, Vania menempatkan uang sebagai simbol dari akses dan kesempatan. Ia menyadari bahwa banyak hal dalam hidup menjadi lebih mudah dicapai ketika seseorang memiliki dukungan finansial yang cukup. “Jujur aku milih uang juga karena menurut aku semua itu berangkat dari modal,” ucap Vania.

Proses Personal dalam Setiap Detail

Proses pembuatan untuk lukisan ini bersifat emosional, bukan hanya sekadar ide. Vania mengambil uang pribadi sebagai sumber inspirasi utama, yang membuat karyanya lebih berhubungan dengan kehidupannya.

Dia juga secara sengaja meremas dan "merusak" uang tersebut agar tampak lebih bertekstur dan realistis dalam tampilan referensi lukisannya. Memberikan kesan bahwa uang dalam lukisan tersebut bukan hanya benda, melainkan bagian dari pengalaman yang sebenarnya. “Duit yang ada di dompet aku, aku lecekin biar kelihatan kasar,” kata Vania menceritakan awal mula proses lukisannya.

Lukisan ini selesai dalam waktu kurang lebih dua hingga tiga minggu, melalui berbagai tahap seperti observasi, dokumentasi, hingga melukis dengan cat minyak. Pilihan medium ini juga bukan tanpa alasan, karena menurutnya, cat minyak memberi ruang untuk eksplorasi emosional yang lebih nyaman.

Ekspresi Diri dan Refleksi Sosial

Walaupun terinspirasi dari pengalaman pribadi, "Uang Kecil" tetap bisa diartikan sebagai refleksi dari perjuangan kelas sosial. Vania menyadari bahwa pandangan terhadap karyanya dapat memberikan perspektif yang berbeda bagi setiap individu yang melihatnya. “Jujur karena ini berangkat dari rasa iri aku, lebih ke ekspresi diri sih sebenarnya,” ucap Vania.

Baginya, lukisan tidak perlu hanya dimaknai satu cara, melainkan dapat menjadi cermin bagi pengalaman masing-masing orang. Di balik semua itu, tersimpan pesan sederhana tetapi bermakna yang ingin ia sampaikan kepada pengunjung. Yaitu, di tengah hidup yang penuh persaingan, sering kali orang lupa untuk melihat apa yang sudah ada. “Aku harap orang-orang itu bisa lebih bersyukur, kadang kita terlalu sibuk ngelihat ke atas,” kata Vania.

Melalui "Uang Kecil", Vania tidak hanya menyajikan gambaran tentang uang, tetapi juga mengenai perjuangan, rasa cukup, dan bagaimana manusia memahami hidupnya. Di dalam ruang kecil pameran, karya ini menjadi pengingat bahwa nilai sesuatu tidak selalu bergantung pada jumlahnya, melainkan pada cerita bermakna di baliknya.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)