Pro Kontra Siswa Bengal Jabar Dikirim ke Barak Tentara

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah siswa di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Foto: Tim KDM)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah siswa di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Foto: Tim KDM)

AYOBANDUNG.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) tengah menggagas program pembinaan bagi siswa bermasalah di barak militer. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampaikan rencana ini pada 27 April 2025 lalu. Ia menyebut, siswa yang memiliki perilaku menyimpang akan dibina selama enam bulan di lingkungan militer tanpa mengikuti pendidikan formal. Program ini disusun bersama Kodam III/Siliwangi.

“Selama enam bulan siswa akan dibina di barak dan tidak mengikuti sekolah formal. TNI yang akan menjemput langsung siswa ke rumah untuk dibina karakter dan perilakunya,” kata Dedi di hadapan awak media.

Wacana tersebut segera menuai respons beragam. Lembaga pemantau militer dan HAM, Imparsial, menilai kebijakan ini sebagai bentuk militerisasi ranah sipil yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Imparsial juga mengkritik keterlibatan TNI dalam pembinaan siswa, mengingat institusi tersebut tidak memiliki mandat untuk mendidik warga sipil, apalagi anak-anak.

Dalam pernyataan resminya, Imparsial menyebut bahwa pelibatan TNI untuk mengatasi persoalan kenakalan remaja mencerminkan sikap inferioritas sipil terhadap militer yang berbahaya bagi kehidupan demokrasi. Mereka juga mengingatkan bahwa dalam enam bulan terakhir, setidaknya terdapat lima kasus kekerasan yang melibatkan anggota TNI terhadap masyarakat sipil.

“Pelibatan TNI untuk menjawab persoalan ‘siswa nakal’ jelas menyalahi fungsi TNI itu sendiri,” demikian pernyataan resmi Imparsial.

Dari perspektif pendidikan, kritik juga disuarakan. Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan, menyebut pendekatan tersebut tidak sejalan dengan prinsip pedagogi, yaitu ilmu mendidik yang berangkat dari kebutuhan dan karakter anak. Menurutnya, "TNI bukan obat segala masalah."

Cecep juga menilai bahwa konsep pendidikan pendahuluan bela negara, seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, lebih cocok dibanding wajib militer.

"Levelnya bukan pendidikan militer, lebih seperti Resimen Mahasiswa di kampus,” ujarnya.

Untuk mendukung pelaksanaan, Pemprov Jabar menyiapkan anggaran sebesar Rp6 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025. Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan dana itu dialokasikan untuk 900 peserta.

Pelajar yang mengikuti program akan menjalani rutinitas ala asrama militer, termasuk pelatihan baris-berbaris, olahraga pagi, makan teratur, dan ibadah bersama. Meskipun demikian, pihak penyelenggara tetap menyisipkan waktu sekitar dua jam setiap hari untuk pembelajaran formal layaknya di sekolah.

Kategori siswa yang dikirim diatur dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Nomor 43/pk.03.04/KESRA. Mereka yang tercatat sering tawuran, mabuk, merokok, bermain gim berlebihan, menggunakan knalpot brong, atau terlibat pelanggaran perilaku lainnya akan digembleng di Dodik Bela Negara. Namun pengiriman hanya dilakukan setelah mendapat izin tertulis dari orang tua atau wali siswa.

Untuk menjaring data siswa bermasalah, Pemprov Jabar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan aparat kepolisian. Kapolrestabes Bandung mengatakan bahwa data disaring dan diverifikasi sebelum pelajar dikirim ke lokasi pelatihan.

Digempur Kritik, Program Berlanjut

Di tengah kritik yang muncul, Dedi tetap mempertahankan wacana tersebut. Saat meninjau pelatihan di Depo Pendidikan Bela Negara Rindam III/Siliwangi di Lembang, Bandung Barat, 5 Mei 2025, ia menyatakan siap menerima semua masukan dari lembaga-lembaga seperti Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak, hingga DPR RI. Namun, ia menegaskan program ini tetap akan berjalan.

“Dalam setiap kebijakan pasti ada pro dan kontra. Dari semua itu saya belajar dan mengasah ketajaman berpikir saya sebagai pemimpin,” ujar Dedi, Senin, 5 Mei 2025.

Ia juga menganggap pendekatan militer ini justru bisa mencegah pelanggaran HAM di tingkat keluarga. Menurutnya, jika perilaku anak bermasalah dibiarkan, orang tua maupun masyarakat bisa menjadi korban berikutnya.

“Kalau dibiarkan, akan ada pelanggaran HAM berikutnya. HAM orang tua dilanggar anak, HAM warga lain yang merasa terancam karena perilaku anak-anak itu. Itu juga harus dilindungi,” katanya.

Dedi menilai keterlibatan militer dalam pendidikan bukanlah hal baru. Ia menyebut banyak prajurit TNI mengajar di sekolah-sekolah di daerah terpencil seperti Papua. Militer juga kerap dilibatkan dalam pelatihan baris-berbaris, kegiatan Pramuka, hingga pendidikan calon pegawai negeri.

“Di Papua, TNI ngajar di SD, SMP. Di Taruna Nusantara, TNI juga mengajar. Jadi bukan hal baru,” terangnya.

Ia juga mengklaim bahwa program ini justru mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Menurutnya, banyak orang tua yang justru menitipkan anaknya secara sukarela.

“Orang tua lihat tayangan objektif dari media, akhirnya banyak yang berbondong-bondong nitip anaknya. Anggap saja ini pendidikan kebangsaan dan kepemimpinan,” kata Dedi.

Pelajar SMA di barak militer Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan ini. Menurutnya, Pemerintah Kota Bandung akan ikut mengawasi agar pelaksanaan berlangsung aman dan transparan.

“Program ini dirancang untuk membina kedisiplinan dan karakter positif, terutama bagi siswa dengan catatan pelanggaran seperti narkoba, tawuran, dan masalah lainnya,” kata Farhan.

Efektifkah Pendidikan Gaya Tentara?

Gagasan ini bukan hal baru. Di Amerika Serikat, program serupa dikenal dengan istilah boot camp, dan telah diterapkan sejak awal 1980-an sebagai alternatif hukuman bagi pelaku kejahatan, termasuk remaja bengal. Konsepnya sederhana: meniru pelatihan dasar militer dengan harapan membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan perubahan perilaku.

Dalam program ini, peserta dibagi ke dalam regu atau peleton, tinggal di barak seperti tentara, dan menjalani rutinitas ketat berupa baris-berbaris, kerja fisik, serta pengawasan dari pelatih bergaya militer. Beberapa di antaranya dilengkapi juga dengan layanan rehabilitasi seperti konseling kelompok dan pasca-program (aftercare).

Latar belakang munculnya boot camp tak lepas dari kekecewaan publik terhadap sistem peradilan pidana pada era 1960–1970-an. Kala itu, meningkatnya angka kejahatan dan ketidakpercayaan pada program rehabilitasi serta vonis bersyarat membuat publik menuntut hukuman yang lebih tegas.

Boot camp hadir sebagai solusi bagi koreksi sipil bernuansa militer: terlihat keras, tetapi berdurasi singkat dan relatif hemat tempat dan biaya. Program pertama dibuka di Georgia dan Oklahoma pada 1983 untuk orang dewasa, lalu disusul dengan program pertama untuk remaja di Louisiana pada 1985. Hingga pertengahan 1990-an, puluhan negara bagian dan bahkan sekolah mulai menerapkan versi mereka masing-masing.

Popularitas boot camp tak berjalan tanpa kritik. Para akademisi dan praktisi mempertanyakan apakah struktur semi-militer itu benar-benar cocok untuk rehabilitasi remaja. Kritik yang mengemuka antara lain bahwa boot camp gagal menyentuh akar penyebab kenakalan, seperti lingkungan sosial dan trauma psikologis.

Gaya pelatihan yang mengandalkan disiplin keras, penghinaan terencana, serta tekanan fisik dinilai lebih cocok untuk militer, bukan remaja yang sedang dalam masa tumbuh-kembang. Secara ideologis, pendekatan ini dianggap bertolak belakang dengan prinsip pemulihan dan pendidikan yang selama ini dijunjung tinggi dalam sistem peradilan anak.

Lalu, bagaimana dengan efektivitasnya? Hasil analisis terhadap puluhan dokumen dan studi ilmiah di sejumlah boot camp AS menunjukkan bahwa program ini—terutama yang ditujukan untuk remaja di bawah 18 tahun—tidak berdampak signifikan dalam menurunkan angka residivisme atau pengulangan tindak pidana pesertanya.

Dari 23 studi yang secara khusus meneliti boot camp bagi remaja nakal, mayoritas (14 studi) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara peserta boot camp dan kelompok kontrol dalam hal kecenderungan melakukan pelanggaran ulang. Bahkan, empat studi menunjukkan peningkatan angka residivisme setelah menjalani program. Meski ada lima studi yang mencatat penurunan, pola ini tidak konsisten dan tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar bahwa boot camp efektif sebagai alat rehabilitasi.

Yang menarik, sebagian studi menunjukkan bahwa kehadiran layanan rehabilitasi seperti konseling, pelatihan keterampilan, atau layanan aftercare, berpotensi memperbaiki hasil program. Empat dari lima studi yang mencatat penurunan residivisme menyertakan elemen rehabilitatif di dalamnya. Sebaliknya, tiga dari empat studi yang menemukan peningkatan residivisme justru tidak menyertakan komponen tersebut.

Tapi, korelasi ini tidak selalu konsisten. Sebanyak 12 dari 14 studi yang menunjukkan tidak ada perubahan berarti dalam residivisme ternyata juga berasal dari boot camp yang menyertakan unsur rehabilitasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberadaan konseling atau pelatihan saja belum cukup. Dengan kata lain, menambahkan layanan rehabilitatif ke dalam kerangka disiplin militer tidak otomatis membuat program lebih efektif, terutama jika pendekatannya tidak benar-benar dirancang untuk menjawab kebutuhan individu peserta.

Untuk boot camp yang mencakup pelaku dewasa dan remaja secara bersamaan, hasilnya juga tidak jauh berbeda. Dari 24 studi yang dianalisis, 13 menunjukkan tidak ada efek terhadap residivisme. Hanya sembilan studi yang mencatat adanya penurunan, dan tiga justru menunjukkan peningkatan risiko pelanggaran ulang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)