Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang. Setelah bapak Oto Iskandar Dinata wafat, dipilihlah bukit ini sebagai makam monumentalnya, karena jasad bapak Oto Iskandar Dinata tidak diketemukan. Yang dikuburkan di sana hanyalah pasir dari Pantai Mauk, Tangerang. Dan kawasan bukit ini pun dipakai sebagai pemakaman untuk batalion TKR Bandung Utara, yang di dalamnya terdapat putra sulung dari pak Oto Iskandar Dinata, yaitu Sentot Iskandar Dinata.

Selain Sentot Iskandar Dinata dimakamkan pula para TKR Bandung Utara lainnya yang wafat dalam pertempuran heroik di Utara Bandung dalam masa bersiap melawan Sekutu. Yang paling terkenal adalah makam dari Kapten Abdul Hamid, Sersan Badjuri, Sersan Sodik dan Sersan Surip. Kesemuanya itu meninggal dalam pertempuran yang cukup sengit di kawasan villa Isola (sekarang gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia).

Para pahlawan tersebut wafat dan diabadikan menjadi nama-nama jalan di kawasan utara Bandung, karena jasad mereka diketemukan di sana. Dimana diketemukan jasad Kapten Abdul Hamid, disanalah sekarang menjadi jalan Kapten Abdul Hamid, dimana diketemukan jasad Sersan Badjuri disanalah sekarang menjadi nama jalan Sersan Badjuri, dan begitu pun yang lain.

Apabila kita sering berkendara melalui gerbang Universitas Pendidikan Indonesia yang terdapat patung prajurit, cobalah menepi dan melihat lebih dekat ke arah patung tersebut, karena di bagian samping terdapat 60 nama korban dalam pertempuran sengit tersebut. Ke-60 korban pun dimakamkan di Pasir Pahlawan dalam satu liang lahat (karena keadaan jenazah yang sudah tidak sempurna dan chaos yang terjadi saat itu tidak memungkinkan untuk dimakamkan satu per satu).

Itulah mengapa sebuah bukit sepi yang hanya ditumbuhi ilalang kini berganti nama menjadi Pasir Pahlawan. Sebuah bukit yang menyimpan kisah masa lalu yang kelam, sebuah tempat yang sering terlewatkan, padahal kita sering melewatinya.

Berjalan terus ke arah utara kita akan menemukan kawasan pertapaan Karmel. Pertapaan Karmel adalah sebuah destinasi Ziarah Katolik yang tenang dan asri di selatan Lembang. Kawasan ini dikelola oleh suster ordo Karmel (OCD), itulah mengapa kawasan ini dinamakan Karmel.

Foto udara akses jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: KITLV)
Foto udara akses jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: KITLV)

Dahulu kawasan ini adalah bagian dari peternakan dan perkebunan Baroe Adjak. Sebuah peternakan terbesar se-Asia Tenggara yang pada tahun 1933 memiliki hampir 6000 ekor sapi berkualitas. Kawasan Baroe Adjak bukan hanya berbisnis peternakan, mereka juga terkenal dengan kualitas sayurannya yang baik, salah satunya adalah kol dan kentang.

Kentang sebetulnya bukan tanaman khas dari nusantara. Tanaman ini didatangkan ke Lembang oleh beberapa orang Boer. Kentang berasal dari dataran tinggi pegunungan Andes di Amerika Selatan, yang secara spesifik meliputi wilayah Peru dan Bolivia. Tanaman ini telah dibudidayakan selama ratusan tahun lalu dibawa ke Eropa. Bangsa Boer yang terkenal piawai dalam bertani memperoleh bibit kentang dari pemerintah kolonial Belanda yang didatangkan dari Belanda.

Perkebunan Baroe Adjak memiliki ladang luas di kawasan kaki gunung Tangkuban Parahu dan terkenal dengan nama Monoko. Hingga sekarang kawasan Monoko adalah kawasan sentra sayuran. Dan gudang-gudang kentang terdapat di sebuah kawasan yang nantinya menjadi kawasan pertapaan Karmel.

Pada tahun 1939, sekelompok suster Karmel OCD dari biara induk Nijmegen H. Landstiching berangkat dari Nijmegen pada tanggal 14 November 1939 dengan menumpang kapal barang. Mereka semua tiba di Batavia pada 31 Desember 1939 dan langsung menuju keuskupan Bandung.

Di Lembang mereka menempati bekas gudang susu dan kentang milik Baroe Adjak. Mereka menempati 3 ruangan, satu digunakan untuk kapel, satu digunakan untuk kamar dan satu lagi digunakan untuk kamar bicara.

Akhirnya kawasan bekas gudang-gudang tersebut dihibahkan oleh Giuseppe Ursone yang saat itu menjadi pengurus Baroe Adjak, karena sang kakak Pietro Antonio Ursone telah berpulang pada 1935. Pada akhirnya tahun 1940 berdirilah sebuah kawasan religi Karmel yang masih berdiri hingga sekarang. Bahkan di dalam kawasan Karmel kita akan menemukan galeri yang mencakup sejarah biara dari mulai berdiri hingga sekarang.

Terus berjalan ke utara, kita biasanya akan menemukan keramaian wisata kekinian di Cikole. Namun ada sebuah kampung yang cukup unik di kawasan desa Cikole. Namanya adalah Kampung Lapang. Sebuah perkampungan padat akan pendatang luar Lembang, padahal dulu di sana hanyalah kebun-kebun yang disulap oleh militer kolonial menjadi landasan terbang pada Perang Dunia I.

Sempat menjadi lapangan terbang terbengkalai karena landasan pacu yang tidak sempurna, namun pada masa Perang Dunia II, landasan tersebut dipakai oleh tentara Jepang. Masih terpatri di ingatan para belasan narasumber yang saya temui di sekitar kampung tersebut. Mereka saat itu masih kanak-kanak, dan mereka dapat mengingat dengan jelas banyak mobil-mobil militer Jepang yang terparkir rapi di sana. Sesekali terdapat pesawat tempur yang terbang dari kawasan Kalijati, Subang.

Toponimi terakhir yang saya dapatkan selama masa riset 2009 hingga 2022 adalah kawasan Cisarua. Siapa yang tidak tahu akan kawasan air terjun Pelangi atau warga lama menyebutnya dengan Curug Cimahi. Warga lama menandai kawasan curug ini dengan sebutan Cisarua, yang artinya jarak dari kawasan ini ke alun-alun Cimahi dan ke alun-alun Lembang itu sama atau dalam bahasa Sunda disebut sarua hingga terjadilah toponimi Cisarua. Walau apabila dihitung dengan skala modern sekarang, mungkin akan terjadi selisih kilometer, namun itulah ciri khas perhitungan warga tempo dulu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)