Persembahan untuk Lembang

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)

Persentuhan pertama saya dengan Lembang adalah ketika harus mengikuti almarhumah ibu bekerja di salah satu balai pertanian di utara Lembang sejak 1981. Karena dahulu domisili kami sekeluarga adalah di jantung Kota Bandung, yaitu di kawasan perkampungan tua di barat Braga. Tatkala saat kecil aku tidak ada yang menjaga, akhirnya ibu membawa saya untuk ikut ke Lembang.

Saat itu jalur Bandung–Lembang belum sepadat sekarang, malahan terbilang sangat lengang. Apabila sekarang angkutan umum sering “ngetem” untuk mencari penumpang, dahulu di tahun 1990-an, kamilah yang berebut angkutan umum. Lumayan lama sekali menunggu kedatangan angkutan tersebut di kawasan Viaduct, Bandung, karena armadanya masih sangat sedikit, sedangkan penumpangnya banyak, maklumlah dahulu belum banyak ojek online dan warga masyarakat pun masih sedikit yang memiliki kendaraan bermotor.

Dalam perjalanan ke Lembang, terkadang angkutan umum tersebut berhenti sebentar di kawasan terminal Ledeng, untuk berganti sopir dan saya terkesima dengan bangunan Villa Isola yang megah dan memiliki arsitektur unik, yang ada di kepala saya sebagai anak-anak saat itu adalah, gedungnya seperti kue ulang tahun raksasa. Dalam perjalanan yang berkelok-kelok ke Lembang kami akan disuguhkan banyak bangunan tua peninggalan Belanda, seperti rumah-rumah indah yang berhalaman luas yang salah satunya dijadikan Hotel Abadi Asri.

Memasuki Lembang mata kita akan dimanjakan dengan keadaan kawasan pedesaan yang hening dan ramah. Bila kita beradu pandang dengan warga Lembang, senyum dan sapaan hangat adalah sebuah tradisi yang sangat lekat. Hawa dingin dan berkabut bahkan hingga pukul 9 pagi pada tahun 90-an, kabut masih sangat tebal, di ujung Jalan Raya Lembang banyak sekali penjual ketan dan jagung bakar, terkadang diselingi oleh penjual angklung yang terus memainkan lagu-lagu daerah, menambah kesan yang tak terlupakan.

Tahun 1994 saya dan keluarga resmi pindah ke Lembang, karena rumah kami di Braga mengalami musibah kebakaran, terkadang dalam benak ini berkata, apabila musibah kebakaran itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak akan pernah menjadi warga Lembang. Memang selalu ada hikmah di balik setiap keadaan yang terkadang baru kita sadari setelah melewatinya cukup lama.

Saat itu saya bersekolah di SMPN 1 Lembang, sebuah sekolah menengah yang memakai gedung tua peninggalan Belanda. Sejak sekolah dasar memang saya selalu bersekolah di sekolah yang menempati bangunan tua, sekolah dasar saya adalah SDN Merdeka 5 Bandung, yang memang telah menjadi sekolah khusus pribumi sejak zaman penjajahan Belanda.

Lembang di masa remaja saya adalah sebuah tempat yang damai, dingin, hening dan sebuah tempat yang bangun lebih awal. Karena sejak pukul 3 pagi kawasan ini telah hidup oleh warganya yang menyambangi pasar tradisional untuk menjual hasil kebun mereka, oleh karena itu harga sayuran jauh lebih murah di Lembang. Selain itu para peternak sapi yang sejak sebelum terdengar suara adzan subuh telah membersihkan kandang-kandang sapi dan kambing mereka, dilanjutkan dengan menyetorkan susu hasil pemerahannya kepada mobil-mobil tangki susu yang telah menunggu di beberapa tempat penyetoran. Kebetulan di dekat rumah terdapat satu tempat penyetoran susu yang lumayan cukup besar. Pemandangan indah dan membumi ini yang mengiringi kehidupan remaja saya, yang sebelumnya terbiasa dengan hingar-bingar Braga, kini harus menetap di kawasan membumi yang hijau.

Apabila akhir pekan saya dan adik perempuan saya sering sekali menaiki kuda pacu di kawasan Baru Ajak. Kami berkeliling hingga kawasan peneropongan bintang Bosscha dan berakhir di Situ Umar yang sangat indah. Sepanjang mata memandang adalah kebun hijau, diselingi kandang-kandang sapi Baru Ajak, diselingi juga beberapa warga yang mulai memancing di Situ Umar. Ada beberapa warga yang menaiki rakit untuk membersihkan eceng gondok dan menangkap ikan. Situ Umar saat itu adalah kawasan indah dengan air yang jernih dan kabut tipis di atasnya.

Namun, kini setelah 32 tahun berlalu, Lembang semakin kehilangan jati dirinya. Warga yang sibuk lupa menyapa hangat, bahkan mereka berlomba dengan sepeda motornya, berderu dengan waktu yang terasa semakin cepat. Para warga semakin enggan menanam sayuran dan beternak karena anak turun mereka lebih memilih menjadi pengusaha atau kerja kantoran, pada akhirnya para warga pun menyerah akan keadaan zaman, dan mengubah kebun sayur dan kandang-kandang ternak mereka menjadi vila atau homestay bagi para pelancong. Situ Umar yang indah dan membumi kini berganti menjadi kawasan Floating Market Lembang, di mana merupakan pusat hiburan bagi warga luar Lembang, namun merenggut keindahan yang biasa dinikmati warga lokal. Kawasan tempat saya berkuda pun kini akan mulai dibangun perumahan bahkan kawasan Grand Hotel Lembang yang menenangkan kini akan bertransformasi untuk menjadi pusat otomotif terbesar di Asia Tenggara, Utopia Park.

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya. Kini, Lembang hanyalah kawasan yang sesak, kemacetan, banjir, kecelakaan lalu lintas, semua ada menjadi satu. Apakah terbersit untuk bertanya pada Lembang itu sendiri, apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu merindukan dirimu yang dahulu?

Sejak 2009 saya mulai meriset sejarah Lembang, dan kini telah tertuang dalam beberapa karya buku yang saya terbitkan sendiri secara independen dengan penerbitan saya sendiri yang dirintis sejak 2023, semoga Lembang lekas pulih dan kembali ke keadaan sedia kala, agar generasi muda dapat menikmati indahnya Lembang yang sesungguhnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Okt 2026, 17:12

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 09:36

Sumpah dari Masa ke Masa

Membicarakan "sumpah" yang dicatat sejarah.

Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Beranda 29 Okt 2026, 09:35

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 08:56

Peran Ganda Perempuan dalam Kondisi Karhutla

Dalam segala keadaan perempuan seringkali harus menjalani berbagai macam peran baik berdasarkan keinginan ataupun tuntutan sosial.

Ilustrasi Perempuan mendampingi anaknya belajar. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 21:32

Ketika Karhutla Menjadi Pelajaran bagi Warga Bandung

Ketika karhutla kembali melanda. Warga Bandung selalu mengikuti bagaimana api dipadamkan. Namun apa bukti kepedulian kita di sini? Tumbuhkan kesadaran lingkungan menjadi kebiasaan dan tanggung jawab.

Kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: tribratanews.polri.go.id)