Menguak Isi Hati Para Penumpang Soal Wajah Baru Metro Trans Jabar

Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan Sabtu 03 Jan 2026, 08:24 WIB
Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Suasana pagi dan sore hari di sekitaran halte bus Metro Trans Jabar (MTJ) Dipati Ukur dan Jatinangor selalu punya kesan tersendiri.

Para mahasiswa yang berangkat atau pulan dari kampus, pekerja yang sibuk memilih posisi duduk sambil menunggu di halte, hingga penumpang yang terus-menerus menatap ponsel—memastikan sudah sampai mana bus Metro Trans Jabar (MTJ) berjalan lewat aplikasi pemantau yang disebut “Mitra Darat.”

Dari sekian rute MBT, salah satu yang digandrungi masyarakat adalah Koridor 5 Dipati Ukur. Koridor ini tidak hanya melayani rute dalam kota saja, tapi lintas kota, yakni dari Kota Bandung hingga ke wilayah Jatinangor, yang masuk wilayah Kabupaten Sumedang. Koridor ini telah beroperasi sejak lima tahun silam. Demikian keterangan dari salah seorang Pramudi MJT, Yusuf Supriatna (45).

Bus Metro Trans Jabar di Halte Unpad Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bus Metro Trans Jabar di Halte Unpad Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Perlu diketahui MJT melayani 6 rute eksisting, yaitu: 1. Leuwipanjang – Soreang; 2. Kota Baru Parahyangan – Alun-alun Bandung; 3. BEC – Baleendah; 4. Leuwipanjang – Dago; 5. Dago – Jatinangor; 6. Leuwipanjang – Majalaya. Jumlah armadanya sebanyak 85 unit dengan harga tiket untuk masyarakat umum sebesar Rp4.900 dan Rp 2.000 bagi pelajar dan lansia.

Untuk menjawab kebutuhan mobilitas warga, MBT terus melakukan pembenahan layanan secara bertahap. Perubahan ini bukan semata soal operasional, melainkan upaya menghadirkan transportasi umum yang semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Akses yang kian mudah melalui penambahan halte, tarif yang terjangkau, serta fasilitas dasar yang tetap diperhatikan menjadi bagian dari strategi tersebut demi menjaga kenyamanan penumpang selama perjalanan.

Walau pada prakteknya sekarang, transformasi MTJ membutuhkan waktu penyesuaian mengenai ukuran bus, hingga penambahan rute halte yang baru dibuat, hal itu ternyata tidak terlalu mengganggu kenyamanan Yusuf sebagai Pramudi MTJ.

Pramudi Metro Trans Jabar, Yusuf Supriatna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pramudi Metro Trans Jabar, Yusuf Supriatna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Yusuf menggarisbawahi, jika ukuran bus tidak serta-merta mempengaruhi dirinya sendiri saat bekerja. Hanya saja, jumlah kursi jadi lebih terbatas bagi jumlah para penumpang biasanya.

“Kalau dari saya pribadi, lebih nyaman membawa bus yang berukuran medium ini, ya, daripada yang besar dulu.

Yang medium ini, badan busnya lebih mudah dikendalikan pada ukuran ruas jalan yang dilewati.” Yusuf kemudian menjelaskan, biasanya jika sedang mengemudikan bus yang dulu, dirinya harus lebih berhati-hati dalam hal menjaga jarak dengan ruas dan lebar jalan, maupun ketika harus berhadapan dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan.

Yusuf juga mengaku, terdapat penambahan jatah ritase dari sisi pengaturan waktu jam kerja untuk para Pramudi setelah MTJ resmi bertransformasi. Namun, hal ini tidak berdampak langsung pada jumlah besaran upah yang diterima para Pramudi, hanya berdampak pada durasi pelayanan mereka di lapangan saja bagi para penumpang.

Di sisi lain, perubahan ini mengundang pro-kontra dari sudut pandang masyarakat sebagai penumpang dan konsumen. Salah satunya dari Annisa Rahayu (23) yang terbiasa untuk menggunakan layanan bus MTJ secara rutin, kurang lebih empat sampai enam kali seminggu.

“Kalau di jam-jam sibuk, nggak enak, berdesakan. Lebih sempit dan sesak karena ukuran busnya mengecil.” Ujarnya, mengeluh dengan adanya realitas penumpukan jumlah penumpang di jam-jam tertentu.

Meskipun begitu, Annisa mengaku bahwa dirinya tetap bersyukur karena adanya penambahan halte menguntungkan dirinya dan beberapa penumpang lain, sebab terbantu dengan mobilitas yang lebih dekat dari jarak biasanya untuk menjangkau dan naik ke dalam Bus MTJ. Walau jarak waktu tempuh dari tempat tinggalnya ke lokasi yang dituju agak bergeser lebih lama sedikit dari waktu yang dulu.

Hal serupa dilontarkan dari sudut pandang penumpang lain, yakni Syifa Khairunnisa Zahrah (21), yang menganggap bahwa pada akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, ukuran bus MTJ ini sangat berdampak pada ruang gerak para penumpang, khususnya di jam-jam padat pulang kerja ataupun berangkat kerja.

Meskipun pada akhirnya, penambahan jumlah halte masuk ke dalam kategori positif yang bisa didapatkan dari Layanan Transum MTJ ini. “Selain itu, penambahan jumlah kursi prioritas juga merupakan salah satu langkah perubahan yang baik, itu berarti pihak MTJ sudah mulai peka untuk mempertimbangkan posisi kelompok rentan pada layanan publik.”

Lain cerita dengan pengalaman Aliya (22), yang mengaku secara langsung terdampak oleh adanya transformasi ukuran bus MTJ ini. “Waktu itu pernah mau naik Metro Trans Jabar dari halte Moh. Toha supaya lebih dekat dengan Gerbang Tol Padaleunyi menuju Jatinangor, saya ditolak sampai lima kali oleh Pramudinya—dikarenakan bus sudah terlalu penuh.” Ujarnya menjelaskan secara lebih detail.

Halte Mochamad Toha yang sudah direnovasi, tampak kanopinya yang baru. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Halte Mochamad Toha yang sudah direnovasi, tampak kanopinya yang baru. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Dari ketiga sudut pandang penumpang, mereka tetap melihat transformasi ini sebagai langkah yang baik daripada sebelumnya, khususnya pada akses pintu dua arah yang berbeda—pintu untuk naik dan turun penumpang. Walau tetap saja, harus menerima kenyataan pahit sebab ukuran bus lebih kecil daripada ukuran yang dulu.

Annisa dan Syifa berharap, penambahan jumlah armada dapat kembali dikaji ulang, dan menyampaikan usulannya agar Pihak Pengelola MJT bisa menambah armada lain guna meminimalisir penumpukan jumlah penumpang di tahun 2026. Serta jika memungkinkan, Metro Trans Jabar  bisa hadir dengan mencoba membuka koridor baru, yakni koridor yang dapat mencakup wilayah Bandung Timur untuk dilewati nantinya.

Tak sampai disitu, para penumpang pun sepakat mengenai fasilitas halte yang belum sepenuhnya sempurna. Apalagi jika sudah berkenaan dengan keamanan kaum hawa di malam hari. Beberapa halte memang sudah dikategorikan sebagai tempat layak tunggu penumpang yang tentunya dilengkapi oleh tempat duduk, fasilitas CCTV, dan kanopi sebagai peneduh.

Namun sayangnya, halte yang diperbaiki baru bisa dihitung jari dan belum bersifat menyeluruh. Masih ada beberapa halte yang terlihat kurang pencahayaan dan tidak dilengkapi fasilitas CCTV maupun penampakan kanopi pelindung yang sudah usang dan tidak ada tanda halte bus yang jelas, apakah halte yang tersedia merupakan halte MTJ atau halte angkutan umum biasa di Kota Bandung. 

Aliya berharap, perbaikan fasilitas halte juga bisa menjadi fokus utama dalam langkah perbaikan yang konkret dari Pihak Pengelola MTJ guna keamanan dan kenyamanan bersama, khususnya pada wanita dan para Ibu yang masih beraktivitas di atas jam enam sore.

Sementara itu, Yusuf menambahkan bahwa beragam keluhan dari masyarakat memang selalu berdatangan—bahkan dari sebelum Metro Trans Jabar resmi bertransformasi seperti sekarang. Hal itu diungkapkan sebagai tindakan yang wajar dan positif di mana masyarakat dan pihak pengelola bisa saling terbuka, bertukar pikiran juga responsif terhadap satu sama lain melalui layanan Call Centre guna menciptakan kenyamanan bersama.

“Inti dari pekerjaan kami kan, ujung-ujungnya untuk melayani masyarakat.” Ungkapnya sambil tersenyum hangat.

Walaupun pada praktiknya, bukan hanya penumpang yang merasakan keluhan dan sisi tak nyaman dari masa transisi.

Pramudi juga merasakan masa penyesuaian yang tak jauh berbeda dengan para konsumen MTJ. “Kadang ada beberapa halte baru yang masih terlewat, tapi ya gapapa, namanya juga belum terbiasa.” Jelasnya memaklumi dan menjadikan pelajaran setiap harinya.

Yusuf mengaku, deretan opsi halte baru pada jalur tengah dari pemberhentian Koridor 5; Dipati Ukur sampai Jatinangor pun dipilih agar Metro Trans Jabar bisa hadir lebih dekat lagi dengan warga Bandung Raya.

Jelas ini bukan hanya soal transformasi belaka, tetapi mencakup benang merah aktivitas yang berulang secara terus menerus setiap harinya. Dan melibatkan warga yang adaptif tentang semua hal yang menyangkut transportasi umum di Bandung Raya, serta peran dari pihak pengelola hingga Pramudi yang terus-menerus berupaya untuk dapat memenuhi ekspektasi warga.

“Pasti akan selalu ada kekurangan dan kelebihan,” ujar Yusuf. “Yang penting terus dievaluasi.” Pungkasnya.

Transformasi Layanan Bus Metro Trans Jabar (MTJ) ini mungkin memang belum dapat dikatakan sempurna. Namun, kehadiran MTJ dengan segala fasilitas barunya membawa dampak yang berangsur-angsur membaik, tentang ingatan yang melekat pada warga Bandung Raya terhadap hadirnya transportasi umum dalam melengkapi kehidupan mereka sehari-hari.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)