Menguak Isi Hati Para Penumpang Soal Wajah Baru Metro Trans Jabar

6 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Suasana pagi dan sore hari di sekitaran halte bus Metro Trans Jabar (MTJ) Dipati Ukur dan Jatinangor selalu punya kesan tersendiri.

Para mahasiswa yang berangkat atau pulan dari kampus, pekerja yang sibuk memilih posisi duduk sambil menunggu di halte, hingga penumpang yang terus-menerus menatap ponsel—memastikan sudah sampai mana bus Metro Trans Jabar (MTJ) berjalan lewat aplikasi pemantau yang disebut “Mitra Darat.”

Dari sekian rute MBT, salah satu yang digandrungi masyarakat adalah Koridor 5 Dipati Ukur. Koridor ini tidak hanya melayani rute dalam kota saja, tapi lintas kota, yakni dari Kota Bandung hingga ke wilayah Jatinangor, yang masuk wilayah Kabupaten Sumedang. Koridor ini telah beroperasi sejak lima tahun silam. Demikian keterangan dari salah seorang Pramudi MJT, Yusuf Supriatna (45).

Bus Metro Trans Jabar di Halte Unpad Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bus Metro Trans Jabar di Halte Unpad Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Perlu diketahui MJT melayani 6 rute eksisting, yaitu: 1. Leuwipanjang – Soreang; 2. Kota Baru Parahyangan – Alun-alun Bandung; 3. BEC – Baleendah; 4. Leuwipanjang – Dago; 5. Dago – Jatinangor; 6. Leuwipanjang – Majalaya. Jumlah armadanya sebanyak 85 unit dengan harga tiket untuk masyarakat umum sebesar Rp4.900 dan Rp 2.000 bagi pelajar dan lansia.

Untuk menjawab kebutuhan mobilitas warga, MBT terus melakukan pembenahan layanan secara bertahap. Perubahan ini bukan semata soal operasional, melainkan upaya menghadirkan transportasi umum yang semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Akses yang kian mudah melalui penambahan halte, tarif yang terjangkau, serta fasilitas dasar yang tetap diperhatikan menjadi bagian dari strategi tersebut demi menjaga kenyamanan penumpang selama perjalanan.

Walau pada prakteknya sekarang, transformasi MTJ membutuhkan waktu penyesuaian mengenai ukuran bus, hingga penambahan rute halte yang baru dibuat, hal itu ternyata tidak terlalu mengganggu kenyamanan Yusuf sebagai Pramudi MTJ.

Pramudi Metro Trans Jabar, Yusuf Supriatna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pramudi Metro Trans Jabar, Yusuf Supriatna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Yusuf menggarisbawahi, jika ukuran bus tidak serta-merta mempengaruhi dirinya sendiri saat bekerja. Hanya saja, jumlah kursi jadi lebih terbatas bagi jumlah para penumpang biasanya.

“Kalau dari saya pribadi, lebih nyaman membawa bus yang berukuran medium ini, ya, daripada yang besar dulu.

Yang medium ini, badan busnya lebih mudah dikendalikan pada ukuran ruas jalan yang dilewati.” Yusuf kemudian menjelaskan, biasanya jika sedang mengemudikan bus yang dulu, dirinya harus lebih berhati-hati dalam hal menjaga jarak dengan ruas dan lebar jalan, maupun ketika harus berhadapan dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan.

Yusuf juga mengaku, terdapat penambahan jatah ritase dari sisi pengaturan waktu jam kerja untuk para Pramudi setelah MTJ resmi bertransformasi. Namun, hal ini tidak berdampak langsung pada jumlah besaran upah yang diterima para Pramudi, hanya berdampak pada durasi pelayanan mereka di lapangan saja bagi para penumpang.

Di sisi lain, perubahan ini mengundang pro-kontra dari sudut pandang masyarakat sebagai penumpang dan konsumen. Salah satunya dari Annisa Rahayu (23) yang terbiasa untuk menggunakan layanan bus MTJ secara rutin, kurang lebih empat sampai enam kali seminggu.

“Kalau di jam-jam sibuk, nggak enak, berdesakan. Lebih sempit dan sesak karena ukuran busnya mengecil.” Ujarnya, mengeluh dengan adanya realitas penumpukan jumlah penumpang di jam-jam tertentu.

Meskipun begitu, Annisa mengaku bahwa dirinya tetap bersyukur karena adanya penambahan halte menguntungkan dirinya dan beberapa penumpang lain, sebab terbantu dengan mobilitas yang lebih dekat dari jarak biasanya untuk menjangkau dan naik ke dalam Bus MTJ. Walau jarak waktu tempuh dari tempat tinggalnya ke lokasi yang dituju agak bergeser lebih lama sedikit dari waktu yang dulu.

Hal serupa dilontarkan dari sudut pandang penumpang lain, yakni Syifa Khairunnisa Zahrah (21), yang menganggap bahwa pada akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, ukuran bus MTJ ini sangat berdampak pada ruang gerak para penumpang, khususnya di jam-jam padat pulang kerja ataupun berangkat kerja.

Meskipun pada akhirnya, penambahan jumlah halte masuk ke dalam kategori positif yang bisa didapatkan dari Layanan Transum MTJ ini. “Selain itu, penambahan jumlah kursi prioritas juga merupakan salah satu langkah perubahan yang baik, itu berarti pihak MTJ sudah mulai peka untuk mempertimbangkan posisi kelompok rentan pada layanan publik.”

Lain cerita dengan pengalaman Aliya (22), yang mengaku secara langsung terdampak oleh adanya transformasi ukuran bus MTJ ini. “Waktu itu pernah mau naik Metro Trans Jabar dari halte Moh. Toha supaya lebih dekat dengan Gerbang Tol Padaleunyi menuju Jatinangor, saya ditolak sampai lima kali oleh Pramudinya—dikarenakan bus sudah terlalu penuh.” Ujarnya menjelaskan secara lebih detail.

Halte Mochamad Toha yang sudah direnovasi, tampak kanopinya yang baru. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Halte Mochamad Toha yang sudah direnovasi, tampak kanopinya yang baru. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Dari ketiga sudut pandang penumpang, mereka tetap melihat transformasi ini sebagai langkah yang baik daripada sebelumnya, khususnya pada akses pintu dua arah yang berbeda—pintu untuk naik dan turun penumpang. Walau tetap saja, harus menerima kenyataan pahit sebab ukuran bus lebih kecil daripada ukuran yang dulu.

Annisa dan Syifa berharap, penambahan jumlah armada dapat kembali dikaji ulang, dan menyampaikan usulannya agar Pihak Pengelola MJT bisa menambah armada lain guna meminimalisir penumpukan jumlah penumpang di tahun 2026. Serta jika memungkinkan, Metro Trans Jabar  bisa hadir dengan mencoba membuka koridor baru, yakni koridor yang dapat mencakup wilayah Bandung Timur untuk dilewati nantinya.

Tak sampai disitu, para penumpang pun sepakat mengenai fasilitas halte yang belum sepenuhnya sempurna. Apalagi jika sudah berkenaan dengan keamanan kaum hawa di malam hari. Beberapa halte memang sudah dikategorikan sebagai tempat layak tunggu penumpang yang tentunya dilengkapi oleh tempat duduk, fasilitas CCTV, dan kanopi sebagai peneduh.

Namun sayangnya, halte yang diperbaiki baru bisa dihitung jari dan belum bersifat menyeluruh. Masih ada beberapa halte yang terlihat kurang pencahayaan dan tidak dilengkapi fasilitas CCTV maupun penampakan kanopi pelindung yang sudah usang dan tidak ada tanda halte bus yang jelas, apakah halte yang tersedia merupakan halte MTJ atau halte angkutan umum biasa di Kota Bandung. 

Aliya berharap, perbaikan fasilitas halte juga bisa menjadi fokus utama dalam langkah perbaikan yang konkret dari Pihak Pengelola MTJ guna keamanan dan kenyamanan bersama, khususnya pada wanita dan para Ibu yang masih beraktivitas di atas jam enam sore.

Sementara itu, Yusuf menambahkan bahwa beragam keluhan dari masyarakat memang selalu berdatangan—bahkan dari sebelum Metro Trans Jabar resmi bertransformasi seperti sekarang. Hal itu diungkapkan sebagai tindakan yang wajar dan positif di mana masyarakat dan pihak pengelola bisa saling terbuka, bertukar pikiran juga responsif terhadap satu sama lain melalui layanan Call Centre guna menciptakan kenyamanan bersama.

“Inti dari pekerjaan kami kan, ujung-ujungnya untuk melayani masyarakat.” Ungkapnya sambil tersenyum hangat.

Walaupun pada praktiknya, bukan hanya penumpang yang merasakan keluhan dan sisi tak nyaman dari masa transisi.

Pramudi juga merasakan masa penyesuaian yang tak jauh berbeda dengan para konsumen MTJ. “Kadang ada beberapa halte baru yang masih terlewat, tapi ya gapapa, namanya juga belum terbiasa.” Jelasnya memaklumi dan menjadikan pelajaran setiap harinya.

Yusuf mengaku, deretan opsi halte baru pada jalur tengah dari pemberhentian Koridor 5; Dipati Ukur sampai Jatinangor pun dipilih agar Metro Trans Jabar bisa hadir lebih dekat lagi dengan warga Bandung Raya.

Jelas ini bukan hanya soal transformasi belaka, tetapi mencakup benang merah aktivitas yang berulang secara terus menerus setiap harinya. Dan melibatkan warga yang adaptif tentang semua hal yang menyangkut transportasi umum di Bandung Raya, serta peran dari pihak pengelola hingga Pramudi yang terus-menerus berupaya untuk dapat memenuhi ekspektasi warga.

“Pasti akan selalu ada kekurangan dan kelebihan,” ujar Yusuf. “Yang penting terus dievaluasi.” Pungkasnya.

Transformasi Layanan Bus Metro Trans Jabar (MTJ) ini mungkin memang belum dapat dikatakan sempurna. Namun, kehadiran MTJ dengan segala fasilitas barunya membawa dampak yang berangsur-angsur membaik, tentang ingatan yang melekat pada warga Bandung Raya terhadap hadirnya transportasi umum dalam melengkapi kehidupan mereka sehari-hari.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)