Cerita Penumpang Transportasi Umum Kota Bandung antara Harapan dan Kenyataan

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID- Di Kota Bandung, ongkos transportasi umum seperti bus dan angkot masih terbilang ramah di kantong. Bus Trans Pasundan misalnya, hanya menarik tarif Rp4.999 atau dibulatkan Rp5.000 sekali jalan, sementara angkot biasanya mematok Rp3.000 hingga Rp5.000 untuk jarak dekat. Namun, meski murah, pilihan ini masih menyisakan banyak cerita: dari perjalanan yang tersendat macet, rute yang terbatas, hingga fasilitas yang belum sepenuhnya membuat penumpang nyaman.

Rencana Nasya Ramadhinta Harrytama untuk menghindari stres dalam perjalanan di Kota Bandung sirna sudah. Meski memilih naik angkutan umum, kemacetan tetap menjadi teman setia. Bus kota yang ia tumpangi kerap tersendat di jalur padat, membuat waktu tempuh perjalanan dua kali lipat lebih lama.

Pengalaman Nasya hanyalah satu potret kecil dari wajah lalu lintas Kota Bandung yang pada 2024 dinobatkan TomTom Traffic Index sebagai kota paling macet di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut, rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer, menjadikannya peringkat nomor satu di Indonesia atau ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Menurut Nasya, laporan tersebut ada benarnya. Ia masih ingat betul bagaimana kemacetan terjadi di beberapa titik, membuat perjalanannya tak semulus bayangan.

Wanita 20 tahun itu hampir setiap hari menggunakan transportasi umum untuk bepergian. Rumahnya berada di kawasan Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. Menurutnya, menggunakan bus lebih praktis ketimbang harus menyetir sepeda motor. Bus juga ia pilih untuk menghindari panas terik matahari di jalan.

“Karena sebenarnya lebih praktis aja dan nggak ribet. Sekarang semuanya serba teknologi, jadi simpel aja dan nggak harus panas-panas bawa motor gitu,” ucapnya.

Meski begitu, Nasya tak menampik ada sisi kurangnya ketika memilih transportasi umum. Ia sering kali terjebak macet hingga waktu tempuh bisa mencapai satu setengah jam, terutama karena jarak rumahnya di Cimareme menuju kampus cukup jauh.

“Minusnya suka kejebak macet ya. Kalau bener-bener macet bisa sampai satu setengah jam, jadi agak makan waktu,” ujarnya.

Namun, ia merasa terbantu dengan adanya aplikasi yang mempermudah penumpang untuk memantau posisi bus. Fitur tersebut membuatnya bisa memperkirakan waktu keberangkatan dari rumah.

Dari sisi tarif, Nasya menilai bus Trans Pasundan sangat ramah di kantong pelajar. Ongkos sekali jalan hanya Rp4.999, atau jika dibulatkan Rp5.000. Sistem pembayaran pun kini serba praktis, bisa menggunakan kartu tap atau QRIS.

Sekali pakai bus yang Trans Pasundan itu murah banget ya, cocok di kantong pelajar kayak aku,” kata Nasya sambil tersenyum.

Akan tetapi, bus itu tidak melewati kampusnya yang berada di Jalan PHH Mustofa. Sehingga ia harus turun di halte bus yang berada di kawasan Braga untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan moda lain.

Soal harapan, ia ingin layanan bus bisa semakin tepat waktu. Selain murah, faktor kenyamanan dan keamanan juga menjadi alasan dirinya tetap setia menggunakan bus. Ia merasa lebih tenang karena bus kini dilengkapi CCTV, sehingga lebih aman dari gangguan orang asing. Ditambah lagi, fasilitas AC membuat perjalanan tak terasa gerah.

“Jadi kita tinggal duduk manis sampai halte, dan membantu banget buat aku yang nggak pake kendaraan pribadi,” pungkasnya.

Transportasi di Kota Bandung bukan hanya bus saja. Masih ada angkutan kota (angkot) yang keberadaannya tetap bertahan meski tak lagi menjadi primadona seperti dulu. Biasanya penumpangnya adalah pengunjung pasar atau anak sekolah.

Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Euis (59) merupakan salah satu warga yang masih aktif menggunakan angkot. Ia memilih angkot karena pembayarannya mudah, sebab ia tak mahir menggunakan gawai.

“Pakai angkot buat ke Pasar Cicadas. Ya karena lebih mudah bayarnya, terus bisa bawa barang agak banyak. Paling bolak-balik 7–10 ribu,” katanya.

Setiap pagi ia pergi ke Pasar Cicadas untuk belanja kebutuhan pangan. Kadang lebih dari tiga keresek besar berisi sayur-sayuran ia bawa. Menurutnya, kondisi itu membuat angkot lebih tepat dibanding bus.

“Kalau naik motor nggak bisa, ojek kemahalan, naik angkot paling pas,” tuturnya.

Ia mengatakan, jumlah penumpang angkot tidak sebanyak sebelum 2010. Dulu, kenangnya, untuk bisa mendapatkan ruang duduk saja sulit. Tapi kini sebaliknya, masih banyak ruang untuk dirinya merebahkan kaki.

“Dulu mah pasesedek (berhimpitan), sekarang mah lega, kaki saya juga bisa selonjoran,” ucapnya.

Sebagai pengguna setia angkot sejak tahun 2000-an, ia berharap fasilitasnya bisa semakin baik. Pemerintah pun, menurutnya, perlu mendorong agar anak muda zaman sekarang gemar naik transportasi umum.

“Gimanapun caranya, orang kan beda-beda. Kalau bisa angkot jalannya cepat biar tepat waktu. Mungkin ini juga yang jadi keluhan orang-orang. Kadang saya juga nyuruh sopir buat ngebut karena takut telat,” harapnya.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Sementara itu, Opik (24) punya pilihan berbeda dengan Nasya dan Euis. Ia lebih sering membawa kendaraan pribadi untuk bepergian, termasuk bekerja. Sejak pertama kali bekerja di sebuah toko otomotif di Cibaduyut, ia telah menggunakan sepeda motor.

Alasan dirinya menggunakan kuda besi adalah efisiensi waktu. Menurutnya, transportasi umum memakan banyak waktu dan tidak fleksibel.

“Kalau pakai motor kita bisa bebas mau ke mana-mana, lebih fleksibel aja. Apalagi saya kadang harus antar istri juga kerja,” ungkapnya.

Selain waktu, masih banyak angkutan umum yang fasilitasnya jauh dari kata nyaman. Sebut saja angkot. Ia menilai, hampir sebagian besar angkot tidak memiliki pendingin udara, ditambah jendela samping yang kadang sulit dibuka.

“Kalau susah dibuka kan jadi panas, gerah gitu, apalagi kalau macet,” bebernya.

Kondisi di angkot berbanding terbalik dengan di bus yang kini kian mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tak hanya itu, macet pun tak luput dari keluhannya.

Entah menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadi, Opik bilang sama-sama kerap terjebak macet. Misalnya di Cibaduyut, Jalan Merdeka, Jalan Braga, Jalan Kopi, Jalan Asia Afrika, hingga Jalan Caringin, yang tak lepas dari kemacetan pada pagi atau sore.

“Yah macet mah udah jadi pemandangan sehari-hari di sini (Bandung). Pake motor juga sama kena macet, tapi seenggaknya bisa selap-selip,” kata Opik.

Soal ongkos, menurutnya lebih murah memakai kendaraan pribadi. Musababnya, bahan bakar motor hanya perlu sekali isi dalam dua atau tiga hari. Adapun biaya yang ia keluarkan yakni Rp35 ribu sekali mengisi bahan bakar. Dalam sebulan, penghasilannya sekitar Rp2,5 juta.

“Kalau sebulan ya sekitar Rp300–500 ribu buat bensin aja. Lebih murah daripada naik transportasi umum. Belum nanti harus ada naik ojolnya biar sampai di titik tujuan, karena kan nggak bisa sekali jalan, harus turun baru naik lagi kalau naik transportasi umum. Nggak bisa satu rute angkot lah,” ucapnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)