Cerita Penumpang Transportasi Umum Kota Bandung antara Harapan dan Kenyataan

Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan Selasa 23 Sep 2025, 11:07 WIB
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID- Di Kota Bandung, ongkos transportasi umum seperti bus dan angkot masih terbilang ramah di kantong. Bus Trans Pasundan misalnya, hanya menarik tarif Rp4.999 atau dibulatkan Rp5.000 sekali jalan, sementara angkot biasanya mematok Rp3.000 hingga Rp5.000 untuk jarak dekat. Namun, meski murah, pilihan ini masih menyisakan banyak cerita: dari perjalanan yang tersendat macet, rute yang terbatas, hingga fasilitas yang belum sepenuhnya membuat penumpang nyaman.

Rencana Nasya Ramadhinta Harrytama untuk menghindari stres dalam perjalanan di Kota Bandung sirna sudah. Meski memilih naik angkutan umum, kemacetan tetap menjadi teman setia. Bus kota yang ia tumpangi kerap tersendat di jalur padat, membuat waktu tempuh perjalanan dua kali lipat lebih lama.

Pengalaman Nasya hanyalah satu potret kecil dari wajah lalu lintas Kota Bandung yang pada 2024 dinobatkan TomTom Traffic Index sebagai kota paling macet di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut, rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer, menjadikannya peringkat nomor satu di Indonesia atau ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Menurut Nasya, laporan tersebut ada benarnya. Ia masih ingat betul bagaimana kemacetan terjadi di beberapa titik, membuat perjalanannya tak semulus bayangan.

Wanita 20 tahun itu hampir setiap hari menggunakan transportasi umum untuk bepergian. Rumahnya berada di kawasan Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. Menurutnya, menggunakan bus lebih praktis ketimbang harus menyetir sepeda motor. Bus juga ia pilih untuk menghindari panas terik matahari di jalan.

“Karena sebenarnya lebih praktis aja dan nggak ribet. Sekarang semuanya serba teknologi, jadi simpel aja dan nggak harus panas-panas bawa motor gitu,” ucapnya.

Meski begitu, Nasya tak menampik ada sisi kurangnya ketika memilih transportasi umum. Ia sering kali terjebak macet hingga waktu tempuh bisa mencapai satu setengah jam, terutama karena jarak rumahnya di Cimareme menuju kampus cukup jauh.

“Minusnya suka kejebak macet ya. Kalau bener-bener macet bisa sampai satu setengah jam, jadi agak makan waktu,” ujarnya.

Namun, ia merasa terbantu dengan adanya aplikasi yang mempermudah penumpang untuk memantau posisi bus. Fitur tersebut membuatnya bisa memperkirakan waktu keberangkatan dari rumah.

Dari sisi tarif, Nasya menilai bus Trans Pasundan sangat ramah di kantong pelajar. Ongkos sekali jalan hanya Rp4.999, atau jika dibulatkan Rp5.000. Sistem pembayaran pun kini serba praktis, bisa menggunakan kartu tap atau QRIS.

Sekali pakai bus yang Trans Pasundan itu murah banget ya, cocok di kantong pelajar kayak aku,” kata Nasya sambil tersenyum.

Akan tetapi, bus itu tidak melewati kampusnya yang berada di Jalan PHH Mustofa. Sehingga ia harus turun di halte bus yang berada di kawasan Braga untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan moda lain.

Soal harapan, ia ingin layanan bus bisa semakin tepat waktu. Selain murah, faktor kenyamanan dan keamanan juga menjadi alasan dirinya tetap setia menggunakan bus. Ia merasa lebih tenang karena bus kini dilengkapi CCTV, sehingga lebih aman dari gangguan orang asing. Ditambah lagi, fasilitas AC membuat perjalanan tak terasa gerah.

“Jadi kita tinggal duduk manis sampai halte, dan membantu banget buat aku yang nggak pake kendaraan pribadi,” pungkasnya.

Transportasi di Kota Bandung bukan hanya bus saja. Masih ada angkutan kota (angkot) yang keberadaannya tetap bertahan meski tak lagi menjadi primadona seperti dulu. Biasanya penumpangnya adalah pengunjung pasar atau anak sekolah.

Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Euis (59) merupakan salah satu warga yang masih aktif menggunakan angkot. Ia memilih angkot karena pembayarannya mudah, sebab ia tak mahir menggunakan gawai.

“Pakai angkot buat ke Pasar Cicadas. Ya karena lebih mudah bayarnya, terus bisa bawa barang agak banyak. Paling bolak-balik 7–10 ribu,” katanya.

Setiap pagi ia pergi ke Pasar Cicadas untuk belanja kebutuhan pangan. Kadang lebih dari tiga keresek besar berisi sayur-sayuran ia bawa. Menurutnya, kondisi itu membuat angkot lebih tepat dibanding bus.

“Kalau naik motor nggak bisa, ojek kemahalan, naik angkot paling pas,” tuturnya.

Ia mengatakan, jumlah penumpang angkot tidak sebanyak sebelum 2010. Dulu, kenangnya, untuk bisa mendapatkan ruang duduk saja sulit. Tapi kini sebaliknya, masih banyak ruang untuk dirinya merebahkan kaki.

“Dulu mah pasesedek (berhimpitan), sekarang mah lega, kaki saya juga bisa selonjoran,” ucapnya.

Sebagai pengguna setia angkot sejak tahun 2000-an, ia berharap fasilitasnya bisa semakin baik. Pemerintah pun, menurutnya, perlu mendorong agar anak muda zaman sekarang gemar naik transportasi umum.

“Gimanapun caranya, orang kan beda-beda. Kalau bisa angkot jalannya cepat biar tepat waktu. Mungkin ini juga yang jadi keluhan orang-orang. Kadang saya juga nyuruh sopir buat ngebut karena takut telat,” harapnya.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Sementara itu, Opik (24) punya pilihan berbeda dengan Nasya dan Euis. Ia lebih sering membawa kendaraan pribadi untuk bepergian, termasuk bekerja. Sejak pertama kali bekerja di sebuah toko otomotif di Cibaduyut, ia telah menggunakan sepeda motor.

Alasan dirinya menggunakan kuda besi adalah efisiensi waktu. Menurutnya, transportasi umum memakan banyak waktu dan tidak fleksibel.

“Kalau pakai motor kita bisa bebas mau ke mana-mana, lebih fleksibel aja. Apalagi saya kadang harus antar istri juga kerja,” ungkapnya.

Selain waktu, masih banyak angkutan umum yang fasilitasnya jauh dari kata nyaman. Sebut saja angkot. Ia menilai, hampir sebagian besar angkot tidak memiliki pendingin udara, ditambah jendela samping yang kadang sulit dibuka.

“Kalau susah dibuka kan jadi panas, gerah gitu, apalagi kalau macet,” bebernya.

Kondisi di angkot berbanding terbalik dengan di bus yang kini kian mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tak hanya itu, macet pun tak luput dari keluhannya.

Entah menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadi, Opik bilang sama-sama kerap terjebak macet. Misalnya di Cibaduyut, Jalan Merdeka, Jalan Braga, Jalan Kopi, Jalan Asia Afrika, hingga Jalan Caringin, yang tak lepas dari kemacetan pada pagi atau sore.

“Yah macet mah udah jadi pemandangan sehari-hari di sini (Bandung). Pake motor juga sama kena macet, tapi seenggaknya bisa selap-selip,” kata Opik.

Soal ongkos, menurutnya lebih murah memakai kendaraan pribadi. Musababnya, bahan bakar motor hanya perlu sekali isi dalam dua atau tiga hari. Adapun biaya yang ia keluarkan yakni Rp35 ribu sekali mengisi bahan bakar. Dalam sebulan, penghasilannya sekitar Rp2,5 juta.

“Kalau sebulan ya sekitar Rp300–500 ribu buat bensin aja. Lebih murah daripada naik transportasi umum. Belum nanti harus ada naik ojolnya biar sampai di titik tujuan, karena kan nggak bisa sekali jalan, harus turun baru naik lagi kalau naik transportasi umum. Nggak bisa satu rute angkot lah,” ucapnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)