AYOBANDUNG.ID- Di Kota Bandung, ongkos transportasi umum seperti bus dan angkot masih terbilang ramah di kantong. Bus Trans Pasundan misalnya, hanya menarik tarif Rp4.999 atau dibulatkan Rp5.000 sekali jalan, sementara angkot biasanya mematok Rp3.000 hingga Rp5.000 untuk jarak dekat. Namun, meski murah, pilihan ini masih menyisakan banyak cerita: dari perjalanan yang tersendat macet, rute yang terbatas, hingga fasilitas yang belum sepenuhnya membuat penumpang nyaman.
Rencana Nasya Ramadhinta Harrytama untuk menghindari stres dalam perjalanan di Kota Bandung sirna sudah. Meski memilih naik angkutan umum, kemacetan tetap menjadi teman setia. Bus kota yang ia tumpangi kerap tersendat di jalur padat, membuat waktu tempuh perjalanan dua kali lipat lebih lama.
Pengalaman Nasya hanyalah satu potret kecil dari wajah lalu lintas Kota Bandung yang pada 2024 dinobatkan TomTom Traffic Index sebagai kota paling macet di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut, rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer, menjadikannya peringkat nomor satu di Indonesia atau ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.
Menurut Nasya, laporan tersebut ada benarnya. Ia masih ingat betul bagaimana kemacetan terjadi di beberapa titik, membuat perjalanannya tak semulus bayangan.
Wanita 20 tahun itu hampir setiap hari menggunakan transportasi umum untuk bepergian. Rumahnya berada di kawasan Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. Menurutnya, menggunakan bus lebih praktis ketimbang harus menyetir sepeda motor. Bus juga ia pilih untuk menghindari panas terik matahari di jalan.
“Karena sebenarnya lebih praktis aja dan nggak ribet. Sekarang semuanya serba teknologi, jadi simpel aja dan nggak harus panas-panas bawa motor gitu,” ucapnya.
Meski begitu, Nasya tak menampik ada sisi kurangnya ketika memilih transportasi umum. Ia sering kali terjebak macet hingga waktu tempuh bisa mencapai satu setengah jam, terutama karena jarak rumahnya di Cimareme menuju kampus cukup jauh.
“Minusnya suka kejebak macet ya. Kalau bener-bener macet bisa sampai satu setengah jam, jadi agak makan waktu,” ujarnya.
Namun, ia merasa terbantu dengan adanya aplikasi yang mempermudah penumpang untuk memantau posisi bus. Fitur tersebut membuatnya bisa memperkirakan waktu keberangkatan dari rumah.
Dari sisi tarif, Nasya menilai bus Trans Pasundan sangat ramah di kantong pelajar. Ongkos sekali jalan hanya Rp4.999, atau jika dibulatkan Rp5.000. Sistem pembayaran pun kini serba praktis, bisa menggunakan kartu tap atau QRIS.
Sekali pakai bus yang Trans Pasundan itu murah banget ya, cocok di kantong pelajar kayak aku,” kata Nasya sambil tersenyum.
Akan tetapi, bus itu tidak melewati kampusnya yang berada di Jalan PHH Mustofa. Sehingga ia harus turun di halte bus yang berada di kawasan Braga untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan moda lain.
Soal harapan, ia ingin layanan bus bisa semakin tepat waktu. Selain murah, faktor kenyamanan dan keamanan juga menjadi alasan dirinya tetap setia menggunakan bus. Ia merasa lebih tenang karena bus kini dilengkapi CCTV, sehingga lebih aman dari gangguan orang asing. Ditambah lagi, fasilitas AC membuat perjalanan tak terasa gerah.
“Jadi kita tinggal duduk manis sampai halte, dan membantu banget buat aku yang nggak pake kendaraan pribadi,” pungkasnya.
Transportasi di Kota Bandung bukan hanya bus saja. Masih ada angkutan kota (angkot) yang keberadaannya tetap bertahan meski tak lagi menjadi primadona seperti dulu. Biasanya penumpangnya adalah pengunjung pasar atau anak sekolah.

Euis (59) merupakan salah satu warga yang masih aktif menggunakan angkot. Ia memilih angkot karena pembayarannya mudah, sebab ia tak mahir menggunakan gawai.
“Pakai angkot buat ke Pasar Cicadas. Ya karena lebih mudah bayarnya, terus bisa bawa barang agak banyak. Paling bolak-balik 7–10 ribu,” katanya.
Setiap pagi ia pergi ke Pasar Cicadas untuk belanja kebutuhan pangan. Kadang lebih dari tiga keresek besar berisi sayur-sayuran ia bawa. Menurutnya, kondisi itu membuat angkot lebih tepat dibanding bus.
“Kalau naik motor nggak bisa, ojek kemahalan, naik angkot paling pas,” tuturnya.
Ia mengatakan, jumlah penumpang angkot tidak sebanyak sebelum 2010. Dulu, kenangnya, untuk bisa mendapatkan ruang duduk saja sulit. Tapi kini sebaliknya, masih banyak ruang untuk dirinya merebahkan kaki.
“Dulu mah pasesedek (berhimpitan), sekarang mah lega, kaki saya juga bisa selonjoran,” ucapnya.
Sebagai pengguna setia angkot sejak tahun 2000-an, ia berharap fasilitasnya bisa semakin baik. Pemerintah pun, menurutnya, perlu mendorong agar anak muda zaman sekarang gemar naik transportasi umum.
“Gimanapun caranya, orang kan beda-beda. Kalau bisa angkot jalannya cepat biar tepat waktu. Mungkin ini juga yang jadi keluhan orang-orang. Kadang saya juga nyuruh sopir buat ngebut karena takut telat,” harapnya.

Sementara itu, Opik (24) punya pilihan berbeda dengan Nasya dan Euis. Ia lebih sering membawa kendaraan pribadi untuk bepergian, termasuk bekerja. Sejak pertama kali bekerja di sebuah toko otomotif di Cibaduyut, ia telah menggunakan sepeda motor.
Alasan dirinya menggunakan kuda besi adalah efisiensi waktu. Menurutnya, transportasi umum memakan banyak waktu dan tidak fleksibel.
“Kalau pakai motor kita bisa bebas mau ke mana-mana, lebih fleksibel aja. Apalagi saya kadang harus antar istri juga kerja,” ungkapnya.
Selain waktu, masih banyak angkutan umum yang fasilitasnya jauh dari kata nyaman. Sebut saja angkot. Ia menilai, hampir sebagian besar angkot tidak memiliki pendingin udara, ditambah jendela samping yang kadang sulit dibuka.
“Kalau susah dibuka kan jadi panas, gerah gitu, apalagi kalau macet,” bebernya.
Kondisi di angkot berbanding terbalik dengan di bus yang kini kian mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tak hanya itu, macet pun tak luput dari keluhannya.
Entah menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadi, Opik bilang sama-sama kerap terjebak macet. Misalnya di Cibaduyut, Jalan Merdeka, Jalan Braga, Jalan Kopi, Jalan Asia Afrika, hingga Jalan Caringin, yang tak lepas dari kemacetan pada pagi atau sore.
“Yah macet mah udah jadi pemandangan sehari-hari di sini (Bandung). Pake motor juga sama kena macet, tapi seenggaknya bisa selap-selip,” kata Opik.
Soal ongkos, menurutnya lebih murah memakai kendaraan pribadi. Musababnya, bahan bakar motor hanya perlu sekali isi dalam dua atau tiga hari. Adapun biaya yang ia keluarkan yakni Rp35 ribu sekali mengisi bahan bakar. Dalam sebulan, penghasilannya sekitar Rp2,5 juta.
“Kalau sebulan ya sekitar Rp300–500 ribu buat bensin aja. Lebih murah daripada naik transportasi umum. Belum nanti harus ada naik ojolnya biar sampai di titik tujuan, karena kan nggak bisa sekali jalan, harus turun baru naik lagi kalau naik transportasi umum. Nggak bisa satu rute angkot lah,” ucapnya.
