AYOBANDUNG.ID - Di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, arus kendaraan hampir tak pernah berhenti. Motor dan mobil melintas cepat sejak pagi hingga sore hari. Di tengah padatnya lalu lintas itu, sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) berdiri sebagai jalur aman bagi pejalan kaki, terutama pelajar yang setiap hari harus menyeberang.
Namun, kondisi jembatan itu jauh dari kata aman.
Pelat besi di beberapa bagian lantai terlihat berkarat, berlubang, dan keropos. Saat hujan turun, permukaan lantai menjadi licin karena atap yang sudah rusak dan menganga dibiarkan terbuka. Di sisi lain, beberapa bagian jaring pengaman sudah terbuka dan berkarat. Ada lintangan kabel menjuntai yang entah milik siapa, menghalangi para pengguna JPO dan tidak estetis. Meski begitu, jembatan ini masih digunakan setiap hari.

Salah satu pengguna JPO tersebut adalah Nazril Gian Herdiana (17), siswa kelas XI yang kerap melewati jembatan itu sepulang sekolah.
“Kalau pulang sekolah dan lagi enggak bawa kendaraan, saya biasanya lewat sini. Lumayan sering lewat JPO ini,” kata Nazril saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku kondisi jembatan sudah rusak sejak lama. Bahkan, menurutnya, kerusakan itu sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMP.
“Dari dulu juga sudah rusak. Waktu saya masih SMP, sekitar kelas satu, lubangnya sudah ada. Sekarang saya kelas dua SMA, jadi sudah sekitar tiga tahun lebih kondisinya begini,” ujarnya.
Menurut Nazril, bagian paling berbahaya adalah lantai jembatan yang berlubang.
“Yang paling bahaya jelas bagian yang berlubang ini. Sama jaring-jaringnya juga ada yang sudah terbuka. Kadang kalau orang enggak hati-hati bisa kepeleset,” katanya.
Ia bahkan pernah melihat seseorang hampir mengalami kecelakaan di jembatan itu.
“Saya pernah lihat ada orang hampir jatuh. Dia kepeleset, terus hampir masuk ke lubang itu. Kakinya hampir masuk ke dalam,” katanya.
Kondisi jembatan yang bergetar ketika kendaraan besar melintas di bawahnya juga membuat sebagian pengguna merasa khawatir.
“Kalau kendaraan di bawah lagi banyak, jembatan suka terasa getar. Itu yang kadang bikin takut juga,” ujarnya.
Meski demikian, Nazril tetap memilih menggunakan JPO dibanding menyeberang langsung di jalan raya.
“Soalnya di bawah mobil sama motor pada ngebut. Enggak ada zebra cross juga. Jadi kalau nyebrang langsung bahaya,” katanya.
Ia berharap pemerintah setempat memperbaiki kondisi jembatan tersebut.
“Kalau bisa diperbaiki lagi. Atapnya diganti, bagian yang rusak diperbaiki. Soalnya JPO ini penting, terutama buat orang tua atau anak kecil yang mau nyebrang,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan Elisa Marum Bewas (17), seorang pelajar asal Raja Ampat yang kini bersekolah di Bandung. Ia mengatakan JPO tersebut menjadi jalur yang hampir setiap hari ia gunakan.
“Iya, saya sering lewat sini juga. Kalau lagi ke sekolah atau pulang biasanya lewat jembatan ini,” kata Elisa.
Meski begitu, kondisi jembatan yang sudah rusak membuatnya beberapa kali merasa khawatir, terutama ketika cuaca sedang hujan.
“Kadang-kadang sih takut juga kalau lewat sini. Apalagi kalau hujan, soalnya lantainya jadi basah dan licin,” ujarnya.
Menurut Elisa, bagian yang paling berbahaya justru berada di tangga jembatan yang sering menjadi sangat licin ketika terkena air hujan.
“Biasanya yang paling bahaya itu di tangganya. Waktu naik atau turun suka licin kalau habis hujan, jadi harus hati-hati banget,” katanya.
Elisa menilai kondisi jembatan saat ini sebenarnya sudah tidak layak dan butuh perhatian dari pemerintah untuk perbaikan.
“Menurut saya sudah tidak aman. Kalau bisa diperbaiki saja, karena sayang kalau dibiarkan rusak,” katanya.
Meski kondisinya memprihatinkan, jembatan itu masih menjadi satu-satunya pilihan bagi banyak warga untuk menyeberangi padatnya lalu lintas di Jalan Amir Machmud. Uniknya, jembatan ini berada tepat di perbatasan wilayah: sisi menuju Jalan Cimindi masuk wilayah Kota Cimahi, sementara arah sebaliknya masuk Kota Bandung.
