Bandung Canva Lovers Jadi Tempat Menyalakan Mimpi yang Sempat Meredup

3 menit baca
Amalia Nurhidayah Kurnia
Ditulis oleh Amalia Nurhidayah Kurnia diterbitkan
Lewat gelaran komunitas, seperti Canva Community Lab, semangat kolaborasi dan teknologi bisa bertemu di satu panggung. (Sumber: Komunitas Bandung Canva Lovers | Foto: Tegar P. Fahar)
Lewat gelaran komunitas, seperti Canva Community Lab, semangat kolaborasi dan teknologi bisa bertemu di satu panggung. (Sumber: Komunitas Bandung Canva Lovers | Foto: Tegar P. Fahar)

Bagi saya, Bandung lagi-lagi menunjukkan dirinya bukan sekadar kota kreatif. Kota ini seperti rumah nyaman bagi mereka yang ingin terus belajar dan berkembang di era digital.

Misalnya, lewat gelaran komunitas, seperti Canva Community Lab, semangat kolaborasi dan teknologi bisa bertemu di satu panggung, membuka ruang bagi siapa saja (termasuk para ibu muda) untuk kembali meraih mimpi berkarya.

Meskipun acara tersebut telah diadakan 2 bulan lalu dan memang sudah usai, tepatnya pada Sabtu, 17 Mei 2025, namun, gaung inspirasinya masih terasa hingga sekarang.

Meninggalkan jejak manfaat bagi banyak orang yang ingin menambah skill, termasuk saya, untuk mulai dari mendesain, membangun personal branding, hingga mengajar dengan metode kreatif.

Bandung dan Titik Awal Semangat Baru

Bukan tanpa alasan Bandung terpilih menjadi salah satu kota pelaksanaan. Selain dikenal sebagai pusat kreativitas, kota ini juga dipenuhi para content creator dan influencer yang aktif berinovasi di ranah digital.

Popularitas platform desain seperti Canva pun tak bisa dilepaskan dari geliat komunitasnya.

Salah satu sosok di balik semangat ini adalah Melli Nurhasanah, pendiri komunitas Bandung Canva Lovers (BCL).

Bersama para relawan yang dikenal sebagai Canvassador, Melli merangkul siapa saja yang ingin belajar desain—mulai dari pemula hingga profesional.

Dalam acara Canva Community Lab Bandung yang digelar di sebuah hotel kawasan Pasir Kaliki, terpilih 50 peserta dari total 350 pendaftar.

Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pekerja lepas, hingga para guru.

Lewat gelaran komunitas, seperti Canva Community Lab, semangat kolaborasi dan teknologi bisa bertemu di satu panggung. (Sumber: Komunitas Bandung Canva Lovers | Foto: Tegar P. Fahar)
Lewat gelaran komunitas, seperti Canva Community Lab, semangat kolaborasi dan teknologi bisa bertemu di satu panggung. (Sumber: Komunitas Bandung Canva Lovers | Foto: Tegar P. Fahar)

Menariknya, banyak peserta yang ternyata adalah guru. Mereka datang dengan semangat membawa teknologi ke ruang kelas, mengenalkan desain sebagai metode belajar yang lebih kreatif.

Kehadiran Khamidah (seorang guru sekaligus kreator konten pendidikan) membuktikan bahwa teknologi desain punya peran besar dalam dunia edukasi.

Para peserta juga berkesempatan bertemu dengan figur inspiratif lainnya seperti Syammas P. Syarbini, CEO Sedesain.id yang dijuluki Dr. Canva, dan Rizky Novianti, kreator desain ala Korea yang membagikan trik membuat konten estetik.

Acara ini makin hangat karena dipandu oleh Albert Darmawan atau akrab disapa Kang Abet.

Sejak pagi hingga sore, para peserta mengikuti materi tanpa rasa bosan. Bukan cuma mendengar seminar, mereka juga diajak bermain gim seru, berfoto di spot menarik, hingga berinteraksi dengan maskot lucu Canva—si bebek kuning.

Selain berbagi pengetahuan, acara ini juga membuka ruang diskusi, bertukar ide, hingga berkolaborasi membuat desain bersama.

Tak sedikit peserta yang mengaku acara ini jauh lebih menarik dibandingkan pelatihan formal pemerintah, terutama karena suasana santai namun tetap sarat manfaat.

Baca Juga: Serunya Komunitas Kreatif Berbalut Teknologi di Bandung

Canva Community Lab Bandung membuktikan bahwa kreativitas dan teknologi bisa berjalan beriringan. Lewat komunitas ini, para ibu muda, guru, maupun siapa saja yang ingin belajar, kembali punya tempat untuk mengasah diri.

Meski acaranya hanya sehari, semangatnya tak berhenti di situ. Benih kreativitas yang ditanam di Bandung bulan lalu kini tumbuh jadi jejaring inspirasi, mendorong semakin banyak orang untuk terus berkarya di tengah derasnya arus digital.

Bandung sekali lagi membuktikan untuk saya, di tangan komunitas, mimpi siapa pun bisa hidup kembali. (*)

Tonton Podcast Terbaru AyoTalk:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Amalia Nurhidayah Kurnia
Penulis dan pendiri akun @little_salamah (media sosial edukatif tentang canva dan buku digital untuk anak)

News Update

Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 15:30

Esti Bhakti Warapsari Representasi Perempuan Berdaya

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan.

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. (Sumber: Pexels | Foto: Adi Pratama)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 13:35

Ketika Hutan Terbakar, Masa Depan Ikut Terbakar

Dampak terbesar dari kebakaran hutan adalah rusaknya lingkungan hidup. Hutan pada hakikatnya adalah sistem kehidupan secara simultan, maka keseimbangan ekologis juga adalah bagian masa depan.

Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 12:04

Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap Ketahanan Operasional dan Profitabilitas UMKM

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini.

Penggunaan uang rupiah di ranah UMKM. (Sumber: Pexels | Foto: rakhmat suwandi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)