Paradoks Pembangunan PLTA Upper Cisokan: Energi Terbarukan, Ruang Hidup Terabaikan

7 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Lokasi tambang andesit di Gunung Karang, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Lokasi tambang andesit di Gunung Karang, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Di atas kertas, namanya terdengar mulia: energi baru dan terbarukan. Ramah lingkungan, bersih, berkelanjutan. Tapi di Gunung Karang, Kabupaten Bandung Barat, energi ini tidak hadir dalam wujud matahari yang hangat atau angin sepoi-sepoi. Ia datang dalam rupa dinamit, debu, dan deru ekskavator. Ia menyisakan bukan hanya bolong di tanah, tapi juga lubang di hati warga.

Energi ini katanya menyelamatkan bumi. Tapi di Karangsari dan Sarinagen, ia lebih dulu merusak rumah dan mengusir emak-emak dari dapur. Bukan karena mereka ingin pindah haluan jadi aktivis, tapi karena baju mereka tak bisa lagi dijemur. Debu dari batu yang digiling beterbangan, menempel di pakaian yang mestinya harum sabun, bukan aroma andesit.

Di ruang-ruang seminar pembangunan, energi ini dielu-elukan sebagai simbol peradaban masa depan. Di Gunung Karang, ia lebih mirip monster dari zaman purba yang mengunyah bukit dan meludahkannya dalam bentuk longsor. Listrik masa depan itu ternyata butuh tumbal masa kini.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan digadang-gadang sebagai solusi energi hijau bagi Jawa-Bali. Tapi bagi emak-emak di lereng gunung, proyek ini cuma bikin genting beterbangan dan kaca jendela bergetar seperti sedang konser metal. Bahkan kalaupun itu energi bersih, tak seharusnya membersihkan warga dari tanah kelahiran mereka.

Senin pagi, 28 April 2025. Matahari baru setinggi galah. Sejumlah emak-emak dari Desa Karangsari dan Sarinagen menyerbu lokasi tambang batu andesit di Gunung Karang. Aksinya bukan kirab budaya, bukan juga program PKK. Ini adalah bentuk protes keras warga.

Lia, 52 tahun, dengan suara serak akibat debu, mengaku jengkel. "Kami tadi mayoritas ibu-ibu spontan mendatangi lokasi tambang minta blasting dan penggilingan batu dihentikan. Kita minta dampak debu dan getaran dituntaskan dulu, kalau itu sudah selesai baru proyek boleh jalan lagi," katanya.

Debu batu beterbangan, masuk ke sela genting, menempel di lantai, merusak pakaian bersih yang dijemur. "Gilingan batu ini terbang kemana-mana terbawa angin. Kami minta ini bisa diminimalisir supaya tak lagi masuk ke rumah dan pakaian yang sedang dijemur," lanjut Lia.

Tapi bukan cuma debu. Blasting alias ledakan bikin kaca rumah bergetar, tembok retak, genting beterbangan. Sudah seperti sedang tinggal di wilayah perang.

"Sudah hampir satu tahun ini berjalan, kami sudah beberapa kali sampaikan agar tanggulangi dulu dampak, tapi mereka gak mengindahkan. Puncaknya hari ini, warga terpaksa demo ke lokasi," ujar Lia. Satu tahun bersabar. Dan akhirnya meledak juga—bukan cuma batu, tapi juga kesabaran emak-emak.

Sejumput Problema PLTA

PLTA Upper Cisokan adalah proyek besar yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditujukan untuk menyuplai energi bersih berkapasitas 1.040 megawatt ke wilayah Jawa-Bali. Secara dokumen, ini adalah langkah untuk mencapai target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 25% pada tahun 2025.

Tapi, di balik jargon energi bersih dan transisi ramah lingkungan, proyek ini menyisakan banyak persoalan serius di tingkat akar rumput.

Yang paling menonjol adalah dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi proyek. Gunung Karang, yang menjadi salah satu lokasi penambangan batu andesit untuk proyek, merupakan kawasan yang selama ini jadi sumber air bersih bagi warga di dua desa.

Gunung ini menyimpan sejumlah mata air yang digunakan warga secara turun-temurun. Warga membangun bak penampung air sederhana dan mengalirkan air ke rumah masing-masing dengan pipa, karena kawasan tempat tinggal mereka memang terkenal sulit mendapatkan air tanah.

Dimulainya aktivitas tambang membuat warga resah. Mereka khawatir pengerukan batu nanti akan berdampak langsung pada kelestarian mata air. Ada tujuh titik penampung air yang ditemukan Gunung Karang. Air ini tidak hanya penting untuk kebutuhan harian, tetapi juga menyirami puluhan hektare sawah. Apabila mata air terganggu, keberlangsungan pertanian warga juga terancam.

Warga meminta agar proyek tambang tidak dilanjutkan sebelum ada jaminan bahwa mata air tetap aman. Mereka tak ingin menjadi korban dari proyek yang dijalankan tanpa mitigasi.

Kekhawatiran warga juga diamini oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat. Direktur Walhi Jabar, Wahyudin Iwank, menyebut proyek ini dari awal sudah tidak transparan, termasuk dalam dokumen perizinan dan kajian dampaknya terhadap lingkungan.

Pembukaan akses jalan proyek saja sudah dilakukan secara serampangan, sehingga memicu longsor saat musim hujan. Walhi mendesak agar proyek ini dihentikan sementara sampai ada kepastian mitigasi dampak lingkungan dan hak-hak warga terpenuhi.

“Lihat saja, jalan menuju proyek ini kerap longsor karena sejak awal ugal-ugalan. Tak kajian lingkungan secara serius,” kata Iwank.

Sementara itu, di kawasan lain yang langsung bersinggungan dengan proyek bendungan, dampaknya lebih nyata. Kampung Lembur Sawah, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, menjadi salah satu lokasi paling terdampak.

Kampung ini terletak sangat dekat dengan proyek PLTA Upper Cisokan, bahkan sebagian wilayahnya direncanakan akan ditenggelamkan untuk menjadi bagian dari bendungan. Sejak akhir 2022, warga sudah harus terbiasa dengan pemandangan ekskavator dan truk proyek yang hilir mudik, serta suara ledakan dari pengerjaan terowongan.

Bagi Waning, 50 tahun, salah satu warga Kampung Lembur Sawah, proyek ini bukan hanya soal perubahan pemandangan atau kerusakan alam, melainkan juga penggusuran ruang hidup.

Ia dan keluarganya dipaksa melepas rumah, sawah, dan kebun yang menjadi sumber kehidupan. Sebagian besar warga sudah eksodus ke kampung-kampung tetangga seperti Babakan Bandung dan Tegalalaja, bahkan ada yang berpindah hingga ke Cianjur.

Data yang dihimpun per September 2024, dari sekitar 70 kepala keluarga, masih ada 27 yang bertahan karena belum mendapatkan ganti rugi atau tak memiliki cukup dana untuk pindah.

Waning termasuk yang bertahan. Meski rumah dan sawahnya sudah masuk area pembebasan, ia tak sanggup membangun kehidupan baru hanya dengan Rp200 juta ganti rugi. Uang itu tampak besar di atas kertas, tetapi dalam kenyataan tidak cukup untuk membeli lahan baru, membangun rumah, serta memulai pekerjaan baru.

Waning, 50 tahun, memungut sisa material bangunan yang tergusur proyek PLTA Cisokan untuk dipakai jadi bangun rumahnya di Kampung Lembur Sawah, Desa Sukaresmi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Selain digusur, warga yang bertahan di Lembur Sawah juga menghadapi masalah akses air. Karena pembangunan jalan ke proyek memotong aliran air ke sawah, para petani kehilangan sumber irigasi yang selama ini menopang sistem tanam mereka. Yang dulunya bisa panen tiga kali setahun, kini bergantung pada musim hujan.

"Karena dibuat jalan ke proyek bendungan di area hutan, sumber air ke sawah jadi terhalang jalan. Otomatis sawah gak ada sumber air,” kata Ketua RW 01 Lembur Sawah, Asep Suherman.

Proyek ini disebut-sebut dibiayai oleh pinjaman dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), dengan nilai mencapai 610 juta. Sayangnya, duit sebanyak itu tidak mampu menutup ragam persoalan di lapangan. Ganti rugi hanya diberikan untuk tanah, itupun terkesan sekenanya. Pendampingan bagi warga terdampak? Ada, tapi jangan tanya soal keseriusannya.

Permasalahan lain yang tak kalah besar adalah kerusakan hutan. PT PLN telah mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) seluas 409 hektar untuk proyek ini. Sesuai aturan, mereka wajib mengganti dua kali lipat lahan hutan yang digunakan, yakni 818 hektar. Namun laporan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat menunjukkan bahwa hingga Desember 2021, PLN baru menyediakan sekitar 152 hektar lahan pengganti. Bahkan lahan pengganti itu pun belum ditanami ulang, sehingga fungsinya sebagai kawasan hutan belum kembali.

Perubahan fungsi hutan ini sangat merisaukan. Kawasan Cisokan merupakan habitat berbagai flora dan fauna langka, seperti macan tutul, trenggiling, kukang Jawa, dan surili. Kini, satwa tersebut makin sulit ditemui, diduga karena terganggu suara alat berat dan rusaknya habitat. Yang lebih sering turun justru babi hutan dan monyet, yang mulai mencari makan ke kebun warga karena sumber makannya di hutan terganggu.

”Sejak 6 bulan terakhir babi dan monyet sering masuk ke kebun. Mungkin karena lokasi cari makannya terganggu jadi turun ke kebun,” kata Rohmat, 55 tahun, petani hutan asal Desa Sukaresmi.

Pembangkit Listrik Baru, Emang Perlu?

Pada tahun 2023, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kelebihan pasokan listrik (oversupply) di sistem Jawa-Bali sebesar 4 gigawatt (GW), turun dari 7 GW pada tahun sebelumnya. Artinya, meskipun ada penurunan, masih terdapat surplus energi yang signifikan.​

Proyeksi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan energi di masa depan tetap menjadi pertimbangan. ESDM memprediksi bahwa pertumbuhan permintaan listrik sekitar 5-6% per tahun, sehingga kelebihan pasokan ini diperkirakan akan terserap dalam 2-3 tahun ke depan.

Problem listrik luber ini mulai muncul setelah pemerintah meluncurkan program pembangunan pembangkit listrik 35 GW yang dimulai sejak 2015. Program ambisius itu diluncurkan pemerintah didasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi 7-8% per tahun.

Waktu itu, optimisme nasional memang sedang di atas langit. Semua terasa mungkin. Tapi seperti semua hal yang terlalu percaya diri, kenyataan datang membawa kertas ujian.

Ekonomi Indonesia ternyata cukup tahu diri. Tumbuhnya sabar, sekitar 5% saban tahun. Kadang lebih rendah. Tapi pembangunan pembangkit sudah kadung jalan. Seperti orang pesan nasi padang satu talenan, padahal yang makan cuma dua orang. Hasilnya? Listrik luber. Melimpah. Nangkring di gardu, tak tahu mau ke mana.

PLN, yang mestinya senyum dapat pasokan stabil, malah megap-megap. Soalnya, mereka harus tetap membayar listrik yang tak dipakai. Itu namanya take or pay. Artinya: kalau listriknya dipakai, PLN bayar. Kalau enggak dipakai? Tetap bayar.

Situasi ini bukan hanya salah perhitungan. Tapi salah perhitungan yang mahal.Pada tahun 2023, margin cadangan listrik di Jawa-Bali mencapai 44%, jauh di atas standar ideal 20-30%. Situasi ini bikin PLN harus membayar listrik walau tidak terpakai, entah sampai kapan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)