Ledakan Garut Tambah Panjang Kecelakaan Eksplosi Senjata dalam 2 Dekade

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi ledakan (Sumber: Freepik)
Ilustrasi ledakan (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID - Pada pagi yang tenang di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, suara ledakan menggema memecah udara. Senin, 12 Mei 2025, menjadi saksi dari insiden maut dalam kegiatan pemusnahan amunisi tidak layak pakai oleh Tim Gupusmi 3 dari Jakarta. Tragedi ledakan amunisi Garut itu menewaskan 13 orang, terdiri dari sembilan warga sipil dan empat personel TNI.

Sebuah video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan momen sebelum dan sesaat setelah ledakan. Dalam rekaman itu, lokasi kejadian tampak seperti lahan terbuka, dikelilingi semak belukar, tanpa permukiman warga di sekitarnya. Sesaat sebelum dentuman, terdengar suara hitungan mundur dari seorang pria. Setelah hitungan selesai, dua ledakan terdengar berurutan, diiringi asap hitam tebal yang membumbung ke langit.

Beberapa detik kemudian, tampak sekelompok orang di atas sepeda motor datang dari arah barat, ekspresi mereka menunjukkan kepanikan. Mereka melaju menjauh dari sumber ledakan. Tak lama setelahnya, informasi mengenai korban mulai bermunculan.

Kecelakaan Saat Disposal

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra Rochmawan, menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan kecelakaan saat kegiatan disposal, yaitu proses pemusnahan amunisi yang sudah tidak layak digunakan. Ia memastikan jumlah korban yang meninggal sebanyak 13 orang.

“Bahwa bertempat di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, telah terjadi kecelakaan disposal oleh Tim Gupusmi 3 Jakarta,” kata Hendra siang hari setelah kejadian.

Dituturkan Hendra, pelaksanaan disposal oleh TNI AD dilakukan sesuai dengan prosedur standar operasional (SOP) yang berlaku. Namun demikian, ia menyebut insiden ini sebagai kecelakaan murni yang tidak terduga.

“TNI AD telah melakukan disposal sesuai SOP. Kejadian ini murni kecelakaan yang tidak terduga,” tambahnya.

Pihak kepolisian dan TNI kini masih menyelidiki penyebab pasti dari insiden tersebut. Hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci mengenai mengapa ledakan bisa sampai menimbulkan korban jiwa, terutama dari masyarakat sipil.

Kapendam III Siliwangi, Kolonel Inf Mahmmudin, saat dikonfirmasi menyebutkan bahwa pihaknya masih mendalami kronologi lengkap kejadian tersebut. Ia juga sempat menyampaikan jumlah korban yang meninggal sebanyak sebelas orang. Belakangan, angka ini diperbarui menjadi 13. “Masih kita dalami, karena kejadiannya baru,” ucap Mahmmudin.

Para korban, termasuk anggota TNI dan warga, telah dievakuasi ke RSUD Pameungpeuk. Beberapa di antaranya diidentifikasi sebagai Kolonel Cpl Antonius Hermawan, Mayor Cpl Anda Rohanda, serta sejumlah warga bernama Agus bin Kasmin, Ipan bin Obur, dan lainnya.

Sejarah yang Berulang

Insiden ledakan akibat aktivitas penyimpanan atau pemusnahan amunisi bukan kejadian baru di Indonesia. Dalam dua dekade terakhir, catatan panjang peristiwa serupa menunjukkan bahwa risiko selalu mengintai dalam aktivitas yang melibatkan bahan peledak militer, terlebih bila pengelolaan dan pengamanannya tidak dilakukan secara ketat. Tragedi di Garut pada 12 Mei 2025 menambah daftar insiden berdarah yang berawal dari ledakan amunisi tidak layak pakai.

Salah satu yang paling anyar baru saja terjadi. Kurang dari sepekan sebelum ledakan di Garut, insiden serupa terjadi di ruas Tol Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, Senin malam, 5 Mei 2025. Sebuah truk pengangkut amunisi milik Kostrad meledak dan terbakar di KM 774 arah Probolinggo. Truk tersebut merupakan bagian dari iring-iringan empat kendaraan yang membawa personel dan perlengkapan Brigif 509/Kostrad dari Surabaya menuju Jember.

Truk kedua dalam konvoi yang membawa granat tangan dan peluru kaliber kecil, menjadi sumber ledakan. Satu anggota TNI dilaporkan meninggal setelah terjatuh saat mencoba menyelamatkan diri dengan melompati pagar pembatas jalan tol.

Belum genap setahun, gudang amunisi milik Kodam Jaya di Ciangsana, Gunung Putri, Bogor, meledak pada 31 Oktober 2024. Gudang tersebut diketahui menyimpan sejumlah besar amunisi kedaluwarsa yang menunggu untuk dimusnahkan. Ledakan yang terjadi begitu besar hingga suara dentuman terdengar hingga radius beberapa kilometer.

Kepanikan terjadi saat ledakan. Warga di sekitar kompleks militer melakukan evakuasi mandiri, sementara kebakaran meluas di dalam gudang. Meski tidak ada korban jiwa, dampak kerusakan dan trauma warga menjadi peringatan keras bagi militer terkait sistem penyimpanan bahan peledak.

Ledakan di gudang senjata Kodam Jaya, Ciangsana, Gunung Putri, Bogor.

Kasus lain terjadi lebih awal, pada 14 September 2019, di Srondol, Semarang. Gudang amunisi milik Brimob Polda Jawa Tengah meledak saat dini hari. Ledakan itu melukai satu anggota Gegana Polda Jateng. Suara ledakan terdengar hingga lima kilometer dan menghancurkan sebagian bangunan di sekitarnya. Investigasi awal menyebutkan bahwa suhu dalam gudang yang terlalu tinggi kemungkinan menjadi pemicu bahan peledak menjadi tidak stabil.

Tragedi juga sempat mengguncang Tanjung Priok pada 2014 silam. Sebuah ledakan hebat mengguncang gudang amunisi milik Markas Komando Pasukan Katak TNI AL (Kopaska) yang berlokasi di Pondok Dayung, Jakarta Utara, pada 5 Maret. Dentuman keras itu menyebabkan kepanikan; orang-orang di sekitar lokasi berhamburan menyelamatkan diri.

Sebanyak 87 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Satu nyawa melayang, sementara 86 orang lainnya harus dilarikan ke berbagai rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan perawatan medis akibat luka-luka yang diderita.

Ledakan terkait senjata paling berakibat fatal di Indonesia terjadi pada 13 Maret 1985 di Bojong Koneng, Bandung. Peristiwa ini menewaskan 18 orang, enam di antaranya warga sipil. Letusan hebat muncul dari sebuah truk pengangkut amunisi kedaluwarsa yang akan dimusnahkan di gudang milik Depo Pusat Peralatan Angkatan Darat.

Seluruh petugas yang berada di dalam gudang saat itu, termasuk sopir truk, tewas seketika. Ketiadaan saksi mata membuat investigasi hanya bisa menyimpulkan kemungkinan besar insiden terjadi akibat kegagalan teknis.

Warga Bandung saat itu menyebut peristiwa tersebut sebagai beledug Bojongkoneng. Beberapa orang yang tinggal puluhan kilometer dari lokasi masih mengingat suara ledakan yang menggema pagi itu.

Korban jiwa dalam ledakan ini lebih besar ketimbang tragedi ledakan Tanjung Priok setahun sebelumnya yang punya daya eksplosi jauh lebih besar.

Pada 29 Oktober 1984, gudang peluru milik Korps Marinir TNI AL meledak hebat. Sekitar 2.000 ton amunisi yang terdiri dari peluru roket BM-14 buatan Rusia, meriam howitzer 122 mm, mortir, hingga granat, hancur bersama gudangnya.

Ledakan ini bahkan membuat peluru liar meluncur ke arah Rumah Sakit Fatmawati yang berjarak 2,5 kilometer, menyebabkan kebakaran kecil yang beruntung bisa segera dikendalikan. Total korban dalam insiden tersebut dilaporkan berjumlah 17 orang.

Deretan kasus besar ini menunjukkan pola yang berulang: keterbatasan fasilitas penyimpanan, lemahnya mitigasi risiko, dan kurangnya sosialisasi terhadap warga di sekitar kawasan militer. Meskipun beberapa insiden tidak menimbulkan korban jiwa, dampaknya tetap besar secara psikologis dan sosial. Tragedi di Garut membuktikan bahwa meski teknologi militer telah berkembang, masalah fundamental soal manajemen amunisi masih belum sepenuhnya selesai.

Ledakan Terbesar Sepanjang Sejarah

Ledakan yang menewaskan 13 orang di Garut memang tragis. Namun, dalam catatan sejarah dunia, ada peristiwa-peristiwa serupa yang skalanya jauh lebih besar, baik dalam hal daya hancur maupun jumlah korban jiwa. Salah satunya terjadi di Beirut pada 2020, dan yang paling mematikan terjadi di Lagos, Nigeria, dua dekade lalu.

Pada 4 Agustus 2020, Beirut diguncang ledakan besar yang bersumber dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman di Pelabuhan Beirut. Bahan kimia itu telah berada di gudang selama bertahun-tahun tanpa pengamanan memadai, meski beberapa pejabat pemerintah sudah mendapat peringatan tentang bahayanya.

Ledakan itu menewaskan sedikitnya 218 orang, melukai lebih dari 7.000 lainnya, dan membuat sekitar 300.000 warga kehilangan tempat tinggal.

Daya ledaknya luar biasa: kaca jendela pecah hingga jarak puluhan kilometer, dan suara dentuman terdengar bahkan sampai negara tetangga. Rumah sakit di kota yang sedang bergulat dengan pandemi COVID-19 langsung kewalahan. Infrastruktur kota porak-poranda, termasuk silo gandum utama negara yang runtuh akibat hempasan gelombang kejut.

Peristiwa ini memicu gelombang protes publik terhadap pemerintah Lebanon dan menjadi simbol kegagalan negara dalam mengelola risiko dan keselamatan publik.

Dari sisi jumlah korban, ledakan Beirut masih belum menyamai peristiwa yang terjadi di Lagos, Nigeria, pada 27 Januari 2002: sebuah tragedi yang dicatat sebagai ledakan gudang senjata paling mematikan dalam sejarah masa damai.

Kala itu, api dari pasar tradisional di sekitar barak militer Ikeja merambat ke dalam kompleks, tepatnya ke gudang utama amunisi milik tentara Nigeria. Sekitar pukul enam sore, ledakan besar terjadi, melepaskan gelombang kejut yang mengguncang sebagian besar wilayah utara Lagos.

Ledakan awal meratakan blok-blok bangunan di dalam kompleks militer dan menewaskan ratusan tentara serta anggota keluarganya yang tinggal di sana.

Yang terjadi setelahnya jauh lebih tragis. Penduduk kota yang ketakutan dan tidak tahu-menahu sumber ledakan mulai berlarian menyelamatkan diri. Banyak dari mereka, dalam kepanikan dan kondisi gelap gulita, berlari ke arah kanal Oke Afa, sebuah saluran air lebar yang tertutup oleh tumbuhan air dan tampak seperti daratan.

Ratusan orang tenggelam di sana. Tak sedikit dari korban adalah anak-anak yang terlepas dari orang tuanya dalam hiruk pikuk pelarian.

Korban jiwa terus bertambah seiring malam berganti. Rumah-rumah terbakar, jendela pecah, dan bangunan roboh di banyak titik. Ambulans dan rumah sakit kewalahan. Tim SAR bekerja dalam keterbatasan, sementara suara ledakan susulan terdengar hingga keesokan harinya. Lebih dari 1.000 orang diperkirakan tewas dalam peristiwa ini, dan sekitar 1.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.

Sayangnya, jumlah korban pasti dari ledakan ini tak pernah bisa dihitung dengan akurat. Banyak jenazah tidak ditemukan, sebagian hanyut, sebagian lagi tertimbun reruntuhan. Tidak adanya sistem pendataan korban yang terkoordinasi memperparah kekacauan. Bahkan setelah proses evakuasi usai, ratusan orang masih dinyatakan hilang.

Hasil penyelidikan menyimpulkan bahwa pihak militer gagal melakukan pengelolaan gudang amunisi secara layak. Setahun sebelumnya, ledakan kecil pernah terjadi di tempat yang sama, namun tidak ada tindak lanjut berarti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)