Kain Nusantara Menari di Panggung Jawa Barat

Zivaluna Wicaksono
Ditulis oleh Zivaluna Wicaksono diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 15:54 WIB
Mojang dan Jajaka mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Jawa barat dan tampil di panggung utama West Java Festival 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Zivaluna Wicaksono)

Mojang dan Jajaka mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Jawa barat dan tampil di panggung utama West Java Festival 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Zivaluna Wicaksono)

Sejarah dilahirkan kembali, setiap helai kain berayun membawa cerita: tentang tangan yang menenun, tentang leluhur yang menjaga, tentang asal jati diri tanah sunda dan identitas yang tidak pernah pudar. Mojang Jajaka menapaki lintasan waktu, mempertemukan tradisi dan modernitas dalam satu tarikan napas pada West Java Festival, di Kiara Artha Park, Jalan Banten, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/11/2025).

Festival budaya terbesar di Jawa Barat kembali merayakan tradisi yang terus bernapas di tengah arus modernitas melalui fashion show tradisional baju adat yang menjadi sorotan West Java Festival (WJF). Mengusung tema “Gapura Panca Waluya”, West Java Festival menjelma menjadi panggung raksasa yang yang berdenyut dengan warna, seni rupa, dan pesan budaya yang kaya makna.

Angela Aura Rahma selaku perwakilan Mojang Jajaka mencuri perhatian publik dengan kebaya berwarna putih gading dipadu dengan kain batik bermotif bunga tanjung melambangkan kesucian. Busana itu menjadi representasi keanggunan perempuan Jawa Barat, sederhana namun penuh makna filosofis. 

“Kebaya ini bukan sekadar busana, tapi warisan yang membuat saya merasa terhubung dengan siapa diri saya. Saya berharap, lewat kebaya ini generasi muda bisa melihat bahwa adat bukan hal kuno, tapi bagian dari siapa kita,” ujar Angela saat diwawancarai di area backstage usai tampil.

Dalam alunan gemuruh musik tradisional, kilau lampu menyentuh permukaan kain deretan kebaya dan busana adat dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang tampil memukau menggabungkan masa lalu dan masa kini. Fashion show baju adat ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak hanya bisa dipamerkan di museum, tetapi juga dapat hidup di panggung modern.

Fajar Ramdhani, Salah satu panitia West Java Festival 2025, mengungkapkan bahwa fashion show tradisional baju adat ini menjadi bentuk nyata bagaimana budaya bisa terus hidup ditengah kemajuan zaman.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa kain tradisional bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus terus dibawa dalam kehidupan modern,” tutur pria berkacamata tersebut.

Mojang Jajaka melangkah menuju panggung fashion show pada West Java Festival 2025 di Kiara Artha Park, Jalan Banten, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. Minggu (9/11/2025). Foto: Zivaluna Wicaksono

Suasana festival pada sore hari itu terasa hangat dan penuh kehidupan, sorak penonton bergema setiap kali kain tradisional berayun di atas catwalk. Riuh tepuk tangan menyatu dengan alunan suling bambu yang mengalun lembut, menciptakan suasana magis yang sukar dilupakan. 

Selain fashion show, West Java Festival 2025 juga menampilkan parade seni, pertunjukan musik tradisional, serta bazar kuliner tradisional. Setiap sudut taman Kiara Artha park disulap menjadi kampung Jawa Barat dengan deretan stan kuliner serta permainan tradisional yang mengiringi sesi fashion show.

Tepuk tangan panjang penonton menjadi penutup hangat fashion show West Java Festival 2025. Di balik kemeriahan itu tersisa makna yang dalam, tentang kebanggaan akan warisan, tentang kain yang bukan hanya sekadar bahan.

Nabila Salsabila, salah satu penonton West Java Festival 2025 membagikan pesan dan kesannya usai menyaksikan seluruh rangkaian acara, ia mengaku terkesan dengan kemeriahan sekaligus nilai budaya yang tersampaikan.

“Festival ini bukan hanya tentang hiburan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat Jawa Barat merayakan jati dirinya. Setiap sudutnya punya cerita, dan semuanya terasa hidup,” ungkapnya.

Di setiap lipatan kain dan alunan musik tradisional tersimpan pesan sederhana, Jawa Barat tidak sekadar hidup di masa lalu, ia menari di masa kini, menuju masa depan yang penuh warna. West Java Festival 2025 merupakan cermin dari semangat masyarakat Jawa Barat untuk terus menjaga, menghidupi, dan merayakan budayanya di tengah arus zaman. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Zivaluna Wicaksono
Mahasiswa digital public relations telkom university 2024.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)