In Memoriam Alvaro

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Ilustrasi foto Alvaro Kiano Nugroho. (Sumber: Istimewa)
Ilustrasi foto Alvaro Kiano Nugroho. (Sumber: Istimewa)

Polres Metro Jakarta Selatan dan tim forensik RS Polri Kramat Jati menyerahkan jenazah Alvaro Kiano Nugroho kepada keluarganya pada Kamis, 4 Desember 2025, sekitar pukul 14.05 WIB. Jenazah diterima langsung oleh ibu korban, Arum Indah Kusumastuti dan kakeknya. Penyerahan dilakukan setelah kerangka yang ditemukan di lokasi pembuangan  di sekitar Jembatan Cilalay, Tenjo, Bogor, Jawa Barat  dipastikan melalui tes DNA dan identifikasi gigi sebagai milik Alvaro.

Dengan adanya kepastian bahwa jenazah tersebut adalah Alvaro Kiano  Nugroho, telah membuat luka dan pilu di segenap jiwa mereka khususnya ibu, kakek dan neneknya yang sudah menunggu selama sembilan bulan tentang kabar anak berusia enam tahun tersebut.

Sekarang mereka bertiga hanya bisa mengenang saat-saat hidup indah bersama almarhum Alvaro selama enam tahun lalu.

Setiap menjelang Maghrib, sesaat akan adzan terdengar membelah langit berwarna merah tembaga. Ketika burung kembali setelah seharian mencari makanan dan angin mulai merendah merapati  bumi. Ada sepasang kaki kecil melangkah menuju masjid di sekitar Kawasan Pesanggrahan Jakarta Selatan. Alvaro tidak berjalan terburu-buru. Langkahnya tenang  seperti doa yang diucapkan dengan  lemah lembut. Meski masih polos,dalam umurnya yang masih belia, ia selalu menemui Allah melalui salat.

Enam tahun lalu, Alvaro lahir di tengah cinta yang pernah utuh kemudian retak, lalu pecah. Orang dewasa menyebutnya kehidupan, jalan yang harus diambil atau takdir rumah tangga. Tapi bagi seorang anak kecil seperti Alvaro, perceraian adalah  hilangnya suara saat makan bersama, pelukan yang tinggal satu sisi, nuansa tempat pulang yang berubah asing, serta rasa kehilangan yang merayapi segenap perasaannya dan sulit dikatakan.

Dalam kepolosannya, Alvaro tidak protes. Dia juga  tidak menyalahkan keadaan. Alvaro tidak mengerti alasan orang tuanya mengapa sampai ke ujung jalan perceraian. Alvaro hanya terdiam dalam perasaan yang belum bisa dia pahami seiring tumbuh kembang oleh  asuhan kakek dan neneknya.

Kemudian datanglah sebuah kegelapan yang tidak diharapkan  memayungi jiwa Alvaro. Tangan ayah tirinya yang seharusnya melindungi malah menjadi ancaman maut. Ayah tiri menjemputnya saat mau salat Maghrib, bukan untuk memeluk penuh kasih sayang,  bukan juga untuk mengantarkan pulang, melainkan untuk merenggut nyawanya dari kehidupan. Dan apa yang bisa dilakukan bocah enam tahun ? Ia tidak bisa berlari secepat orang dewasa. Ia tidak bisa berteriak lebih keras dari suara  petir saat hujan.

Ia hanya bisa menangis. berwujud tangis ketakutan juga tangis kerinduan pada kakek dan neneknya. Tangisan seorang anak kecil yang tidak mengerti kenapa orang dewasa  terus menyakitinya. Bahkan ketika suara tangis itu terdengar terlalu lantang di telinga  ayah tirinya,  Alvaro dibekapnya  biar tidak terus-terusan menangis, namun bekapan itu bukan hanya menghilangkan tangisan tetapi sekaligus jiwanya Alvaro. Akhirnya Alvaro tewas di tangan kejam ayah tirinya demikian menurut info dari pihak kepolisian.

Menurut penyidikan, ayah tirinya yang berinisial AI menculik Alvaro dari masjid, dalam kondisi bocah itu menangis tak henti. Karena kesal dengan tangisan itu, sang ayah tiri membekap mulut Alvaro dengan handuk, hingga nafasnya terenggut.  Setelah kematian, jasad Alvaro dibungkus plastik kemudian dibuang di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Alvaro adalah mutiara masa depan, anak kecil yang polos, ceria, penuh potensi, dan penuh cinta.  Kakek Tugimin sendiri menjelaskan bahwa Alvaro adalah cucu yang sangat dicintainya , semacam harapan keluarga untuk meneruskan kebaikan dan kasih sayang.

Baca Juga: 10 Netizen Pilihan November 2025, Mengulas Fenomena Turisme Bandung

Bayangkan saja selalu ada tawa yang bisa mencerahkan hati siapa pun. Di balik doa sederhana yang dia panjatkan di masjid, ada impian akan hidup yang lebih indah, damai, dan penuh iman. Tapi mimpi itu diputus terlalu dini oleh kebiadaban ayah tirinya.

Sebelum pergi, sebelum hilang, sebelum dunia mengerutkan alis melihat poster, anak hilang, Alvaro hanya minta satu hal sederhana kepada kakeknya yaitu mohon dibuatkan susu karena haus saat menjalankan puasa. Kakeknya sempat memberi tahu bahwa Alvaro sedang berpuasa, namun Alvaro merajuk, akhirnya sang kakek tidak tega terus membuatkan segelas susu. Siapa sangka itu adalah momen terakhir Alvaro menikmati minuman kesukaannya.

Alvaro Kiano Nugroho adalah simbol harapan yang redup terlalu cepat. Dia adalah anak kecil yang rajin ke masjid, mencintai keluarganya, dan menjadi mutiara masa depan yang penuh potensi. Namun, di balik senyumnya, tersembunyi luka besar  kehilangan waktu bersama orang tua kandung, hidup dalam rumah yang tak sepenuhnya aman, dan akhirnya sampai pada kematian yang kejam yang dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi.

Dengan peristiwa  kita semua berharap semoga tidak ada lagi anak-anak yang padam harapan hidupnya oleh hawa nafsu pihak-pihak lain, padahal Alvaro anak baik dan  tidak bermasalah dengan ayah tiri yang tega membunuhnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)