Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Ketika Sungai Tak Lagi Mampu Menampung Langit

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Jumat 05 Des 2025, 17:45 WIB
Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Rahmat Tonı)

Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Rahmat Tonı)

Beberapa minggu terakhir, media sosial, surat kabar, maupun berbagai platform elektronik dipenuhi oleh kabar duka dari berbagai penjuru Indonesia. Banjir dan tanah longsor terjadi hampir di sebagian besar wilayah negeri ini. Hujan deras yang turun nyaris tanpa jeda sejak akhir November hingga awal Desember menjadi awal dari rangkaian bencana yang menguji kesabaran banyak orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagaimana dilansir Detik.com. sebelumnya telah mengingatkan bahwa pada periode Desember, Januari, dan Februari (DJF), aktivitas cuaca di wilayah Indonesia, terutama di laut, akan semakin intens. Berbagai fenomena angin membuat perairan menjadi lebih bergelora, sementara di daratan, curah hujan meningkat secara signifikan. Secara klimatologis, tinggi gelombang laut maupun intensitas hujan pada periode ini memang lebih tinggi dibanding bulan-bulan lainnya.

Selain itu, menurut laporan Tempo.co, kondisi tersebut turut dirasakan di banyak wilayah Jawa Barat. BMKG memprediksi peningkatan curah hujan dengan intensitas menengah hingga sangat tinggi, mencapai 150–300 milimeter, bahkan di atas 300 milimeter per dasarian di beberapa daerah. Hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang berpotensi memicu berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, terutama di wilayah yang secara geografis rentan.

Wilayah Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, serta Kota dan Kabupaten Bandung termasuk dalam zona dengan curah hujan tinggi. Salah satu kawasan yang merasakan dampaknya adalah Perumahan Parahyangan Kencana, yang berada di Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.

Dalam kurun waktu dua minggu, sejak akhir November hingga awal Desember, kawasan ini telah mengalami tiga kali limpahan air yang cukup besar dari Sungai Cikambuy. Air sungai meluap, memasuki beberapa rumah yang berada di sepanjang tepian sungai. Peristiwa paling terasa terjadi pada tanggal 1 dan 3 Desember, ketika jalan di wilayah RT 02 dan RT 03 tergenang air. Aliran yang biasanya terkendali, tiba-tiba berubah menjadi arus yang tidak lagi mengenal batas.

Padahal, secara kasat mata, kedalaman Sungai Cikambuy tergolong cukup dalam. Namun curah hujan yang sangat tinggi di wilayah hulu, ditambah dengan pendangkalan akibat sedimentasi, membuat kapasitas sungai menurun drastis. Tanah dan lumpur yang terbawa arus mengendap di dasar sungai, menyempitkan alur, hingga akhirnya air mencari jalannya sendiri ke darat—ke halaman, ke jalan, bahkan ke ruang-ruang keluarga.

Pertambahan jumlah penduduk, baik karena kelahiran maupun arus perpindahan dari luar Kecamatan Cangkuang, turut membawa konsekuensi besar terhadap kebutuhan lahan pemukiman dan pertanian. Pembukaan lahan di wilayah selatan yang berbukit-bukit diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya daya serap tanah terhadap air hujan. Hutan dan pepohonan yang seharusnya menjadi penyangga, perlahan berganti dengan bangunan, kebun, dan tanah terbuka. Akibatnya, hujan deras yang turun tidak lagi terserap optimal, melainkan langsung mengalir ke sungai dalam volume yang jauh lebih besar.

Seorang warga setempat mengenang masa lalu dengan nada prihatin.

“Dulu meskipun hujan lebat, air sungai tidak pernah sekotor ini,” ujarnya sambil menunjuk aliran air yang berwarna cokelat pekat. Warna itu menjadi penanda jelas bahwa lapisan tanah permukaan dan tanah di pinggiran sungai kini mudah tergerus, karena tidak lagi ditahan oleh akar-akar tanaman yang dahulu kokoh menahan erosi.

Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Agus Wahyu/RT 02)
Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Agus Wahyu/RT 02)

Setiap musim hujan tiba dengan curah yang tinggi dan durasi panjang, pertemuan beberapa sungai yang melewati Desa Cangkuang dan Desa Bandasari—yakni Sungai Cisangkuy, Cijalupang, dan Cikambuy—seolah menjadi jam alarm bagi warga sekitar. Banjir hampir bisa dipastikan datang. Dampaknya bukan hanya dirasakan di Perumahan Parahyangan Kencana, tetapi juga di Kampung Citaliktik, Kampung Bojong Sayang, bahkan hingga gerbang Polresta Bandung dan ruas Jalan Soreang–Banjaran yang kerap terendam air. Akses jalan terputus, dan warga terpaksa memutar ke jalur yang lebih tinggi seperti melalui Cibako atau Gading Tutuka 2.

Di tengah keterbatasan, warga tidak tinggal diam. Upaya-upaya sederhana namun penuh semangat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar bersama. Aliran sungai dibersihkan dari rumput liar yang tumbuh di atas tumpukan sedimen. Tepian sungai diperkuat dengan karung berisi tanah dan dipagari potongan bambu agar lebih kokoh menahan arus. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong oleh warga RT 02 yang dikomandoi oleh Pak RT Agus Wahyu pada pekan lalu. Sebuah pemandangan yang menghangatkan hati di tengah ancaman bencana.

Namun, sekuat apa pun usaha manusia, alam memiliki dayanya sendiri. Hujan yang turun tanpa henti selama dua minggu terakhir tetap membuat Sungai Cikambuy meluap, menggenangi jalan dan rumah-rumah penduduk. Meski demikian, tidak ada usaha yang sia-sia. Sekurang-kurangnya, manusia telah berikhtiar, telah menjaga sebisanya, dan sisanya diserahkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

Semoga peristiwa demi peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa alam tidak untuk ditaklukkan, melainkan dijaga dan dihormati. Bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan kearifan. Dan bahwa dari setiap bencana, manusia dipanggil untuk menjadi lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab terhadap bumi yang menjadi rumah bersama—hari ini dan di masa yang akan datang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)