Ketika Sungai Tak Lagi Mampu Menampung Langit

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Rahmat Tonı)
Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Rahmat Tonı)

Beberapa minggu terakhir, media sosial, surat kabar, maupun berbagai platform elektronik dipenuhi oleh kabar duka dari berbagai penjuru Indonesia. Banjir dan tanah longsor terjadi hampir di sebagian besar wilayah negeri ini. Hujan deras yang turun nyaris tanpa jeda sejak akhir November hingga awal Desember menjadi awal dari rangkaian bencana yang menguji kesabaran banyak orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagaimana dilansir Detik.com. sebelumnya telah mengingatkan bahwa pada periode Desember, Januari, dan Februari (DJF), aktivitas cuaca di wilayah Indonesia, terutama di laut, akan semakin intens. Berbagai fenomena angin membuat perairan menjadi lebih bergelora, sementara di daratan, curah hujan meningkat secara signifikan. Secara klimatologis, tinggi gelombang laut maupun intensitas hujan pada periode ini memang lebih tinggi dibanding bulan-bulan lainnya.

Selain itu, menurut laporan Tempo.co, kondisi tersebut turut dirasakan di banyak wilayah Jawa Barat. BMKG memprediksi peningkatan curah hujan dengan intensitas menengah hingga sangat tinggi, mencapai 150–300 milimeter, bahkan di atas 300 milimeter per dasarian di beberapa daerah. Hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang berpotensi memicu berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, terutama di wilayah yang secara geografis rentan.

Wilayah Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, serta Kota dan Kabupaten Bandung termasuk dalam zona dengan curah hujan tinggi. Salah satu kawasan yang merasakan dampaknya adalah Perumahan Parahyangan Kencana, yang berada di Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.

Dalam kurun waktu dua minggu, sejak akhir November hingga awal Desember, kawasan ini telah mengalami tiga kali limpahan air yang cukup besar dari Sungai Cikambuy. Air sungai meluap, memasuki beberapa rumah yang berada di sepanjang tepian sungai. Peristiwa paling terasa terjadi pada tanggal 1 dan 3 Desember, ketika jalan di wilayah RT 02 dan RT 03 tergenang air. Aliran yang biasanya terkendali, tiba-tiba berubah menjadi arus yang tidak lagi mengenal batas.

Padahal, secara kasat mata, kedalaman Sungai Cikambuy tergolong cukup dalam. Namun curah hujan yang sangat tinggi di wilayah hulu, ditambah dengan pendangkalan akibat sedimentasi, membuat kapasitas sungai menurun drastis. Tanah dan lumpur yang terbawa arus mengendap di dasar sungai, menyempitkan alur, hingga akhirnya air mencari jalannya sendiri ke darat—ke halaman, ke jalan, bahkan ke ruang-ruang keluarga.

Pertambahan jumlah penduduk, baik karena kelahiran maupun arus perpindahan dari luar Kecamatan Cangkuang, turut membawa konsekuensi besar terhadap kebutuhan lahan pemukiman dan pertanian. Pembukaan lahan di wilayah selatan yang berbukit-bukit diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya daya serap tanah terhadap air hujan. Hutan dan pepohonan yang seharusnya menjadi penyangga, perlahan berganti dengan bangunan, kebun, dan tanah terbuka. Akibatnya, hujan deras yang turun tidak lagi terserap optimal, melainkan langsung mengalir ke sungai dalam volume yang jauh lebih besar.

Seorang warga setempat mengenang masa lalu dengan nada prihatin.

“Dulu meskipun hujan lebat, air sungai tidak pernah sekotor ini,” ujarnya sambil menunjuk aliran air yang berwarna cokelat pekat. Warna itu menjadi penanda jelas bahwa lapisan tanah permukaan dan tanah di pinggiran sungai kini mudah tergerus, karena tidak lagi ditahan oleh akar-akar tanaman yang dahulu kokoh menahan erosi.

Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Agus Wahyu/RT 02)
Sungai di Parahyangan Kencana tak mampu menahan volume air hingga menyebabkan banjir. (Sumber: Warga Parahyangan Kencana | Foto: Agus Wahyu/RT 02)

Setiap musim hujan tiba dengan curah yang tinggi dan durasi panjang, pertemuan beberapa sungai yang melewati Desa Cangkuang dan Desa Bandasari—yakni Sungai Cisangkuy, Cijalupang, dan Cikambuy—seolah menjadi jam alarm bagi warga sekitar. Banjir hampir bisa dipastikan datang. Dampaknya bukan hanya dirasakan di Perumahan Parahyangan Kencana, tetapi juga di Kampung Citaliktik, Kampung Bojong Sayang, bahkan hingga gerbang Polresta Bandung dan ruas Jalan Soreang–Banjaran yang kerap terendam air. Akses jalan terputus, dan warga terpaksa memutar ke jalur yang lebih tinggi seperti melalui Cibako atau Gading Tutuka 2.

Di tengah keterbatasan, warga tidak tinggal diam. Upaya-upaya sederhana namun penuh semangat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar bersama. Aliran sungai dibersihkan dari rumput liar yang tumbuh di atas tumpukan sedimen. Tepian sungai diperkuat dengan karung berisi tanah dan dipagari potongan bambu agar lebih kokoh menahan arus. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong oleh warga RT 02 yang dikomandoi oleh Pak RT Agus Wahyu pada pekan lalu. Sebuah pemandangan yang menghangatkan hati di tengah ancaman bencana.

Namun, sekuat apa pun usaha manusia, alam memiliki dayanya sendiri. Hujan yang turun tanpa henti selama dua minggu terakhir tetap membuat Sungai Cikambuy meluap, menggenangi jalan dan rumah-rumah penduduk. Meski demikian, tidak ada usaha yang sia-sia. Sekurang-kurangnya, manusia telah berikhtiar, telah menjaga sebisanya, dan sisanya diserahkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

Semoga peristiwa demi peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa alam tidak untuk ditaklukkan, melainkan dijaga dan dihormati. Bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan kearifan. Dan bahwa dari setiap bencana, manusia dipanggil untuk menjadi lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab terhadap bumi yang menjadi rumah bersama—hari ini dan di masa yang akan datang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)