Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Nadya Maghfiroh Noor Diswa
Ditulis oleh Nadya Maghfiroh Noor Diswa diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 18:37 WIB
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Suasana diskusi sore itu terasa hangat ketika warga dari berbagai kalangan bersama sejumlah perwakilan organisasi lokal memenuhi ruang pertemuan sederhana di kelurahan. Kursi-kursi tersusun rapi, namun percakapan yang mengalir membuat ruangan terasa hidup. Beberapa dari mereka tampak antusias mengajukan pandangan, dan yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian. Aroma kopi yang baru diseduh menambah keakraban di antara mereka. Di tengah dinamika tersebut, sosok tokoh yang menjadi pusat perhatian hadir dengan senyum tenang, siap berbagi pengalaman. Kehadiran beliau seolah mengikat seluruh elemen diskusi menjadi satu kesatuan gagasan yang utuh.

“Perkenalkan, nama saya Muhammad Firman,” kalimat sederhana itu menjadi awal perbincangan panjang tentang perjalanan hidupnya.

Ia merupakan lulusan S1 Ekonomi, bidang yang menurutnya tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari siapa pun. Sejak 1 April 2021, ia mengemban amanah sebagai lurah tugas yang kini telah dijalaninya lebih dari empat tahun delapan bulan. Di balik kesibukan memimpin wilayah dengan sebelas RW, ia tetap menjadi kepala keluarga bagi istrinya dan lima anak yang selalu ia ceritakan dengan candaan hangat. Meski hidupnya penuh tanggung jawab, gaya bicaranya selalu lugas dan merakyat.

Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. Ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA di sekolah-sekolah swasta, lalu melanjutkan kuliah di Universitas Langlangbuana, mengambil jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia. Perjalanan pendidikannya yang penuh keterbatasan justru membentuk karakter kuat dan etos kerja tinggi. Dari kecil ia telah akrab dengan dinamika masyarakat dan belajar bahwa baik-buruknya lingkungan sangat ditentukan oleh manusia-manusia di dalamnya. Nilai inilah yang kelak mendorongnya tertarik pada dunia manajemen dan pelayanan publik.

Karier Firman dimulai pada tahun 2000 sebagai operator KTP, ketika seluruh proses masih manual dengan tumpukan dokumen yang menggunung. Dari ruang penuh berkas kuning itulah ia belajar ketelitian dan kesabaran. Setelah enam tahun di Dinas Kependudukan, ia pindah ke wilayah sebagai Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan, lalu menjabat jabatan yang sama di kelurahan lain. Ia kemudian diangkat menjadi Sekretaris Kelurahan selama dua setengah tahun sebelum akhirnya dipercaya menjadi lurah. Empat tahap perjalanan yang panjang itu membawanya memahami pemerintahan tingkat bawah secara menyeluruh, dari meja administrasi hingga dinamika warga yang paling kompleks.

Salah satu inovasi yang paling dibanggakan Firman adalah program pengelolaan sampah berbasis kegiatan futsal untuk anak-anak. Program itu berawal dari pengamatannya terhadap anak-anak yang kerap menendang botol plastik di jalan. Ia lalu menginisiasi gerakan sederhana, anak-anak boleh mengikuti latihan futsal gratis asalkan membawa sampah terpilah dari rumah. Hasilnya mengejutkan anak-anak menjadi lebih peduli lingkungan, orang tua lebih terlibat, bahkan beberapa anak mulai belajar berwirausaha dari menjual barang bekas. Program kecil ini membuat warga tertawa, mengeluh, berdebat, namun pada akhirnya sepakat bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal remeh yang konsisten.

Dalam memimpin, Firman selalu menekankan pentingnya kerendahan hati dan kemampuan mengelola kritik. Baginya, seorang pemimpin harus siap melihat persoalan sebagai cermin diri, bukan sekadar tuntutan eksternal. Ia percaya bahwa seburuk apa pun pimpinan, loyalitas tetap harus dijaga selama kebijakan yang dijalankan untuk kebaikan masyarakat. Prinsip tersebut ia pelajari dari banyak pemimpin yang pernah ia dampingi dari era Ridwan Kamil hingga Farhan yang menurutnya menunjukkan keteladanan dalam ketegasan dan kemampuan berkoordinasi. Sikap itu pula yang membuatnya berhati-hati dalam setiap perkataan agar tidak menimbulkan dampak yang tak diinginkan.

Baca Juga: Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Selama menjabat lurah, Firman menghadapi berbagai kritik, persoalan anggaran, dan perbedaan pendapat antar-RW. Ada kalanya kebijakan tidak diterima sebagian warga, atau program tidak mampu menjangkau seluruh wilayah karena keterbatasan anggaran. Namun ia memilih jalan diam, mengamati, dan menilai apakah kritik yang datang bersifat membangun atau merugikan banyak pihak. Dalam berbagai gejolak, ia selalu mengajak diskusi terbuka, baik secara formal maupun santai di warung kopi yang sering menjadi ruang dialog paling jujur. Baginya, kedekatan dengan warga bukan dibangun ketika ada masalah, tetapi lewat silaturahmi yang terus dijaga.

Di tengah kepadatan tugas, Firman merasa justru semakin bahagia karena dapat membantu orang lain melalui pekerjaannya. Baginya, kelurahan adalah tempat belajar tanpa henti tentang manusia, tentang kebijakan, tentang makna melayani. Ia ingin menciptakan lingkungan di mana warga merasa dekat dengan pemerintahannya, dan anak-anak tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan. Ke depan, ia berharap setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini menjadi fondasi perubahan besar bagi generasi selanjutnya. Dari ruang kerja yang tak pernah sepi itu, Muhammad Firman terus menanamkan optimisme bahwa pelayanan publik yang tulus selalu akan menemukan jalannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nadya Maghfiroh Noor Diswa
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.