Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Nadya Maghfiroh Noor Diswa
Ditulis oleh Nadya Maghfiroh Noor Diswa diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 18:37 WIB
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Suasana diskusi sore itu terasa hangat ketika warga dari berbagai kalangan bersama sejumlah perwakilan organisasi lokal memenuhi ruang pertemuan sederhana di kelurahan. Kursi-kursi tersusun rapi, namun percakapan yang mengalir membuat ruangan terasa hidup. Beberapa dari mereka tampak antusias mengajukan pandangan, dan yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian. Aroma kopi yang baru diseduh menambah keakraban di antara mereka. Di tengah dinamika tersebut, sosok tokoh yang menjadi pusat perhatian hadir dengan senyum tenang, siap berbagi pengalaman. Kehadiran beliau seolah mengikat seluruh elemen diskusi menjadi satu kesatuan gagasan yang utuh.

“Perkenalkan, nama saya Muhammad Firman,” kalimat sederhana itu menjadi awal perbincangan panjang tentang perjalanan hidupnya.

Ia merupakan lulusan S1 Ekonomi, bidang yang menurutnya tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari siapa pun. Sejak 1 April 2021, ia mengemban amanah sebagai lurah tugas yang kini telah dijalaninya lebih dari empat tahun delapan bulan. Di balik kesibukan memimpin wilayah dengan sebelas RW, ia tetap menjadi kepala keluarga bagi istrinya dan lima anak yang selalu ia ceritakan dengan candaan hangat. Meski hidupnya penuh tanggung jawab, gaya bicaranya selalu lugas dan merakyat.

Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. Ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA di sekolah-sekolah swasta, lalu melanjutkan kuliah di Universitas Langlangbuana, mengambil jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia. Perjalanan pendidikannya yang penuh keterbatasan justru membentuk karakter kuat dan etos kerja tinggi. Dari kecil ia telah akrab dengan dinamika masyarakat dan belajar bahwa baik-buruknya lingkungan sangat ditentukan oleh manusia-manusia di dalamnya. Nilai inilah yang kelak mendorongnya tertarik pada dunia manajemen dan pelayanan publik.

Karier Firman dimulai pada tahun 2000 sebagai operator KTP, ketika seluruh proses masih manual dengan tumpukan dokumen yang menggunung. Dari ruang penuh berkas kuning itulah ia belajar ketelitian dan kesabaran. Setelah enam tahun di Dinas Kependudukan, ia pindah ke wilayah sebagai Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan, lalu menjabat jabatan yang sama di kelurahan lain. Ia kemudian diangkat menjadi Sekretaris Kelurahan selama dua setengah tahun sebelum akhirnya dipercaya menjadi lurah. Empat tahap perjalanan yang panjang itu membawanya memahami pemerintahan tingkat bawah secara menyeluruh, dari meja administrasi hingga dinamika warga yang paling kompleks.

Salah satu inovasi yang paling dibanggakan Firman adalah program pengelolaan sampah berbasis kegiatan futsal untuk anak-anak. Program itu berawal dari pengamatannya terhadap anak-anak yang kerap menendang botol plastik di jalan. Ia lalu menginisiasi gerakan sederhana, anak-anak boleh mengikuti latihan futsal gratis asalkan membawa sampah terpilah dari rumah. Hasilnya mengejutkan anak-anak menjadi lebih peduli lingkungan, orang tua lebih terlibat, bahkan beberapa anak mulai belajar berwirausaha dari menjual barang bekas. Program kecil ini membuat warga tertawa, mengeluh, berdebat, namun pada akhirnya sepakat bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal remeh yang konsisten.

Dalam memimpin, Firman selalu menekankan pentingnya kerendahan hati dan kemampuan mengelola kritik. Baginya, seorang pemimpin harus siap melihat persoalan sebagai cermin diri, bukan sekadar tuntutan eksternal. Ia percaya bahwa seburuk apa pun pimpinan, loyalitas tetap harus dijaga selama kebijakan yang dijalankan untuk kebaikan masyarakat. Prinsip tersebut ia pelajari dari banyak pemimpin yang pernah ia dampingi dari era Ridwan Kamil hingga Farhan yang menurutnya menunjukkan keteladanan dalam ketegasan dan kemampuan berkoordinasi. Sikap itu pula yang membuatnya berhati-hati dalam setiap perkataan agar tidak menimbulkan dampak yang tak diinginkan.

Baca Juga: Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Selama menjabat lurah, Firman menghadapi berbagai kritik, persoalan anggaran, dan perbedaan pendapat antar-RW. Ada kalanya kebijakan tidak diterima sebagian warga, atau program tidak mampu menjangkau seluruh wilayah karena keterbatasan anggaran. Namun ia memilih jalan diam, mengamati, dan menilai apakah kritik yang datang bersifat membangun atau merugikan banyak pihak. Dalam berbagai gejolak, ia selalu mengajak diskusi terbuka, baik secara formal maupun santai di warung kopi yang sering menjadi ruang dialog paling jujur. Baginya, kedekatan dengan warga bukan dibangun ketika ada masalah, tetapi lewat silaturahmi yang terus dijaga.

Di tengah kepadatan tugas, Firman merasa justru semakin bahagia karena dapat membantu orang lain melalui pekerjaannya. Baginya, kelurahan adalah tempat belajar tanpa henti tentang manusia, tentang kebijakan, tentang makna melayani. Ia ingin menciptakan lingkungan di mana warga merasa dekat dengan pemerintahannya, dan anak-anak tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan. Ke depan, ia berharap setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini menjadi fondasi perubahan besar bagi generasi selanjutnya. Dari ruang kerja yang tak pernah sepi itu, Muhammad Firman terus menanamkan optimisme bahwa pelayanan publik yang tulus selalu akan menemukan jalannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nadya Maghfiroh Noor Diswa
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)