Di Balik Terompet Tahun Baru: Ramai Sehari, Bertahan Hidup 11 Bulan

Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan Kamis 01 Jan 2026, 09:53 WIB
Sanidah berjualan terompet di sekitar Taman Tegalega, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Sanidah berjualan terompet di sekitar Taman Tegalega, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Perayaan tahun baru 2026 baru saja berlalu. Semua insan merayakan bersama keluarga, berkumpul, tertawa, dan menciptakan momen riuh di setiap sudut kota melalui caranya masing-masing.

Serupa dengan suara terompet dan kembang api dari berbagai penjuru kota, kehadiran beragam bunyi khas penanda datangnya tahun baru ini menjadi peruntungan yang cukup menjanjikan bagi beberapa mata pencaharian, salah satunya para pedagang kaki lima yang berpusat di Alun-alun Kota Bandung, Taman Tegallega, dan Pasar Kosambi.

Bagi pedagang kaki lima yang terbiasa memperjualbelikan alat musik tiup ini, aktivitas berjualan bukan sekadar simbol riuhnya suka cita tahun baru, melainkan medium bertahan hidup dari perayaan tahunan yang sangat menentukan aspek perekonomian keluarga kecil mereka.

Berawal dari ide yang muncul karena antusiasme warga, kemudian berkembang menjadi seni berdagang dalam membaca peluang, keseriusan dalam berkompromi, serta konsistensi berjualan dari tahun ke tahun. Semua itu menjadi dorongan untuk mencari strategi bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang kian mencekik dari hari ke hari.

Deretan terompet yang dijual jelang pergantian tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Deretan terompet yang dijual jelang pergantian tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Salah satu pedagang yang konsisten berkeliling menjual terompet di sekitar Alun-alun Bandung, Iis Maryani (55), mengaku telah mantap berjualan sejak tahun 1986, saat dirinya masih belia—masih gadis, katanya. Perjuangan Iis dalam memutar strategi hidup tak hanya bertumpu pada ide menjual terompet. Berbagai jenis dagangan pernah ia coba jual di sekitar Alun-alun Kota Bandung, mulai dari rokok hingga kopi.

Tak kehabisan ide, ketika momentum Kota Kembang sedang mendukung Persib Bandung dalam perhelatan liga lokal, ia pun tetap melanjutkan ide bisnisnya dengan berjualan berbagai benda yang berkaitan dengan sepak bola.

“Itulah, namanya orang usaha. Yang penting mah ada modalnya aja, kalau nggak ada modalnya mah gimana, paling saya mengandalkan pinjaman terus ke orang lain,” jelasnya sambil berkaca-kaca.

Aspek modal memang kerap membuatnya kalut. Iis biasanya membeli terompet dari toko pedagang di pasar. Modal yang harus ia keluarkan tidak sedikit, satu lusin terompet seharga seratus dua puluh ribu rupiah.

“Setelah beli selusin, saya bisa jual lagi di harga 10–20 ribu per buah. Saya cuman dapet untung 5 ribu, itu juga kalau semuanya laku,” ungkapnya sambil menghitung laba bersih yang selama ini ia kumpulkan.

Iis biasanya mendapatkan total keuntungan sekitar seratus hingga tiga ratus ribu rupiah dalam rentang waktu tiga hari berjualan terompet, mulai tanggal 30 Desember hingga 1 Januari. Meski demikian, risiko kerugian di lapangan kerap menghantui, mulai dari terompet yang rusak, patah, hingga harus merelakan dagangan diberikan secara gratis kepada orang lain.

Hal ini sejalan dengan pengalaman Sanidah (57), pedagang terompet di sekitar Taman Tegallega, Bandung. Dalam praktiknya, ia lebih sering menetap dan menunggu pembeli mendatangi lapaknya, berbeda dengan ikhtiar Iis yang memilih berkeliling untuk ‘menjemput bola’ dan mencari sendiri segmentasi pembeli. Sanidah pun mengaku, terkadang dirinya harus menghela napas demi kebaikan bersama.

“Ya gimana, kalau ada anak kecil nangis mau tapi nggak ada uang, biasanya saya langsung kasih aja terompetnya secara cuma-cuma,” ungkapnya.

Sanidah mengaku memiliki dua gerobak khusus untuk berjualan terompet tahun baru bersama anaknya, meski hanya terpisah dua hingga tiga pedagang di antaranya.

Bagi Sanidah, berjualan terompet merupakan aktivitas rutin yang tak pernah ia lewatkan bersama anaknya. Momentum perayaan tahun baru menjadi sumber penghidupan yang cukup pasti untuk menopang dan menambah pundi-pundi rezeki keluarga kecilnya.

“Saya beli dari toko grosir seharga 8 ribu, lalu saya jual 10 ribu aja per buah. Untuk modal, saya mengeluarkan uang sebesar 1 juta, tapi penghasilan saya pun lumayan terjamin. Ya, biasanya pendapatan saya berkisar di antara 400 sampai 500 ribu dari hasil dua hari berdagang di sini,” lanjut dia.

Sanidah selalu membuka lapaknya dari tanggal 31 Desember hingga 1 Januari. Ia mengaku, anaknya biasanya lebih giat dan membuka lapak lebih awal, sejak tanggal 30 Desember. Untuk kawasan Taman Tegallega, antusiasme warga membeli terompet masih sangat tinggi, terutama dari para orang tua yang memiliki anak kecil, ungkap Sanidah.

Kisah lain datang dari penjuru Kota Bandung, tepatnya dari sudut Pasar Kosambi. Sama seperti Iis, Cucu (48) merupakan seorang suami sekaligus ayah yang berdagang demi menghidupi keluarganya. Tak hanya terompet, hari-harinya juga diisi dengan aktivitas berdagang lukisan dan pigura di salah satu sudut jalan Pasar Kosambi.

Berbeda dengan penjual terompet di lokasi lain, ide dan kreativitas Cucu sebagai pedagang terus beradaptasi seiring berjalannya waktu.

“Saya memang nggak bikin sendiri terompetnya—hanya sebagian saja, semampunya saya. Sebagian lagi, saya beli dari online shop, lalu saya jual lagi. Awal dagang memang selalu beli di toko lain karena gampang, kan. Tapi lama kelamaan saya pikir, kalau saya bisa bikin sendiri, kenapa nggak?,” ungkapnya menjelaskan perjalanan dagangnya dari tahun ke tahun.

Dalam hal menekan biaya produksi dan modal, Cucu terbilang sebagai salah satu penjual dengan ide yang melimpah.

Dengan bahan-bahan sederhana seperti rajutan, balon, hingga bagian peniup yang dibeli dari online shop, Cucu berhasil membuat beberapa terompet melalui tangan kreatifnya sendiri.

“Ya, modal yang saya keluarkan cuman sampai 200 ribu, tapi pemasukan saya bisa mencapai 300 sampai dengan 500 ribu, kalau lagi rame.

"Kalau lagi nggak rame, saya simpan saja sisa bahan terompetnya untuk dijual lagi tahun depan,” jelasnya.

Lokasi, skala modal, serta cara berdagang yang berbeda tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menunjukkan pola yang sama. Fleksibel dan peka membaca momentum membuat mereka mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Tak hanya itu, empati dalam berdagang juga selalu mereka junjung tinggi, terutama ketika menghadapi pembeli yang menawar, mencoba produk, namun akhirnya tidak jadi bertransaksi.

Bagi Iis, Sanidah, dan Cucu, berdagang bukan soal mudah tersinggung, melainkan tentang ikhtiar, kesabaran, dan rasa syukur dalam segala situasi, termasuk saat harus meyakinkan konsumen yang mencoba produk berkali-kali sebelum membeli.

“Kalau dicoba dulu sama pembeli, ya gapapa,” katanya. “Takutnya kan nggak bunyi. Kalau sudah dicoba, belinya juga jadi puas,” ungkap Sanidah sembari tersenyum tulus.

Terompet masih relevan sebagai simbol harapan penyambut datangnya tahun baru. Keberadaannya membantu para insan menghadapi keterbatasan ekonomi dalam waktu yang singkat.

Suara bising terompet mungkin hanya hadir dua hingga tiga hari dalam setahun, tetapi nilai di baliknya terus nyaring melampaui bunyinya, mengingatkan kita pada jasa dan kerja keras para pejuang rupiah yang kerap luput untuk didengar.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)