AYOBANDUNG.ID - Perayaan tahun baru 2026 baru saja berlalu. Semua insan merayakan bersama keluarga, berkumpul, tertawa, dan menciptakan momen riuh di setiap sudut kota melalui caranya masing-masing.
Serupa dengan suara terompet dan kembang api dari berbagai penjuru kota, kehadiran beragam bunyi khas penanda datangnya tahun baru ini menjadi peruntungan yang cukup menjanjikan bagi beberapa mata pencaharian, salah satunya para pedagang kaki lima yang berpusat di Alun-alun Kota Bandung, Taman Tegallega, dan Pasar Kosambi.
Bagi pedagang kaki lima yang terbiasa memperjualbelikan alat musik tiup ini, aktivitas berjualan bukan sekadar simbol riuhnya suka cita tahun baru, melainkan medium bertahan hidup dari perayaan tahunan yang sangat menentukan aspek perekonomian keluarga kecil mereka.
Berawal dari ide yang muncul karena antusiasme warga, kemudian berkembang menjadi seni berdagang dalam membaca peluang, keseriusan dalam berkompromi, serta konsistensi berjualan dari tahun ke tahun. Semua itu menjadi dorongan untuk mencari strategi bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang kian mencekik dari hari ke hari.

Salah satu pedagang yang konsisten berkeliling menjual terompet di sekitar Alun-alun Bandung, Iis Maryani (55), mengaku telah mantap berjualan sejak tahun 1986, saat dirinya masih belia—masih gadis, katanya. Perjuangan Iis dalam memutar strategi hidup tak hanya bertumpu pada ide menjual terompet. Berbagai jenis dagangan pernah ia coba jual di sekitar Alun-alun Kota Bandung, mulai dari rokok hingga kopi.
Tak kehabisan ide, ketika momentum Kota Kembang sedang mendukung Persib Bandung dalam perhelatan liga lokal, ia pun tetap melanjutkan ide bisnisnya dengan berjualan berbagai benda yang berkaitan dengan sepak bola.
“Itulah, namanya orang usaha. Yang penting mah ada modalnya aja, kalau nggak ada modalnya mah gimana, paling saya mengandalkan pinjaman terus ke orang lain,” jelasnya sambil berkaca-kaca.
Aspek modal memang kerap membuatnya kalut. Iis biasanya membeli terompet dari toko pedagang di pasar. Modal yang harus ia keluarkan tidak sedikit, satu lusin terompet seharga seratus dua puluh ribu rupiah.
“Setelah beli selusin, saya bisa jual lagi di harga 10–20 ribu per buah. Saya cuman dapet untung 5 ribu, itu juga kalau semuanya laku,” ungkapnya sambil menghitung laba bersih yang selama ini ia kumpulkan.
Iis biasanya mendapatkan total keuntungan sekitar seratus hingga tiga ratus ribu rupiah dalam rentang waktu tiga hari berjualan terompet, mulai tanggal 30 Desember hingga 1 Januari. Meski demikian, risiko kerugian di lapangan kerap menghantui, mulai dari terompet yang rusak, patah, hingga harus merelakan dagangan diberikan secara gratis kepada orang lain.

Hal ini sejalan dengan pengalaman Sanidah (57), pedagang terompet di sekitar Taman Tegallega, Bandung. Dalam praktiknya, ia lebih sering menetap dan menunggu pembeli mendatangi lapaknya, berbeda dengan ikhtiar Iis yang memilih berkeliling untuk ‘menjemput bola’ dan mencari sendiri segmentasi pembeli. Sanidah pun mengaku, terkadang dirinya harus menghela napas demi kebaikan bersama.
“Ya gimana, kalau ada anak kecil nangis mau tapi nggak ada uang, biasanya saya langsung kasih aja terompetnya secara cuma-cuma,” ungkapnya.
Sanidah mengaku memiliki dua gerobak khusus untuk berjualan terompet tahun baru bersama anaknya, meski hanya terpisah dua hingga tiga pedagang di antaranya.
Bagi Sanidah, berjualan terompet merupakan aktivitas rutin yang tak pernah ia lewatkan bersama anaknya. Momentum perayaan tahun baru menjadi sumber penghidupan yang cukup pasti untuk menopang dan menambah pundi-pundi rezeki keluarga kecilnya.
“Saya beli dari toko grosir seharga 8 ribu, lalu saya jual 10 ribu aja per buah. Untuk modal, saya mengeluarkan uang sebesar 1 juta, tapi penghasilan saya pun lumayan terjamin. Ya, biasanya pendapatan saya berkisar di antara 400 sampai 500 ribu dari hasil dua hari berdagang di sini,” lanjut dia.
Sanidah selalu membuka lapaknya dari tanggal 31 Desember hingga 1 Januari. Ia mengaku, anaknya biasanya lebih giat dan membuka lapak lebih awal, sejak tanggal 30 Desember. Untuk kawasan Taman Tegallega, antusiasme warga membeli terompet masih sangat tinggi, terutama dari para orang tua yang memiliki anak kecil, ungkap Sanidah.
Kisah lain datang dari penjuru Kota Bandung, tepatnya dari sudut Pasar Kosambi. Sama seperti Iis, Cucu (48) merupakan seorang suami sekaligus ayah yang berdagang demi menghidupi keluarganya. Tak hanya terompet, hari-harinya juga diisi dengan aktivitas berdagang lukisan dan pigura di salah satu sudut jalan Pasar Kosambi.
Berbeda dengan penjual terompet di lokasi lain, ide dan kreativitas Cucu sebagai pedagang terus beradaptasi seiring berjalannya waktu.
“Saya memang nggak bikin sendiri terompetnya—hanya sebagian saja, semampunya saya. Sebagian lagi, saya beli dari online shop, lalu saya jual lagi. Awal dagang memang selalu beli di toko lain karena gampang, kan. Tapi lama kelamaan saya pikir, kalau saya bisa bikin sendiri, kenapa nggak?,” ungkapnya menjelaskan perjalanan dagangnya dari tahun ke tahun.
Dalam hal menekan biaya produksi dan modal, Cucu terbilang sebagai salah satu penjual dengan ide yang melimpah.
Dengan bahan-bahan sederhana seperti rajutan, balon, hingga bagian peniup yang dibeli dari online shop, Cucu berhasil membuat beberapa terompet melalui tangan kreatifnya sendiri.

“Ya, modal yang saya keluarkan cuman sampai 200 ribu, tapi pemasukan saya bisa mencapai 300 sampai dengan 500 ribu, kalau lagi rame.
"Kalau lagi nggak rame, saya simpan saja sisa bahan terompetnya untuk dijual lagi tahun depan,” jelasnya.
Lokasi, skala modal, serta cara berdagang yang berbeda tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menunjukkan pola yang sama. Fleksibel dan peka membaca momentum membuat mereka mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.
Tak hanya itu, empati dalam berdagang juga selalu mereka junjung tinggi, terutama ketika menghadapi pembeli yang menawar, mencoba produk, namun akhirnya tidak jadi bertransaksi.
Bagi Iis, Sanidah, dan Cucu, berdagang bukan soal mudah tersinggung, melainkan tentang ikhtiar, kesabaran, dan rasa syukur dalam segala situasi, termasuk saat harus meyakinkan konsumen yang mencoba produk berkali-kali sebelum membeli.
“Kalau dicoba dulu sama pembeli, ya gapapa,” katanya. “Takutnya kan nggak bunyi. Kalau sudah dicoba, belinya juga jadi puas,” ungkap Sanidah sembari tersenyum tulus.
Terompet masih relevan sebagai simbol harapan penyambut datangnya tahun baru. Keberadaannya membantu para insan menghadapi keterbatasan ekonomi dalam waktu yang singkat.
Suara bising terompet mungkin hanya hadir dua hingga tiga hari dalam setahun, tetapi nilai di baliknya terus nyaring melampaui bunyinya, mengingatkan kita pada jasa dan kerja keras para pejuang rupiah yang kerap luput untuk didengar.
