Di Balik Terompet Tahun Baru: Ramai Sehari, Bertahan Hidup 11 Bulan

5 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Sanidah berjualan terompet di sekitar Taman Tegalega, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sanidah berjualan terompet di sekitar Taman Tegalega, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Perayaan tahun baru 2026 baru saja berlalu. Semua insan merayakan bersama keluarga, berkumpul, tertawa, dan menciptakan momen riuh di setiap sudut kota melalui caranya masing-masing.

Serupa dengan suara terompet dan kembang api dari berbagai penjuru kota, kehadiran beragam bunyi khas penanda datangnya tahun baru ini menjadi peruntungan yang cukup menjanjikan bagi beberapa mata pencaharian, salah satunya para pedagang kaki lima yang berpusat di Alun-alun Kota Bandung, Taman Tegallega, dan Pasar Kosambi.

Bagi pedagang kaki lima yang terbiasa memperjualbelikan alat musik tiup ini, aktivitas berjualan bukan sekadar simbol riuhnya suka cita tahun baru, melainkan medium bertahan hidup dari perayaan tahunan yang sangat menentukan aspek perekonomian keluarga kecil mereka.

Berawal dari ide yang muncul karena antusiasme warga, kemudian berkembang menjadi seni berdagang dalam membaca peluang, keseriusan dalam berkompromi, serta konsistensi berjualan dari tahun ke tahun. Semua itu menjadi dorongan untuk mencari strategi bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang kian mencekik dari hari ke hari.

Deretan terompet yang dijual jelang pergantian tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Deretan terompet yang dijual jelang pergantian tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Salah satu pedagang yang konsisten berkeliling menjual terompet di sekitar Alun-alun Bandung, Iis Maryani (55), mengaku telah mantap berjualan sejak tahun 1986, saat dirinya masih belia—masih gadis, katanya. Perjuangan Iis dalam memutar strategi hidup tak hanya bertumpu pada ide menjual terompet. Berbagai jenis dagangan pernah ia coba jual di sekitar Alun-alun Kota Bandung, mulai dari rokok hingga kopi.

Tak kehabisan ide, ketika momentum Kota Kembang sedang mendukung Persib Bandung dalam perhelatan liga lokal, ia pun tetap melanjutkan ide bisnisnya dengan berjualan berbagai benda yang berkaitan dengan sepak bola.

“Itulah, namanya orang usaha. Yang penting mah ada modalnya aja, kalau nggak ada modalnya mah gimana, paling saya mengandalkan pinjaman terus ke orang lain,” jelasnya sambil berkaca-kaca.

Aspek modal memang kerap membuatnya kalut. Iis biasanya membeli terompet dari toko pedagang di pasar. Modal yang harus ia keluarkan tidak sedikit, satu lusin terompet seharga seratus dua puluh ribu rupiah.

“Setelah beli selusin, saya bisa jual lagi di harga 10–20 ribu per buah. Saya cuman dapet untung 5 ribu, itu juga kalau semuanya laku,” ungkapnya sambil menghitung laba bersih yang selama ini ia kumpulkan.

Iis biasanya mendapatkan total keuntungan sekitar seratus hingga tiga ratus ribu rupiah dalam rentang waktu tiga hari berjualan terompet, mulai tanggal 30 Desember hingga 1 Januari. Meski demikian, risiko kerugian di lapangan kerap menghantui, mulai dari terompet yang rusak, patah, hingga harus merelakan dagangan diberikan secara gratis kepada orang lain.

Hal ini sejalan dengan pengalaman Sanidah (57), pedagang terompet di sekitar Taman Tegallega, Bandung. Dalam praktiknya, ia lebih sering menetap dan menunggu pembeli mendatangi lapaknya, berbeda dengan ikhtiar Iis yang memilih berkeliling untuk ‘menjemput bola’ dan mencari sendiri segmentasi pembeli. Sanidah pun mengaku, terkadang dirinya harus menghela napas demi kebaikan bersama.

“Ya gimana, kalau ada anak kecil nangis mau tapi nggak ada uang, biasanya saya langsung kasih aja terompetnya secara cuma-cuma,” ungkapnya.

Sanidah mengaku memiliki dua gerobak khusus untuk berjualan terompet tahun baru bersama anaknya, meski hanya terpisah dua hingga tiga pedagang di antaranya.

Bagi Sanidah, berjualan terompet merupakan aktivitas rutin yang tak pernah ia lewatkan bersama anaknya. Momentum perayaan tahun baru menjadi sumber penghidupan yang cukup pasti untuk menopang dan menambah pundi-pundi rezeki keluarga kecilnya.

“Saya beli dari toko grosir seharga 8 ribu, lalu saya jual 10 ribu aja per buah. Untuk modal, saya mengeluarkan uang sebesar 1 juta, tapi penghasilan saya pun lumayan terjamin. Ya, biasanya pendapatan saya berkisar di antara 400 sampai 500 ribu dari hasil dua hari berdagang di sini,” lanjut dia.

Sanidah selalu membuka lapaknya dari tanggal 31 Desember hingga 1 Januari. Ia mengaku, anaknya biasanya lebih giat dan membuka lapak lebih awal, sejak tanggal 30 Desember. Untuk kawasan Taman Tegallega, antusiasme warga membeli terompet masih sangat tinggi, terutama dari para orang tua yang memiliki anak kecil, ungkap Sanidah.

Kisah lain datang dari penjuru Kota Bandung, tepatnya dari sudut Pasar Kosambi. Sama seperti Iis, Cucu (48) merupakan seorang suami sekaligus ayah yang berdagang demi menghidupi keluarganya. Tak hanya terompet, hari-harinya juga diisi dengan aktivitas berdagang lukisan dan pigura di salah satu sudut jalan Pasar Kosambi.

Berbeda dengan penjual terompet di lokasi lain, ide dan kreativitas Cucu sebagai pedagang terus beradaptasi seiring berjalannya waktu.

“Saya memang nggak bikin sendiri terompetnya—hanya sebagian saja, semampunya saya. Sebagian lagi, saya beli dari online shop, lalu saya jual lagi. Awal dagang memang selalu beli di toko lain karena gampang, kan. Tapi lama kelamaan saya pikir, kalau saya bisa bikin sendiri, kenapa nggak?,” ungkapnya menjelaskan perjalanan dagangnya dari tahun ke tahun.

Dalam hal menekan biaya produksi dan modal, Cucu terbilang sebagai salah satu penjual dengan ide yang melimpah.

Dengan bahan-bahan sederhana seperti rajutan, balon, hingga bagian peniup yang dibeli dari online shop, Cucu berhasil membuat beberapa terompet melalui tangan kreatifnya sendiri.

“Ya, modal yang saya keluarkan cuman sampai 200 ribu, tapi pemasukan saya bisa mencapai 300 sampai dengan 500 ribu, kalau lagi rame.

"Kalau lagi nggak rame, saya simpan saja sisa bahan terompetnya untuk dijual lagi tahun depan,” jelasnya.

Lokasi, skala modal, serta cara berdagang yang berbeda tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menunjukkan pola yang sama. Fleksibel dan peka membaca momentum membuat mereka mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Tak hanya itu, empati dalam berdagang juga selalu mereka junjung tinggi, terutama ketika menghadapi pembeli yang menawar, mencoba produk, namun akhirnya tidak jadi bertransaksi.

Bagi Iis, Sanidah, dan Cucu, berdagang bukan soal mudah tersinggung, melainkan tentang ikhtiar, kesabaran, dan rasa syukur dalam segala situasi, termasuk saat harus meyakinkan konsumen yang mencoba produk berkali-kali sebelum membeli.

“Kalau dicoba dulu sama pembeli, ya gapapa,” katanya. “Takutnya kan nggak bunyi. Kalau sudah dicoba, belinya juga jadi puas,” ungkap Sanidah sembari tersenyum tulus.

Terompet masih relevan sebagai simbol harapan penyambut datangnya tahun baru. Keberadaannya membantu para insan menghadapi keterbatasan ekonomi dalam waktu yang singkat.

Suara bising terompet mungkin hanya hadir dua hingga tiga hari dalam setahun, tetapi nilai di baliknya terus nyaring melampaui bunyinya, mengingatkan kita pada jasa dan kerja keras para pejuang rupiah yang kerap luput untuk didengar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)