AYOBANDUNG.ID - Lonjakan wisatawan yang memadati pusat Kota Bandung selama libur Lebaran tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga meninggalkan beban yang kian terasa yaitu sampah yang meningkat dan kerja ekstra para petugas kebersihan.
Di berbagai titik keramaian seperti Alun-Alun, Braga, hingga kawasan Asia Afrika, aktivitas masyarakat yang meningkat berbanding lurus dengan volume sampah yang dihasilkan setiap hari. Pemerintah Kota Bandung mencatat, selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah, volume sampah melonjak hingga 20 persen.
Kondisi ini mendorong Pemkot Bandung menyiagakan sebanyak 2.266 petugas kebersihan selama periode libur Lebaran 2026. Mereka disebar untuk menangani sampah di 71 titik pantau di seluruh kota, dengan fokus utama di kawasan beraktivitas tinggi seperti destinasi wisata, pasar, dan ruas jalan utama. Selain itu, pemantauan intensif juga dilakukan di 66 titik strategis, termasuk Alun-Alun, Gasibu, Braga, dan Asia Afrika yang mengalami lonjakan wisatawan.
Di lapangan, peningkatan tersebut terasa nyata bagi para petugas.
Agus Suheri, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup yang bertugas di kawasan alun-alun, mengatakan peningkatan jumlah pengunjung biasanya terlihat dari banyaknya sampah yang terkumpul.
“Kalau Lebaran memang biasanya penuh. Setiap libur Lebaran pasti ramai pengunjung yang datang ke alun-alun,” kata Agus.
Menurutnya, lonjakan tersebut sudah mulai terasa sejak akhir pekan.
“Biasanya mulai ramai dari Jumat sampai Minggu. Tapi yang paling padat biasanya hari Sabtu,” ujarnya.

Ia menjelaskan petugas kebersihan bekerja dalam tiga shift untuk menjaga kebersihan kawasan.
“Di sini ada tiga shift. Kalau saya sendiri lagi shift siang, biasanya menangani satu gerobak sampah, tapi saat Lebaran bisa sampai dua gerobak karena memang lebih banyak,” katanya.
Peningkatan volume sampah tidak hanya soal jumlah, tetapi juga jenisnya. Sampah plastik sekali pakai masih mendominasi, terutama dari sisa konsumsi pengunjung.
“Paling banyak biasanya plastik, terutama bekas minuman atau bungkus jajanan,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana wisata massal di ruang publik kota masih sangat bergantung pada konsumsi berbasis plastik, yang pada akhirnya menambah beban pengelolaan sampah.
Meski volume sampah meningkat, Agus mengaku sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut.
“Kalau dibilang lebih berat sih tidak terlalu terasa, karena sudah biasa. Yang penting dikerjakan saja,” katanya.
Namun di balik rutinitas itu, tersimpan persoalan yang lebih besar: seberapa jauh kapasitas kota mampu menampung lonjakan aktivitas warganya?
Lonjakan pengunjung yang terpusat di titik-titik tertentu tidak hanya menciptakan kepadatan, tetapi juga tekanan terhadap sistem layanan kota. Misalnya dari kebersihan hingga pengangkutan sampah. Ketika produksi sampah meningkat sementara distribusi dan pengelolaannya terbatas, kota dihadapkan pada batas daya tampungnya.
Agus pun berharap kesadaran pengunjung dapat menjadi bagian dari solusi.
“Harapannya pengunjung jangan buang sampah sembarangan. Kami sudah berusaha membersihkan, tapi akan lebih baik kalau masyarakat juga ikut menjaga kebersihan,” ujarnya.
