Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 15 Apr 2026, 15:20 WIB
Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruangan dengan sorot lampu terang, tujuh perempuan duduk rapi sambil memegang cermin kecil. Di atas meja, berbagai produk makeup tersusun dengan rapi. Mulai dari cushion, lipstik, dan brush dalam beragam ukuran. Lengkap dengan nama mereka yang terpampang di masing-masing mejanya.

Di depan mereka, seorang makeup artist — Sofina Fachlan (26) menyapu kuas di pipi seorang muse, sambil memberikan penjelasan mengenai berbagai teknik makeup. Ia menjadi contoh bagi tujuh perempuan yang sedang belajar mendalami tren makeup terkini.

Kadang mereka menunduk untuk mengoleskan eyeliner dengan hati-hati, kemudian mengarahkan pandangan kembali ke cermin dengan wajah yang menunjukkan beragam ekspresi.

Sofina melihat makeup sebagai jembatan antara inner beauty dan kepercayaan diri yang terpancar keluar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sofina melihat makeup sebagai jembatan antara inner beauty dan kepercayaan diri yang terpancar keluar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di dalam ruangan itu, makeup tak lagi dipandang hanya sebagai alat untuk mempercantik penampilan. Ia berfungsi sebagai sarana untuk memahami satu hal yang lebih mendalam: bahwa kecantikan tidak harus berhubungan dengan harga yang tinggi, melainkan cara seseorang membangun rasa percaya diri dari dalam diri.

Cantik yang Tak Selalu Dibeli

Pandangan bahwa kecantikan membutuhkan biaya tinggi masih melekat di banyak perempuan, termasuk para peserta di sana. Seorang pelajar SMA, Khaisa Ahda Sabila (17), menjadi peserta paling muda yang mengikuti makeup class ini.

“Mahal banget,” ujar Khai saat ditanya pandangannya tentang makeup sebelum ikut kelas.

Namun, seiring dengan proses belajarnya, perspektifnya mulai berubah. Ia menyadari bahwa bukan hanya kualitas produk yang penting, tetapi teknik penggunaan sangat menentukan hasil akhirnya.

“Setelah tahu tekniknya jadi lebih wow, beda aja,” ujar Khaisa.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Ayu Lestari (27), seorang pekerja asal Bandung. Menurutnya, belajar makeup justru menjadi cara untuk menghemat uang dan lebih mandiri.

“Biar nggak bingung, daripada ke MUA mahal, mending belajar sendiri,” kata Ayu.

Ia juga mengakui bahwa biaya untuk makeup bisa cukup tinggi. Namun, ia berpandangan bahwa pengeluaran tersebut bukanlah sia-sia karena bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

“Kalau semua bisa sampai satu juta. Tapi kan itu awet, nggak habis dalam sebulan,” jelas Ayu.

Sofina berpendapat bahwa kecantikan terkait erat dengan hubungan antara kecantikan luar dan dalam. Ia melihat makeup sebagai sarana yang menghubungkan kedua hal tersebut, bukan sekadar cara untuk menyembunyikan imperfection.

“Kecantikan dari dalam itu akan terpancar ke luar. Jadi menurut aku, makeup itu berhubungan dan berkesinambungan dengan inner beauty,” kata Sofina.

“Kepercayaan diri itu harus muncul dari dalam, tapi makeup bisa membantu meningkatkannya,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa saat seseorang melihat penampilannya lebih rapi dan sesuai dengan apa yang ia inginkan, akan muncul dorongan emosional yang menambah kepercayaan diri. Dari situ, perubahan yang terlihat di luar juga akan dirasakan di dalam diri.

Makeup itu ada yang tujuannya mempercantik, ada juga yang untuk menyembunyikan imperfection, tapi itu nggak salah, karena bisa meningkatkan kepercayaan diri,” ucap Sofina.

Ia juga menyampaikan bahwa kecantikan yang berasal dari dalam diri tidak memerlukan biaya yang tinggi. Justru, itu tergantung pada bagaimana seseorang menjaga diri dan lingkungan di sekitarnya.

Dalam pandangannya, menjauhkan diri dari pengaruh negatif dan berada di lingkungan yang mendukung adalah kunci utama dalam mempertahankan inner beauty. Ia percaya bahwa kecantikan sejati tidak hanya tampak, tetapi juga dirasakan melalui cara seseorang bersikap dan energi yang dipancarkannya.

“Cantik itu relatif. Kalau fisik mungkin butuh biaya untuk maintenance, tapi kecantikan dari dalam itu kita yang maintain, dan itu gratis,” kata Sofina.

Sofina menambahkan, “Menjaga inner beauty itu dengan menjauhkan diri dari hal-hal negatif, termasuk informasi yang toxic, dan punya lingkungan yang saling mendukung,” ujarnya.

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Seorang face painter — Ahyaita Zahra (25), juga mengungkapkan bahwa kecantikan tidak bisa dinilai dengan satu standar tunggal. Ia menolak berbagai definisi kecantikan yang sering diterapkan pada perempuan, seperti harus memiliki kulit putih atau bentuk tubuh tertentu.

“Aku sangat tidak setuju kalau ada yang namanya standar kecantikan. Setiap orang itu berharga dan cantik dengan caranya masing-masing,” kata Ahyaita dengan suara lembutnya.

Ia percaya bahwa kecantikan tidak bisa dipukul rata karena setiap orang memiliki ciri khas yang berbeda. Daripada mengejar standar tertentu, ia mengajak perempuan untuk lebih mengenali diri mereka sendiri.

Ahyaita percaya setiap orang memiliki definisi cantik yang unik, tanpa harus tunduk pada standar yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ahyaita percaya setiap orang memiliki definisi cantik yang unik, tanpa harus tunduk pada standar yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Setiap orang punya keunikan dan nilai kecantikannya masing-masing. Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, seperti mengenali diri sendiri,” ucap Ahyaita.

Ahyaita juga membahas pandangan bahwa “beauty is pain” sebagai sesuatu yang betul adanya. Tiap orang memiliki tantangan yang berbeda untuk menemukan versi terbaik dari diri mereka.

Beauty is pain itu benar, tapi setiap orang punya perjuangannya masing-masing dan nggak bisa disamaratakan,” kata Ahyaita.

Ia menambahkan bahwa meskipun banyak yang berpikir bahwa untuk tampil cantik perlu mengeluarkan biaya tinggi, sebenarnya setiap orang bisa memulainya dari hal-hal kecil, dimulai dari mengenali diri sendiri.

Inner dan outer beauty itu harus seimbang. Outer itu soal fisik seperti rapi dan bersih, sementara inner itu tentang perilaku dan cara kita memperlakukan orang lain,” jelas Ahyaita.

Dari Kelas Kecil ke Rasa Percaya Besar

Di balik berbagai teknik dan produk, masalah yang lebih banyak dialami perempuan sering kali terletak pada tingkat rasa percaya diri. Banyak peserta yang pada awalnya merasa kurang percaya diri karena belum pernah belajar makeup sebelumnya atau merasa tertinggal dibandingkan orang lain.

Namun, kelas ini justru menjadi tempat yang aman untuk bereksperimen tanpa takut dipandang rendah. Peserta belajar dalam suasana yang saling mendukung, tanpa ada perbandingan atau standar yang membebani.

“Lebih pede,” ucap Khaisa singkat sambil tersenyum.

“Iya, lebih pede. Jadi tahu yang benar itu seperti apa, dan bisa dipraktikkan di kehidupan sehari-hari,” timpal Ayu saat diwawancarai setelah makeup class ini.

Perubahan kecil ini secara bertahap membentuk pandangan yang baru. Kecantikan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibeli dengan harga tinggi, melainkan dapat dibangun melalui proses pembelajaran, penerimaan diri, serta lingkungan yang suportif dan positif.

Di sini, kecantikan justru tumbuh dari hal-hal sederhana, yakni keberanian untuk mencoba, keinginan untuk belajar, dan keyakinan bahwa setiap orang telah memiliki nilai cantiknya tersendiri.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)