Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruangan dengan sorot lampu terang, tujuh perempuan duduk rapi sambil memegang cermin kecil. Di atas meja, berbagai produk makeup tersusun dengan rapi. Mulai dari cushion, lipstik, dan brush dalam beragam ukuran. Lengkap dengan nama mereka yang terpampang di masing-masing mejanya.

Di depan mereka, seorang makeup artist — Sofina Fachlan (26) menyapu kuas di pipi seorang muse, sambil memberikan penjelasan mengenai berbagai teknik makeup. Ia menjadi contoh bagi tujuh perempuan yang sedang belajar mendalami tren makeup terkini.

Kadang mereka menunduk untuk mengoleskan eyeliner dengan hati-hati, kemudian mengarahkan pandangan kembali ke cermin dengan wajah yang menunjukkan beragam ekspresi.

Sofina melihat makeup sebagai jembatan antara inner beauty dan kepercayaan diri yang terpancar keluar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sofina melihat makeup sebagai jembatan antara inner beauty dan kepercayaan diri yang terpancar keluar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di dalam ruangan itu, makeup tak lagi dipandang hanya sebagai alat untuk mempercantik penampilan. Ia berfungsi sebagai sarana untuk memahami satu hal yang lebih mendalam: bahwa kecantikan tidak harus berhubungan dengan harga yang tinggi, melainkan cara seseorang membangun rasa percaya diri dari dalam diri.

Cantik yang Tak Selalu Dibeli

Pandangan bahwa kecantikan membutuhkan biaya tinggi masih melekat di banyak perempuan, termasuk para peserta di sana. Seorang pelajar SMA, Khaisa Ahda Sabila (17), menjadi peserta paling muda yang mengikuti makeup class ini.

“Mahal banget,” ujar Khai saat ditanya pandangannya tentang makeup sebelum ikut kelas.

Namun, seiring dengan proses belajarnya, perspektifnya mulai berubah. Ia menyadari bahwa bukan hanya kualitas produk yang penting, tetapi teknik penggunaan sangat menentukan hasil akhirnya.

“Setelah tahu tekniknya jadi lebih wow, beda aja,” ujar Khaisa.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Ayu Lestari (27), seorang pekerja asal Bandung. Menurutnya, belajar makeup justru menjadi cara untuk menghemat uang dan lebih mandiri.

“Biar nggak bingung, daripada ke MUA mahal, mending belajar sendiri,” kata Ayu.

Ia juga mengakui bahwa biaya untuk makeup bisa cukup tinggi. Namun, ia berpandangan bahwa pengeluaran tersebut bukanlah sia-sia karena bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

“Kalau semua bisa sampai satu juta. Tapi kan itu awet, nggak habis dalam sebulan,” jelas Ayu.

Sofina berpendapat bahwa kecantikan terkait erat dengan hubungan antara kecantikan luar dan dalam. Ia melihat makeup sebagai sarana yang menghubungkan kedua hal tersebut, bukan sekadar cara untuk menyembunyikan imperfection.

“Kecantikan dari dalam itu akan terpancar ke luar. Jadi menurut aku, makeup itu berhubungan dan berkesinambungan dengan inner beauty,” kata Sofina.

“Kepercayaan diri itu harus muncul dari dalam, tapi makeup bisa membantu meningkatkannya,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa saat seseorang melihat penampilannya lebih rapi dan sesuai dengan apa yang ia inginkan, akan muncul dorongan emosional yang menambah kepercayaan diri. Dari situ, perubahan yang terlihat di luar juga akan dirasakan di dalam diri.

Makeup itu ada yang tujuannya mempercantik, ada juga yang untuk menyembunyikan imperfection, tapi itu nggak salah, karena bisa meningkatkan kepercayaan diri,” ucap Sofina.

Ia juga menyampaikan bahwa kecantikan yang berasal dari dalam diri tidak memerlukan biaya yang tinggi. Justru, itu tergantung pada bagaimana seseorang menjaga diri dan lingkungan di sekitarnya.

Dalam pandangannya, menjauhkan diri dari pengaruh negatif dan berada di lingkungan yang mendukung adalah kunci utama dalam mempertahankan inner beauty. Ia percaya bahwa kecantikan sejati tidak hanya tampak, tetapi juga dirasakan melalui cara seseorang bersikap dan energi yang dipancarkannya.

“Cantik itu relatif. Kalau fisik mungkin butuh biaya untuk maintenance, tapi kecantikan dari dalam itu kita yang maintain, dan itu gratis,” kata Sofina.

Sofina menambahkan, “Menjaga inner beauty itu dengan menjauhkan diri dari hal-hal negatif, termasuk informasi yang toxic, dan punya lingkungan yang saling mendukung,” ujarnya.

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Seorang face painter — Ahyaita Zahra (25), juga mengungkapkan bahwa kecantikan tidak bisa dinilai dengan satu standar tunggal. Ia menolak berbagai definisi kecantikan yang sering diterapkan pada perempuan, seperti harus memiliki kulit putih atau bentuk tubuh tertentu.

“Aku sangat tidak setuju kalau ada yang namanya standar kecantikan. Setiap orang itu berharga dan cantik dengan caranya masing-masing,” kata Ahyaita dengan suara lembutnya.

Ia percaya bahwa kecantikan tidak bisa dipukul rata karena setiap orang memiliki ciri khas yang berbeda. Daripada mengejar standar tertentu, ia mengajak perempuan untuk lebih mengenali diri mereka sendiri.

Ahyaita percaya setiap orang memiliki definisi cantik yang unik, tanpa harus tunduk pada standar yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ahyaita percaya setiap orang memiliki definisi cantik yang unik, tanpa harus tunduk pada standar yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Setiap orang punya keunikan dan nilai kecantikannya masing-masing. Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, seperti mengenali diri sendiri,” ucap Ahyaita.

Ahyaita juga membahas pandangan bahwa “beauty is pain” sebagai sesuatu yang betul adanya. Tiap orang memiliki tantangan yang berbeda untuk menemukan versi terbaik dari diri mereka.

Beauty is pain itu benar, tapi setiap orang punya perjuangannya masing-masing dan nggak bisa disamaratakan,” kata Ahyaita.

Ia menambahkan bahwa meskipun banyak yang berpikir bahwa untuk tampil cantik perlu mengeluarkan biaya tinggi, sebenarnya setiap orang bisa memulainya dari hal-hal kecil, dimulai dari mengenali diri sendiri.

Inner dan outer beauty itu harus seimbang. Outer itu soal fisik seperti rapi dan bersih, sementara inner itu tentang perilaku dan cara kita memperlakukan orang lain,” jelas Ahyaita.

Dari Kelas Kecil ke Rasa Percaya Besar

Di balik berbagai teknik dan produk, masalah yang lebih banyak dialami perempuan sering kali terletak pada tingkat rasa percaya diri. Banyak peserta yang pada awalnya merasa kurang percaya diri karena belum pernah belajar makeup sebelumnya atau merasa tertinggal dibandingkan orang lain.

Namun, kelas ini justru menjadi tempat yang aman untuk bereksperimen tanpa takut dipandang rendah. Peserta belajar dalam suasana yang saling mendukung, tanpa ada perbandingan atau standar yang membebani.

“Lebih pede,” ucap Khaisa singkat sambil tersenyum.

“Iya, lebih pede. Jadi tahu yang benar itu seperti apa, dan bisa dipraktikkan di kehidupan sehari-hari,” timpal Ayu saat diwawancarai setelah makeup class ini.

Perubahan kecil ini secara bertahap membentuk pandangan yang baru. Kecantikan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibeli dengan harga tinggi, melainkan dapat dibangun melalui proses pembelajaran, penerimaan diri, serta lingkungan yang suportif dan positif.

Di sini, kecantikan justru tumbuh dari hal-hal sederhana, yakni keberanian untuk mencoba, keinginan untuk belajar, dan keyakinan bahwa setiap orang telah memiliki nilai cantiknya tersendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)