AYOBANDUNG.ID - Di sebuah ruangan dengan sorot lampu terang, tujuh perempuan duduk rapi sambil memegang cermin kecil. Di atas meja, berbagai produk makeup tersusun dengan rapi. Mulai dari cushion, lipstik, dan brush dalam beragam ukuran. Lengkap dengan nama mereka yang terpampang di masing-masing mejanya.
Di depan mereka, seorang makeup artist — Sofina Fachlan (26) menyapu kuas di pipi seorang muse, sambil memberikan penjelasan mengenai berbagai teknik makeup. Ia menjadi contoh bagi tujuh perempuan yang sedang belajar mendalami tren makeup terkini.
Kadang mereka menunduk untuk mengoleskan eyeliner dengan hati-hati, kemudian mengarahkan pandangan kembali ke cermin dengan wajah yang menunjukkan beragam ekspresi.

Di dalam ruangan itu, makeup tak lagi dipandang hanya sebagai alat untuk mempercantik penampilan. Ia berfungsi sebagai sarana untuk memahami satu hal yang lebih mendalam: bahwa kecantikan tidak harus berhubungan dengan harga yang tinggi, melainkan cara seseorang membangun rasa percaya diri dari dalam diri.

Cantik yang Tak Selalu Dibeli
Pandangan bahwa kecantikan membutuhkan biaya tinggi masih melekat di banyak perempuan, termasuk para peserta di sana. Seorang pelajar SMA, Khaisa Ahda Sabila (17), menjadi peserta paling muda yang mengikuti makeup class ini.
“Mahal banget,” ujar Khai saat ditanya pandangannya tentang makeup sebelum ikut kelas.
Namun, seiring dengan proses belajarnya, perspektifnya mulai berubah. Ia menyadari bahwa bukan hanya kualitas produk yang penting, tetapi teknik penggunaan sangat menentukan hasil akhirnya.
“Setelah tahu tekniknya jadi lebih wow, beda aja,” ujar Khaisa.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Ayu Lestari (27), seorang pekerja asal Bandung. Menurutnya, belajar makeup justru menjadi cara untuk menghemat uang dan lebih mandiri.
“Biar nggak bingung, daripada ke MUA mahal, mending belajar sendiri,” kata Ayu.
Ia juga mengakui bahwa biaya untuk makeup bisa cukup tinggi. Namun, ia berpandangan bahwa pengeluaran tersebut bukanlah sia-sia karena bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.
“Kalau semua bisa sampai satu juta. Tapi kan itu awet, nggak habis dalam sebulan,” jelas Ayu.
Sofina berpendapat bahwa kecantikan terkait erat dengan hubungan antara kecantikan luar dan dalam. Ia melihat makeup sebagai sarana yang menghubungkan kedua hal tersebut, bukan sekadar cara untuk menyembunyikan imperfection.
“Kecantikan dari dalam itu akan terpancar ke luar. Jadi menurut aku, makeup itu berhubungan dan berkesinambungan dengan inner beauty,” kata Sofina.
“Kepercayaan diri itu harus muncul dari dalam, tapi makeup bisa membantu meningkatkannya,” lanjutnya.
Ia menekankan bahwa saat seseorang melihat penampilannya lebih rapi dan sesuai dengan apa yang ia inginkan, akan muncul dorongan emosional yang menambah kepercayaan diri. Dari situ, perubahan yang terlihat di luar juga akan dirasakan di dalam diri.
“Makeup itu ada yang tujuannya mempercantik, ada juga yang untuk menyembunyikan imperfection, tapi itu nggak salah, karena bisa meningkatkan kepercayaan diri,” ucap Sofina.
Ia juga menyampaikan bahwa kecantikan yang berasal dari dalam diri tidak memerlukan biaya yang tinggi. Justru, itu tergantung pada bagaimana seseorang menjaga diri dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam pandangannya, menjauhkan diri dari pengaruh negatif dan berada di lingkungan yang mendukung adalah kunci utama dalam mempertahankan inner beauty. Ia percaya bahwa kecantikan sejati tidak hanya tampak, tetapi juga dirasakan melalui cara seseorang bersikap dan energi yang dipancarkannya.
“Cantik itu relatif. Kalau fisik mungkin butuh biaya untuk maintenance, tapi kecantikan dari dalam itu kita yang maintain, dan itu gratis,” kata Sofina.
Sofina menambahkan, “Menjaga inner beauty itu dengan menjauhkan diri dari hal-hal negatif, termasuk informasi yang toxic, dan punya lingkungan yang saling mendukung,” ujarnya.

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan
Seorang face painter — Ahyaita Zahra (25), juga mengungkapkan bahwa kecantikan tidak bisa dinilai dengan satu standar tunggal. Ia menolak berbagai definisi kecantikan yang sering diterapkan pada perempuan, seperti harus memiliki kulit putih atau bentuk tubuh tertentu.
“Aku sangat tidak setuju kalau ada yang namanya standar kecantikan. Setiap orang itu berharga dan cantik dengan caranya masing-masing,” kata Ahyaita dengan suara lembutnya.
Ia percaya bahwa kecantikan tidak bisa dipukul rata karena setiap orang memiliki ciri khas yang berbeda. Daripada mengejar standar tertentu, ia mengajak perempuan untuk lebih mengenali diri mereka sendiri.

“Setiap orang punya keunikan dan nilai kecantikannya masing-masing. Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, seperti mengenali diri sendiri,” ucap Ahyaita.
Ahyaita juga membahas pandangan bahwa “beauty is pain” sebagai sesuatu yang betul adanya. Tiap orang memiliki tantangan yang berbeda untuk menemukan versi terbaik dari diri mereka.
“Beauty is pain itu benar, tapi setiap orang punya perjuangannya masing-masing dan nggak bisa disamaratakan,” kata Ahyaita.
Ia menambahkan bahwa meskipun banyak yang berpikir bahwa untuk tampil cantik perlu mengeluarkan biaya tinggi, sebenarnya setiap orang bisa memulainya dari hal-hal kecil, dimulai dari mengenali diri sendiri.
“Inner dan outer beauty itu harus seimbang. Outer itu soal fisik seperti rapi dan bersih, sementara inner itu tentang perilaku dan cara kita memperlakukan orang lain,” jelas Ahyaita.
Dari Kelas Kecil ke Rasa Percaya Besar
Di balik berbagai teknik dan produk, masalah yang lebih banyak dialami perempuan sering kali terletak pada tingkat rasa percaya diri. Banyak peserta yang pada awalnya merasa kurang percaya diri karena belum pernah belajar makeup sebelumnya atau merasa tertinggal dibandingkan orang lain.
Namun, kelas ini justru menjadi tempat yang aman untuk bereksperimen tanpa takut dipandang rendah. Peserta belajar dalam suasana yang saling mendukung, tanpa ada perbandingan atau standar yang membebani.
“Lebih pede,” ucap Khaisa singkat sambil tersenyum.
“Iya, lebih pede. Jadi tahu yang benar itu seperti apa, dan bisa dipraktikkan di kehidupan sehari-hari,” timpal Ayu saat diwawancarai setelah makeup class ini.
Perubahan kecil ini secara bertahap membentuk pandangan yang baru. Kecantikan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibeli dengan harga tinggi, melainkan dapat dibangun melalui proses pembelajaran, penerimaan diri, serta lingkungan yang suportif dan positif.
Di sini, kecantikan justru tumbuh dari hal-hal sederhana, yakni keberanian untuk mencoba, keinginan untuk belajar, dan keyakinan bahwa setiap orang telah memiliki nilai cantiknya tersendiri.
