Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Pangan CENTILS: Merajut Tradisi, Rasa, dan Kebersamaan di Langit Ciburial

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 10 Feb 2026, 14:26 WIB
Partisipan Pangan Centil bermain babalunan sarung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Partisipan Pangan Centil bermain babalunan sarung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Matahari di hari Minggu ini perlahan naik di atas langit Ciburial, Bukit Pakar Utara. Di halaman hijau Kama Karsa Garden, suasana akrab segera tercipta tanpa batas meja makan formal. Beberapa orang yang sebelumnya tidak saling mengenal berkumpul, masing-masing hadir dengan latar dan alasan berbeda—entah karena rasa penasaran atau sekadar mencari ruang rehat dari hiruk pikuk kesibukan.

Sebagai alternatif, kain-kain piknik terhampar di atas rumput, menjadi saksi sunyi sebuah acara bernama Pangan CENTILS (CErita daN TradIsi Lokal Setempat). Acara ini dirancang untuk merajut kembali hubungan manusia dengan pangan, tradisi, serta memori kolektif yang hidup di tengah masyarakat.

Membuka Interaksi Lewat Warna

Acara dimulai dengan cara yang intim. Puluhan partisipan berdiri melingkar di atas rumput, saling bertukar pandang untuk pertama kalinya. Bukan sekadar menyebutkan nama, Dhea selaku inisiator bersama pemandu acara mengajak setiap orang menyebutkan satu warna yang paling menggambarkan perasaan atau suasana hati mereka hari itu.

“Tujuannya sebenarnya hanya satu: membuka interaksi. Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal, kolaborasi apa pun bisa lahir,” ungkap Dhea.

Baginya, pangan merupakan “pintu masuk” paling mudah untuk membicarakan tradisi.

“Awalnya merasa karena semua orang bilang, ‘Hayu, kita kalau ngomongin pangan mah botram saja’. Di Jawa Barat kan identik dengan itu,” tambahnya.

Ketangkasan Sarung dan Filosofi Tarik Ubi

Setelah suasana menghangat, kendali acara beralih ke Edi Junaidi dari komunitas Petra Nusa. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengeksplorasi berbagai permainan tradisional.

Suara riuh menggema saat mereka memainkan babalunan sarung, nangkeup buntut monyet, hingga klenang-kleneng—permainan petani ubi yang mengharuskan tiap kelompok saling tarik-menarik layaknya mencabut singkong dari tanah.

“Uniknya permainan tradisional itu, orang bisa main dengan hasil buatan mereka sendiri. Motorik kasar, halus, sampai sosialnya jalan karena mereka tidak bisa main sendirian, harus berkelompok,” jelas Edi.

Ia menekankan kegiatan ini sebagai upaya melawan “sindrom digital” yang dialami generasi Alpha maupun orang dewasa.

“Harapan kami, generasi sekarang harus tahu permainan tradisional agar tidak punah, karena ini warisan penuh makna dari nenek moyang,” ujarnya.

Panganan lokal hasil dari kebun sendiri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Panganan lokal hasil dari kebun sendiri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pertukaran Rasa di Atas Kain Piknik

Puncak kehangatan hari itu terjadi saat sesi pertukaran pangan lokal dan bibit tanaman. Setiap partisipan membawa bekal untuk dibagikan.

Di atas kain piknik, beragam olahan kebun tersaji, mulai dari ubi-ubian, leupeut, hingga aneka makanan manis tradisional. Aroma wedang mawar dan wedang daun kopi yang unik menyeruak di antara obrolan warga yang saling mencicipi hidangan satu sama lain.

Tidak hanya pangan, bibit-bibit tanaman pun berpindah tangan sebagai simbol keberlanjutan.

Di sela-sela botram, Dinda Anindita dari Berkawansekebun memandu sesi journaling dan pembuatan zine. Para peserta mendokumentasikan ingatan mereka tentang rasa dan tradisi dalam lembaran kertas kreatif.

Meluruh dalam Frekuensi Tarawangsa

Sebagai penutup yang meditatif, suasana di Bukit Pakar mendadak sunyi saat Yusman Ari dan grup Tarawangsa Astungkara tampil. Peserta diminta memejamkan mata, melepaskan sisa energi setelah bermain, dan menyimak alunan rebab jangkung serta petikan jentreng.

Di tengah lingkaran, seorang penari tradisional bergerak anggun mengikuti irama buhun khas Rawabogo, Ciwidey.

“Kami mengajak teman-teman untuk rehat. Setelah dari pagi berkegiatan, sebelum pulang kita recharge lagi energi lewat musik ini,” ujar Yusman.

Baginya, Tarawangsa bukan sekadar musik tradisional, melainkan sarana mengisi semangat.

“Misi kami sebenarnya edukasi, memberitahu dunia luar bahwa di Bandung Selatan masih ada Tarawangsa dengan pola permainan yang berbeda,” ungkapnya.

Ungkapan Emosi

Dampak emosional acara ini terasa pada salah satu peserta yang tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia mengaku sempat ragu datang karena takut bertemu orang baru, namun pengalaman hari itu justru membebaskan perasaannya.

“Ternyata di luar dugaan, seru banget. Paling menarik bagian mainan, karena waktu kecil aku sering main itu. Aku merasa beruntung bisa merasakannya lagi hari ini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Baginya, kombinasi musik Tarawangsa dan kehangatan botram menghadirkan efek emotion delay yang menenangkan.

“Senang sekali bisa mencoba makanan buatan teman-teman. Makanannya enak-enak,” tuturnya haru dan antusias.

News Update

Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)