Pangan CENTILS: Merajut Tradisi, Rasa, dan Kebersamaan di Langit Ciburial

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 10 Feb 2026, 14:26 WIB
Partisipan Pangan Centil bermain babalunan sarung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Partisipan Pangan Centil bermain babalunan sarung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Matahari di hari Minggu ini perlahan naik di atas langit Ciburial, Bukit Pakar Utara. Di halaman hijau Kama Karsa Garden, suasana akrab segera tercipta tanpa batas meja makan formal. Beberapa orang yang sebelumnya tidak saling mengenal berkumpul, masing-masing hadir dengan latar dan alasan berbeda—entah karena rasa penasaran atau sekadar mencari ruang rehat dari hiruk pikuk kesibukan.

Sebagai alternatif, kain-kain piknik terhampar di atas rumput, menjadi saksi sunyi sebuah acara bernama Pangan CENTILS (CErita daN TradIsi Lokal Setempat). Acara ini dirancang untuk merajut kembali hubungan manusia dengan pangan, tradisi, serta memori kolektif yang hidup di tengah masyarakat.

Membuka Interaksi Lewat Warna

Acara dimulai dengan cara yang intim. Puluhan partisipan berdiri melingkar di atas rumput, saling bertukar pandang untuk pertama kalinya. Bukan sekadar menyebutkan nama, Dhea selaku inisiator bersama pemandu acara mengajak setiap orang menyebutkan satu warna yang paling menggambarkan perasaan atau suasana hati mereka hari itu.

“Tujuannya sebenarnya hanya satu: membuka interaksi. Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal, kolaborasi apa pun bisa lahir,” ungkap Dhea.

Baginya, pangan merupakan “pintu masuk” paling mudah untuk membicarakan tradisi.

“Awalnya merasa karena semua orang bilang, ‘Hayu, kita kalau ngomongin pangan mah botram saja’. Di Jawa Barat kan identik dengan itu,” tambahnya.

Ketangkasan Sarung dan Filosofi Tarik Ubi

Setelah suasana menghangat, kendali acara beralih ke Edi Junaidi dari komunitas Petra Nusa. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengeksplorasi berbagai permainan tradisional.

Suara riuh menggema saat mereka memainkan babalunan sarung, nangkeup buntut monyet, hingga klenang-kleneng—permainan petani ubi yang mengharuskan tiap kelompok saling tarik-menarik layaknya mencabut singkong dari tanah.

“Uniknya permainan tradisional itu, orang bisa main dengan hasil buatan mereka sendiri. Motorik kasar, halus, sampai sosialnya jalan karena mereka tidak bisa main sendirian, harus berkelompok,” jelas Edi.

Ia menekankan kegiatan ini sebagai upaya melawan “sindrom digital” yang dialami generasi Alpha maupun orang dewasa.

“Harapan kami, generasi sekarang harus tahu permainan tradisional agar tidak punah, karena ini warisan penuh makna dari nenek moyang,” ujarnya.

Panganan lokal hasil dari kebun sendiri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Panganan lokal hasil dari kebun sendiri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pertukaran Rasa di Atas Kain Piknik

Puncak kehangatan hari itu terjadi saat sesi pertukaran pangan lokal dan bibit tanaman. Setiap partisipan membawa bekal untuk dibagikan.

Di atas kain piknik, beragam olahan kebun tersaji, mulai dari ubi-ubian, leupeut, hingga aneka makanan manis tradisional. Aroma wedang mawar dan wedang daun kopi yang unik menyeruak di antara obrolan warga yang saling mencicipi hidangan satu sama lain.

Tidak hanya pangan, bibit-bibit tanaman pun berpindah tangan sebagai simbol keberlanjutan.

Di sela-sela botram, Dinda Anindita dari Berkawansekebun memandu sesi journaling dan pembuatan zine. Para peserta mendokumentasikan ingatan mereka tentang rasa dan tradisi dalam lembaran kertas kreatif.

Meluruh dalam Frekuensi Tarawangsa

Sebagai penutup yang meditatif, suasana di Bukit Pakar mendadak sunyi saat Yusman Ari dan grup Tarawangsa Astungkara tampil. Peserta diminta memejamkan mata, melepaskan sisa energi setelah bermain, dan menyimak alunan rebab jangkung serta petikan jentreng.

Di tengah lingkaran, seorang penari tradisional bergerak anggun mengikuti irama buhun khas Rawabogo, Ciwidey.

“Kami mengajak teman-teman untuk rehat. Setelah dari pagi berkegiatan, sebelum pulang kita recharge lagi energi lewat musik ini,” ujar Yusman.

Baginya, Tarawangsa bukan sekadar musik tradisional, melainkan sarana mengisi semangat.

“Misi kami sebenarnya edukasi, memberitahu dunia luar bahwa di Bandung Selatan masih ada Tarawangsa dengan pola permainan yang berbeda,” ungkapnya.

Ungkapan Emosi

Dampak emosional acara ini terasa pada salah satu peserta yang tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia mengaku sempat ragu datang karena takut bertemu orang baru, namun pengalaman hari itu justru membebaskan perasaannya.

“Ternyata di luar dugaan, seru banget. Paling menarik bagian mainan, karena waktu kecil aku sering main itu. Aku merasa beruntung bisa merasakannya lagi hari ini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Baginya, kombinasi musik Tarawangsa dan kehangatan botram menghadirkan efek emotion delay yang menenangkan.

“Senang sekali bisa mencoba makanan buatan teman-teman. Makanannya enak-enak,” tuturnya haru dan antusias.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)