Hikayat Ponari, Dukun Cilik Batu Petir Pembelah Logika Orang Dewasa

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ponari, si dukun cilik dengan batu petir ajaib dari Jombang yang menggemparkan Indonesia pada 2009.
Ponari, si dukun cilik dengan batu petir ajaib dari Jombang yang menggemparkan Indonesia pada 2009.

AYOBANDUNG.ID - Pada awal 2009, Indonesia mendadak punya pahlawan baru. Bukan pemain sinetron, bukan pejabat, bukan pula tokoh spiritual berkharisma yang muncul dari lereng gunung. Pahlawan itu justru bocah SD berumur sembilan tahun yang lebih suka main hujan dan lari-larian di pematang sawah. Namanya Ponari, anak kampung dari Dusun Kedungsari, Jombang, yang mendadak melompat dari dunia bocah ke panggung nasional hanya berbekal satu batu yang katanya jatuh dari langit bersama petir.

Hikayatnya dimulai dengan cara yang sangat Indonesia: hujan deras, kilat yang menyambar, dan cerita yang beranak-pinak lebih cepat daripada mie instan dimasak mahasiswa di akhir bulan. Ada versi yang bilang Ponari tersambar dan pingsan, ada versi yang bilang ia cuma mengambil batu yang muncul entah dari mana setelah badai lewat. Apa pun kronologinya, yang jelas batu itu menjadi tokoh utama kedua setelah si bocah sendiri. Batu kecil seukuran telur ayam itu diberi nama batu petir atau batu geledek, seolah ia punya paspor kosmik yang menghubungkannya ke dunia lain.

Ponari mulai mencoba batu tersebut pada tetangganya. Caranya sederhana: celupkan batu ke air, biarkan airnya diminum atau dioleskan. Ia tidak punya mantera rumit, tidak punya seragam dukun, dan tidak memegang tongkat atau keris yang dipamerkan di atas tikar. Yang ia punya hanya batu, ember, dan kepercayaan warga. Keajaiban kecil pun mulai diceritakan. Demam turun, sakit kepala menghilang, sendi longgar kembali kencang. Dari mulut ke mulut, cerita itu mengalir ke seluruh desa Balongsari, lalu keluar desa, lalu keluar kabupaten, lalu keluar provinsi. Dalam waktu beberapa minggu, Indonesia berubah menjadi negara dengan satu pusat ziarah baru: rumah Ponari.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Pada pertengahan Januari 2009, media lokal mulai melirik. Kamera televisi menemukan si bocah yang lebih suka main kelereng daripada bicara di depan wartawan. Pemberitaan naik daun dengan kecepatan seperti mie instan tadi. Ponari dijuluki dukun cilik, penyembuh ajaib, bocah sakti, dan berbagai gelar lain yang membuat anak kelas tiga SD mana pun pasti bingung kalau tiba-tiba diminta memberikan testimoni di TV nasional.

Warga berdatangan membawa segala jenis air: air galon, air sumur, air kendi, air sungai yang entah sebersih apa. Air itu dicelupkan batu petir oleh Ponari, lalu dibawa pulang sebagai pengobatan. Tidak ada tarif resmi, tapi uang mengalir dalam bentuk sumbangan suka rela yang jumlahnya bisa membuat kantong celana bocah sembilan tahun itu terlalu penuh untuk ukuran anak desa.

Tetapi, fenomena ini punya efek samping yang luar biasa. Pada Februari hingga Maret 2009, jumlah pengunjung mencapai puluhan ribu dalam satu hari. Bayangkan desa kecil yang jalan utamanya mungkin cuma cukup dua sepeda motor berpapasan, tiba-tiba mendadak harus menampung manusia sebanyak isi stadion sepak bola. Kilometer demi kilometer antrean terbentuk dari orang-orang yang datang jauh-jauh dari berbagai pulau. Ada yang membawa pasien dengan kursi roda, ada yang naik pikap, ada yang digendong sambil teriak minta jalan.

Desa Balongsari berubah menjadi pusat ekonomi mikro yang sesak. Warga membuka warung dadakan, kios minuman, lahan parkir seluas halaman tetangga, serta posko penginapan yang lebih mirip bilik ronda. Pendapatan desa melejit dalam hitungan hari. Angka miliaran rupiah disebut sebagai perputaran ekonomi selama masa-masa puncak itu.

Di balik hiruk-pikuk itu, tragedi tidak bisa dihindari. Desak-desakan menelan korban jiwa. Beberapa pengunjung meninggal karena kelelahan dan terinjak kerumunan. Ada juga kasus anak kecil yang meninggal setelah meminum air celupan batu, yang kemudian memicu perdebatan soal higienitas. Kematian ini menjadi alarm keras untuk polisi setempat yang mencoba mengatur antrean dengan sistem kartu kunjungan. Tapi kerumunan itu seperti gelombang laut: sulit dikendalikan dan selalu datang lagi.

Baca Juga: Sejarah Letusan Krakatau 1883, Kiamat Kecil yang Guncang Iklim Bumi

Sorotan media internasional juga muncul. Ponari menjadi headline di berbagai negara, gambaran eksotis dari masyarakat yang masih percaya bahwa batu kecil dari petir bisa menyembuhkan penyakit kronis. Dunia luar terheran-heran, tapi di Indonesia, kepercayaan dan harapan selalu punya ruang besar. Kadang terlalu besar.

Suasana warga yang berdesakan mengantre untuk berebut celupan batu ajaib Ponari. (Sumber: MNCTV)
Suasana warga yang berdesakan mengantre untuk berebut celupan batu ajaib Ponari. (Sumber: MNCTV)

Kontroversi pun mulai tumbuh. Dari sisi kesehatan, para dokter khawatir metode ini membuat pasien menunda pengobatan medis. Dari sisi agama, praktik penyembuhan dengan benda dianggap menyalahi ajaran. Dari sisi hak anak, Ponari tidak sekolah hampir sebulan penuh. Ia terjebak antara menjadi bocah dan menjadi fenomena nasional. Pihak sekolah memintanya kembali belajar, namun antrean pasien yang mengular membuat permintaan itu terdengar seperti angin lewat.

Pemerintah daerah akhirnya turun tangan. Polisi menutup akses, antrean dibubarkan, dan Ponari dipaksa kembali menjadi anak seusianya. Pada Maret 2009, batu petir mulai kehilangan kilau di mata publik. Kerumunan mereda. Media mencari sensasi baru. Desa Balongsari perlahan kembali sunyi.

Baca Juga: Hikayat Skandal Dimas Kanjeng, Dukun Pengganda Uang Seribu Kali Lipat

Kehidupan Ponari Setelah Batu Petir

Setelah badai 2009 berlalu, Ponari kembali ke kehidupan yang jauh lebih sederhana. Ia bersekolah kembali, meski sesekali masih ada yang datang membawa sebotol air berharap mendapatkan celupan sakti. Pada satu titik, keluarganya bahkan sempat menggunakan uang donasi untuk membangun rumah yang lebih layak. Namun dibandingkan hidup glamor, Ponari lebih sering disebut menjalani masa remaja sebagai pemuda desa biasa.

Ketika Indonesia sibuk mengikuti drama politik tahun demi tahun, Ponari tumbuh dalam diam. Waktu berjalan cepat. Media sesekali menengok kembali kisahnya, seperti seorang mantan selebritas yang dulu sangat terkenal tapi tidak tahu harus kembali tampil dalam genre apa. Ekspektasi publik dan kenyataan hidupnya berjalan di dua rel berbeda.

Pada 2016, beberapa media menyebutnya bercita-cita menjadi tentara. Setelahnya, ia semakin jarang terdengar. Batu petir masih disimpan, tapi hanya digunakan untuk tetangga dekat. Tidak ada kerumunan, tidak ada antrean, hanya ritual kecil yang dilakukan karena kebiasaan, bukan karena bisnis.

Kemudian hidupnya berubah arah lagi. Pada 2020, Ponari menikah. Pasangannya perempuan dari desa tetangga, dan mereka memiliki seorang putri. Tahun-tahun berikutnya memperlihatkan ia bekerja seperti warga biasa: di gudang ayam, di pabrik, bahkan sempat mencoba jualan online. Pendapatannya tidak luar biasa, hanya sekitar belasan ribu rupiah per hari. Kontras yang mencolok dibandingkan miliaran yang pernah berputar mengelilinginya ketika ia masih anak-anak.

Pada 2023, laporan menunjukkan bahwa ia masih membuka praktik penyembuhan kecil-kecilan. Hanya beberapa pasien per minggu. Kadang dua orang, kadang tiga. Tidak ada drama, tidak ada antrean massal. Orang-orang datang dengan diabetes atau nyeri kaki, membawa air sendiri, meminta batu petir dicelupkan. Tidak ada tarif, hanya sumbangan sukarela, sama seperti dulu tapi dengan skala yang sangat manusiawi.

Baca Juga: Hikayat Tragedi Lumpur Lapindo, Bencana Besar yang Tenggelamkan Belasan Desa di Sidoarjo

Batu petir itu masih sama. Masih disimpan rapi di rumahnya. Ponari percaya kekuatannya berasal dari Yang Maha Kuasa. Namun ia tidak lagi berusaha meyakinkan siapa pun. Jagat media sosial sesekali mengunggah nostalgia tentang masa kejayaannya, tapi Ponari sendiri tidak aktif di dunia digital. Ia memilih menjadi kepala keluarga dua anak, bekerja keras di gudang, dan menjalani hidup yang jauh lebih tenang.

Pada 2025, namanya kembali beredar di beberapa platform berita. Kali ini bukan karena batu petir atau gelombang massa, melainkan karena kehidupannya sebagai buruh dengan gaji harian yang kecil. Kontras nasib ini menjadi bahan diskusi warganet, seakan-akan dunia menolak memberikan akhir cerita bak film Hollywood pada seorang bocah yang pernah mengobati ribuan orang dengan batu.

Tetapi hikayat Ponari tidak pernah benar-benar soal kaya atau miskin. Ia soal bagaimana masyarakat bisa mengalir mengikuti satu harapan kecil, sepotong cerita yang dianggap mampu menambal kekosongan antara akses kesehatan dan kepercayaan. Fenomena Ponari menunjukkan betapa kuatnya imajinasi kolektif masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan misteri, harapan, dan rasa putus asa.

Pada akhirnya, kehidupan Ponari setelah semua hiruk-pikuk itu justru terasa paling jujur. Ia menjadi pria dewasa yang mengurus keluarga, bekerja keras setiap hari, masih menyimpan batu petir itu di laci rumah, dan masih melayani pasien kecil-kecilan. Ia bukan lagi fenomena nasional. Ia bukan lagi headline internasional. Ia hanyalah warga desa yang pernah menjadi legenda.

Ia cukup menjadi cerita yang diingat, ditertawakan pelan, dikisahkan ulang, dan disimpan sebagai salah satu bab paling aneh tapi juga paling manusiawi dalam sejarah sosial Indonesia modern.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)