AYOBANDUNG.ID - Tempat itu terlalu luas untuk disebut halaman belakang, namun sekaligus terlalu sunyi untuk layak dipanggil kota. Di hamparan stepa Kazakhstan yang memanjang seperti karpet kusam yang digelar berlebihan hingga robek di ujungnya, ada kawasan yang dulu menjadi salah satu panggung paling ambisius, paling rahasia, dan paling nekat dalam sejarah teknologi manusia. Nama resminya Semipalatinsk Test Site, tetapi banyak orang lebih suka menyebutnya The Polygon. Lebih pendek, lebih misterius, dan terasa seperti judul novel thriller yang sengaja dibuat orang yang tidak terlalu pandai menamai sesuatu tetapi tahu bagaimana membuat pembacanya menggigil.
The Polygon adalah wilayah seluas satu provinsi kecil yang pernah menjadi lokasi ujicoba nuklir Uni Soviet selama empat dekade. Jika Chernobyl dikenal karena kecerobohan, Polygon justru dikenal karena kesengajaan. Di sana, ratusan bom diledakkan secara terencana, presisi, bahkan penuh kebanggaan industrial. Kota-kota lain membangun stadion. Soviet membangun awan jamur.
Di tengah padang yang katanya kosong itu, para ilmuwan dan pejabat Soviet dulu berlalu-lalang tanpa khawatir menemukan kerumunan yang bisa mengacaukan rahasia negara. Mereka menganggap daerah itu senyap dan tak berpenghuni, padahal sebenarnya ada ratusan ribu orang yang tinggal di desa-desa sekitar. Penduduk lokal menjalani hari-hari mereka dengan tenang, memelihara ternak, menanak nasi, dan sesekali menatap awan aneh yang muncul di ufuk, tanpa curiga bahwa hidup mereka ikut dicatat dalam sejarah radiasi dunia.
Suatu masa, sebuah kota rahasia berdiri di tepi Sungai Irtysh. Kota itu berubah nama berkali-kali seperti seseorang yang terlalu sering kabur dari masa lalu. Semipalatinsk-21, Moscow-400, Konechnaya, lalu Kurchatov. Nama terakhir itu diberikan ketika rahasia negara sudah tidak terlalu rahasia lagi, dan ketika dunia luar akhirnya bisa membaca peta tanpa harus mengira-ngira.
Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama
Pada masa jayanya, Kurchatov berpenduduk sampai 50.000 jiwa. Kota itu menjadi semacam Disneyland ilmiah bagi mereka yang berkecimpung di dunia nuklir. Toko-toko penuh dengan barang yang sulit ditemukan di kota-kota Soviet lain. Ada kolam renang, ada fasilitas olahraga yang nyaman, dan ada pemanas ruangan yang bekerja dengan baik, sesuatu yang di banyak kota Soviet seharusnya digolongkan sebagai mukjizat kecil. Kota itu seperti hadiah akhir tahun bagi para ilmuwan yang betah bekerja dengan tekanan tingkat negara adidaya.
Tapi kehidupan nyaman itu tidak membuat kota ini terbuka. KGB menjaga pintu masuk kota seperti penjaga cagar alam yang tidak ingin hewan peliharaannya diganggu turis iseng. Kerabat penduduk harus menunggu izin berbulan-bulan untuk datang, dan jika mereka akhirnya tiba, suasana kota itu sendiri sering kali membuat mereka merasa seperti tidak benar-benar diizinkan masuk.
Dari kota inilah program ujicoba nuklir terbesar dan paling rajin dalam sejarah manusia dijalankan. Sebanyak 456 ledakan dilakukan antara 1949 hingga 1989. Seratus enam belas di antaranya dilakukan di atmosfer. Sisanya di bawah tanah, menyisakan jaringan terowongan yang berliku seperti sarang tikus raksasa yang dibuat oleh insinyur dengan gelar doktor dan humor yang agak gelap.
Opytnoe Pole, atau Experimental Field, adalah tempat Soviet meledakkan bom pertamanya. Di sana mereka membuat replika kota lengkap dengan rumah-rumah mungil, jembatan, bogel rel, dan hewan percobaan. Babi sering dipilih karena kulitnya dianggap mirip manusia. Di museum Kurchatov sekarang ada koleksi stoples kaca berisi organ hewan yang telah hangus. Jika ada tempat di dunia yang dapat membuat orang merinding tanpa perlu lampu redup, museum itu sudah memenuhi kriteria.
Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Tetapi sejarah tidak diisi oleh koleksi organ hewan. Manusia di desa-desa sekitar justru menjadi korban utama, meskipun mereka tidak pernah dimasukkan ke ruang percobaan. Mereka tinggal di zona yang selalu siap menerima angin, dan angin di stepa tidak mengenal konsep pembatas wilayah. Kadang-kadang sebelum ledakan, tentara meminta mereka keluar rumah untuk “keselamatan”. Setelah ledakan, mereka dipersilakan pulang seperti biasa, seolah ledakan itu hanyalah acara kembang api musiman yang tidak perlu dicemaskan.
Letupan awan radioaktif yang melayang di udara menyapu desa-desa seluas ratusan ribu kilometer persegi. Jumlah penduduk yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari satu setengah juta jiwa. Angka itu bukanlah sesuatu yang bisa dibuat ringan, tetapi di era Soviet, angka seperti itu sering dianggap bagian dari ongkos kemajuan.
Wabah Radiasi yang Tak Kelihatan
Konsekuensi radiasi baru terlihat setelah bertahun-tahun. Studi medis menemukan tanda-tanda penyakit radiasi kronis di banyak desa. Ada perubahan metabolisme, gangguan organ, hingga peningkatan berbagai jenis kanker. Semey Oncology Center mencatat kenaikan signifikan kanker paru-paru, tiroid, payudara, dan perut. Jika seseorang ingin tahu bagaimana sebuah tempat bisa dihantui tanpa suara-suara aneh, Semipalatinsk menyediakan jawabannya.
Sulit membayangkan kehidupan sehari-hari ketika trauma menjadi bagian dari rutinitas. Banyak keluarga menyimpan memori tentang kelahiran anak-anak dengan cacat bawaan. Di Semey Medical University ada ruangan yang hampir terdengar seperti cerita rakyat gelap tentang anatomi manusia yang menyimpang, tetapi semuanya adalah dokumen medis yang nyata. Ada janin tanpa tulang tertentu, ada pula organ yang tumbuh dengan bentuk yang membuat dokter menggeleng lama sebelum mencatatnya.
Sementara itu, sebagian penduduk mengembangkan pandangan yang tak lazim tentang diri mereka. Penelitian antropologis mencatat bahwa banyak warga Kurchatov menganggap diri mereka bukan korban radiasi, melainkan mutan yang telah beradaptasi dengan lingkungan unik mereka. Beberapa bahkan percaya bahwa mereka hidup lama justru karena radiasi itu, dan bahwa pindah ke tempat lain hanya akan membuat mereka mati lebih cepat. Keyakinan yang terdengar ganjil itu hidup berdampingan dengan penyakit kronis yang mereka akui sendiri, seperti tekanan darah tinggi dan gangguan jantung.
Baca Juga: Sejarah Pembangunan Tembok Berlin, Operasi Senyap Dini Hari Komunis Jerman Timur

Ketika era glasnost membuka pintu informasi, ketidakpuasan yang lama terpendam perlahan muncul. Protes meledak di akhir 1980-an dan gerakan Nevada-Semipalatinsk muncul sebagai respons. Gerakan tersebut menuntut penghentian ujicoba nuklir dan pembuatan peta kerusakan radiasi yang selama puluhan tahun hanya diketahui oleh sekelompok kecil pejabat. Dalam hitungan hari, gerakan itu menyebar dan meraih dukungan lebih dari satu juta tanda tangan.
Tekanan publik yang masif akhirnya membuat program ujicoba itu berhenti. Kazakhstan mengambil langkah berani pada 1991 dengan menutup Semipalatinsk Test Site secara permanen. Tindakan itu menjadi salah satu keputusan politik paling menentukan pada masa-masa runtuhnya Uni Soviet. Namun penutupan itu juga membuka babak baru.
Setelah Soviet bubar, fasilitas raksasa itu terbengkalai. Banyak perlengkapan logam, kabel, dan rel baja dijarah oleh penduduk lokal yang membutuhkan uang. Terowongan-terowongan di Gunung Degelen, yang berisi sisa material fisil, menjadi ancaman baru bagi dunia. Selama hampir dua dekade, akses ke situs itu tidak dibatasi, dan kemungkinan pencurian material berbahaya selalu mengintai.
Di tengah kekacauan itu, proyek internasional kemudian dilakukan untuk mengamankan material nuklir yang tersisa. Insinyur dan ilmuwan dari Kazakhstan, Rusia, dan Amerika bekerja diam-diam selama belasan tahun untuk menutup terowongan, menghancurkan lubang bor, dan menghentikan ancaman proliferasi. Dunia jarang mendengar cerita itu, tetapi pekerjaan itu telah mencegah banyak skenario gelap yang sering dibayangkan dalam film-film spionase.
Kini, Kurchatov berpenduduk sekitar delapan ribu jiwa. Kota itu tidak lagi tampak seperti wilayah elite ilmiah, tetapi lebih seperti kota kecil yang menua terlalu cepat. Banyak bangunan dibiarkan kosong, jalan-jalan retak seperti kulit tua, dan sebagian besar apartemen hanya menyala satu dua lampu pada malam hari. Namun di tengah kota yang tampak surut itu, kehidupan masih bertahan.
Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels
Para ilmuwan tetap bekerja. Mereka mempelajari dampak jangka panjang ledakan dulu, memeriksa perubahan tanah, memonitor sisa radiasi, dan mengembangkan penelitian energi nuklir sipil. Ada ironi sunyi di situ. Di tempat yang dulu dipenuhi perangkat pemusnah massal, kini orang belajar bagaimana menjinakkan radiasi untuk kepentingan damai.
Turis sesekali datang, entah karena rasa ingin tahu atau karena dorongan untuk melihat tempat yang namanya terdengar seperti bab yang hilang dari sejarah Perang Dingin. Mereka berjalan di antara bangunan yang dibiarkan membatu dan stepa tanpa batas yang menyimpan rahasia yang tidak pernah benar-benar dibicarakan. Walaupun pemerintah sudah memasang peringatan, beberapa penduduk tetap memancing di Danau Chagan, danau buatan yang lahir dari ledakan nuklir spektakuler pada 1965. Airnya masih mengandung radiasi di atas batas aman, tetapi kebiasaan memang sering kali lebih keras kepala dari sains.
