Jalan Sunyi Buruh Perempuan Lansia, jadi Tulang Punggung Keluarga di Usia Senja

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pedagang sayuran, Sariah (70), berjualan di Pasar Kosambi, Jalan Jendral Ahmad Yani, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Pedagang sayuran, Sariah (70), berjualan di Pasar Kosambi, Jalan Jendral Ahmad Yani, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Hidup sering tak memberi pilihan. Terkadang, diam-diam ia malah menyerahkan beban. Pada usia yang semestinya dihabiskan dengan menimang cucu, sebagian perempuan justru harus menanggung tunggakan utang, belanjaan, dan kebutuhan rumah tangga.

Sebagian karena tak punya suami. Sebagian karena punya, tapi tak bisa diandalkan. Mereka tak pernah minta disebut pahlawan. Hanya ingin listrik tetap menyala dan perut tidak kosong. Dunia bergerak cepat, tapi mereka tertinggal di pojok-pojok dapur tetangga, gudang, ladang, pasar, dan pabrik, jadi mesin tanpa bensin.

Dunia menyebut mereka female breadwinners. Istilahnya terdengar modern, tapi isinya klasik: perempuan yang harus memikul tanggung jawab ekonomi karena ketimpangan struktural dan absennya negara dalam urusan rumah tangga.

Secara umum, female breadwinners adalah perempuan yang menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga, baik sebagai satu-satunya sumber pendapatan maupun sebagai kontributor terbesar dalam penghasilan keluarga. Mereka bekerja dan menerima pendapatan paling besar dibandingkan anggota keluarga lainnya, termasuk dalam situasi di mana pasangan mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, berpenghasilan lebih rendah, atau tidak lagi bekerja karena usia atau kondisi kesehatan.

Peran female breadwinners tidak hanya mencerminkan perubahan struktur ekonomi keluarga, tetapi juga memperlihatkan tekanan ganda yang dihadapi perempuan, terutama di tengah kungkungan beban tambahan pekerjaan domestik yang tak jarang lebih merepotkan.

Dalam laporan Female Breadwinners: Fenomena Perempuan Sebagai Pencari Nafkah Utama Keluarga yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 lalu mencatat, dari total perempuan pekerja di Indonesia, sebanyak 14,4% merupakan pencari nafkah utama keluarga atau female breadwinners. Ironisnya, proporsi tertinggi dari kelompok ini (17,9%) justru berasal dari mereka yang berusia 60 tahun ke atas.

Para ibu ini adalah juga buruh dalam definisinya yang klasik. Kelompok ini tidak memiliki alat produksi dan karena itu terpaksa menjual tenaga kerjanya demi bertahan hidup. Bukan semata soal status di pabrik atau seragam kerja, tetapi sebuah posisi dalam struktur ekonomi yang timpang. Maka, buruh bukan hanya mereka yang digaji rutin oleh industri, tetapi juga para pekerja serabutan, termasuk lansia yang memungut kardus atau menawarkan jasa kecil di jalanan; mereka tetap bagian dari kelas proletar karena menggantungkan hidup pada penukaran tenaga dengan upah, sekecil apa pun itu.

Para buruh lansia perempuan tersebut tak cuma asal bekerja, melainkan menjadi sandaran utama ekonomi keluarga di tengah kondisi tubuh mereka yang renta. Lebih buruk lagi, tak sedikit dari perempuan ini pula yang hidup sebatang kara tanpa suami, anak, atau cucu. Catatan statistik menunjukkan sebanyak 16,3% female breadwinners tinggal sendiri, dan dari jumlah tersebut, 55,7% berusia 60 tahun ke atas.

Kelompok usia ini menjadi mayoritas dari female breadwinners yang hidup sebatang kara. Mereka telah kehilangan pasangan hidup, atau anak-anak yang sudah mandiri dan tinggal jauh. Pada usia di mana tubuh seharusnya beristirahat, mereka justru menggandeng keranjang dagangan dan bekerja dari pagi hingga petang.

Realitas ini memperlihatkan bagaimana beban kerja perempuan tidak berhenti seiring usia. Semakin renta, mereka justru semakin terdesak untuk bertahan sendiri. Karena ketika pasangan tak bisa diandalkan dan anak-anak sudah pergi, perempuan tetap harus bekerja demi bertahan hidup.

Produksi kue keranjang di Pabrik Toko Tek Kie, Jalan Pajagalan, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Rasyad Yahdiyan)

Beban Female Breadwinners Berlipat Ganda

Jumlah female breadwinners di Indonesia masih minoritas, yakni 14,4% berbanding 44% male breadwinners. Dari angka tersebut, sebagian besar (55,8%) hanya lulusan sekolah dasar. Hanya 14% yang berlatar pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan yang rendah ini menempatkan mereka dalam pusaran pekerjaan informal dengan bayaran murah dan minim jaminan.

Berdasarkan data BPS lainnya, rata-rata upah bulanan perempuan juga menggambarkan ketimpangan yang belum tertanggulangi. BPS mencatat bahwa rata-rata upah pekerja perempuan per bulan adalah Rp2,8 juta. Sementara itu, laki-laki memperoleh rata-rata Rp3,5 juta. Dengan selisih hampir Rp700.000, angka ini tak hanya soal nominal, tetapi juga soal nilai kerja perempuan yang belum sepenuhnya diakui dan dihargai.

Buruh perempuan juga kerap kali mendominasi pekerjaan-pekerjaan yang lebih berisiko. Pada pekerja migran misalnya, dari total 297.434 pekerja migran Indonesia pada 2024, sebanyak 201.343 di antaranya perempuan. Mereka tersebar di sektor informal seperti pengasuh, pembantu rumah tangga, dan perawat lansia.

Tak sedikit di antara pekerjaan mereka menuntut tenaga dan jam kerja panjang. Kebanyakan, jam kerja mereka berada di rentang 35–49 jam per pekan, sesuai dengan regulasi standar jam kerja internasional. Namun masih ada 21% yang harus bekerja lebih dari 49 jam seminggu, atau masuk kategori jam kerja berlebihan.

Di tengah tanggungan beban kerja menggunung, perempuan-perempuan ini masih harus menanggung tanggung jawab lainnya. Sebagai perempuan, mereka juga menjalankan peran domestik. Data menunjukkan bahwa sebanyak 84,4% female breadwinners tetap mengurus rumah tangga. Aktivitas ini dijalankan di sela-sela jam kerja yang panjang. Dunia mereka tidak mengenal istilah pensiun atau akhir pekan. Mereka bekerja penuh waktu dan tetap harus menyapu lantai rumah di malam hari.

Kepalang beratnya beban kerja para perempuan tulang punggung ini membuat mereka tak mau repot-repot pekerjaan sampingan. Catatan statistik menunjukkan hanya 9,2% female breadwinners yang memiliki kerja tambahan. Kombinasi beban kerja utama yang berat dan tanggung jawab domestik membuat mereka tak memiliki waktu dan tenaga untuk menambah penghasilan. Bahkan jika ingin, peluang kerja tambahan yang layak buat mereka sangat terbatas.

Dari segi kontribusi ekonomi, sumbangsih cuan buruh perempuan terhadap rumah tangga juga relatif besar. Sebanyak 47,7% dari mereka menyumbang 90–100% dari pendapatan rumah tangga. Sisanya, sebanyak 50–60% dari total pendapatan keluarga berasal dari perempuan.

Tapi dengan kontribusi sebesar itu, jaminan kerja yang mereka terima tetap minim. Hanya 26,6% yang menerima jaminan kesehatan, 23% mendapat jaminan kecelakaan kerja, dan 17,5% memperoleh jaminan kematian.

Sibuk di Rumah, Tersingkir dari Pasar Kerja

Kesibukan kaum ibu mengurus rumah tangga ini secara tidak langsung membuat mereka tersingkir dari pasar kerja. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2024 mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan hanya 56,4%, terpaut lebih dari 28% dari laki-laki yang mencapai 84,7%.

TPAK adalah indikator ukur jumlah penduduk usia kerja yang aktif dalam pasar tenaga kerja, baik sebagai pekerja atau sedang aktif mencari lowongan kerja. Misalnya, jika TPAK perempuan adalah 56,4%, artinya dari setiap 100 perempuan usia kerja, hanya sekitar 56 orang yang bekerja atau sedang mencari kerja, karena fokus mengurus rumah tangga, melanjutkan pendidikan, atau alasan lain.

Kesenjangan gender TPAK ini bukan tanpa sebab. Sekitar 32% perempuan usia kerja (di atas 15 tahun) di Indonesia masih berada di ranah domestik sebagai pengurus rumah tangga. Jumlah ini jauh melebihi laki-laki yang hanya 3%. Fenomena ini tak hanya soal pilihan pribadi, melainkan refleksi dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat dalam urusan kerja-kerja rumah, yang ironisnya tak dihitung dalam produk domestik bruto (PDB) dan tak diberi nilai ekonomi.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Beban kerja domestik ini menjadi semacam pagar tak kasat mata bagi perempuan untuk lebih leluasa mengakses dunia kerja formal. Meski demikian, sebagian dari mereka tetap bekerja—dan bahkan menjadi tulang punggung keluarga—meski berada dalam sektor informal atau pekerjaan tanpa upah.

Ketimpangan semacam ini kian kentara di sejumlah daerah padat penduduk seperti Jawa Barat (Jabar). Pada 2024, jumlah angkatan kerja di provinsi ini mencapai 26,1 juta jiwa. Dari total tersebut, partisipasi laki-laki mencapai 84,5%, sedangkan perempuan hanya 50,59%—lebih rendah dari rata-rata nasional.

Jumlah perempuan Jabar yang tak masuk angkatan kerja karena mengurus rumah tangga mencapai 7,6 juta jiwa, atau 40% dari total perempuan usia kerja—8% lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Situasi tak kalah kontras terlihat dari sisi status pekerjaan. Data mencatat ada 1,7 juta perempuan Jabar yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau tidak dibayar, dan ironisnya, status ini tercatat sebagai pekerjaan utama mereka. Angka ini hampir setengah dari total perempuan yang bekerja sebagai buruh, yaitu sekitar 3,3 juta orang.

Sebaliknya, laki-laki lebih banyak menempati pekerjaan utama sebagai buruh dengan jumlah mencapai 7 juta orang—dua kali lipat dibanding perempuan. Untuk pekerjaan tanpa bayaran, laki-laki yang terlibat jauh lebih sedikit, hanya 534.886 orang. Artinya, perempuan tiga kali lebih banyak terlibat dalam pekerjaan tanpa bayaran dibanding laki-laki.

Para buruh perempuan ini, termasuk para lansia, telah lama berada di posisi paling rentan dalam struktur ekonomi masyarakat. Semua bekerja dalam senyap, memikul beban ganda, dan nyaris tak terdengar. Mereka mungkin tak lagi muda, tapi tetap menjadi tulang punggung keluarga dengan atau tanpa pengakuan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)