Hak Cipta di Tengah Ledakan Akal Buatan

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Buku Hak Cipta dan AI (Sumber: Refika Aditama | Foto: Refika Aditama)
Buku Hak Cipta dan AI (Sumber: Refika Aditama | Foto: Refika Aditama)

Siapa pemilik sah sebuah karya yang dihasilkan oleh mesin pintar?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting setelah tiga seniman Amerika Serikat, Sarah Andersen, Kelly McKernan, dan Karla Ortiz, menggugat tiga perusahaan besar yaitu Midjourney, Stability AI, dan DeviantArt.

Mereka menuduh karya mereka digunakan tanpa izin untuk melatih sistem kecerdasan buatan. Ini bukan hanya soal pelanggaran individu, tapi soal batas-batas baru antara manusia dan mesin.

Buku Hak Cipta dan Artificial Intelligence karya Dr Ranti Fauza Mayana, Tisni Santika, dan Zahra Cintana menyelami persoalan tersebut secara mendalam.

Ditulis dengan gaya yang akademis tetapi tetap komunikatif, buku ini menjawab berbagai dilema yang kini muncul di dunia hukum, khususnya tentang bagaimana kita memperlakukan hasil karya berbasis AI dalam bingkai hak cipta.

Pada bagian awal, penulis menegaskan bahwa kekayaan intelektual adalah warisan peradaban, bukan semata soal ekonomi. Di dalamnya terkandung nilai moral yang menjamin penghargaan atas jerih payah manusia.

Namun di era kecerdasan buatan, batas antara karya orisinal dan hasil komputasi menjadi kabur. Ketika AI bisa menciptakan tulisan, gambar, dan musik hanya dari perintah singkat, muncul pertanyaan besar: siapa penciptanya?

Buku ini membahas konsep fair use atau penggunaan wajar sebagai celah hukum yang bisa dimanfaatkan lembaga pendidikan atau penelitian saat menggunakan materi berbasis AI.

Namun pembahasan tidak berhenti di sana. Penulis juga menyoroti bagaimana konsep authorship harus dievaluasi ulang. Apakah AI bisa dianggap sebagai pencipta? Atau hanya sebagai alat yang dikendalikan manusia?

Dalam bab khusus, buku ini juga mengulas bagaimana negara-negara mengambil sikap berbeda.

Tiongkok misalnya sudah memberikan perlindungan hukum untuk karya AI. Sementara Uni Eropa masih memegang prinsip bahwa ciptaan hanya bisa diakui jika ada intervensi manusia. Australia mencoba jalan tengah dengan merumuskan model perlindungan terbatas.

Pembahasan semakin tajam ketika buku ini menyoroti dunia pendidikan. Jika seorang mahasiswa menggunakan AI untuk menulis esai, apakah ia tetap layak dianggap sebagai penulis?

Buku ini menjawab bahwa kontribusi manusia tetap menjadi kunci untuk menilai apakah suatu karya bisa mendapat perlindungan hak cipta. Kolaborasi kreatif antara manusia dan AI bisa diterima, selama peran manusia tetap dominan.

Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)
Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)

Dari sisi kerangka hukum, buku ini merujuk pada prinsip internasional seperti Berne Convention dan TRIPs Agreement. Di situ digarisbawahi bahwa prinsip perlindungan tidak bisa asal diterapkan tanpa memperhatikan konteks dan perkembangan teknologi.

Karena itu, peran pembuat kebijakan dan akademisi hukum menjadi sangat penting dalam menyusun batasan yang adil dan adaptif.

Namun buku ini masih menyisakan ruang yang belum tergarap maksimal, terutama soal respons industri kreatif.

Integrasi pandangan dari kalangan kreator konten, startup teknologi, atau pengembang AI seharusnya bisa menambah kekayaan perspektif serta menyeimbangkan dominasi pendekatan hukum normatif yang menjadi tulang punggung buku ini.

Sejauh mana mereka terlibat dalam diskusi hukum ini? Buku ini lebih banyak menyorot perspektif normatif dan belum banyak menggali sisi praktis dari mereka yang hidup di tengah arus cepat produksi konten berbasis mesin.

Meski begitu, buku ini tetap layak diapresiasi. Ia hadir bukan sekadar memberi teori, tetapi memprovokasi pemikiran.

Di tengah ledakan karya dari akal imitasi, buku ini mengingatkan kita bahwa hukum harus bersiap menghadapi realitas baru.

Bukan untuk menghambat teknologi, tetapi untuk menjaga agar penghargaan atas kreativitas tetap berpihak pada yang benar-benar mencipta. (*)

Informasi Buku:

  • Judul Buku: Hak Cipta dan Artificial Intellegence
  • Penulis: Dr Ranti Fauza Mayana, Tisni Santika, Zahra Cintana
  • Penerbit: Refika Aditama, Bandung
  • Tahun Terbit: Oktober 2024 | 135 halaman | ISBN: 978 623 503 044 9
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)