Mati Ketawa ala 'Barudak Bapak Aing'

5 menit baca
Muhamad Nizar
Ditulis oleh Muhamad Nizar diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Humas Pemrov Jabar)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Humas Pemrov Jabar)

"Yeuh, Pak Dedi, yeuh! (Nih, Pak Dedi, nih!) Bawa ke barak!" Ancaman ini sering saya dengar dari video-video pendek usai muncul kebijakan 'anak nakal' dibawa ke barak.

Video seperti itu kerap berseliweran di media sosial. Kebanyakan video yang saya lihat, perkara anak kecil yang ogah makan. Seolah sosok Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, itu dipakai sebagai jurus pamungkas.

Kalau kamu nggak mau makan, kamu bakal dibawa ke barak. Begitu kira-kira. Lucu? Iya. Komikal? Jelas. Tapi lama-lama terasa aneh juga.

Dalam video lain, seorang anak diminta menyerahkan HP karena dianggap kebanyakan main game. "Yeuh Pak Dedi, yeuh." Lagi-lagi, Dedi jadi alat untuk menakut-nakuti.

Seolah ia bukan figur publik. Fiksi. Bahkan setengah menghantui macam wewe gombel versi zaman kiwari.

Namun semuanya makin terasa lebih janggal. Saya sempat menonton cuplikan dari seorang anak yang benar-benar saat berhadapan Dedi dalam kehidupan nyata.

Ia ketakutan saat melihat sosok itu secara langsung, yang tengah menari-nari di atas mobil, pakai singlet ala Freddy Mercury, merayakan Persib juara.

Kerumunan bersorak gembira, tapi si anak menangis. Panik tiada duanya. Sosok yang selama ini hanya muncul sebagai ancaman dalam video, ternyata benar-benar hidup dan bisa muncul di depan mata.

Rasa takut terhadap Dedi, sayangnya, tak berhenti di anak kecil. Kini, orang dewasa pun mulai merasakannya. Bukan takut dibawa ke barak, tapi takut dibawa ke kolom komentar.

Karena siapa pun yang mengkritik Dedi Mulyadi bisa langsung dirujak oleh Barudak (anak-anak) Bapak Aing, sebutan saya untuk para pendukung militannya.

Suara-suara kritis terancam jarang terdengar. Takut diserang, atau sekadar malas meladeni para pendengung (buzzer) atau Barudak Bapak Aing.

Saya pun pernah merasakannya. Sampai-sampai tiap ingin menulis atau beropini soal Dedi, yang muncul duluan bukan argumen, tapi rasa malas. Lah, paling juga disuruh keluar Jabar.

Lantas tulisan ini ibarat uji nyali. Saya sudah kelewat geram dan tidak bisa menahan diri lagi.

Bila kalian penasaran seberapa militan para loyalis itu. Lalu ingin ikut menguji nyali secara kecil-kecilan, maka cukup tinggalkan satu komentar kritis di unggahan menyoal Dedi.

Usahakan cari berkaitan dengan isu miring kebijakan dirinya. Tak perlu kasar, cukup bilang, "Menurut saya kebijakan ini agak ngawur bla bla bla." Jika beruntung, kau dapat menerima caci maki dari penggemar setianya.

Kadang, yang membuat sedih bukan serangan mereka, melainkan kenyataan bahwa pola-pola ini justru membungkam ruang kritik.

Sosok publik yang harusnya terbuka terhadap perbedaan pandangan, kini lebih sering tampil sebagai pemilik kebenaran. Diperkuat pula oleh algoritma, penggemar setia dan konten-konten sentimental yang siap menyeret siapa saja yang beda pendapat.

Nih, Contohnya

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kau mungkin tidak akan percaya apabila belum melihat contohnya. Paling sederhana bisa kau baca kolom komentar akun Instagram @befarhanjamil.

Ia seorang komika cum konten kreator. Beberapa bulan yang lalu, mantan kolega kerja saya itu pernah membuat esai berbentuk video. Isinya berkenaan 'Pengkultusan Individu'.

Dari kalimat yang diucapkan pertama saja, Jamil sudah tahu diri. Ia takut bakal diserang Barudak Bapak Aing.

Benar saja. Kau bisa melihat betapa beringasnya ketika seseorang sudah memuja figur publik secara berlebihan. Paling atas, sengaja Jamil sematkan komentar paling barbar itu: "Ribet isi otak lo ...."

Di bagian terakhir kalimat itu, yang disamarkan dengan titik-titik, masih tersisa bahasa kasar. Ia dicaci dengan sebutan untuk kelamin pria.

Padahal menurutnya, pengkultusan individu, fokus berlebihan pada seseorang atau figur bisa mengalihkan perhatian dari subtansi kebijakan dan program kerja yang seharusnya jadi inti demokrasi.

Apresiasi adalah hal wajar, tapi dalam demokrasi cinta pada pemimpin harus disertai nalar yang waspada, pengumpulan daya kritis akan terjadi apabila mengalami idol worship.

"Kagum boleh, kritik harus. Dan kritik bukan berarti membenci, kan?" tutupnya pada akhir video.

Kau tahu apa jawaban paling menohok selain dikatai alat kelamin? Ya, ancaman fisik. "Bawa ka tongkrong aing. Di gebot ku aing iyeu manusa (Bawa ke tongkrongan gue. Gue tonjok ini manusia)," jawabnya.

Humor memang. Mungkin dengan lunglai dan tak tau apa yang telah diperbuatnya, Jamil hanya membalas dengan balik bertanya, "Abi lepat naon? (Saya salah apa?)"

Namun dirinya hanya sampai di sana. Dirujak simpatisan. Paling brutal adalah diseret ke kolom komentar Bapak Aing. Seperti yang dialami aktivis aktivis demokrasi, Neni Nur Hayati.

Ia bahkan melayangkan somasi ke jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Senin (21/07), buntut unggahan akun Instagram @diskominfojabar yang diduga menyebarkan identitas pribadi tanpa persetujuan atau doxing sepekan sebelumnya. Unggahan itu kini telah dihapus.

Sekalipun bukan kali pertama bagi Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) itu menerima ujaran kebencian dari warganet karena kritikan yang disampaikan. Akan tetapi hujatan atau serangan digital yang dialaminya kali ini, membuatnya merasa terancam.

Mengutip pemberitaan BBC News Indonesia, ia terkena serangan digital bertubi-tubi dan memuncak pada 15 hingga 17 Juli 2025 melalui akun Instagram dan Tiktok.

Bukan sekadar ujaran kebencian, ia juga diancam penyiksaan, kekerasan gender berbasis online (KGBO), peretasan nomor Whatsapp, dan teror telepon dari nomor tidak dikenal.

Kebrutalan semacam itu, akunya, tidak pernah ia dapatkan ketika mengkritik pemerintah. Termasuk kala mengkritik Prabowo maupun rezim sebelumnya, Jokowi.

"Ketika [serangan] itu menyangkut tubuh saya dan itu kemudian disertai dengan akan ada penyiksaan dan lain sebagainya, lalu ketika ketemu akan dilakukan hal-hal yang tidak diinginkan, menurut saya serangan digitalnya brutal luar biasa," ungkapnya melansir pemberitaan BBC News Indonesia.

Emil Kelihatan Bagus, padahal Sama Aja

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah siswa di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Foto: Tim KDM)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah siswa di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Foto: Tim KDM)

Ironisnya, semua ini membuat Ridwan Kamil, Gubernur Jabar sebelumnya, tampak agak mendingan. Sekalipun sama-sama menormalisasi perundungan. Emil cukup menyematkan (pin) komentar negatif, lalu diam.

Tidak pernah pula memakai lembaga publik untuk menyerang balik sampai doxxing. Padahal keduanya jago betul kalau urusan memoles diri. Namun satu kosong. Urusan menahan diri untuk 'menyeret' tukang kritik, tampaknya Emil lebih unggul dari Dedi.

Sungguh. Disaat banyak orang berharap pejabat publik membuka ruang dialog, yang terjadi justru sebaliknya. Publik makin malas untuk bersuara. Terbaru ialah aksi unjuk rasa para sopir bus di depan Gedung Sate, pada Senin, 20 Juli 2025.

Mereka menolak kebijakan larangan study tour. Mereka merayakan penolakan itu dengan membunyikan klakson telolet. Gayung tak bersambut. Dedi tak keluar dari singgasana. Ia justru menjawab unjuk rasa melalui konten di sosial media.

Dan tentu, Barudaknya sudah bersiaga memberi teror dan 24 jam menjaga kolom komentar.

Kalau begini terus, lama-lama kritik hanya akan beredar di grup WhatsApp keluarga. Itu pun pakai inisial, sensor nama, dan dikirim jam dua pagi, lalu 'dihapus untuk semua' pada beberapa menit kemudian biar tidak ketahuan siapa-siapa.

Aih, lucu betul memang. Memikirkannya saja selalu berhasil bikin ketawa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)