Apoteker, Profesi Penting yang Masih Dipandang Sebelah Mata

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)

Apoteker merupakan salah satu profesi yang ada di dunia kesehatan. Sejauh ini eksistensinya memang belum setenar dokter atau suster (perawat) dan bidan.

Hampir semua profesi di atas memiliki nama panggilan sendiri, misalnya dokter dipanggil (dok), perawat dipanggil (sus), dan bidan dengan bu bidan. Sementara profesi apoteker sendiri seringkali bias, kadang dipanggil dok, kadang juga sus.

Sekilas jas yang digunakan oleh apoteker dan dokter memang tampak sama, yang membedakan hanya name tag yang terpasang pada bagian jas. Hal ini bisa menjadi alasan kenapa apoteker seringkali dikira dokter.

Baru-baru ini ada apoteker yang sering memberikan edukasi tentang obat melalui platform tiktok bernama apoteker Rian pernah menyuarakan hal serupa. Akhirnya apoteker Rian memiliki inisiatif untuk membuat nama panggilan bagi para apoteker yaitu 'pot'.

Bukan panggilan yang mewah bahkan seringkali diplesetkan menjadi 'pot bunga'. Namun sepertinya rekan sejawat apoteker yang tergabung di tiktok menyetujuinya. Awalnya saya berpikir apalah arti sebuah nama yang penting bagaimana tindak nyata berkontribusi bagi sesama.

Namun ternyata nama itu penting, bukan sekedar identitas tapi bagian dari diri profesi yang bisa dianggap keberadaannya secara nyata.

Sejauh ini masyarakat yang membeli obat ke apotek tidak begitu mengenal tentang sosok apoteker. Pasien selalu melabeli kalau yang bekerja di apotek adalah mereka yang bersekolah secara umum pada tingkat SMA tanpa embel-embel profesi di belakangnya.

Sering kali apoteker yang bertugas menggunakan jas putih dianggap sebagai dokter yang sedang praktek.

Bahkan papan nama berisi jadwal konseling yang sudah jelas tertulis 'apoteker' masih dikira sebagai dokter yang praktek yang bisa memeriksa dan mendiagnosa penyakit pasien.

Padahal tulisan jam praktek dalam papan tersebut menandakan jam kerja apoteker di apotek.

Sementara apoteker yang bertugas dengan baju bebas tanpa menggunakan jas, dianggap karyawan biasa yang tugasnya hanya mengantarkan produk yang mereka butuhkan. Panggilan ibu, teteh, akang, om, bapa itulah yang seringkali terngiang dalam telinga.

Sebetulnya peran apoteker di dunia kesehatan tidak hanya berkutat pada ranah profesional dan pelayanan saja. Adapun beberapa peran apoteker yang belum banyak diketahui khalayak, diantaranya:

  • Manajemen Terapi Obat, apoteker memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang tepat kepada pasien. Tidak hanya menjelaskan seputar dosis, cara penggunaan obat, interaksi obat serta potensi efek samping obat yang dikonsumsi.

    Apoteker juga wajib menganalisis dan mengantisipasi bagaimana obat yang diminum oleh pasien bisa sampai dengan aman hingga terasa khasiatnya.

  • Konsultasi dan Edukasi, sebetulnya apoteker adalah tenaga yang paling dekat dibutuhkan oleh masyarakat ketika mencari tahu hal-hal perihal kesehatan.

    Sebagian masyarakat yang mengalami gejala penyakit seringkali enggan langsung memeriksakan dirinya ke dokter. Mereka seringkali memilih swamedikasi (tindakan pengobatan mandiri) dengan membeli obat ke apotek.

    Di sinilah peran apoteker dibutuhkan, meski secara panduan diperbolehkan tindakan swamedikasi tapi dalam pelaksanaan pemilihan terapi obat tentu harus melalui tahap konsultasi dengan apoteker.

    Selain itu apoteker juga berperan dalam mengedukasi pasien perihal obat-obatan, penyakit dan gaya hidup sehat. Apoteker juga harus bisa meningkatkan kesadaran masyarakat perihal pentingnya penggunaan obat yang rasional dan aman.

  • Peran dalam pencegahan penyakit, apoteker dituntut untuk membuat program pencegahan penyakit seperti imunisasi dan skrining kesehatan di masyarakat.

    Data yang terkumpul selanjutnya bisa dijadikan bahan bagi puskemas untuk bahan evaluasi perbaikan dan peningkatan mutu kesehatan bagi masyarakat.

  • Pengembangan Obat, siapa sangka keberadaan obat di dunia kesehatan tidak lepas dari peran apoteker yang turut serta mengabdikan dirinya mencari formulasi obat-obatan baru bagi penyakit yang diderita oleh masyarakat.

Profesi Apoteker di Mata Pemerintah dan IAI

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)

Untuk menjadi seorang apoteker dibutuhkan usaha, biaya juga kesiapan mental yang tidak mudah.

Serangkaian praktikum yang dilakukan di laboratorium hampir menyita pikiran, konsentrasi yang penuh dibutuhkan bukan sekedar untuk hadir dalam bentuk fisik tapi juga pemahaman yang kelak harus dipersiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat.

Untuk sampai pada tahap apoteker, seseorang harus mengeyam pendidikan dari tingkat 3 tahun SMK Farmasi (opsional tidak wajib), 3 tahun D3 (orientasi menjadi TTK), 4 tahun S1 (Sarjana Farmasi) dan 1 tahun Profesi Apoteker.

Selain biaya pendidikan, fakultas farmasi juga seringkali menambahkan biaya praktikum, OSCE, Biaya Sumpah hingga wisuda. Biaya yang dihabiskan cukup fantastis kisaran 155 juta hingga 250 juta tergantung dengan instasi pendidikan yang dipilih.

Berbeda dengan Indonesia yang mengkotak-kotakan pendidikan farmasi dalam berbagai tingkat, di negara Jerman, pendidikan farmasi dengan profesi apoteker terintegrasi dalam satu program studi yang disebut staatsexamen (ujian negara).

Regulasi ini sebetulnya menguntungkan banyak mahasiswa, selain biaya pendidikan lebih murah, para calon apoteker tidak akan terhambat atau menunda melanjutkan keinginannya menjalani pendidikan profesi apoteker. Langkah ini menjadi pilihan yang tepat untuk mengurangi pengangguran di kalangan sarjana farmasi.

Apoteker merupakan profesi yang berada dibawah naungan organisasi profesi Ikatan Profesi Apoteker (IAI). IAI sendiri didirikan sebagai wadah yang bertugas memperjuangkan kepentingan profesi apoteker serta memajukan ilmu kefarmasian.

Namun sayangnya masih belum terkelola secara maksimal. Masih banyak hak-hak anak SMK Farmasi yang butuh mendapat keadilan karena sistem bisnis pendidikan yang masih melegalkan SMK untuk berdiri. Padahal setelah di lapangan anak SMK sulit mendapatkan pekerjaan karena regulasi meniadakan perannya di dunia farmasi.

Masih banyak Sarjana Farmasi yang dipaksa untuk melanjutkan profesi apoteker dengan biaya yang tidak murah. Rencana menabung biaya profesi dengan bekerja pun, sirna karena lulusan Sarjana Farmasi tidak mendapat STRTTK, yang dalam dunia kerja sangat dibutuhkan sebagai syarat Tenaga Teknis Kefarmasian sudah teruji kompetensinya.

Sekarang IAI juga ikut mendukung program pemerintah apotek desa tanpa mencari jalan tengah bagi profesi yang bernaung dibawahnya. Nasib para apoteker di masa depan dengan terbatasnya lapangan kerja.

Sementara di mata pemerintah profesi apoteker tidak terlalu dilirik dan diperhatikan. Sebetulnya hampir sebagian besar profesi kesehatan seperti dokter, perawat juga apoteker kesejahteraannya belum sepenuhnya terpenuhi. Bahkan sebagian tenaga nakes banyak mendapat gaji yang tidak layak.

Bahkan beberapa nakes anggota KSPTMK (Kesatuan Serikat Pekerja Tenaga Medis) yang bekerja di Rumah Sakit termasuk apoteker seringkali terkendala mendapat tunjungan, pesangon yang tidak diberikan oleh Rumah Sakit dengan berbagai alibi setelah mengajukan resign dan sudah bekerja di tempat lain.

Rasanya pertarungan profesi dengan taruhan nyawa pasien tidak sebanding dengan kesejahteraan tenaga kesehatan itu sendiri. Sejauh ini pemerintah kurang memperhatikan upah mininum yang apoteker dapat dari setiap instansi.

Padahal kesehatan merupakan salah satu penunjang kokohnya suatu negara dan apoteker merupakan garda terdepan yang bersinggungan secara langsung dengan masyarakat. Dengan kesehatan juga semua manusia bisa beraktifitas secara produktif.

Di tengah segala upaya tenaga kesehatan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat berbanding terbalik dengan fakta kesejahteraan SDM Kesehatan itu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)