Ayah yang Hilang, Sistem yang Salah: Menelisik Fenomena Fatherless

4 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan
fatherless, ketiadaan figur ayah, baik secara fisik maupun psikis, dan kini menjadi masalah sosial yang semakin meluas di Indonesia. (Sumber: Pexels/Duy Nguyen)
fatherless, ketiadaan figur ayah, baik secara fisik maupun psikis, dan kini menjadi masalah sosial yang semakin meluas di Indonesia. (Sumber: Pexels/Duy Nguyen)

Di kota-kota besar seperti Bandung, banyak anak tumbuh bersama ibu dan gawai, tapi tanpa ayah yang benar-benar hadir. Ayah memang hadir, namun pikirannya tersita oleh pekerjaan dan tekanan ekonomi. Fenomena ini dikenal sebagai fatherless, ketiadaan figur ayah, baik secara fisik maupun psikis, dan kini menjadi masalah sosial yang semakin meluas di Indonesia.

Laporan Kompas.id menunjukkan jutaan anak mengalami kondisi fatherless. Anak-anak ini cenderung kesulitan mengelola emosi, kurang percaya diri, bahkan mencari pelarian ke media sosial. Mereka haus figur panutan, tapi yang mereka temukan hanyalah ruang digital yang dingin. Ini bukan sekadar kisah keluarga, melainkan alarm bagi masa depan generasi bangsa.

Namun fenomena fatherless tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sistem sosial-ekonomi kapitalistik-sekuler yang menempatkan kerja dan materi di atas nilai keluarga. Dalam sistem ini, ayah dipaksa sibuk mencari nafkah demi bertahan hidup, sementara waktu dan energi untuk mendampingi anak semakin habis.

Banyak ayah akhirnya hanya menjadi “tamu” di rumah sendiri. Berangkat sebelum anak bangun, pulang ketika anak sudah tidur. Fungsi qawwam (pemimpin dan pelindung keluarga) tergerus oleh tekanan ekonomi. Di mata sistem kapitalistik, ayah hanya dianggap sukses jika mampu menyediakan segala kebutuhan keluarga dengan materi, bukan jika anaknya tumbuh dengan bimbingan dan kasih sayang.

Padahal kehadiran ayah bukan sekadar urusan finansial. Ia adalah fondasi emosional dan moral bagi anak. Kehilangan sosok ayah yang hadir dengan hati bisa membuat anak kehilangan arah nilai dan kepercayaan diri. Inilah mengapa fatherless sejatinya bukan hanya masalah keluarga, tapi krisis peradaban.

Gerakan sosial yang menyoroti fatherless memang mulai bermunculan. Komunitas dukungan daring hadir memberi ruang bagi para ibu dan anak yang berjuang sendiri. Namun, sebagaimana disoroti Tagar.co dan VOI.id, gerakan ini baru menyentuh permukaan. Akar persoalannya ada pada sistem hidup yang membuat ayah terpisah dari rumahnya: sistem kapitalistik yang melelahkan dan budaya sekuler yang menyingkirkan nilai spiritual.

Dalam sistem semacam itu, kesuksesan diukur dari penghasilan, bukan dari kualitas waktu bersama keluarga. Sekularisme pun memisahkan urusan spiritual dari kehidupan publik, membuat nilai qawwam kehilangan makna sosial. Akibatnya, generasi tumbuh tanpa teladan yang nyata.

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya dukungan negara terhadap keluarga. Upah yang tidak sebanding dengan kebutuhan memaksa para ayah bekerja lebih lama atau merantau jauh.

Negara kapitalistik hanya melayani pasar, bukan melindungi keluarga. Kebijakan publik lebih diarahkan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan stabilitas investasi, sementara kebutuhan dasar keluarga, seperti waktu kebersamaan, upah layak, dan pendidikan berbasis nilai terabaikan.

Dalam sistem ini, manusia dipandang sebagai alat produksi, bukan subjek kehidupan yang perlu dijaga keseimbangannya. Akibatnya, ayah terpaksa bekerja melampaui batas kemanusiaan demi memenuhi kebutuhan materi, sementara negara absen dalam memastikan kesejahteraan yang menyeluruh. Ketika pasar menjadi orientasi utama, keluarga kehilangan dukungan struktural yang seharusnya menjaganya tetap utuh; padahal dari keluarga yang kokoh lah lahir generasi yang kuat, beradab, dan berakhlak mulia.

Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)
Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Sementara dalam Islam, negara justru wajib menjamin kesejahteraan rakyat agar ayah mampu menjalankan perannya tanpa dihantui tekanan ekonomi. Islam memandang ayah dan ibu sebagai dua tiang keluarga yang saling melengkapi. Ayah adalah pemimpin dan pendidik moral dan akhlak, sebagaimana dicontohkan Lukman al-Hakim dalam Al-Qur’an. Ibu berperan dalam mengasuh, menyusui, dan mendidik anak dengan kelembutan. Dalam sistem Islam, keduanya tidak saling menggantikan, tetapi berjalan beriringan membangun peradaban.

Solusi Islam terhadap krisis fatherless bersifat struktural. Negara harus menegakkan sistem ekonomi yang adil, tanpa riba, tanpa kesenjangan, serta menjamin lapangan kerja dengan upah layak. Dengan begitu, ayah dapat menjalankan fungsinya sebagai qawwam tanpa kehilangan waktu bersama keluarganya.

Sistem perwalian dalam Islam juga memastikan setiap anak memiliki figur ayah. Jika seorang anak kehilangan ayah biologis, maka wali akan mengambil alih peran perlindungan dan bimbingan. Inilah bentuk tanggung jawab sosial yang mencegah anak tumbuh tanpa arah dan tanpa kasih.

Baca Juga: Mengapa Tidak Satu pun dari Bandung Raya Masuk 10 Besar UI GreenCity Metrics 2025?

Maka, fenomena fatherless sejatinya mencerminkan krisis sistemik: ketika nilai-nilai spiritual disingkirkan dari kehidupan. Selama paradigma materialistik ini bertahan, keluarga akan terus kehilangan keintiman dan makna.

Sudah saatnya kita mengembalikan ayah ke rumah, bukan hanya dengan tubuhnya, tetapi dengan waktunya, teladannya, dan imannya.

Dalam sistem Islam yang berkeadilan, keluarga bukan sekadar unit ekonomi, melainkan pusat kasih sayang dan pendidikan peradaban. Dari sanalah lahir generasi kuat, yang tumbuh dalam bimbingan cinta dan cahaya nilai-nilai Ilahi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)