Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhir-akhir ini telah mendesak mengadakan program baru, yaitu mencampur kandungan etanol pada BBM kendaraan bermotor yang dimana program ini juga sudah disetujui oleh Presiden. Namun, apakah hal ini baik dan dapat dipercaya, terutama jika dikaitkan dengan kasus monopoli BBM yang dilakukan oleh pemerintah yang masih belum lama terungkap.
Banyak sekali kasus-kasus yang terungkap yang berkaitan dengan aksi monopoli BBM, namun kasus yang paling menyorot yaitu kasus BBM oplosan yang diduga terjadi sejak 2018 hingga 2025, yaitu kasus dimana pihak-pihak Pertamina mencampurkan BBM beroktan 92 dengan BBM beroktan 90 dan dijual dengan harga BBM yang seharusnya sepenuhnya beroktan 92.
Program BBM beretanol menjadi kontroversial untuk rakyat Indonesia dimana pada satu sisi program tersebut memang memiliki tujuan yang masuk akal yaitu untuk penambahan efisiensi dalam konsumsi bahan bakar. Namun, di saat yang bersamaan memiliki kemungkinan akan dampak buruk bagi kualitas kendaraan. Apa aspek dari kualitas kendaraan yang dapat menjadi faktor pengaruh hal tersebut? Mungkinkah ada lebih dari 1 aspek?
Kualitas sebuah kendaraan bermotor dinilai dari beberapa hal, seperti seberapa baik mesin bekerja, komponen-komponen bergerak lainnya, dan kelistrikan, ataupun kenyamanan kendaraan yang dapat dinilai dari keempukan suspensi dan terasa atau tidaknya getaran dari mesin yang bergerak.
Salah satu hal yang merupakan bagian dari semua aspek mengenai kualitas kendaraan adalah kesehatan mesin itu sendiri. Hal-hal paling sederhana untuk menjaga kesehatan sebuah mesin adalah melalui perawatan yang teratur. Beberapa hal yang merupakan perawatan yang teratur dapat meliputi penggantian oli setiap beberapa bulan atau setiap kelipatan 3000 kilometer sebuah kendaraan berjalan tergantung jenisnya (sesuai standar), penggunaan bahan bakar yang tepat dan sesuai dengan kapasitas mesin.
Namun, berhubungan dengan program pemerintah yang baru, yaitu untuk mencampurkan kandungan etanol pada mesin sebanyak 10 %, apakah hal tersebut merupakan hal yang buruk terutama bagi kinerja kendaraan-kendaraan yang mengkonsumsi bahan bakar tersebut? Apakah ini juga ada hubungan dengan kebutuhan akan uang untuk pemerintah? Secara teknis, mencampurkan etanol pada bahan bakar bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Sebelumnya, apa itu etanol? Dan apa tujuannya dicampurkan pada bahan bakar?
Perbedaan antara Etanol dan Metanol
Etanol sendiri merupakan senyawa kimia yang merupakan reaksi campuran dari etilen dan air (C2H4 + H2O = CH3CH2OH). Namun, tidak seperti kembarannya yang serupa namun tak sama dan jauh lebih berbahaya yaitu metanol (CO + 2H2 = CH3OH). Terlihat bahwa metanol memiliki kandungan karbon yang lebih sedikit daripada etanol yang memiliki 2 karbon, namun itulah yang membuat metanol jauh lebih berbahaya. Mengapa? Kandungan karbon yang sedikit berarti ikatan molekul yang lebih kecil, yang juga berarti lebih reaktif, jadi lebih mudah untuk terjadi pembentukan produk reaksi yang agresif.
Hal tersebut menyebabkan metanol bersifat lebih korosif dibanding etanol sehingga etanol menjadi senyawa yang lebih cocok untuk digunakan pada pembakaran kendaraan bermotor. Etanol ini sering ditemukan di dalam minuman-minuman beralkohol sedangkan metanol lebih sering ditemukan dalam cairan-cairan beracun. Sehingga alasan paling mendasar mengenai mengapa pemerintah mencampurkan etanol adalah untuk mulai mengembangkan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan untuk dikonsumsi oleh kendaraan bermotor dan tentunya juga menghasilkan emisi yang lebih ramah lingkungan.
Penggunaan BBM beretanol bukanlah sebuah ide yang buruk dimana bahkan hal tersebut sudah diterapkan di negara-negara maju. Sebagai contoh, Amerika dan Brazil, dimana pemerintah Brazil sudah menerapkan penggunaan BBM yang mengandung etanol lebih dari 10%. Namun banyak dari kita yang tidak setuju dengan hal tersebut, mengapa demikian? Mengapa pula SPBU swasta yang dimana negara asalnya sendiri sudah menerapkan kandungan etanol dalam bahan bakarnya justru berkontradiksi dengan program pemerintah?
Banyak dari kita juga bahkan tidak sepenuhnya berkontradiksi dengan program baru pemerintah, namun hal tersebut masih terjadi karena kepercayaan yang menurun sebab pernah adanya kasus monopoli BBM oleh pihak-pihak dari SPBU pemerintah tersebut. Para ahli dan ilmuwan pun juga berkontradiksi terhadap program tersebut namun dengan alasan yang berbeda, yaitu karena pandangan mereka terhadap rata-rata kendaraan bermotor dan penggunanya di Indonesia, dimana mereka belum siap menghadapi perubahan yang tiba-tiba ada begitu saja. Dari sudut pandang pihak SPBU Swasta, kesulitan untuk menyetujui kebijakan pemerintah bukan dari kandungan etanol dalam BBM itu sendiri, melainkan dari rumitnya persetujuan dengan pihak pemerintah.
Kesiapan Kendaraan-Kendaraan di Indonesia untuk Etanol dalam BBM
Sebagai penjelasan, kendaraan-kendaraan bermotor di Indonesia lebih terancam bermasalah ketika menggunakan BBM dengan kandungan etanol dibanding kendaraan-kendaraan yang ada di negara-negara maju walaupun kandungan etanol-nya sama. Mengapa demikian? Kendaraan-kendaraan di negara-negara maju tersebut sudah lama menerapkan kandungan BBM dengan etanol sehingga kendaraan-kendaraan tersebut sudah dirancang dengan tangki bahan bakar yang tahan terhadap kandungan etanol.
Fitra Eri (2025), seorang influencer automotif, berkata bahwa karena program tersebut diadakan secara tiba-tiba, kendaraan-kendaraan di Indonesia pasti belum semuanya dirancang dengan tangki bensin yang tahan terhadap kandungan etanol. Perlu diingat bahwa baik etanol maupun metanol merupakan alkohol dimana alkohol sendiri mengandung sifat basa kuat.
Secara teknis juga program pemerintah tersebut akan lebih berdampak pada kendaraan-kendaraan yang CKD dan IKD dibanding kendaraan-kendaraan yang CBU . Sebelumnya, apa itu CBU, CKD, dan IKD? CBU, yaitu kendaraan yang Completely Built up atau dirakit sepenuhnya dari luar negeri, contohnya Honda Jazz dan Mazda 2. CKD yaitu kendaraan yang Completely Knocked Down atau komponennya diimpor dari luar negeri lalu dirakit dalam negeri, contohnya Toyota Fortuner dan Honda PCX. IKD yaitu kendaraan yang Incompletely Knocked Down atau dirakit hampir sepenuhnya dalam negeri namun masih lisensi merek luar negeri, contohnya Toyota Avanza dan Honda Brio. Bandingkan saja Honda Brio dan Jazz, walaupun di kalangan otomotif mereka termasuk dalam kelas kendaraan yang sama, harganya sedikit lebih mahal Honda Jazz sebagai kendaraan CKD dibanding Brio, namun kualitasnya jauh lebih baik.

Hal tersebut menjadi contoh dimana kendaraan CBU masih mengikuti standar kualitas luar negeri sedangkan kendaraan CKD sudah mengalami perubahan standar kualitas untuk menyesuaikan dengan negara. Sehingga tentu sangat berhubungan dengan ketahanan tangki bahan bakar terhadap kandungan etanol. Oleh karena itu, Indonesia secara teknis belum siap secara cukup untuk menghadapi program kandungan etanol dalam bahan bakar yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut tentu akan berubah jika pemerintah sekaligus meninggikan standar ketahanan tangki bensin untuk kendaraan-kendaraan di Indonesia yang masih CKD.
Mengenai perihal kandungan etanol tersebut, tentu tidak bisa dibandingkan dengan kasus banyaknya kendaraan rusak karena adanya monopoli atau pengoplosan BBM yang dilakukan SPBU pemerintah. Namun, kenapa hal tersebut terjadi? Bukankah seharusnya kinerja bahan bakar yang berbeda pada dasarnya sama? Pertama-tama, kita harus mengetahui apa yang sebenarnya dicampurkan oleh pemerintah ke dalam BBM yang dijual.
Penyebab Banyaknya Kerusakan Kendaraan akibat BBM Oplosan
Oktan merupakan ukuran standar yang digunakan untuk menunjukkan besar tekanan yang bisa ditahan oleh sejumlah bahan bakar untuk pembakaran didalam ruang mesin kendaraan. Ibarat saja oktan adalah sebuah satuan untuk menghitung tekanan tersebut, seperti satuan untuk menghitung besaran sebuah energi, salah satunya yaitu joule. Rata-rata SPBU di seluruh dunia menjual bahan bakar yang terbagi menjadi 4 buah kategori yang menjadi pilihan untuk konsumen, yaitu bahan bakar yang dengan oktan rendah, sedang, tinggi, dan diesel.BBM dengan oktan rendah biasanya berkisar 89 hingga 90, BBM dengan oktan sedang biasanya beroktan 92, BBM dengan oktan tinggi biasanya antara oktan 95 atau 98, bahkan kadang dijual keduanya. Namun, diesel tidak memiliki oktan, melainkan setana sebagai satuannya dimana setana sendiri jarang sekali dibandingkan besaran satuannya karena perbedaan cara terbakarnya dalam mesin jika dibanding dengan bensin.
Untuk memudahkan pemahaman, contoh paling mudah adalah membandingkan semua jenis BBM yang dijual oleh setiap perusahaan SPBU yang ada di Indonesia. Kita ambil 2 perusahaan sebagai contoh, yaitu Pertamina dengan Vivo, Pertamina menjual BBM dengan pilihan Pertalite 90, Pertamax 92, Pertamax Green 95 (Hanya ditemui di cabang tertentu), Pertamax Turbo 98. Sedangkan Vivo menjual BBM dengan pilihan Revvo 90, Revvo 92, dan Revvo 95. Perhatikan bahwa 2 digit angka di belakang dari kedua perusahaan tersebut sama, karena hal tersebut menunjukkan kandungan oktannya berapa, sedangkan nama atau kata yang digunakan sebelum angka tersebut merupakan kebebasan penamaan setiap perusahaan.
Perlu diketahui bahwa walaupun sama-sama bahan bakar, setiap oktan harus disesuaikan dengan kapasitas atau volume pembakaran mesin setiap kendaraan yang dimiliki konsumen, karena ruang pembakaran tersebut berhubungan dengan tekanan pembakaran dalam mesin. Semakin tinggi oktannya, maka semakin baik pembakarannya, namun semakin buruk jika oktan yang digunakan terlalu tinggi.
Wuling.com (2024) menyebutkan bahwa “Pembakaran di dalam mesin terjadi saat campuran udara dan bahan bakar dikompresi oleh piston dan dinyalakan oleh busi. Jika bahan bakar memiliki angka oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan, pembakaran dapat terjadi lebih cepat dari seharusnya (premature combustion), sehingga mengganggu kinerja mesin.
Sebaliknya, penggunaan bahan bakar dengan RON lebih tinggi dari spesifikasi mesin umumnya tidak memberikan peningkatan performa yang berarti. Pembakaran yang tidak sempurna berisiko meninggalkan residu karbon di ruang bakar dan komponen lain, yang pada akhirnya dapat mengurangi efisiensi aliran bahan bakar, yang dapat menyebabkan performa mesin kendaraan berkurang, serta meningkatkan potensi penyumbatan, dan lama-kelamaan dapat menyebabkan kerusakan pada mesin.”
Bahan bakar juga sangat tidak baik ketika dicampur-campur dengan kandungan BBM dengan oktan berbeda walaupun masih ada kandungan BBM dengan oktan yang dibutuhkan, dengan prinsip/alasan yang sama. Sehingga telah diketahui mengapa banyak kendaraan mengalami kerusakan sebelum terungkapnya pihak-pihak dari pemerintah menjual BBM yang seharusnya beroktan 92 namun tanpa diketahui masyarakat telah sekaligus dicampur oleh BBM beroktan 90.
Baca Juga: Jawa Barat Siapkan Distribusi BBM dan LPG Hadapi Lonjakan Libur Nataru
Langkah yang Sebaiknya Diterapkan Pemerintah
Dengan keinginan pemerintah untuk mengadakan perubahan demi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat terlebih dahulu, yang bisa dilakukan dengan meningkatkan pengawasan dan penegakkan hukum terhadap aktivitas-aktivitas yang berlangsung dalam sektor manajemen atau pengelolaan sumber daya mineral di negara Indonesia. Lalu dilanjut dengan peningkatan kualitas standar pabrik kendaraan di Indonesia terutama kendaraan yang CKD, apalagi yang secara penuh rakitan Indonesia
Kesimpulannya, penggunaan etanol pada BBM untuk seluruh rakyat di Indonesia bukanlah ide yang buruk. Lagipula, dengan tingkat kepadatan kendaraan di Indonesia yang sangat tinggi, penggunaan BBM beretanol yang secara kimia terbukti lebih ramah lingkungan merupakan sebuah ide yang sangat bagus. Namun harus ada penyesuaian dengan kondisi masyarakat dan standar-standar yang dimiliki sebagian besar kendaraan di Indonesia, terutama kondisi kepercayaan masyarakat pada pemerintah setelah belum berapa lama terungkapnya kasus monopoli BBM. Sehingga, program ini akan jauh lebih baik jika dijalankan dengan perlahan.
Daftar Pustaka
- Octavia, S., & Belarminus, R. (2025). Skandal korupsi Pertamina 2018–2023, Pertalite dioplos jadi Pertamax. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2025/02/26/07132731/skandal-korupsi-pertamina-2018-2023-pertalite-dioplos-jadi-pertamax
- Kompas.com. (2025). Etanol di bensin sudah lazim: AS, Eropa dan Brasil jadi contoh. https://otomotif.kompas.com/read/2025/10/08/121200415/etanol-di-bensin-sudah-lazim--as-eropa-dan-brasil-jadi-contoh
- Alodokter. (2024). Apa perbedaan etanol dan alkohol? https://www.alodokter.com/komunitas/topic/apa-perbedan-etanol-dan-alkohol-
- Daihatsu. (2025). CKD, CBU, dan IKD pada mobil. https://daihatsu.co.id/tips-and-event/tips-sahabat/detail-content/ckd-cbu-ikd-pada-mobil/
- Wuling. (2025). Dampak penggunaan bensin dengan RON tidak sesuai pada mobil. Wuling Motors. https://wuling.id/id/blog/autotips/dampak-penggunaan-bensin-dengan-ron-tidak-sesuai-pada-mobil.
- Raharjo, R. T. (2025). Apa pengaruh etanol dalam BBM dan mengapa jadi perdebatan? Nara Times. https://www.naratimes.com/news/15116039679/apa-pengaruh-etanol-dalam-bbm-dan-mengapa-jadi-perdebatan
- Viva.co.id. (2025, 9 Oktober). Fitra Eri ungkap dampak BBM beretanol: Tenaga mesin turun dan lebih boros. VIVA. https://www.viva.co.id/berita/nasional/1853532-fitra-eri-ungkap-dampak-bbm-beretanol-tenaga-mesin-turun-dan-lebih-boros
