Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Mengapa setahun punya 12 bulan? Artikel ini mengajak menelusuri sejarah kalender dan berbagai cara bangsa-bangsa pada masa lalu menentukan awal tahun.

  • Nama bulan ternyata punya cerita panjang, dari Janus, dewa-dewa Romawi, musim, hingga tokoh seperti Julius Caesar dan Augustus.

  • September hingga Desember menyimpan kejanggalan menarik: nama-namanya masih merujuk pada angka lama, meski posisi bulan dalam kalender sudah bergeser.

Tiga puluh hari umur September,
April, Juni dan November
Umur bulan lain tiga puluh satu hari
Kecuali satu, yakni Februari
Umurnya hanya dua puluh delapan
Atau pada tahun kabisat dua puluh sembilan.

(Sajak kanak-kanak kuno)

***

Apakah yang disebut bulan itu? Mengapa ada dua belas dalam satu tahun? Mengapa jumlah hari-hari dalam bulan tidak sama?

Bulan itu planet. Dalam bahasa Inggris sekarang kata Month atau Mona juga sama artinya dengan planet Bulan. Jadi, jangka waktu satu bulan sama dengan lamanya bulan mengelilingi matahari satu kali.

Bagi kebanyakan orang, tahun baru adalah 1 Januari, tetapi bagi orang Yahudi kuno, tahun baru dimulai pada hari pertama musim dingin, yaitu pada 21 atau 22 Desember. Orang Romawi kuno mengawali tahun baru mereka pada tanggal 1 Maret, lalu mereka mengubahnya menjadi 1 Januari. Dahulu negara-negara yang menganut Kristen menjadikan tanggal 25 Desember, yakni hari Natal sebagai hari pertama tahun barunya. Dan kurang lebih seribu tahun yang lalu bangsa-bangsa menggeser tahun baru mereka ke 25 Maret. Bahkan pernah seorang raja Prancis mengubah tahun baru bersamaan dengan datangnya hari Paskah, dan dua ratus tahun lalu masih di Prancis, mereka mengubah tahun barunya menjadi 22 September. Sekarang pun tahun baru masih dirayakan beberapa kalangan dengan berbeda-beda. Seperti tahun baru Islam, tahun baru Cina atau Imlek, dan lainnya. Dengan demikian sebetulnya tidak masalah kapan tahun baru kita awali.

Sejarah nama bulan

  1. Januari
    Hampir di seluruh dunia, yang menjadi bulan pertama dalam setiap tahunnya adalah bulan Januari. Kata ini berasal dari kata Janus, nama dewa Yunani dan panjang bulan ini adalah 31 hari. Dahulu menurut kalender orang Romawi dalam satu tahun hanya terdapat 10 bulan, dan bulan kesebelas ditambahkan dinamakan Januarius. Di kalangan masyarakat yang hidup di Inggris, bulan ini dikenal dengan bulan Wolf Month, yang berarti bulan serigala, dalam masa itu banyak sekali serigala lapar masuk ke pemukiman penduduk, hingga bulan Januari identik dengan bulan Serigala.
  2. Februari
    Bulan ini adalah bulan kedua, dan juga merupakan bulan paling pendek dalam satu tahun. Namun dalam empat tahun sekali bulan ini mendapatkan satu hari tambahan di tahun kabisat. Dahulu di masa Romawi kuno bulan ini adalah bulan terakhir dalam kalender mereka. Februari berasal dari bahasa Latin yaitu Februare, yang berarti menyucikan atau membersihkan, karena dahulu bangsa-bangsa memulai tahun barunya pada 1 Maret, yang membuat bulan Februari dipakai sebagai bulan pembersihan diri sebelum masuk menuju tahun yang baru.
  3. Maret
    Maret adalah bulan ketiga dalam kalender kita, bulan Maret diambil dari nama dewa Romawi, Mars. Bulan Maret adalah awal tahun pada masa lalu, dan orang Romawi bersiap-siap untuk berperang, mereka menamai bulan ini dengan nama Mathius untuk menghormati dewa perang mereka. Dahulu terdapat istilah yang sejak kecil sering saya baca di buku-buku perpustakaan darma, Bandung, istilah tersebut adalah “Bulan Maret datang bagaikan singa dan pergi bagaikan seekor anak domba”. Ternyata alasan orang dahulu kala mengatakan istilah ini karena di bulan Maret cuaca sering kali dingin, angin bertiup dengan kencang, sedangkan memasuki penghujung Maret cuaca menjadi hangat dan nyaman, namun di belahan bumi lainnya bulan Maret adalah awal dari musim gugur.
  4. April
    Orang Romawi menamakan bulan ini dengan nama Aprilis, yang merupakan bahasa Latin dari membuka. Di belahan bumi bagian utara bulan April biasanya memberikan banyak perubahan, apabila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Es dan salju menjadi lenyap, rumput kembali hijau, tunas pohon mulai tumbuh, binatang-binatang kecil mulai keluar dari sarangnya.
  5. Mei
    Bulan Mei disebut juga Maia. Maia adalah dewi musim semi. Orang Inggris menyebut bulan ini dengan Thrimlice yang artinya memerah susu tiga kali. Sekitar masa itu rumput tumbuh sangat subur, sehingga para sapi dapat memakan rumput lebih banyak, dan memberikan susu lebih banyak pula, sehingga para peternak di Inggris dapat memerah susu tiga kali dalam satu hari saat itu.
  6. Juni
    Ketika masa Romawi kuno bulan ini adalah bulan keempat dalam kalender mereka, karena tahun baru yang dimulai pada bulan Maret. Nama Juni berasal dari bahasa Latin Juniores atau Juno yang berarti muda dan mudi. Dan orang-orang dari masa lalu menganggap bulan ini adalah bulannya para remaja.
  7. Juli
    Orang dahulu kala menyebut bulan Juli dengan sebutan bulan Julius Caesar. Ketika dahulu awal tahun dimulai pada bulan Maret, maka ketika diubah menjadi Januari, maka bulan Juli ini menjadi bulan ketujuh, dan orang Romawi memberikan nama baru pada nama awal yaitu Quintilis atau kelima menjadi bulan Julius, untuk menghormati kaisar mereka yang sedang memerintah.
  8. Agustus
    Awalnya bulan ini adalah bulan keenam dari kalender masa lalu dan bernama bulan Sextilis atau bulan keenam. Setelah awal tahun diganti ke Januari maka berubahlah nama bulan ini. Setelah kaisar Romawi, Julius Caesar wafat dibunuh oleh Agustus, keponakannya sendiri dan menggantikannya sebagai kaisar yang berkuasa saat itu, maka bulan ke 8 ini diberi nama bulan Agustus.
  9. September
    Dahulu bulan ini adalah bulan ketujuh dalam kalender masa lalu, nama September diberikan orang Romawi untuk bulan yang berasal dari kata Septem, yakni bahasa Latin yang berarti tujuh. Namun ketika bulan Januari dipakai sebagai acuan awal tahun, nama September seharusnya pun diubah. Namun mereka tidak mau bersusah-susah untuk mengganti nama bulan ini, dan beberapa kaisar Romawi pun tidak berhasil merubah nama bulan ini, dan hingga sekarang pun masih bernama September yang berarti tujuh.
  10. Oktober
    Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin yaitu delapan Setali tiga uang dengan sejarah penamaan bulan September, Oktober pun sama, tidak ada satu pun kaisar Romawi yang mampu merubah nama bulan ini, hingga kini kita mengenal Oktober sebagai bulan kesepuluh padahal artinya sendiri adalah delapan.
  11. November
    Berasal dari bahasa Latin yaitu Novem yang artinya sembilan. Ketika awal tahun dipindahkan ke Januari nama bulan November pun seharusnya berubah karena artinya adalah sembilan, sedangkan posisi bulan November itu sendiri ada di urutan ke sebelas. Tiberius raja kedua Romawi lahir di bulan November, saat itu ada wacana perubahan nama November menjadi Tiberius, namun sang raja dengan keras menolaknya dan hingga kini tetap menjadi November.
  12. Desember
    Bulan ini pun memiliki kisah yang sama, nama Desember berasal dari bahasa Latin yaitu Desem yang artinya bulan ke sepuluh. Ketika perubahan awal tahun jatuh pada bulan Januari, seharusnya nama Desember diubah, namun lagi-lagi tak ada satu orang kaisar pun yang berhasil merubah nama bulan ini, hingga kita tetap memakai Desember sebagai nama bulan terakhir atau kedua belas, sedangkan secara harfiah arti Desember sendiri adalah sepuluh.

Sekarang kita pun paham, dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)