Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026. Data ini saya temukan pada Staatsblad, yaitu lembar resmi atau berita negara yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial pada masa pendudukan Belanda. Lembar ini berisi berbagai undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan, serta ketetapan resmi dari pemerintah kolonial sejak tahun 1815 hingga 1942. Setiap aturan diberi nomor dan tahun penerbitan sebagai rujukan dasar hukum yang sah pada masa pendudukan Belanda. Kesemuanya mencakup berbagai bidang hukum, seperti hukum perdata, hukum pidana, hukum dagang, hingga aturan pencatatan sipil. Pascakemerdekaan Indonesia, Staatsblad ini digantikan oleh Lembar Negara Republik Indonesia.

Lembang tercatat dalam Staatsblad diresmikan sebagai distrik teh pada 17 Juni 1882 karena di wilayah Lembang tercatat terdapat tiga kebun teh tua di masa pemerintahan kolonial Belanda, perkebunan teh Baroe Adjak yang bertransformasi menjadi Observatorium Bosscha dan kompleks Kinderdorf, perkebunan teh besar yaitu Tjioemboeloeit yang dimulai dari wilayah Pagerwangi hingga kawasan yang sekarang menjadi Universitas Katolik Parahyangan, dan yang terakhir adalah perkebunan teh Soekawana yang berada di barat Lembang yang sekarang masih berproduksi. Namun, berselang beberapa bulan, yaitu tepatnya pada 16 Oktober 1882, Lembang juga ditetapkan termasuk ke dalam wilayah Ujungberung Kulon yang pada saat itu beribu kota di wilayah Cipaganti. Dan tanggal inilah yang kemudian dipilih sebagai tanggal lahir Lembang.

Sebetulnya data Lembang telah terlebih dahulu muncul dalam sebuah jurnal yang berjudul An Early List of Villages, Village Heads, Families, Tributes and Earnings in Priangan, West Java 1686. Pada halaman 11 dituliskan bahwa kawasan Lembang yang dikepalai oleh seorang cutak yang bernama Singamarta, memberikan upeti kepada VOC berupa zat pewarna yang berasal dari bunga kesumba keling, yang nantinya dikirim ke negara-negara Eropa untuk dijadikan bahan pewarna kain gaun-gaun wanita kelas atas.

Ditarik lebih jauh juga di kawasan Lembang tercatat dalam naskah Bujangga Manik bahwa ia berjalan menuju Sungai Cisunggalah yang ternyata sekarang sungai itu terkenal dengan nama Maribaya. Dan bila menyusuri situs tertua di Lembang yang bernama Situs Batu Lonceng, akan ditemukan data yang terus menjurus hingga ke kisah Ciung Wanara, yang nantinya akan berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan Saunggalah.

Menurut Pak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung yang juga dimakamkan di Lembang, mengatakan bahwa pada abad ke-17 dan ke-18 Julian Da Silva yang merupakan kaum Mardijker (sebutan umum untuk para budak dari Asia dan Afrika yang telah dimerdekakan dan bersama keturunannya mengikuti budaya penjajahnya, dalam arti sempit kaum Mardijker merujuk pada sekumpulan bekas tawanan perang yang diperoleh VOC dari hasil kemenangannya menduduki wilayah jajahan Portugis di Asia) datang ke Bandung, ternyata setelah saya riset lebih dalam salah satu wilayah di Lembang pada abad ke-17 dan ke-18 dihuni juga oleh para Mardijker tersebut, mereka membuka lahan yang dihuni oleh banyak sekali anjing hutan, orang Sunda menyebut anjing hutan tersebut dengan sebutan Ajag, hingga lahirlah sebuah kawasan yang kita kenal saat ini yang bernama Baroe Adjak, yang pada tahun 1933 menjadi kawasan peternakan terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah sapi sebanyak 6.000 ekor.

Lembang pun pada masa 1823–1850 dijadikan pembuangan para Congtipau (bahasa slang Tionghoa untuk sebutan para penipu atau penjahat kelas teri hingga kelas kakap). Para Congtipau itu dibuang ke Lembang dan diharapkan akan mati karena kelaparan ataupun dimakan hewan buas, alih-alih demikian, para Congtipau itu malah berbisnis penggergajian kayu untuk bahan dasar bangunan yang akan dikirim ke Bandung, dan mereka pun bertransformasi menjadi pebisnis penggergajian kayu, tetinggalnya sekarang menjadi kawasan yang bernama Kampung Pangragajian.

Lalu Lembang juga ternyata ditasbihkan sebagai surga perkebunan teh, kina dan kopi, hingga didatangkan para bekas pejuang Boer dari Afrika Selatan untuk beternak dan berkebun hingga kawasan Lembang ini terkenal dengan peternakan dan pertaniannya sejak awal abad ke-20.

Maka, sebetulnya perjalanan Lembang ini sangatlah jauh dan berliku, namun dipilih tanggal 16 Oktober 1882 sebagai hari jadi bukan berarti sebelum dan sesudah tanggal itu tidak terjadi hal-hal istimewa di Lembang.

Baca Juga: Kamp Konsentrasi Jepang di Lembang

Untuk menceritakan Lembang sejak berdirinya Mahagung Gunung Jayagiri hingga pascakemerdekaan tidak akan cukup waktu untuk itu semua, Lembang adalah kisah nyata dari mahakarya Tuhan yang dapat pula dirasakan, diresapi, dimanfaatkan dan dipelajari untuk kebijaksanaan masa depan.

Usia 144 tahun hanyalah angka, namun itu semua dapat tergambar jelas dari sebuah penampilan segelintir anak muda Lembang yang tergabung dalam Komunitas Pelajar Pecinta Seni dan Budaya yang digawangi oleh seorang guru SMPN 1 Lembang bernama Pak Indra Budiaji dan seorang pemuda yang sangat peduli akan budaya Lembang yaitu Indra Riyadi. Melalui dua Indra inilah tercipta sebuah karya fantastis yang menggambarkan kisah Lembang masa lalu hingga masa kini dalam sebuah drama tari yang bertajuk “Lembang Bihari ka Lembang Kiwari”. Mereka mengumpulkan anak-anak muda dalam komunitas budaya tersebut dan membuat sebuah sendratari yang mengisahkan Lembang secara utuh.

Tak tanggung-tanggung hampir 100 orang yang terlibat dalam acara sendratari kolosal ini yang telah diselenggarakan di alun-alun Lembang pada 16 Oktober 2026 lalu. Dan animo masyarakat Lembang pun sangat besar, dan mereka tidak hanya disuguhkan tarian kolosal tapi kisah sejarah tempat tinggalnya, hingga akhirnya para warga masyarakat dapat lebih mengenal kawasan tempat tinggalnya hingga tercipta rasa sayang yang akan melahirkan kepedulian dan rasa tanggung jawab yang lebih untuk menjaga kawasan tempat tinggal kami semua yaitu Lembang.

Terima kasih saya yang amat dalam kepada Komunitas Pelajar Pecinta Seni dan Budaya, semoga Lembang akan selalu melahirkan putra-putri bangsa yang tidak akan melupakan sejarah seperti kalian semua, rahayu, rahayu, rahayu! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)