Pengimbasan Mitigasi Bencana Alam Saat Geowisata

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Geowisata di kawasan gunung api, harus mengetahui kapan dapat mendekat, dan kapan harus segera menjauh. Gunung Papandayan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Geowisata di kawasan gunung api, harus mengetahui kapan dapat mendekat, dan kapan harus segera menjauh. Gunung Papandayan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Saat ini, ketika keadaan kota semakin kurang bersahabat dan semakin mengasingkan warganya, disertai keadaan lingkungan alam semakin menurun kualitasnya, seperti pencemaran air dan pencemaran udara yang sangat berat, digenapkan dengan adanya media sosial, telah mendorong warga untuk melakukan wisata yang mempunyai arti, wisata yang interpretatif di alam terbuka. 

Wisata yang tidak sekedar datang bergerombol untuk berfoto, atau datang untuk menyetel musik kemudian berjoged, tidak mengenal tempat, apakah di keheningan alam, atau di tempat keagamaan yang sakral.

Wisata yang interpretatif itu diwadahi dalam kegiatan geowisata, yaitu wisata yang memberikan penafsiran secara keilmuan tentang keragaman bumi, keragaman hayati, dan keragaman budaya di kawasan yang sudah ditentukan dari awal. 

Tempat untuk melaksanakan kegiatan geowisata itu bisa di kawasan gunung api purba, gunungapi aktif, di daerah yang berada di zona patahan/sesar aktif, di pantai, di laut, di sungai, di goa, yang tidak terlepas dari gejala-gejala meteorologis, yang dapat menjadi sumber ancaman bagi wisatawan. 

Gunung api, ketika dinyatakan dalam keadaan normal pun tidak menutup kemungkinan masih memiliki potensi ancaman. Misalnya tiba-tiba terjadi letusan freatik, letusan yang dipicu oleh adanya kontak panas magma dengan air tanah. 

Dan, yang sangat berbahaya, bila ada pengunjung yang menghirup gas beracun gunungapi, seperti yang dialami oleh Soe Hok Gie di Gunung Semeru, Jawa Timur, dan meninggal pada 16 Desember 1969. Atau karena lontaran lapili panas saat letusan, dapat memakan korban jiwa. 

Antara 4-5 April 1982 hingga Januari 1983, terjadi letusan Gunung Galunggung tiada henti. Tanggal 24 Juni 1982, pesawat British Airways nomor penerbangan 9, terbang dari Inggris ke Australia, dengan pilot Kapten Eric Moody.

Saat itu petugas keamanan dan keselamatan penerbangan tidak melarang terbang melintas di atas Gunung Galunggung. 

Namun ternyata, abu letusan yang melayang-layang itu dihisap oleh pesawat jet Boeing 747-200 yang membawa 263 penumpang di ketinggian 11.000 meter. 

Serbuk halus silica yang disedot mesin jet yang berkinerja tinggi, dengan suhu mesin mencapai 1.400 derajat C, maka partikel kaca vulkanik halus itu meleleh, lalu melapisi turbin, menyebabkan keempat mesin pesawat mati. 

Di ketinggian 13.000 kaki, tiga mesin pesawat kembali berfungsi, lalu pesawat berbalik arah, dan mendarat darurat di Jakarta dengan selamat.

Material letusan gunung api yang sangat berbahaya lainnya adalah awan panas, karena suhunya mencapai 1.000 derajat C, dan meluncur dengan kecepatan 700 km/jam.

Bahaya yang lebih luas, yaitu lahar, karena dapat menimbun kawasan, menutup atap rumah di perkampungan.

Letusan gunung api dapat menimbulkan terjadinya longsoran tubuh gunungnya, seperti yang terjadi di Gunung Anak Krakatau pada Desember 2018, yang menyebabkan tsunami yang melanda pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung. 

Geowisata Gunung Papandayan. (Sumber: Unsplash/Idris Hasibuan)
Geowisata Gunung Papandayan. (Sumber: Unsplash/Idris Hasibuan)

Selain letusan gunung api, gempa bumi pun dapat menyebabkan tsunami, juga dapat menyebabkan terjadinya longsor bawah laut, yang dapat menimbulkan terjadinya tsunami, seperti yang terjadi di Flores pada Desember 1992, di Palu pada September 2018, dan di Maluku pada Juni 2018.

Rona Bumi yang berbentuk teluk, dan muara sungai, merupakan tempat yang paling tenang untuk disinggahi, tempat aman untuk membuang sauh. 

Perahu sandar di sana, dan penumpangnya turun ke daratan. Teluk dan muara sungai di pantai-pantai dengan ombak yang besar seperti di selatan Pulau Jawa, menjadi pelabuhan alami bagi para nelayan. 

Di sanalah berkembang menjadi pusat keramaian, mereka mendirikan rumah dan pusat kegiatan warga. Padahal, teluk dan muara sungai menjadi tempat yang mempunyai tingkat terancam lebih tinggi bila terjadi tsunami.

Destinasi wisata sungai harus sangat waspada adanya banjir yang cepat datang, karena keadaan lingkungan di hulu sungai yang sudah tidak memberikan air meteorik untuk meresap lebih banyak. 

Begitu pun destinasi goa, apalagi goa yang bila hujan berubah menjadi sungai bawah tanah.

Jadi bencana alam itu dapat merupakan perpaduan antara bencana geologis dengan bencana meteorologis. Seperti material letusan gunung api yang jatuh di lereng gunung tidak diguyur hujan, tidaklah akan menjadi lahar. 

Saat berada di puncak gunung api, ancamannya bisa datang karena adanya bagai, hujan ekstrim, dan halilintar, mata petir yang menyambar, seperti pernah terjadi di Gunung Burangrang, Bandung, di Gunung Cikuray, dll. 

Karena itulah, maka destinasi geowisata mempunyai potensi menimbulkan ancaman bahaya, seperti adanya letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami, gerakan tanah/longsor, banjir di sungai, banjir di goa bawah tanah, dan terjadinya badai, hujan ekstrim, halilintar, suhu ekstrim, yang dapat membahayakan peserta geowisata.

Secara umum, itulah bencana alam, karena mengakibatkan kerusakan harta benda dan kerugian ekonomi, bahkan kematian. Untuk mengurangi risiko itu diperlukan upaya melakukan mitigasi. 

Upaya ini merupakan kehormatan yang mempunyai nilai kemanusiaan yang tinggi. Pengimbasan potensi bencana gunungapi pada saat geowisata, akan lebih mudah dipahami karena terlihat wujud dari potensi ancaman itu secara nyata.

Baca Juga: Kini 10 Netizen Terpilih Dapat Total Hadiah Rp1,5 Juta dari Ayobandung.id setiap Bulan

Ada beberapa hal yang harus terus diupayakan sebelum melakukan kegiatan geowisata. 

Pertama, terus berlatih fisik untuk kesegaran dan kekuatan. 

Kedua melengkapi peralatan, perlengkapan, dan perbekalan. 

Ketiga memantau perkembangan kawasan yang akan dikunjungi, apakah dalam keadaan berbahaya atau normal. 

Keempat, mengetahui keadaan cuaca selama dalam waktu berkegiatan. 

Kelima, memilih tempat berkemah yang aman dari ancaman, seperti aman dari banjir dan aman dari kemungkinan sambaran petir. 

Keenam, mengetahui jalan tercepat dan aman untuk evakuasi. 

Upaya mitigasi ini memerlukan dukungan otoritas Negara dan pengelola wisata dalam membangun destinasi wisata agar nyaman, indah, fungsional, dan memudahkan untuk evakuasi mandiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)