Kisah Salah Tata Kelola Cimenyan yang Semakin Kronis

3 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID  - Udara sejuk, lereng hijau, dan pemandangan mata lepas menjadi daya tarik utama Kecamatan Cimenyan di Kabupaten Bandung. Namun di balik keindahannya, tersimpan ancaman besar yang mengintai: kerusakan lingkungan akibat salah tata kelola lahan yang kian kronis.

Di lereng-lereng bukit Cimenyan yang curam, petani terlihat sibuk merawat tanaman hortikultura. Daun bawang, wortel, kentang, dan tomat berjajar rapi, menutupi hamparan tanah yang dulu rimbun oleh pepohonan keras. Mereka bekerja dengan tenang, meski tanah yang mereka injak makin rawan longsor.

“Sudah biasa, jadi tidak takut,” ucap Elah, buruh tani di Desa Mekarmanik, Rabu 9 April 2025. Ia paham betul risiko tanah longsor, apalagi saat hujan deras tiba. Namun, pilihan lain untuk mencari penghidupan hampir tak tersedia.

Sayangnya, apa yang dianggap sebagai penghidupan bagi sebagian warga, kini menjadi malapetaka bagi yang lain. Di bawah bukit-bukit itu, Kota Bandung kini kerap diterjang banjir bandang yang membawa lumpur dari hulu sungai seperti Cikapundung. Air mengalir deras, membawa serta tanah dari perbukitan gundul Cimenyan.

Lahan pertanian di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lereng-lereng dengan kemiringan 30 hingga 50 derajat yang dulu menjadi pelindung alami Bandung, kini berubah fungsi. Tak hanya pertanian, bisnis properti pun turut membelah kawasan. Vila-vila dan perumahan elite menjamur, berdiri megah di atas lahan yang seharusnya menjadi kawasan resapan air.

“Itu yang baru digarap untuk perumahan,” ujar Herdi, warga Ciburial, sambil menunjuk lahan yang sedang diratakan. Di belakangnya, bekas longsoran besar tampak menganga, nyaris menantang hukum alam.

Cimenyan yang dahulu dikenal sebagai paru-paru Bandung, kini berubah menjadi mosaik pertanian intensif dan pemukiman mewah. Hamparan hijau bukan lagi hutan, melainkan ladang dan taman dari vila-vila yang menyuguhkan pemandangan eksklusif tanpa pohon peneduh.

Kecamatan Cimenyan, 24 Mei 2007. (Foto: Google Earth)
Kecamatan Cimenyan, 18 Oktober 2024. (Foto: Google Earth)

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Wahyudin Iwang, menyebut kondisi Cikawari di Kecamatan Mekarmanik- satu dari sembilan desa di Kecematan Cimenyan - sudah rusak hingga 65 persen. “Resapan air sangat kurang. Makanya setiap hujan, bagian hilirnya diterjang bencana,” jelasnya.

Kawasan Bandung Utara (KBU), termasuk Cimenyan, sebenarnya ditetapkan sebagai kawasan strategis, penyangga ekosistem dan penyelamat cekungan Bandung. Namun saat ini, peran itu hampir hilang. Hutan menyusut, dan risiko bencana meningkat.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Tarya Witarsa, menilai tata kelola pertanian hortikultura di lereng bukit adalah penyebab utama kerusakan lingkungan. Perkembangan pariwisata pun memperparah, walau tak bisa dinafikan kontribusinya terhadap ekonomi lokal.

“Ini seperti dua mata pisau,” ujar Tarya. Di satu sisi, pertanian dan pariwisata jadi tulang punggung masyarakat. Di sisi lain, jika tak dikendalikan, bisa jadi sumber bencana bagi seluruh kawasan cekungan Bandung.

Pemerintah daerah didorong untuk mengambil langkah komprehensif. Edukasi kepada petani, analisis risiko bencana, hingga pembatasan pengembangan lahan disebut-sebut sebagai upaya mitigasi yang mendesak dilakukan.

Tarya menegaskan, pendekatan terhadap masalah ini tak bisa sepotong-sepotong. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, dari BPBD, BMKG, hingga organisasi masyarakat sipil. “Jika dibiarkan, kerugian akan lebih besar,” katanya.

Pemandangan sebagian Kota Bandung kawasan selatan dan timur dari Cimenyan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di lapangan, tanda-tanda bahaya sudah terlihat jelas. Longsoran di Wiwitan Hilir, banjir bandang di Kota Bandung, dan kerusakan kawasan Cimenyan menjadi alarm keras akan bencana ekologis yang sedang berlangsung.

Sayangnya, hingga kini, belum tampak upaya penertiban massif dari pemerintah. Petani tetap menanam di lereng curam, vila terus dibangun, dan saat hujan, air menggerus sekaligus unsur hara dan lumpur ke bawah kota.

Cimenyan adalah contoh nyata bagaimana kepentingan ekonomi jangka pendek bisa membawa malapetaka ekologis jangka panjang. Jika tidak segera ditangani secara bersama-sama, bukan hanya bukit yang semakin gundul, tetapi masa depan lingkungan dan kehidupan di Bandung Raya pun bisa ikut lumpuh.

Jika Anda memiliki informasi lainnya terkait tata kelola lahan di Kecamatan Cimenyan, sampaikan kepada kami melalui [email protected]

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)