Nestapa Ojol di Bandung saat 'Ngalong'

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID — Jam menunjukkan pukul 10 malam, menandakan waktu istirahat tiba. Tapi deru motor Dadan (38) mulai dinyalakan, bersiap mencari orderan. Dia adalah pekerja ojek online (ojol) yang kerap on bid tengah malam alias ngalong.

Ditemui di Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, Dadan menuturkan alasannya kerja lebih dari 12 jam, waktu kerja yang kerap dikeluhkan para pekerja. Namun ia tetap semangat menembus gelapnya malam.

Hanya satu alasan yang membuat seperti itu: demi keluarga di rumah. Hidup serba keterbatasan membuatnya harus kerja lebih ekstra. Tanpa ngalong, ia mampu mengumpulkan uang hingga Rp150 ribu. Angka ini belum dipotong oleh uang bensin, rokok, dan makan.

“Kalau enggak ngalong ya segituan, paling bersihnya Rp70–50 ribu. Uang segitu mana cukup. Tapi ya disyukuri aja,” ungkapnya, Senin, 19 Mei 2025 malam.

Anaknya kini baru berusia tiga tahun. Keluarga kecilnya tinggal di sebuah kontrakan di kawasan Cicaheum. Paginya ia berangkat mengojek, sorenya pulang untuk istirahat sejenak. Malamnya, dia kembali mencari orderan.

Dadan bekerja di malam hari untuk menambah pundi-pundi rupiah. Rata-rata ia bisa mendapatkan Rp100 ribu pada malam hari. Dalam seminggu, ia bisa ngalong 3–4 hari. Pepatah “tidak ada hasil yang mengkhianati usaha” ia genggam.

“Kadang narik dari subuh sampai tengah malam, dapat bersih cuma Rp100 ribu. Itu belum dipotong bensin,” ucapnya di atas motor Honda Beat.

Dadan sudah sembilan tahun bekerja sebagai ojol. Ia mengaku makin berat memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi soal potongan aplikasi saat ini mencapai 20–30 persen dari tarif.

“Ya gimana ya, kita udah kayak mesin buat aplikator. Narik banyak, dapat sedikit,” keluhnya.

Dalam benaknya, ia ingin mengikuti aksi unjuk rasa ojol di Jakarta. Namun keadaan memaksanya untuk tetap mencari nafkah. Jika dirinya berangkat ke Jakarta, esoknya, keluarganya akan kesulitan untuk makan. Ibaratnya, Dadan bekerja agar besok bisa hidup.

Tak hanya itu, pria berjaket ojol itu juga meminta revisi tarif penumpang serta penghapusan program-program yang dianggap merugikan seperti hemat dan prioritas. Program tersebut dinilai menurunkan tarif dengan dalih promosi, tetapi tidak menguntungkan pengemudi sama sekali.

Dadan berkata, mencari orderan di malam hari dibayangi dengan berbagai ancaman. Mulai dari begal, kecelakaan, hingga penyakit. Risiko itu ia tanggung sendiri.

“Ya gimana lagi, demi anak istri jadi harus berani,” ucapnya.

Sehingga ketika ngalong, dirinya memakai jaket yang tebal agar tidak masuk angin dan penyakit lainnya.

Isu kesejahteraan pengemudi ojol bukan barang baru. Sejak 2017, ketika aplikasi ojek online mulai menjamur, nasib para pengemudi kerap luput dari perhatian negara. Sebagai pekerja informal, mereka tak punya perlindungan hukum kuat, tak ada jaminan kesehatan, apalagi upah minimum.

“Kalau sakit, ya berhenti. Kalau motor rusak, pinjam ke teman. Kita enggak punya jaminan apa-apa,” ujar Suryadi (48), pengemudi ojol asal Kiaracondong yang memiliki tiga anak. “Kadang saya sedih, ngasih makan keluarga dari uang yang udah kepotong ini-itu, tinggal sisa sedikit.”

Suryadi memang jarang bekerja begadang. Itu ia lakukan hanya di hari Sabtu. Sebab di hari Minggu biasanya ia memutuskan untuk libur, mengistirahatkan tubuh dan kuda besinya.

“Udah tua jadi ngerasa harus ada waktu istirahat aja, enggak sefit dulu,” ucapnya.

Biasanya ia berangkat pukul 6 pagi sembari mengantar buah hatinya pergi sekolah. Setelah 10 jam lebih bekerja, ia baru pulang ke rumah.

“Seharinya biasanya 12 jaman. Dapatnya paling Rp120–150 ribu. Kalau rame ya bisa sampai Rp250 ribu karena saya pakai tiga aplikasi. Tapi ya itu masih itung-itungan kotor,” akunya.

Sementara itu, Himpunan Driver Bandung Raya (yang menaungi pengemudi ojek dan taksi online) tidak menggelar aksi secara masif. Keputusan apakah akan mematikan aplikasi atau tidak diserahkan kepada driver.

“Untuk Bandung kembalikan ke driver, ke individunya masing-masing mau mematikan boleh karena sakit atau lainnya, atau tetap menyalakan karena anak harus jajan, menafkahi, dan sebagainya,” kata Ketua Himpunan Driver Bandung Raya, Restu Iyan, saat dikonfirmasi wartawan.

Restu juga menegaskan bahwa komunitas driver di Bandung mendukung aksi tersebut dan menginginkan agar tidak terjadi perselisihan di antara pengemudi, baik yang ikut aksi maupun yang tetap bekerja.

“Kalau Bandung mengapresiasi teman-teman aksi di tanggal 20, sangat mengapresiasi dan mendukung. Bagi teman-teman mau bekerja on bid silakan, tidak boleh gontok-gontokan,” kata dia.

Menurut Restu, akar masalah potongan dari aplikator terhadap para mitra berasal dari tidak adanya ketegasan pemerintah dalam menerapkan aturan.

Ia menyoroti kehadiran aplikator pesaing seperti InDrive dan Maxim yang menawarkan tarif rendah, sehingga Grab dan Gojek ikut menurunkan tarif demi menjaga daya saing.

“Karena ketegasan awal sanksi yang diberikan ke aplikator yang tidak mau mengikuti aturan pemerintah, sanksinya enggak ada. Enggak ada sanksi tegas,” kata dia.

Dia bilang, potongan 20 persen dari aplikator disebutnya tidak terlalu menjadi masalah. Lalu, ucapnya, masih ada driver yang belum mengetahui adanya potongan itu dipotong dari konsumen.

“Kalau potongan 20 persen enggak jadi masalah, jangan sampai 20 persen di-up lagi. Pembebanan bukan ke driver tapi potongan customer. Driver enggak banyak tahu, seolah-olah kepangkas besar,” bebernya.

Restu menyebut, dana yang dipotong itu dikembalikan kembali ke driver melalui beberapa program seperti sembako murah dan lainnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)