Hikayat Johny Indo, Robin Hood Garut Pemburu Harta Orang Kaya

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 18:36 WIB
Johny Indo, Robin Hood dari Garut.

Johny Indo, Robin Hood dari Garut.

AYOBANDUNG.ID - Pernah ada masa ketika Jakarta tidak hanya dipenuhi klakson bersahutan dan para pedagang kaki lima yang menolak menyerah pada terik. Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, ibu kota punya bahan perbincangan lain: toko-toko emas yang mendadak kehilangan isinya dalam hitungan menit. Para penjaga hanya sempat melihat kilatan pistol, dengar suara letusan ke udara, lalu mendapati etalase tergerus sepi. Nama pencurinya tidak langsung muncul. Ia seperti kabut pagi yang menyelinap sebelum matahari sempat mengejar. Lama kemudian, orang mengenalnya sebagai Johny Indo, tokoh yang kelak dipandang sebagian orang sebagai perampok berparas bintang film dengan hati selembut jalan kampung setelah hujan.

Sosok ini terlahir dengan nama yang terlalu panjang untuk poster iklan: Johanes Hubertus Eijkenboom. Ia lahir di Garut, 6 November 1948, sebagai hasil pertemuan seorang serdadu Belanda yang datang saat masa agresi militer dan seorang perempuan Indonesia yang kelak menjadi ibunya. Dari sanalah panggilan Indo menempel di belakang namanya. Bukan pilihan sendiri, tentu saja. Lingkungannya yang memberi hadiah itu. Di masa itu, punya darah campuran berarti memikul sedikit rasa kikuk. Namun rasa itu pelan-pelan luluh ketika wajahnya tumbuh makin rupawan dan kamera-kamera iklan mulai memintanya tampil.

Johny muda sempat bekerja di bengkel ayahnya, lalu menjadi sopir truk, lalu kembali menjadi pria yang dibayar untuk memajang wajahnya. Ia menikah pada usia 16 tahun, usia ketika kebanyakan anak lain sibuk berdebat soal siapa bintang rock yang paling keren. Kehidupan berkelok ini tampaknya membentuk instingnya melihat celah, memanfaatkan peluang, dan memilih jalan sendiri meski jalurnya aneh. Ia berpindah pekerjaan sebagaimana orang mengganti saluran televisi: cepat, spontan, dan kadang tanpa rencana.

Ketampanan wajah tidak menutup fakta bahwa pikirannya penuh bacaan berat. Ia memamah buku politik, perang, spionase, cowboy, silat China, dan sejarah. Di sela itu, ia menggemari film Robin Hood dan Si Pitung; dua figur yang menamonisasi gagasan bahwa mencuri dari orang kaya dan membaginya ke yang miskin adalah tindakan mulia, terutama jika dilakukan dengan gaya sedikit teatrikal. Gagasan itu meresap seperti kuah panas yang merembes ke dalam roti, menunggu saat tepat untuk membuktikan diri sebagai teori yang layak dicoba.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama

Dan saat itu datang pada 20 September 1977.

Johny tak melakukannya sendirian. Ia mengumpulkan belasan anak muda dan menamai mereka Pachinko, akronim dari Pasukan China Kota. Nama itu tidak sekadar lucu atau asing; ia memang sengaja membuat polisi memutar arah kecurigaan. Jakarta pada masa itu masih sibuk dengan stereotip. Bila kelompok perampok memakai nama berbau Mandarin, aparat pasti sibuk mencari pelaku di kawasan pecinan. Sementara itu, Johny dan kawan-kawan dengan santai mencuri mobil yang biasa jadi taksi gelap, menyelipkan supirnya ke Bogor, dan membawa kendaraan itu ke lokasi rampokan.

Kebon Kacang, Tanah Abang, jadi sasaran perdana. Johny mengeluarkan Smith & Wesson kaliber 32 dan Colt kaliber 45, dua barang yang membuatnya tampak seperti masuk ke set film koboi. Ia menembakkan peluru ke udara, membuat penjaga toko panik dan pelanggan tercecer. Emas-emas pun masuk ke tangan mereka dengan kecepatan seperti penjual bakso meracik mangkuk saat antrean panjang.

Setelah itu, mereka berwajah sangat berani. Rombongan justru kabur ke kawasan para jenderal dan pejabat di Kebayoran Baru, seolah ingin meninggalkan pesan samar bahwa para pelakunya mungkin anak-anak tajir yang bosan. Polisi bingung. Orang-orang kaya gelisah. Dan Johny Indo mendapat reputasi yang, entah bagaimana, semakin memikat publik.

Yang membuatnya berbeda bukan hanya gaya aksinya, melainkan aturan yang ia terapkan. Ia menentukan bahwa korban haruslah orang kaya yang sombong atau asing yang dianggap mendapat keuntungan berlebih di Indonesia. Ia melarang anak buahnya menyakiti perempuan. Ia tidak menghendaki korban terluka. Pernah sekali ia secara tidak sengaja memukul korban, dan peristiwa itu membuatnya gelagap beberapa hari. Dalam benaknya, perampokan ideal adalah perampokan yang meninggalkan rasa lega, bukan nyawa melayang.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Renetan aksi demi aksi berjalan seperti orkestrasi. Sepanjang akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an, kelompok Pachinko mengumpulkan total 129 kilogram emas. Jumlah yang kini bisa membuat satu kecamatan mendadak kaya raya bila dibagian rata. Emas itu dilebur, lalu dijual ke penadah di seluruh Jakarta. Uang hasil penjualan digunakan Johny untuk hidup, foya-foya sewajarnya, dan—ini bagian yang membuat namanya melegenda—untuk dibagi kepada orang-orang miskin yang ia temui. Pada masa itu, tidak banyak perampok yang memegang prinsip demikian rapi.

Polisi makin geram. Pengejaran makin intens. Namun Johny selalu lolos, entah karena kecerdasannya atau karena aparat terlalu sibuk memeriksa kelompok lain akibat nama Pachinko yang menyesatkan.

Tangkapan layar film Johny Indo (1987).
Tangkapan layar film Johny Indo (1987).

Petualangan Baru Johny Setelah Ditangkap Polisi

Hukum, seperti biasa, bukan hal yang bisa dihindari terlalu lama. Pada 26 April 1979, Johny tertangkap di sebuah gua persembunyian di Cisaat, Sukabumi. Ia merupakan orang terakhir dari kelompoknya yang dijaring aparat. Pengadilan menjatuhkan total 14 tahun hukuman: sebagian untuk perampokan, sebagian untuk senjata api yang ia koleksi seperti orang mengoleksi korek Zippo.

Ia digiring ke Nusakambangan, pulau dengan reputasi tak kalah seram dari cerita-cerita horor lokal. Nusakambangan dianggap mustahil ditembus; ada tembok, penjaga, dan reputasi yang membuat narapidana berpikir ulang untuk memberontak. Namun Johny memandang pulau itu seperti sebuah teka-teki yang menantang: bila ada tempat yang disebut mustahil dikaburkan, justru di situlah petualangan sesungguhnya menunggu.

Baca Juga: Sejarah Letusan Krakatau 1883, Kiamat Kecil yang Guncang Iklim Bumi

Kemudian pecahlah berita yang membuat orang menganga. Johny melarikan diri bersama 34 narapidana lain. Bagaimana ia melakukannya tetap jadi cerita yang berubah-ubah tergantung siapa yang menuturkannya. Ada yang bilang ia memanfaatkan keteledoran penjaga. Ada yang menuturkan ia memetakan jalur kawat dan pengawasan seperti agen mata-mata. Ada pula yang yakin bahwa Johny hanya mengikuti arus kesempatan yang mendadak datang. Yang jelas, ia bertahan 11 hari di luar, sebelum akhirnya menyerahkan diri.

Kenapa ia menyerah? Itu bagian yang ia sendiri kabarnya tidak bisa menjelaskan. Bisa jadi ia lelah. Bisa jadi ia sadar bahwa hidup di luar penjara tanpa rencana sama saja seperti bermain ular tangga dengan aturan yang tidak lengkap. Apa pun alasannya, kisah itu membuat namanya semakin besar. Bahkan ketika bertahun-tahun kemudian ada narapidana lain yang mencoba kabur, orang-orang selalu mengingat Johny sebagai pionir pelarian paling dramatis dari Nusakambangan.

Setelah menjalani hukuman dan bebas murni dari penjara pada akhir 1980-an, Johny keluar sebagai pria yang tampaknya sudah membalik lembar. Ia memeluk Islam dan mengambil nama Umar Billah. Di tahun-tahun berikutnya, ia berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Hidupnya tidak kembali ke emas dan pistol. Ia malah menjual batu akik di Pasar Poncol, mendirikan John Indo Foundation, membuka taman baca, dan menuliskan buku berjudul “Johny Indo: Tobat dan Harapan” yang terbit pada 1990. Ada yang mengatakan ia kembali memeluk agama lama menjelang akhir hidupnya, tapi perubahan itu tidak menghapus perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Film mengenai kisah hidupnya dirilis pada 1987. Judulnya langsung mencantumkan namanya sendiri, seolah dunia setuju bahwa kisah Johny Indo tak butuh metafora atau nama samaran.

Sepanjang akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Johny aktif membintangi berbagai film aksi dan drama, sering memerankan karakter preman atau pemberontak tangguh. Beberapa film terkenal termasuk "Badai Jalanan" (1989), "Tembok Derita" (1990) sebagai Edo, "Tongkat Sakti Puspanaga" (1990) sebagai Kalingga, dan "Ajian Ratu Laut Kidul" (1991) sebagai Anggoro. Selain itu, ia terlibat dalam belasan judul lain yang memanfaatkan image-nya sebagai mantan perampok, seperti cerita misteri, petualangan, dan konflik jalanan.

Baca Juga: Sejarah Tragedi Bintaro 1987, Kecelakaan Kereta Terparah di Indonesia

Di masa tuanya, Johny beralih menjadi penceramah agama Islam, berkeliling dakwah. Johny Indo meninggal pada 26 Januari 2020 karena penyakit hernia. Usianya 72 tahun. Ia dimakamkan di TPU Selapanjang Tangerang dengan prosesi Islam, meski keluarganya banyak yang beragama Kristen. Ia pergi dengan pelan, tanpa gemuruh, tanpa pistol, tanpa emas. Namun kisahnya tetap menyelinap di antara narasi kriminal Indonesia, menjadi legenda yang berada di antara batas tipis: seorang perampok yang dikenal baik hati, seorang aktor yang punya masa lalu gelap, seorang anak Garut yang tumbuh dengan wajah blasteran dan kepala penuh cerita.

Hingga kini, nama Johny Indo tetap hidup, kadang di warung kopi, kadang di kisah-kisah nostalgia, kadang muncul lagi ketika film-film kriminal mencoba mencari inspirasi. Ia adalah gambaran bahwa hidup bisa memutar tajam, dan seseorang dapat menjadi banyak hal dalam satu tubuh: model tampan, perampok flamboyan, legenda pelarian, penjual batu akik, penulis buku, tokoh kultus kecil. Semuanya melebur menjadi satu nama yang sulit dilupakan.tangan mereka.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)