Hikayat Johny Indo, Robin Hood Garut Pemburu Harta Orang Kaya

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Johny Indo, Robin Hood dari Garut.
Johny Indo, Robin Hood dari Garut.

AYOBANDUNG.ID - Pernah ada masa ketika Jakarta tidak hanya dipenuhi klakson bersahutan dan para pedagang kaki lima yang menolak menyerah pada terik. Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, ibu kota punya bahan perbincangan lain: toko-toko emas yang mendadak kehilangan isinya dalam hitungan menit. Para penjaga hanya sempat melihat kilatan pistol, dengar suara letusan ke udara, lalu mendapati etalase tergerus sepi. Nama pencurinya tidak langsung muncul. Ia seperti kabut pagi yang menyelinap sebelum matahari sempat mengejar. Lama kemudian, orang mengenalnya sebagai Johny Indo, tokoh yang kelak dipandang sebagian orang sebagai perampok berparas bintang film dengan hati selembut jalan kampung setelah hujan.

Sosok ini terlahir dengan nama yang terlalu panjang untuk poster iklan: Johanes Hubertus Eijkenboom. Ia lahir di Garut, 6 November 1948, sebagai hasil pertemuan seorang serdadu Belanda yang datang saat masa agresi militer dan seorang perempuan Indonesia yang kelak menjadi ibunya. Dari sanalah panggilan Indo menempel di belakang namanya. Bukan pilihan sendiri, tentu saja. Lingkungannya yang memberi hadiah itu. Di masa itu, punya darah campuran berarti memikul sedikit rasa kikuk. Namun rasa itu pelan-pelan luluh ketika wajahnya tumbuh makin rupawan dan kamera-kamera iklan mulai memintanya tampil.

Johny muda sempat bekerja di bengkel ayahnya, lalu menjadi sopir truk, lalu kembali menjadi pria yang dibayar untuk memajang wajahnya. Ia menikah pada usia 16 tahun, usia ketika kebanyakan anak lain sibuk berdebat soal siapa bintang rock yang paling keren. Kehidupan berkelok ini tampaknya membentuk instingnya melihat celah, memanfaatkan peluang, dan memilih jalan sendiri meski jalurnya aneh. Ia berpindah pekerjaan sebagaimana orang mengganti saluran televisi: cepat, spontan, dan kadang tanpa rencana.

Ketampanan wajah tidak menutup fakta bahwa pikirannya penuh bacaan berat. Ia memamah buku politik, perang, spionase, cowboy, silat China, dan sejarah. Di sela itu, ia menggemari film Robin Hood dan Si Pitung; dua figur yang menamonisasi gagasan bahwa mencuri dari orang kaya dan membaginya ke yang miskin adalah tindakan mulia, terutama jika dilakukan dengan gaya sedikit teatrikal. Gagasan itu meresap seperti kuah panas yang merembes ke dalam roti, menunggu saat tepat untuk membuktikan diri sebagai teori yang layak dicoba.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama

Dan saat itu datang pada 20 September 1977.

Johny tak melakukannya sendirian. Ia mengumpulkan belasan anak muda dan menamai mereka Pachinko, akronim dari Pasukan China Kota. Nama itu tidak sekadar lucu atau asing; ia memang sengaja membuat polisi memutar arah kecurigaan. Jakarta pada masa itu masih sibuk dengan stereotip. Bila kelompok perampok memakai nama berbau Mandarin, aparat pasti sibuk mencari pelaku di kawasan pecinan. Sementara itu, Johny dan kawan-kawan dengan santai mencuri mobil yang biasa jadi taksi gelap, menyelipkan supirnya ke Bogor, dan membawa kendaraan itu ke lokasi rampokan.

Kebon Kacang, Tanah Abang, jadi sasaran perdana. Johny mengeluarkan Smith & Wesson kaliber 32 dan Colt kaliber 45, dua barang yang membuatnya tampak seperti masuk ke set film koboi. Ia menembakkan peluru ke udara, membuat penjaga toko panik dan pelanggan tercecer. Emas-emas pun masuk ke tangan mereka dengan kecepatan seperti penjual bakso meracik mangkuk saat antrean panjang.

Setelah itu, mereka berwajah sangat berani. Rombongan justru kabur ke kawasan para jenderal dan pejabat di Kebayoran Baru, seolah ingin meninggalkan pesan samar bahwa para pelakunya mungkin anak-anak tajir yang bosan. Polisi bingung. Orang-orang kaya gelisah. Dan Johny Indo mendapat reputasi yang, entah bagaimana, semakin memikat publik.

Yang membuatnya berbeda bukan hanya gaya aksinya, melainkan aturan yang ia terapkan. Ia menentukan bahwa korban haruslah orang kaya yang sombong atau asing yang dianggap mendapat keuntungan berlebih di Indonesia. Ia melarang anak buahnya menyakiti perempuan. Ia tidak menghendaki korban terluka. Pernah sekali ia secara tidak sengaja memukul korban, dan peristiwa itu membuatnya gelagap beberapa hari. Dalam benaknya, perampokan ideal adalah perampokan yang meninggalkan rasa lega, bukan nyawa melayang.

Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi

Renetan aksi demi aksi berjalan seperti orkestrasi. Sepanjang akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an, kelompok Pachinko mengumpulkan total 129 kilogram emas. Jumlah yang kini bisa membuat satu kecamatan mendadak kaya raya bila dibagian rata. Emas itu dilebur, lalu dijual ke penadah di seluruh Jakarta. Uang hasil penjualan digunakan Johny untuk hidup, foya-foya sewajarnya, dan—ini bagian yang membuat namanya melegenda—untuk dibagi kepada orang-orang miskin yang ia temui. Pada masa itu, tidak banyak perampok yang memegang prinsip demikian rapi.

Polisi makin geram. Pengejaran makin intens. Namun Johny selalu lolos, entah karena kecerdasannya atau karena aparat terlalu sibuk memeriksa kelompok lain akibat nama Pachinko yang menyesatkan.

Tangkapan layar film Johny Indo (1987).
Tangkapan layar film Johny Indo (1987).

Petualangan Baru Johny Setelah Ditangkap Polisi

Hukum, seperti biasa, bukan hal yang bisa dihindari terlalu lama. Pada 26 April 1979, Johny tertangkap di sebuah gua persembunyian di Cisaat, Sukabumi. Ia merupakan orang terakhir dari kelompoknya yang dijaring aparat. Pengadilan menjatuhkan total 14 tahun hukuman: sebagian untuk perampokan, sebagian untuk senjata api yang ia koleksi seperti orang mengoleksi korek Zippo.

Ia digiring ke Nusakambangan, pulau dengan reputasi tak kalah seram dari cerita-cerita horor lokal. Nusakambangan dianggap mustahil ditembus; ada tembok, penjaga, dan reputasi yang membuat narapidana berpikir ulang untuk memberontak. Namun Johny memandang pulau itu seperti sebuah teka-teki yang menantang: bila ada tempat yang disebut mustahil dikaburkan, justru di situlah petualangan sesungguhnya menunggu.

Baca Juga: Sejarah Letusan Krakatau 1883, Kiamat Kecil yang Guncang Iklim Bumi

Kemudian pecahlah berita yang membuat orang menganga. Johny melarikan diri bersama 34 narapidana lain. Bagaimana ia melakukannya tetap jadi cerita yang berubah-ubah tergantung siapa yang menuturkannya. Ada yang bilang ia memanfaatkan keteledoran penjaga. Ada yang menuturkan ia memetakan jalur kawat dan pengawasan seperti agen mata-mata. Ada pula yang yakin bahwa Johny hanya mengikuti arus kesempatan yang mendadak datang. Yang jelas, ia bertahan 11 hari di luar, sebelum akhirnya menyerahkan diri.

Kenapa ia menyerah? Itu bagian yang ia sendiri kabarnya tidak bisa menjelaskan. Bisa jadi ia lelah. Bisa jadi ia sadar bahwa hidup di luar penjara tanpa rencana sama saja seperti bermain ular tangga dengan aturan yang tidak lengkap. Apa pun alasannya, kisah itu membuat namanya semakin besar. Bahkan ketika bertahun-tahun kemudian ada narapidana lain yang mencoba kabur, orang-orang selalu mengingat Johny sebagai pionir pelarian paling dramatis dari Nusakambangan.

Setelah menjalani hukuman dan bebas murni dari penjara pada akhir 1980-an, Johny keluar sebagai pria yang tampaknya sudah membalik lembar. Ia memeluk Islam dan mengambil nama Umar Billah. Di tahun-tahun berikutnya, ia berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Hidupnya tidak kembali ke emas dan pistol. Ia malah menjual batu akik di Pasar Poncol, mendirikan John Indo Foundation, membuka taman baca, dan menuliskan buku berjudul “Johny Indo: Tobat dan Harapan” yang terbit pada 1990. Ada yang mengatakan ia kembali memeluk agama lama menjelang akhir hidupnya, tapi perubahan itu tidak menghapus perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Film mengenai kisah hidupnya dirilis pada 1987. Judulnya langsung mencantumkan namanya sendiri, seolah dunia setuju bahwa kisah Johny Indo tak butuh metafora atau nama samaran.

Sepanjang akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Johny aktif membintangi berbagai film aksi dan drama, sering memerankan karakter preman atau pemberontak tangguh. Beberapa film terkenal termasuk "Badai Jalanan" (1989), "Tembok Derita" (1990) sebagai Edo, "Tongkat Sakti Puspanaga" (1990) sebagai Kalingga, dan "Ajian Ratu Laut Kidul" (1991) sebagai Anggoro. Selain itu, ia terlibat dalam belasan judul lain yang memanfaatkan image-nya sebagai mantan perampok, seperti cerita misteri, petualangan, dan konflik jalanan.

Baca Juga: Sejarah Tragedi Bintaro 1987, Kecelakaan Kereta Terparah di Indonesia

Di masa tuanya, Johny beralih menjadi penceramah agama Islam, berkeliling dakwah. Johny Indo meninggal pada 26 Januari 2020 karena penyakit hernia. Usianya 72 tahun. Ia dimakamkan di TPU Selapanjang Tangerang dengan prosesi Islam, meski keluarganya banyak yang beragama Kristen. Ia pergi dengan pelan, tanpa gemuruh, tanpa pistol, tanpa emas. Namun kisahnya tetap menyelinap di antara narasi kriminal Indonesia, menjadi legenda yang berada di antara batas tipis: seorang perampok yang dikenal baik hati, seorang aktor yang punya masa lalu gelap, seorang anak Garut yang tumbuh dengan wajah blasteran dan kepala penuh cerita.

Hingga kini, nama Johny Indo tetap hidup, kadang di warung kopi, kadang di kisah-kisah nostalgia, kadang muncul lagi ketika film-film kriminal mencoba mencari inspirasi. Ia adalah gambaran bahwa hidup bisa memutar tajam, dan seseorang dapat menjadi banyak hal dalam satu tubuh: model tampan, perampok flamboyan, legenda pelarian, penjual batu akik, penulis buku, tokoh kultus kecil. Semuanya melebur menjadi satu nama yang sulit dilupakan.tangan mereka.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.