AYOBANDUNG.ID - Pernah ada masa ketika Jakarta tidak hanya dipenuhi klakson bersahutan dan para pedagang kaki lima yang menolak menyerah pada terik. Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, ibu kota punya bahan perbincangan lain: toko-toko emas yang mendadak kehilangan isinya dalam hitungan menit. Para penjaga hanya sempat melihat kilatan pistol, dengar suara letusan ke udara, lalu mendapati etalase tergerus sepi. Nama pencurinya tidak langsung muncul. Ia seperti kabut pagi yang menyelinap sebelum matahari sempat mengejar. Lama kemudian, orang mengenalnya sebagai Johny Indo, tokoh yang kelak dipandang sebagian orang sebagai perampok berparas bintang film dengan hati selembut jalan kampung setelah hujan.
Sosok ini terlahir dengan nama yang terlalu panjang untuk poster iklan: Johanes Hubertus Eijkenboom. Ia lahir di Garut, 6 November 1948, sebagai hasil pertemuan seorang serdadu Belanda yang datang saat masa agresi militer dan seorang perempuan Indonesia yang kelak menjadi ibunya. Dari sanalah panggilan Indo menempel di belakang namanya. Bukan pilihan sendiri, tentu saja. Lingkungannya yang memberi hadiah itu. Di masa itu, punya darah campuran berarti memikul sedikit rasa kikuk. Namun rasa itu pelan-pelan luluh ketika wajahnya tumbuh makin rupawan dan kamera-kamera iklan mulai memintanya tampil.
Johny muda sempat bekerja di bengkel ayahnya, lalu menjadi sopir truk, lalu kembali menjadi pria yang dibayar untuk memajang wajahnya. Ia menikah pada usia 16 tahun, usia ketika kebanyakan anak lain sibuk berdebat soal siapa bintang rock yang paling keren. Kehidupan berkelok ini tampaknya membentuk instingnya melihat celah, memanfaatkan peluang, dan memilih jalan sendiri meski jalurnya aneh. Ia berpindah pekerjaan sebagaimana orang mengganti saluran televisi: cepat, spontan, dan kadang tanpa rencana.
Ketampanan wajah tidak menutup fakta bahwa pikirannya penuh bacaan berat. Ia memamah buku politik, perang, spionase, cowboy, silat China, dan sejarah. Di sela itu, ia menggemari film Robin Hood dan Si Pitung; dua figur yang menamonisasi gagasan bahwa mencuri dari orang kaya dan membaginya ke yang miskin adalah tindakan mulia, terutama jika dilakukan dengan gaya sedikit teatrikal. Gagasan itu meresap seperti kuah panas yang merembes ke dalam roti, menunggu saat tepat untuk membuktikan diri sebagai teori yang layak dicoba.
Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama
Dan saat itu datang pada 20 September 1977.
Johny tak melakukannya sendirian. Ia mengumpulkan belasan anak muda dan menamai mereka Pachinko, akronim dari Pasukan China Kota. Nama itu tidak sekadar lucu atau asing; ia memang sengaja membuat polisi memutar arah kecurigaan. Jakarta pada masa itu masih sibuk dengan stereotip. Bila kelompok perampok memakai nama berbau Mandarin, aparat pasti sibuk mencari pelaku di kawasan pecinan. Sementara itu, Johny dan kawan-kawan dengan santai mencuri mobil yang biasa jadi taksi gelap, menyelipkan supirnya ke Bogor, dan membawa kendaraan itu ke lokasi rampokan.
Kebon Kacang, Tanah Abang, jadi sasaran perdana. Johny mengeluarkan Smith & Wesson kaliber 32 dan Colt kaliber 45, dua barang yang membuatnya tampak seperti masuk ke set film koboi. Ia menembakkan peluru ke udara, membuat penjaga toko panik dan pelanggan tercecer. Emas-emas pun masuk ke tangan mereka dengan kecepatan seperti penjual bakso meracik mangkuk saat antrean panjang.
Setelah itu, mereka berwajah sangat berani. Rombongan justru kabur ke kawasan para jenderal dan pejabat di Kebayoran Baru, seolah ingin meninggalkan pesan samar bahwa para pelakunya mungkin anak-anak tajir yang bosan. Polisi bingung. Orang-orang kaya gelisah. Dan Johny Indo mendapat reputasi yang, entah bagaimana, semakin memikat publik.
Yang membuatnya berbeda bukan hanya gaya aksinya, melainkan aturan yang ia terapkan. Ia menentukan bahwa korban haruslah orang kaya yang sombong atau asing yang dianggap mendapat keuntungan berlebih di Indonesia. Ia melarang anak buahnya menyakiti perempuan. Ia tidak menghendaki korban terluka. Pernah sekali ia secara tidak sengaja memukul korban, dan peristiwa itu membuatnya gelagap beberapa hari. Dalam benaknya, perampokan ideal adalah perampokan yang meninggalkan rasa lega, bukan nyawa melayang.
Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi
Renetan aksi demi aksi berjalan seperti orkestrasi. Sepanjang akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an, kelompok Pachinko mengumpulkan total 129 kilogram emas. Jumlah yang kini bisa membuat satu kecamatan mendadak kaya raya bila dibagian rata. Emas itu dilebur, lalu dijual ke penadah di seluruh Jakarta. Uang hasil penjualan digunakan Johny untuk hidup, foya-foya sewajarnya, dan—ini bagian yang membuat namanya melegenda—untuk dibagi kepada orang-orang miskin yang ia temui. Pada masa itu, tidak banyak perampok yang memegang prinsip demikian rapi.
Polisi makin geram. Pengejaran makin intens. Namun Johny selalu lolos, entah karena kecerdasannya atau karena aparat terlalu sibuk memeriksa kelompok lain akibat nama Pachinko yang menyesatkan.

Petualangan Baru Johny Setelah Ditangkap Polisi
Hukum, seperti biasa, bukan hal yang bisa dihindari terlalu lama. Pada 26 April 1979, Johny tertangkap di sebuah gua persembunyian di Cisaat, Sukabumi. Ia merupakan orang terakhir dari kelompoknya yang dijaring aparat. Pengadilan menjatuhkan total 14 tahun hukuman: sebagian untuk perampokan, sebagian untuk senjata api yang ia koleksi seperti orang mengoleksi korek Zippo.
Ia digiring ke Nusakambangan, pulau dengan reputasi tak kalah seram dari cerita-cerita horor lokal. Nusakambangan dianggap mustahil ditembus; ada tembok, penjaga, dan reputasi yang membuat narapidana berpikir ulang untuk memberontak. Namun Johny memandang pulau itu seperti sebuah teka-teki yang menantang: bila ada tempat yang disebut mustahil dikaburkan, justru di situlah petualangan sesungguhnya menunggu.
Baca Juga: Sejarah Letusan Krakatau 1883, Kiamat Kecil yang Guncang Iklim Bumi
Kemudian pecahlah berita yang membuat orang menganga. Johny melarikan diri bersama 34 narapidana lain. Bagaimana ia melakukannya tetap jadi cerita yang berubah-ubah tergantung siapa yang menuturkannya. Ada yang bilang ia memanfaatkan keteledoran penjaga. Ada yang menuturkan ia memetakan jalur kawat dan pengawasan seperti agen mata-mata. Ada pula yang yakin bahwa Johny hanya mengikuti arus kesempatan yang mendadak datang. Yang jelas, ia bertahan 11 hari di luar, sebelum akhirnya menyerahkan diri.
Kenapa ia menyerah? Itu bagian yang ia sendiri kabarnya tidak bisa menjelaskan. Bisa jadi ia lelah. Bisa jadi ia sadar bahwa hidup di luar penjara tanpa rencana sama saja seperti bermain ular tangga dengan aturan yang tidak lengkap. Apa pun alasannya, kisah itu membuat namanya semakin besar. Bahkan ketika bertahun-tahun kemudian ada narapidana lain yang mencoba kabur, orang-orang selalu mengingat Johny sebagai pionir pelarian paling dramatis dari Nusakambangan.
Setelah menjalani hukuman dan bebas murni dari penjara pada akhir 1980-an, Johny keluar sebagai pria yang tampaknya sudah membalik lembar. Ia memeluk Islam dan mengambil nama Umar Billah. Di tahun-tahun berikutnya, ia berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Hidupnya tidak kembali ke emas dan pistol. Ia malah menjual batu akik di Pasar Poncol, mendirikan John Indo Foundation, membuka taman baca, dan menuliskan buku berjudul “Johny Indo: Tobat dan Harapan” yang terbit pada 1990. Ada yang mengatakan ia kembali memeluk agama lama menjelang akhir hidupnya, tapi perubahan itu tidak menghapus perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Film mengenai kisah hidupnya dirilis pada 1987. Judulnya langsung mencantumkan namanya sendiri, seolah dunia setuju bahwa kisah Johny Indo tak butuh metafora atau nama samaran.
Sepanjang akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Johny aktif membintangi berbagai film aksi dan drama, sering memerankan karakter preman atau pemberontak tangguh. Beberapa film terkenal termasuk "Badai Jalanan" (1989), "Tembok Derita" (1990) sebagai Edo, "Tongkat Sakti Puspanaga" (1990) sebagai Kalingga, dan "Ajian Ratu Laut Kidul" (1991) sebagai Anggoro. Selain itu, ia terlibat dalam belasan judul lain yang memanfaatkan image-nya sebagai mantan perampok, seperti cerita misteri, petualangan, dan konflik jalanan.
Baca Juga: Sejarah Tragedi Bintaro 1987, Kecelakaan Kereta Terparah di Indonesia
Di masa tuanya, Johny beralih menjadi penceramah agama Islam, berkeliling dakwah. Johny Indo meninggal pada 26 Januari 2020 karena penyakit hernia. Usianya 72 tahun. Ia dimakamkan di TPU Selapanjang Tangerang dengan prosesi Islam, meski keluarganya banyak yang beragama Kristen. Ia pergi dengan pelan, tanpa gemuruh, tanpa pistol, tanpa emas. Namun kisahnya tetap menyelinap di antara narasi kriminal Indonesia, menjadi legenda yang berada di antara batas tipis: seorang perampok yang dikenal baik hati, seorang aktor yang punya masa lalu gelap, seorang anak Garut yang tumbuh dengan wajah blasteran dan kepala penuh cerita.
Hingga kini, nama Johny Indo tetap hidup, kadang di warung kopi, kadang di kisah-kisah nostalgia, kadang muncul lagi ketika film-film kriminal mencoba mencari inspirasi. Ia adalah gambaran bahwa hidup bisa memutar tajam, dan seseorang dapat menjadi banyak hal dalam satu tubuh: model tampan, perampok flamboyan, legenda pelarian, penjual batu akik, penulis buku, tokoh kultus kecil. Semuanya melebur menjadi satu nama yang sulit dilupakan.tangan mereka.
