Hikayat Perampokan Toko Emas ABC Bandung, Ketika Pasirkoja Berubah jadi Ladang Peluru

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Toko Emas ABC di Pasirkoja. (Sumber: Google Earth)
Toko Emas ABC di Pasirkoja. (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Suasana malam di Bandung sesungguhnya punya reputasi baik: dingin seperlunya, angin lembut, dan suasana yang ideal untuk menyeruput minuman hangat sambil menonton lalu lintas yang kadang macet, kadang lengang seperti jalan menuju hati gebetan. Tetapi Kamis, 12 April 2007, bukanlah malam yang hendak dikenang romantis oleh siapa pun yang kebetulan melintas di Jalan Terusan Pasir Koja. Jalan yang biasanya cuma ribut oleh deru angkot mendadak berubah panggung bagi sebuah lakon yang bahkan para penonton dadakan pun sepakat terlalu brutal untuk ukuran kota yang lebih dikenal oleh wisatawan karena batagor dan pemandangan Dago Atas.

Waktu menunjuk pukul setengah delapan malam ketika enam orang lelaki dengan wajah yang kemungkinan besar tidak akan dipakai dalam iklan asuransi, datang membawa senjata api dan menodai udara dengan tembakan. Toko Emas ABC, tempat orang biasanya datang mencari cincin lamaran atau gelang untuk baptisan keponakan, menjadi arena peluru yang beterbangan seperti lebah yang disiram air panas. Dua orang tak pulang malam itu, delapan lainnya berakhir di rumah sakit, dan Bandung mendapat pengingat keras bahwa kriminalitas kadang lebih rajin daripada ronda kampung.

Di pusat kekacauan itu, sang pemilik toko yang sudah sepuh, Suwarto alias Tongki, menjadi korban pertama. Seorang pengunjung muda bernama M Taufik menyusul tak lama kemudian. Kota yang biasanya membicarakan harga oleh-oleh dan pilihan kafe tiba-tiba punya topik lain: bagaimana perampokan bisa sekejam itu di tengah keramaian.

Yang lebih membingungkan polisi dan warga yang datang esoknya adalah etalase toko yang, entah bagaimana caranya, tetap berdiri tanpa pecah. Toko berbentuk huruf U itu memang retak di sana-sini, kacanya berserakan seperti serpih es serut, tetapi tempat memajang perhiasan tetap utuh. Sulit membayangkan bagaimana emas-emas itu lenyap tanpa tirai kaca menjadi korban. Orang-orang mulai mereka-reka: mungkin para perampok membawa kunci duplikat, mungkin mereka jagoan sulap, atau mungkin etalasenya jauh lebih kokoh daripada harga emas itu sendiri. Yang jelas, malam itu para pelaku bekerja seperti tim yang sudah lama latihan.

Baca Juga: Hikayat Janggal Pembunuhan Brutal Wanita Jepang Istri Pengacara di Bandung

Belakangan terungkap bahwa kawanan tersebut sudah rapat tiga kali sebelum bergerak. Mereka tak tampak seperti gerombolan yang mengambil keputusan spontan berdasarkan mood. Ada seorang otak bernama Antoni, yang merancang operasi seperti orang mempersiapkan pesta kejutan, lengkap dengan pembagian tugas dan jalur pelarian. Anggota lain adalah Agus Cik alias Ijo, Fachrulian, Amir, Suheri, Apip, dan Ivan. Nama-nama yang kemudian memenuhi headline koran di kios-kios depan pom bensin.

Saat eksekusi, tujuh dari mereka datang dengan tiga sepeda motor. Antoni dan Amir masuk ke toko lebih dulu, lalu ada Suheri yang mondar-mandir seperti satpam gelisah. Di luar, ada trio penjaga: Agus, Ivan, dan Apip. Sementara di tempat lain, Fachrulian bersiaga dengan mobil Suzuki APV yang kelak menjadi kendaraan penuh harapan dan kepanikan dalam pelarian.

Begitu tembakan pertama meletus, suasana berubah dari percakapan kasir dan pelanggan menjadi simfoni kacau yang tak diinginkan siapa pun. Agus Cik kemudian mengakui dirinya ikut memencet pelatuk karena terpengaruh oleh Suheri yang menembak seolah sedang tampil di film aksi seri-B. Mereka bukan hanya menembak pemilik toko dan pengunjung, tapi juga empat polisi yang mencoba menutup jalan pelarian. Malam itu, Pasirkoja menjadi arena pertunjukan yang tak akan dimasukkan ke brosur pariwisata Bandung.

Setelah sekitar belasan menit yang terasa lebih panjang dari antrean di loket kereta api sebelum lebaran, para pelaku kabur. Delapan kilogram emas berhasil mereka bawa, jumlah yang cukup membuat siapa pun mendadak ingin belajar ilmu akuntansi. Nilai hampir satu miliar rupiah itu membuat kasus ini menjadi salah satu perampokan paling sensasional di Bandung pada masa itu.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Tapi emas yang berkilau itu juga mengundang pertanyaan lain. Dari cara mereka menembak, polisi menduga para pelaku bukan amir-amiran yang baru belajar menggunakan senjata. Muncullah spekulasi: apakah mereka punya latar belakang militer, anggota klub menembak, atau punya kedekatan dengan jaringan tertentu. Tapi dugaan tetaplah dugaan, dan persidangan tidak pernah membuktikan apa pun secara gamblang.

Keesokan harinya, ratusan warga berdatangan ke lokasi, sebagian karena ingin tahu, sebagian karena mungkin berharap emas yang jatuh dari langit benar-benar ada. Yang mereka temukan hanyalah toko yang ditutup police line, dan secarik pengumuman yang menjelaskan masa berkabung. Beberapa pembeli yang datang dengan niat memilih kalung untuk ulang tahun pasangan terpaksa balik kanan dengan muka masam. Jalanan pun macet oleh pengendara motor yang berhenti demi melihat-lihat. Bandung, seperti biasa, cepat mengubah tragedi menjadi tontonan.

Toko Emas ABC di Pasirkoja. (Sumber: Google Earth)
Toko Emas ABC di Pasirkoja. (Sumber: Google Earth)

Drama Penangkapan

Berbulan-bulan setelah malam kelam itu, polisi akhirnya berhasil membongkar simpul-simpul persembunyian kawanan tersebut. Satuan Reserse Mobil Polda Metro Jaya menjadi pihak pertama yang menangkap seorang tersangka pada awal Juni. Tak lama kemudian Kapolda Jawa Barat mengumumkan bahwa beberapa pelaku lain telah ditangkap, meski identitasnya dirahasiakan dulu demi penyelidikan.

Dua pelaku yang mencoba melawan akhirnya ditembak dan dirawat di rumah sakit. Agus Cik dan Fachrulian kemudian ditangkap di Garut, setelah sebelumnya diturunkan di Kebon Jeruk dan melanjutkan perjalanan dengan bus seperti penumpang biasa. Tidak ada yang menyangka dua lelaki yang naik bus malam itu baru saja ikut merampok toko emas.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

sang perancang rencana, Antoni, akhirnya tewas ditembak polisi dalam proses penangkapan. Suheri juga ditangkap, meski berkasnya tidak langsung sampai ke kejaksaan. Tiga nama lain, yaitu Amir, Apip, dan Ivan, masih belum ditemukan hingga akhir 2007.

Di pengadilan, dua terdakwa yang sudah ditangkap lebih dulu menjalani proses hukum yang berjalan lebih cepat dari dugaan masyarakat. Jaksa menuntut 15 tahun penjara. Namun putusan hakim menyatakan 10 tahun penjara, lima tahun lebih ringan dan cukup membuat banyak orang mendesah, bertanya-tanya tentang keadilan, dan kemudian melanjutkan hidup seperti biasa. Kuasa hukum terdakwa menganggap putusan itu lumayan adil. Jaksa juga merespons dengan nada yang terdengar seperti: ya sudahlah.

Sementara itu, masyarakat Bandung perlahan-lahan melupakan kejadian itu. Toko-toko emas lain tetap buka, menata kalung dan gelang seperti biasa. Yang berbeda hanyalah obrolan warung kopi yang bertahan cukup lama sebelum digeser oleh gosip lain: harga tanah, cuaca dingin di Lembang, atau kabar band indie lokal yang baru naik daun. Namun bagi sebagian kecil orang yang malam itu berada di Pasirkoja, suara tembakan masih bergaung samar di kepala mereka, tanda bahwa kota kadang punya sisi gelap yang tak muncul dalam kartu pos wisata.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)