Ketika Stum Menggilas Kenangan

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Ilustrasi stum yang sedang meratakan jalan di tahun 1980 an disaksikan masyarakat sekitar. (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi stum yang sedang meratakan jalan di tahun 1980 an disaksikan masyarakat sekitar. (Sumber: Gemini AI)

Beberapa hari terakhir, di dekat rumah hadir sebuah alat berat bernama stum atau vibro roller. Alat ini digunakan untuk memadatkan permukaan tanah dan aspal agar lebih rata, kuat, dan halus. Biasanya stum kita jumpai dalam proyek pembangunan jalan, jembatan, atau kawasan industri.

Namun bagi saya, kehadiran stum bukan sekadar tanda proyek infrastruktur. Ia justru menjadi pintu kenangan yang membawa ingatan kembali ke era 1980-an, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kala itu, jika ada stum meratakan jalan di dekat kampung, saya dan teman-teman selalu menyempatkan diri menonton. Sepulang sekolah atau sore hari, kami berkumpul di pinggir jalan, terpaku menyaksikan mesin besar itu bergerak perlahan sambil menggetarkan tanah. Ketika pekerja berhenti dan stum beristirahat, kami memberanikan diri meminta izin kepada operator untuk sekadar naik dan duduk di atasnya. Kadang kami bahkan diizinkan ikut naik sebentar saat mesin berjalan. Betapa bangganya kami. Pengalaman itu menjadi cerita seru yang dengan penuh antusias kami bagikan kepada teman-teman lain.

Bukan hanya anak-anak yang tertarik. Orang dewasa pun ikut menyaksikan. Ibu-ibu datang sambil menyuapi anak kecilnya, bapak-bapak mengangkat anak lelaki mereka ke pundak agar bisa melihat lebih jelas. Di sekitar lokasi proyek, tercipta suasana silaturahmi alami: berbincang, bercanda, dan berbagi cerita sambil menyaksikan pembangunan jalan desa. Sebuah hiburan sederhana yang menyatukan warga.

Stum atau vibro roller yang sedang parkir. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Stum atau vibro roller yang sedang parkir. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada masa itu, hiburan memang terbatas. Televisi masih hitam putih dan acaranya belum beragam. Dunia anak-anak lebih banyak berlangsung di luar rumah: bermain petak umpet, gatrik, kelereng, gobak sodor, dan berbagai permainan kreatif lainnya. Pelepah pisang bisa berubah menjadi pedang atau kuda-kudaan, pelepah kelapa menjadi kendaraan mainan yang ditarik bersama. Luka lecet di lutut atau siku bukan alasan berhenti bermain. Yang ada hanyalah tawa, keberanian, dan kebersamaan.

Jalan Raya Margahayu–Soreang pada tahun 1980-an sudah beraspal dan dua arah, tetapi belum selebar dan sepadat sekarang. Di sepanjang Margahayu, Katapang hingga Soreang, hamparan sawah, kebun, dan pepohonan rindang masih mendominasi. Kendaraan yang melintas pun terbatas: angkutan pedesaan, bus Bandung–Ciwidey, sepeda motor lawas, sepeda, serta delman atau gerobak.

Sore hari menjadi waktu favorit kami. Kami bergerombol di pinggir jalan menyaksikan kendaraan lalu-lalang. Jika ada gerobak lewat, kami berlari menghampiri dan bergelayut di bagian belakangnya. Dua anak di kiri dan kanan, berlomba siapa yang paling lama bertahan. Tidak ada rasa takut jatuh, yang ada hanya rasa bangga dan kegembiraan khas masa kanak-kanak.

Baca Juga: Bahasa Terus Tumbuh, tapi Negara Selalu Tertinggal? Membaca Ulang Arah KBBI di Era Digital

Semua itu terasa sangat berbeda dengan kondisi anak-anak saat ini. Kemajuan teknologi informasi dan digitalisasi telah banyak mengubah pola interaksi sosial generasi muda. Anak-anak kini lebih akrab dengan gawai, layar, dan dunia virtual. Interaksi langsung semakin berkurang, kreativitas spontan mulai tergeser, dan daya tahan menghadapi tantangan sering kali melemah karena terbiasa dengan serba instan.

Teknologi ibarat dua sisi mata pisau. Ia sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak: memudahkan belajar, membuka akses informasi, dan memperluas wawasan. Namun jika tidak terkontrol, ia dapat melukai: mengurangi empati sosial, kedekatan keluarga, dan kepekaan lingkungan. Banyak peringatan sudah disampaikan melalui seminar, kajian, maupun media, namun kesadaran kolektif masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Pada akhirnya, kemajuan zaman tidak dapat dihindari. Yang dapat kita pilih adalah bagaimana menyikapinya. Mengambil manfaatnya tanpa kehilangan nilai-nilai kebersamaan, keberanian, kreativitas, dan kedekatan sosial yang dahulu membentuk karakter kita. Seperti stum yang memadatkan jalan agar kokoh dilewati, semoga kenangan masa lalu juga memadatkan nilai-nilai kehidupan kita agar tetap kuat melangkah di tengah perubahan zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)