Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 20 Mei 2026, 10:13 WIB
Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)

Dalam keruwetan demi keruwetan yang kini terjadi di Lembang, ada segelintir manusia yang tergerak untuk mengembalikan kembali jati diri Lembang. Memang tidak banyak, mungkin hanya 10 persen dari warga lokal Lembang, itu pun telah disokong oleh semangat warga luar Lembang yang datang dari kesadaran yang sama, lahir dari kerinduan akan keindahan masa lalu yang tidak dapat diukur dari segi materi semata.

Pada 2009 saya mulai aktif di salah satu komunitas sejarah kota Bandung, yang didirikan oleh beberapa mahasiswa jurusan sejarah di Bandung. selain itu saya mulai berkenalan dengan seorang penulis buku-buku sejarah Bandung, yaitu Bapak Sudarsono Katam. Terkadang rasa iri saya pada Bandung muncul karena begitu banyak yang peduli pada kisah masa lalu Bandung, dari anak-anak mudanya hingga membuat sebuah komunitas sejarah yang pionir dan besar. Bandung juga dapat melahirkan sosok-sosok penulis yang mampu mengangkat kisah masa lalu Bandung hingga mampu melahirkan kesadaran kepada warga lainnya untuk menjaga Bandung.

Rasa iri saya adalah mengapa hal ini tak terjadi kepada Lembang. Lembang juga punya anak-anak muda, Lembang pun juga punya beberapa sosok sepuh yang mampu bercerita kisah masa lalu Lembang yang indah hingga dapat membangkitkan kesadaran warganya untuk mengembalikan jati diri Lembang. Namun, pada 2009 saya tidak dapat menemukan itu semua.

Hingga saya pun mulai berpikir, apabila tidak ada, mari kita wujudkan sekarang, dimulai dari langkah sederhana dan kecil. Saya pun pada tahun 2009 mulai melakukan riset sejarah lisan demi menghimpun data-data sejarah Lembang.

Semua dimulai dari 2009, kemana pun saya melangkah di Lembang mulai hari itu saya mencatat, mewawancarai dan menyusunnya menjadi sebuah kesatuan kisah yang utuh. Tidaklah mudah memang, berbeda dengan keadaan di Bandung, Lembang adalah sebuah tantangan yang sulit ditaklukkan.

Selain data literasi yang minim, saya ditantang untuk menemukan beberapa narasumber yang mampu melahirkan data-data yang nantinya akan menjadi acuan saya untuk terus meneliti dan menciptakan dorongan kuat untuk mengembalikan keadaan Lembang, bukan hanya sekedar romantisme belaka, tapi melahirkan sebuah kesadaran bahwa tanah yang kita pijak ini terlalu berharga untuk diobrak-abrik para kapitalis hanya untuk mengeruk rupiah semata, melupakan kemanusiaan dalam bentuk menjaga ingatan kolektif kita pada jati diri Lembang yang seutuhnya.

Kesadaran itu tidak hanya akan lahir dari kisah-kisah masa lalu tapi juga dari kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan dari mulai dirumah masing-masing. Menjaga memang lebih sulit daripada mengawali, maka saya mulai berpikir untuk mulai menularkan virus cinta Lembang kepada sesama. Dimulai dari membuat beberapa komunitas pada 2015 yaitu Balad Junghuhn hingga pada 2016 yaitu Lembang Heritage. Memulai untuk melakukan sosialisasi kepada sekolah-sekolah tentang sejarah Lembang dan pentingnya menjaga lingkungan. Memang semua tidak mudah, jujur, sebanyak itu tantangannya hingga sebanyak itu pula saya ingin menyerah.

Memang merintis itu tidak mudah, hingga saya habiskan total melakukan semuanya itu selama 12 tahun, dan di tahun ke-13 saya mulai menuangkan semuanya pada tulisan dalam bentuk buku. Pada 2026 ini saya telah menghasilkan 5 buku kisah-kisah Lembang dan puluhan tulisan kolom pada Bandung Bergerak juga Ayo Bandung dalam bentuk online.

Kegiatan ekspedisi cagar budaya Lembang yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB 2025. (Sumber: Dokumentasi Karguna)
Kegiatan ekspedisi cagar budaya Lembang yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB 2025. (Sumber: Dokumentasi Karguna)

Selain itu juga saya memandu untuk kunjungan-kunjungan sejarah ke beberapa rute masa lalu Lembang, hingga Lembang kini lebih mulai dikenal kisah-kisah lamanya. Selain itu mulailah lahir beberapa sosok anak muda yang mulai tersadarkan, hingga Lembang semakin hari semakin memiliki warga yang tersadarkan.

Ada beberapa pemuda yang tergabung dalam komunitas Sejarah Lembang, Muda-mudi Lembang, Komunitas Pecinta Budaya Lembang dan masih banyak lagi. Banyak juga pecinta-pecinta sejarah dari daerah lain yang mulai mengangkat Lembang dalam bentuk konten, informasi dalam media sosial dan lain sebagainya. Terlebih lagi sekarang ini mulai ada bala bantuan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat yang benar-benar menyempurnakan semuanya. Buah yang saya nantikan selama belasan tahun telah tumbuh, buah yang sangat manis untuk pengharapan dan perjuangan yang sangat panjang.

Geliat ini semua adalah hadiah kecil kami untuk Lembang. Penyembuh luka menganga yang cukup lama terabaikan. Alhamdulillah, telah ada beberapa sekolah pun yang mau ikut andil dalam perjuangan panjang ini, salah satunya adalah sekolah alam Al-Hakim, sekolah Ibnu Khaldun dan SMP 1 Lembang. selain sekolah-sekolah tersebut dukungan pun datang dari pemerintahan desa Cikole yang sangat terbuka untuk mulai mengembalikan jati diri Lembang melalui data-data sejarah. Lalu dukungan datang dari para muda-mudi Lembang yang merupakan kumpulan para karang taruna yang mampu menyelenggarakan diskusi terbuka dalam membangkitkan ingatan kolektif kita tentang masa lalu Lembang yang indah.

Selain itu dukungan yang paling besar adalah dari para budayawan lokal Lembang yang tergabung dalam Kabuyutan Lembang hingga para budayawan lainnya terutama kang Iman Soleh dan para penggagas acara Ngertakeun Bumi Lamba. Sebuah upacara adat yang mampu diselenggarakan setiap tahunnya di kawasan Tangkuban Parahu. Upacara ini mampu membantu mengangkat budaya lokal menjadikan sebuah ciri khas yang kuat dan mengakar, hingga tidak mudah terpikat pada budaya asing yang hanya akan menghilangkan jati diri Lembang.

Kesemuanya ini adalah semata-mata untuk mengembalikan Lembang ke kodrat sejatinya sebagai tempat bernaung, mencipta, tetirah dan berbagi ilmu kebajikan seperti masa lalu Lembang.

Pupur dan gincu Lembang yang acak kadut berupa sentuhan-sentuhan para kapitalis semoga dapat teredam oleh kesadaran warga yang kembali terbangun akan rasa rindu pada jati diri Lembang yang asli, mari kita sama-sama mengembalikan keotentikan Lembang dengan mulai mengenal kisah masa lalunya, karena tak kenal maka tak sayang bukan?

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat, sehingga kita mampu tumbuh dengan semestinya, menjadi pribadi-pribadi indah di Lembang yang indah. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)