Perpustakaan sudah selaiknya diberi perhatian lebih oleh seluruh masyarakat dimanapun. Perpustakaan sebagai ruang keilmuan yang hakikatnya memberikan peluang bagi masyarakat mengembangkan diri melalui produktif membaca.
Perpustakaan bukan lagi sekadar ruang kosong, perpustakaan sudah merubah wajahnya menjadi rumah ilmu pengetahuan yang paling mutakhir.
Situasinya masyarakat di era digital menjadi apatis, segelintir yang masih peduli keberadaannya. Padahal perpustakaan menaungi masyarakat dari buta aksara, membuat masyarakat sekarang lebih betah membaca buku. Perpustakaan sebagai gerbang utama membuka pengetahuan yang sungguh-sungguh berdampak kepada keberlangsungan masyarakat di masa mendatang.
Terlebih permasalahan dimiliki masyarakat akhir-akhir ini seharusnya dapat diberi solusi melalui buku. Jendelanya ilmu pengetahuan, yang mampu memberi keleluasaan pengetahuan dan alternatif kehidupan yang sebaik-baiknya.
Perpustakaan bukan menjadi tanggung jawab dari pengelola semata, melainkan kolaborasi yang diperuntukkan kepada penta helix.
Sejurus dengan itu, ternyata masyarakat belum banyak menganggap pentingnya perpustakaan. Tidak banyak pemerintah yang serius memberikan kesempatan kepada masyarakatnya untuk membaca buku. Akibatnya kunjungan ke perpustakaan tidak memberi dampak signifikan. Kurangnya kunjungan ini perlu diberikan perhatian paling serius.
Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim. Meski ada kabar positif dari Dispusipda Jabar mendapatkan data pemustaka dari kalangan masyarakat terdapat 61,3% pemustaka merupakan pelajar dan lulusan S1.
Kunjungan ke Dispusipda Jabar meningkat dan memberikan sinyal bahwa perpustakaan sudah menyediakan sarana atau fasilitas yang sangat disukai oleh masyarakat.
Namun demikian, untuk menentukan solusi yang paling efektif, kita perlu mengidentifikasi tantangan terbesar dari perpustakaan yang mana stigma tempat yang membosankan.
Perpustakaan sering kali masih dianggap sebagai tempat yang kaku, sunyi, kuno, dan hanya berisi tumpukan buku berdebu. Koleksi buku kurang terbarukan, buku-bukunya hanya berisikan buku-buku lama, keminatan masyarakat sangat minimalis, yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Perpustakaan sudah kalah bersaing dengan gawai, mengingat bahwa gawai sudah mampu memberikan ruang baca digital, hiburan yang aktraktif dari media sosial dan platform yang digandrungi. Sementara perpustakaan belum memiliki inovasi yang mampu menggugah masyarakat berkunjung.
Sekalinya perpustakaan berbenah pun masih belum memberikan fasilitas pendukung yang masyarakat perlukan, wifi gratis pun terkadang masih belum tersedia dengan baik, jaringannya lemot dan kurang menunjukkan bahwa suasana di perpustakaan kurang nyaman dijadikan tempat membaca, utamanya bagi generasi Z.
Di sisi lainnya, lokasi dan aksesibilitas menjadi kebutuhan masyarakat. Akses transportasi yang sulit atau jam operasional perpustakaan yang bertabrakan dengan jam kerja atau sekolah bagi masyarakat. Jam operasional di perpustakaan masih mengikuti jam kerja pada umumnya. Padahal perpustakaan seharusnya menjadi tempat yang dipanjangkan waktunya bahkan harus 24 jam.
Untuk memberdayakan kunjungan masyarakat ke perpustakaan, perpustakaan harus bertransformasi. Tidak sekadar tempat bagi masyarakat untuk meminjam buku, melainkan tempat ternyaman untuk menjadi pusat berkumpulnya komunitas yang inklusif dan hidup di ruang perpustakaan.
Strategi Meningkatkan Kunjungan Masyarakat
Desain gedung perpustakaan juga penting direnovasi sebagus-bagusnya sesuai kebutuhan generasi Z. Transformasi ruang bagi perpustakaan sebagai kebijakan mutlak.
Generasi Z sangat antusias ketika perpustakaan didesain menyesuaikan generasinya. Perpustakaan dirubah menjadi tempat berdiskusi yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti Wi-Fi dan arus listrik lain untuk cas gawai masing-masing pengunjung.
Keterlibatan komunitas bukanlah hal yang dihindari. Melainkan keterikatan kepada komunitas menjadi peluang tersendiri bagi pengelola perpustakaan. Hadirnya kerjasama dengan komunitas membuat diversifikasi program, yang notabene tidak bersinggungan dengan perbukuan, namun masih beririsan tajam, akan tetapi dibuat dengan program yang dinamis.
Seperti menggandeng komunitas yang berkegiatan berhubungan juga dengan masyarakat dan sangat dibutuhkan. Di antaranya tentang pelatihan bahasa asing seperti bahasa inggris, bahasa Jepang, bahasa Korea, dan bahasa arab.
Menghadirkan juga kelas robotik/coding untuk anak-anak dan remaja, lokakarya UMKM, kelas menyunting video, kelas menjadi konten kreator yang handal. Skema lainnya dapat dipertajam dengan mengundang para ahbli di bidang masing-masing.
Di kota Bandung, layanan perpustakaan keliling terus dilaksanakan dalam kerjasama antar instansi, membuat pojok baca mandiri di fasilitas umum seperti taman kota atau stasiun, meski program buku digital melalui aplikasi diungkapkan sebagai alternatif bagi generasi Z kini.
Selanjutnya membuat konten kreatif dengan memanfaatkan media sosial untuk membuat konten menarik, ulasan buku dibalut podcast dan konten lainnya yang bersinggungan secara efektif.
Kehadiran kerjasama dengan dinas pendidikan dan kepala sekolah sebagai luaran yang pantas dihadirkan di ruang perpustakaan.
Manfaat Pemberdayaan Kunjungan
Tidak ada kata mustahil, perpustakaan dapat hidup untuk masyarakat yang berdampingan meluangkan waktu untuk berdiskusi, berargumentasi, serta beruraian cerita kehidupan. Menghidupkan kembali perpustakaan membawa dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Aspek dampak nyata untuk Masyarakat.
Terdapat tiga hal, pertama inklusivitas masyarakat bersosial, kedua, peningkatan kecakapan yang didesain secara tegas, berani, dan memberi nuansa seram, tetapi perpustakaan harus memiliki etika memasuki perpustakaan.
Selanjutnya, inklusivitas bagi masyarakat, agar mampu akses informasi, terlahirnya keberagaman masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan. Juga kesetaraan keilmuan yang diprakarsai bersama.

Kemudian, peningkatan kecakapan dan peningkatan literasi. Keduanya tidakterpisahkan. Hadirnya inkubator keterampilan baru yang diadaptasikan atau peningkatan kecakapan. Juga adanya pelatihan langsung dengan pelbagai topik pada umumnya, sehingga masyarakat menyadari bahwa di perpustakaan dapat menemukan pelbagai keilmuan yang gratis diaksesnya.
Terakhirnya, berhubungan dengan budaya literasi. Belum membudayakan aktivitas membaca dan menulis. Membaca sebagai aktivitas yang wajib, budaya literasi nggak sekadar mengimplementasikannya secara sederhana, tetapi nanti akan disulap menjadi ruang buku lebih banyak. Lebih bisa memberi akses yang representatif.
Wal akhir, pemerintahlah yang mampu menunjukkan keseriusannya. Jika pemerintah ingin masyarakat terbuka dan mau berkunjung ke perpustakaan lebih lama dibandingkan sebelumnya. Transformasi yang diharapkan generasi Z saat ini mengenai perubahan menyeluruh baik dari layanan, akses, bangunan, bahkan koleksi bukunya. Semoga terwujud, demi masyarakat yang cerdas menuju Indonesia Cerdas! (*)