Tung Tung Tung Sahur dan Anomali Absurd: Imajinasi Digital Generasi Alpha

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Tung Tung Tung Sahur. (Sumber: Youtube/Y.K. Music)
Tung Tung Tung Sahur. (Sumber: Youtube/Y.K. Music)

Sore itu saya duduk di teras, menatap langit yang mulai menguning, sambil menikmati teh Gopek khas Kota Tegal. Dari halaman depan, terdengar riuh tawa anak-anak bermain.

Tapi yang mereka mainkan bukan petak umpet atau lompat tali. Mereka saling melempar tebak-tebakan karakter aneh yang membuat saya mengernyit sekaligus tersenyum.

“Tralalero Tralala! Ikan hiu bersepatu!”
“Bombardino Crocodilo! Kepala buaya, badan jet!”
“Tung Tung Tung Sahur! Pentungan mengejar orang yang tidak bangun sahur!”
“Ballerina Cappuccina! Balerina dengan kepala cangkir kopi!”
“Chimpanzini Bananini! Kepala simpanse, badan kulit pisang!”

Bagi saya yang terbiasa dengan dongeng klasik dan tokoh kartun 90-an, karakter-karakter ini terdengar seperti lelucon absurd. Tapi bagi anak-anak, para Generasi Alpha, ini adalah bagian dari realitas bermain sehari-hari.

Imajinasi mereka dibentuk bukan dari buku cerita, melainkan dari potongan video TikTok, meme viral, remix karakter ala internet dan tren global

Generasi Alpha, anak-anak yang lahir setelah 2010, adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem digital. Menurut McCrindle & Fell (2020) dalam Generation Alpha: Understanding Our Children and Helping Them Thrive, mereka tidak mengenal dunia tanpa YouTube, iPad, atau media sosial. Mereka memiliki literasi digital dan visual sejak usia dini, dan sangat responsif terhadap tren yang cepat berubah.

Bermain dengan karakter “anomali” seperti ini adalah bentuk ekspresi sekaligus proses belajar informal. Mereka belajar berpikir lateral, memahami simbol, dan menciptakan dunia fiksi kolektif tanpa batas.

Tapi di sisi lain, ini juga menantang kemampuan mereka untuk fokus, membedakan realitas, dan memahami struktur narasi yang lebih panjang dan kompleks.

Anomali sebagai Budaya Pop Digital

Fenomena anomali yang kini viral di media sosial Indonesia bukanlah ciptaan murni anak-anak, melainkan hasil adaptasi dari sebuah tren global yang dikenal secara informal dengan sebutan “Italian Brainrot”. Tren ini pertama kali mencuat di TikTok sekitar Januari 2025 dan dengan cepat menyebar ke berbagai platform digital.

Italian Brainrot merupakan gelombang konten absurd berbasis AI yang ditandai oleh kehadiran karakter-karakter ganjil dengan nama-nama bergaya pseudo-Italia, seperti Bombardino Crocodilo, Tralalero Tralala, dan Chimpanzini Bananini. Karakter-karakter ini biasanya disajikan dengan visual yang tidak masuk akal, hasil manipulasi AI, disertai dengan narasi teatrikal yang dramatis, musik klasik Italia, dan humor yang mengaburkan batas antara lucu dan menyeramkan. Kontennya cepat, absurd, dan penuh kekacauan, namun justru di sanalah letak pesonanya.

Di Indonesia, tren ini diolah ulang oleh para kreator lokal dan diberi sentuhan khas Nusantara. Nama “anomali” dipilih sebagai label utama, sebuah kata yang menegaskan bahwa karakter-karakter ini memang “tidak normal”, mengganggu logika, tapi tetap menghibur.

Maka lahirlah karakter-karakter seperti Tung Tung Tung Sahur, yang menyatukan elemen tradisi lokal sahur dengan horor ringan; atau Gajah Tob Tobi Tob, yang memadukan bentuk hewan dan benda tak lazim dalam satu tubuh ganjil.

Meskipun istilah Italian Brainrot belum banyak dibahas dalam literatur akademik atau media arus utama, keberadaannya dapat dengan mudah ditelusuri melalui komunitas online seperti TikTok, serta forum-forum diskusi digital. Di sanalah tren ini berkembang sebagai bentuk ekspresi postmodern, menantang struktur narasi konvensional dan menyajikan absurditas sebagai bentuk hiburan baru.

Dengan demikian, “anomali” di Indonesia adalah hasil dari proses glokalisasi digital: tren global yang diterjemahkan ke dalam konteks lokal, dipopulerkan oleh generasi muda, dan kemudian menyatu dalam arus budaya populer nasional.

Adaptasi ini memperlihatkan betapa cepatnya Generasi Alpha menyerap, memodifikasi, dan mendistribusikan budaya digital lintas batas, dengan logika yang mungkin tidak masuk akal bagi generasi sebelumnya, tapi sepenuhnya relevan di dunia mereka yang terus berubah.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran penting dalam lanskap budaya populer. Jika dulu budaya pop diproduksi oleh industri besar (film, musik, TV), kini ia juga lahir dari video TikTok, meme absurd, dan AI-generated content. Menurut Henry Jenkins (2006) dalam Convergence Culture, kita telah masuk ke era participatory culture, di mana pengguna internet tak hanya mengonsumsi, tetapi juga menciptakan dan menyebarkan budaya sendiri.

Karakter-karakter seperti Troppi Trippi (ikan berbadan beruang) tidak dibuat oleh animator profesional, tetapi lahir dari logika remix, visual acak, dan audio teatrikal khas platform digital. Seperti dijelaskan Lev Manovich dalam The Language of New Media (2001), budaya digital bergerak dengan logika database dan remixability, semua bisa dikombinasikan ulang, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh siapa saja.

Globalisasi dan Glokalitas: Ketika Meme Menjadi Bahasa Dunia

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)

Yang menarik, karakter-karakter ini juga menunjukkan bagaimana globalisasi membentuk selera humor dan estetika generasi muda. Mengutip Roland Robertson (1995), fenomena ini adalah contoh glokalitas, yaitu proses di mana unsur global dibingkai ulang dalam konteks lokal.

Nama-nama seperti Chimpanzini Bananini atau Bombardino Crocodilo terdengar asing, tapi dibacakan oleh anak-anak Indonesia dengan percaya diri. Karakter Tung Tung Tung Sahur punya akar dari budaya lokal Ramadan, tapi dibungkus dengan gaya narasi teatrikal ala tren global. Semua ini memperlihatkan bahwa dalam era digital, meme telah menjadi bahasa dunia yang lintas batas, lintas budaya, dan lintas logika.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Apa Sebenarnya yang Kita Hadapi? Sisi Positif dan Negatif dari Dunia Anomali

Seperti halnya setiap fenomena budaya, dunia anomali digital ini bukan tanpa konsekuensi. Di satu sisi, ia membuka ruang baru bagi imajinasi, kebebasan berekspresi, dan bentuk komunikasi yang segar. Tapi di sisi lain, ia juga membawa tantangan, baik bagi perkembangan anak maupun bagi cara kita memahami realitas, makna, dan relasi antar generasi.

Untuk itu, penting bagi kita melihat fenomena ini secara lebih jernih,  bukan sekadar sebagai tren lucu anak-anak, tetapi sebagai cerminan dari perubahan besar dalam cara manusia, terutama Generasi Alpha, berpikir, bermain, dan berhubungan dengan dunia. Dan seperti semua perubahan budaya, ia membawa dua sisi yang perlu kita pahami, sisi positif yang patut dirayakan, dan sisi negatif yang harus diwaspadai.

Sisi Positif

  • Kreativitas Tinggi
    Karakter-karakter absurd ini memperlihatkan bagaimana anak-anak Gen Alpha memiliki imajinasi yang sangat liar dan bebas. Mereka tak lagi terikat oleh logika naratif tradisional, dunia mereka bisa diisi oleh ikan berbadan beruang (Troppi Trippi) atau balerina berkepala cappuccino (Ballerina Cappuccina). Jika diarahkan dengan baik, kreativitas seperti ini bisa menjadi fondasi inovasi di masa depan.
  • Koneksi Sosial
    Meski terdengar acak, dunia anomali ini membentuk kode sosial internal. Nama-nama seperti Tralalero Tralala hanya dimengerti oleh yang “masuk lingkaran”. Ini menjadi semacam bahasa rahasia antar-anak digital, media untuk membangun rasa kebersamaan, identitas kelompok, dan solidaritas generasional.
  • Kritis Terhadap Konvensi
    Absurd bukan berarti kosong. Karakter seperti Tung Tung Tung Sahur dapat dibaca sebagai satire terhadap tradisi yang dijalankan secara mekanis. Ini adalah bentuk cara anak-anak memproses simbol sosial dan menciptakan versi mereka sendiri yang lebih reflektif, jenaka, dan bebas.

Sisi Negatif

  • Tantangan Realitas
    Paparan berlebih terhadap dunia absurd dapat menyulitkan anak-anak dalam membedakan realitas dan fiksi. Ketika semua bisa dijadikan parodi, kemampuan untuk menanggapi dunia nyata dengan serius bisa terancam.
  • Fragmentasi Budaya
    Banyak simbol dalam tren ini hanya bisa dipahami oleh kelompok tertentu. Akibatnya, komunikasi lintas generasi jadi semakin sulit. Orang dewasa seringkali tidak mengerti dan ini bisa memperlebar jarak antara dunia anak-anak dan dunia orang tua.
  • Superficial Thinking
    Budaya instan dan cepat-viral ini bisa melemahkan daya tahan berpikir. Jika semua hal diserap secara cepat dan dangkal, anak-anak mungkin kehilangan kemampuan untuk merenung, bertanya, dan berpikir kritis secara mendalam.

Absurd sebagai Cerminan Zaman

Dari Tralalero Tralala hingga Gajah Tob Tobi Tob, kita tidak hanya sedang menyaksikan tren digital, tetapi juga transformasi cara anak-anak memahami dunia. Mereka membangun identitas, bermain simbol, dan menciptakan ruang imajinasi sendiri, dengan gaya yang mungkin terasa aneh bagi kita, tapi sepenuhnya masuk akal di dunia mereka.

Sebagai orang dewasa, mungkin kita tak langsung paham. Tapi justru karena itulah, kita perlu lebih dekat, lebih mendengar, dan lebih mencoba mengerti. Karena di balik kelucuan karakter-karakter absurd itu, sedang terjadi sesuatu yang sangat serius: redefinisi budaya, realitas, dan masa depan imajinasi manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.