Saat Peran Ganda Tak Dilalui Sendiri, Ibu Perlu Dukungan dari Suami dan Anak

4 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Susanti pedagang makanan ayam penyet di depan Kampus FISIP Unpas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Susanti pedagang makanan ayam penyet di depan Kampus FISIP Unpas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Ciri khas datangnya Hari Ibu biasanya ditandai dengan banyaknya bongkahan bunga, surat cinta dari anak untuk sang ibu, hingga makanan-makanan manis yang sarat makna sebagai tanda kasih sayang kepada sosok tercinta yang telah melahirkan insan ke dunia.

Upaya-upaya romantis ini diberikan pada hari spesial peringatan jasa ibu yang selama ini kasih dan sayangnya tak lekang oleh waktu. Meski berkali-kali harus merasakan pahitnya hidup, para ibu tetap kokoh bertahan dan melanjutkan perjuangannya demi keutuhan keluarga besar.

Kisah tersebut selaras dengan jalan hidup Susanti (43), yang berprofesi sebagai penjual aneka hidangan ayam—salah satunya ayam penyet—di depan Kampus Fakultas Ilmu Pemerintahan (Gedung FISIP) Universitas Pasundan, Lengkong Besar.

Beragam terjalnya kehidupan telah ia cicipi. Kini, Susanti bertahan sebagai penjual ayam penyet sejak usahanya dibuka pada 27 Desember 2017.

“Awal mulanya, waktu itu saya ibu rumah tangga biasa yang selalu antar-jemput anak sekolah. Lalu pada akhirnya ada aturan hanya bisa mengantar anak sampai gerbang sekolah saja, enggak sampai kelasnya. Ketika ada aturan itu, otomatis kan saya cuma bekerja di rumah aja, cuma cuci piring,” tuturnya.

“Akhirnya coba-coba bikin ayam goreng, terus kasih tester ke tetangga, ke teman. Katanya enak. Dari situ mulai yakin untuk buka usaha sendiri,” ujarnya kembali, memutar memori awal mula berwirausaha demi membantu perekonomian keluarga.

Susanti menambahkan, dirinya sangat menikmati proses merintis usaha sendiri, meski pada realitasnya pasang surut kerap kali ia alami. Salah satunya terjadi pada masa pandemi COVID-19 yang menerjang dunia. Ia sempat merasa terpuruk karena omzet dan pendapatannya menurun selama hampir tiga tahun.

Di balik alat penggorengan ayam penyet dan suara bising pelanggan yang datang silih berganti, Susanti tetap mengingat identitas sejatinya sebagai seorang ibu di rumah. Ia bersyukur, setidaknya sang suami menjadi pilar utama yang mendukung kariernya dalam aspek berniaga sejak awal keputusan itu diambil hingga sekarang.

“Ada titik di mana saya sudah terbiasa bekerja dan mencari nafkah sendiri. Jadi rasanya, kalau enggak produktif dan hanya mengandalkan uang dari suami, ada kehampaan tersendiri dalam hati saya,” katanya.

Sebelum terjun ke dunia kuliner, Susanti sempat memulai karier di bidang fotografi bersama pamannya. Ia tampak gigih dan pantang menyerah meski harus beradaptasi dengan panci penggorengan serta peralatan masak di fase hidupnya yang sekarang.

“Justru suami saya yang berpengalaman di bidang kuliner. Dulu pernah membuka usaha soto sulung sebelum memulai usaha ayam penyet ini,” lanjutnya antusias.

Tak hanya diberkahi suami yang selalu mendukung setiap keputusannya, Susanti juga bersyukur atas kehadiran kedua anaknya yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Anak-anak Susanti tumbuh dengan pola pengasuhan yang disiplin dan mandiri.

“Anak saya ada dua. Yang satu sudah lulus sekolah dan sekarang berdagang di salah satu mal di Bandung. Yang kedua masih kelas dua SMA,” ujarnya.

Susanti lalu bernostalgia, mengingat masa ketika membesarkan anak menjadi tantangan sehari-hari.

“Pada saat mereka masih kecil, saya punya aturan untuk mereka agar tidak main handphone setelah magrib. Di jam-jam itulah waktunya kita bisa ngobrol, bercanda, atau melakukan kegiatan lain bersama-sama sampai jam sembilan malam,” bebernya sembari tersenyum sumringah.

Ia mengaku menerapkan pola pengasuhan tersebut setelah terbiasa melihat kondisi keluarga bibinya yang harmonis dan memiliki pola parenting tegas.

Tak dimungkiri, kondisi dirinya saat masih menjadi ibu rumah tangga penuh waktu sangat kontras dengan versi dirinya hari ini.

Menurut Susanti, peran ganda perempuan memerlukan adaptasi jangka panjang. Tidak selalu mudah, tetapi dapat terlewati dengan baik berkat anak-anaknya yang cepat tanggap memahami kondisi, serta sosok suami yang selalu membersamai dan berupaya tidak bersikap patriarkis. Hal itu membentuk kompromi kuat dalam keluarga tentang pentingnya waktu berkumpul, terutama di akhir pekan.

“Kalau menurut saya, momen yang paling tepat untuk mengajak anak berbicara dari hati ke hati itu memang saat makan dan berkumpul bersama. Atau kalau enggak, saat mengantarkan dia ke sekolah,” ujarnya.

“Jadi, saya biasanya mengajak ngobrol tentang apa yang sedang ia senangi, apa yang sedang ia tekuni. Saya berusaha mendengarkan ceritanya saat kami sedang dalam perjalanan ke sekolah,” lanjut dia.

Selain merasa pagi hari adalah waktu paling netral dari berbagai emosi sebelum berjuang mencari nafkah, Susanti juga ingin memaksimalkan kebersamaan dengan anak perempuannya sebelum berpisah sementara di sekolah.

Ia meyakini, pemilihan waktu untuk berbincang dari hati ke hati dengan anak merupakan hal krusial yang harus dipikirkan secara matang.

“Terkadang, kalau badan sudah terasa capek—lelah banget setelah dagang—kita jadi suka uring-uringan enggak jelas dan itu imbasnya ke anak,” katanya.

Meski peran ganda terus melekat, Susanti menyadari bahwa dirinya tetap manusia biasa dengan keterbatasan.

“Tapi kembali lagi, mungkin Allah SWT membuat saya menjadi kuat dan mandiri, jadi perempuan yang punya peran ganda dalam hidup. Jadi ujung-ujungnya saya hanya bisa bersyukur dan ikhlas,” ucapnya.

Ia kembali menekankan pentingnya peran suami yang aktif membantu pekerjaan rumah tangga. Menurutnya, hal itu bukan hanya meringankan beban istri, tetapi juga menjadi teladan bagi anak laki-laki agar mata rantai patriarki dalam keluarga bisa diputus.

“Maka dari itu, saya berusaha mengajarkan anak sulung saya, jangan menjadi laki-laki yang enggak mau bantu pekerjaan rumah. Dia anak laki-laki pertama di keluarga ini, juga seorang kakak,” tuturnya.

“Jadi harus bisa saling bantu, gotong royong, saling meringankan beban. Soalnya rumah tangga itu bukan tugas istri saja, tapi saling melengkapi kekurangan masing-masing.”

Di akhir pertemuan, Susanti menyampaikan pesan agar semakin banyak perempuan berdaya dan mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa menggantungkan hidup pada belas kasih orang lain.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)