Menghapus Stigma Jagal: Itulah Juleha yang Bekerja dengan Hati, Menyembelih Sesuai Syariat

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Miftahuddin juru sembelih halal yang memiliki sertifikat resmi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Miftahuddin juru sembelih halal yang memiliki sertifikat resmi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Tangan Miftahuddin (46), tampak seperti pada umumnya. Tak ada yang spesial. Tapi jika memegang golok, hewan bisa mati dalam sekali sayat. Dia adalah juru sembelih halal (Juleha).

Juleha merupakan seseorang yang berprofesi sebagai penyembelih hewan, termasuk saat ibadah Idul Adha. Pekerjaan yang tak bisa sembarang orang lakukan.

Sebab dalam prosesnya mesti sesuai dengan syariat Islam. Pemerintah bahkan membuat aturan terkait langkah-langkah penyembelihan, juga kompetensi untuk si pelaku Juleha itu.

Juru sembelih bukan sekadar memotong hewan kurban. Tugasnya sakral. Salah sedikit, daging bisa menjadi bangkai. Dan bangkai, kecuali ikan, haram dimakan menurut Islam.

Kisah Miftah sebagai juru sembelih halal dimulai bukan dari rumah potong hewan, melainkan dari masjid di kawasan Tamansari. Ia aktif dalam panitia kurban, terutama saat Idul Adha. 

Di tengah semangat gotong royong, Miftah menyadari satu hal: tidak ada regenerasi jagal. Para penyembelih adalah pria-pria sepuh, sebagian telah berpulang. Di tambah dorongan dari warga.

"Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau nanti tidak ada lagi yang bisa menyembelih? Kurban tidak akan sah jika dilakukan orang yang tak paham syariat," ujar pria berkacamata saat ditemui , Kamis, 29 Mei 2025.

"Waktu pertama kali tangan saya bergetar," lanjutnya.

Ia mengikuti pelatihan juru sembelih halal yang diadakan Juleha Indonesia, komunitas berbasis di Jakarta yang memiliki cabang di berbagai kota, termasuk Bandung, tempat tinggalnya. Kira-kira, sudah ada 20 hewan yang disembelihnya hingga 2025.

Pria setinggi 165 sentimeter itu lalu memaparkan bahwa seorang juru sembelih harus memahami fikih: tahu saluran mana yang harus diputus, bagaimana niat diucapkan, serta kondisi hewan dan penyembelih yang sah.

Yang menarik, pelatihan ini tidak berhenti pada teori. Setiap peserta diwajibkan menguasai pengasahan alat potong. 

"Pisau tumpul bisa menyebabkan proses menyembelih gagal, bahkan menyiksa hewan. Itu haram," katanya serius.

Dalam pelatihan, peserta diajarkan memilih bahan pisau, teknik asah dengan batu bergradasi, hingga pengujian tajam melalui sayatan pada kertas. Golok yang baik, kata Miftah, harus mampu menyayat tanpa hambatan.

Bahan pisau juga menjadi perhatian. Pisau stainless menjadi standar, karena mudah dibersihkan, tidak mudah berkarat, dan aman bagi makanan. 

"Banyak jagal tradisional masih pakai baja karbon dari per jeep. Tajam, tapi rawan karat. Itu bisa jadi kontaminan kalau tidak dirawat," katanya.

Miftah juga menjadi bagian dari pengurus DPD Juleha Bandung Raya. Ia dipercaya sebagai sekretaris dan rutin menjadi mentor dalam pelatihan. Tidak hanya itu, ia juga memiliki sertifikasi kompetensi nasional dari BNSP. 

"Sertifikasi ini bukan hanya selembar kertas. Ini pengakuan bahwa kita layak menjadi juru sembelih profesional dan sah di mata negara," ujar Miftah.

Ada 13 kompetensi dasar yang diakui dalam sertifikasi nasional. Yang utama: menjalankan syariat Islam. "Artinya kita harus salat, zakat, puasa. Bahkan saat ujian, kita ditanya cara wudu dan salat. Karena bagaimana bisa kita mengurusi ibadah orang lain kalau kita sendiri abai?," ujarnya.

Miftah menyadari bahwa di masyarakat, profesi ini sering kali dipandang rendah. Stigma jagal masih lekat: kasar, bertato, minum-minum.

"Kami ingin menghapus itu. Makanya kami kampanyekan istilah Juleha, bukan jagal," katanya. Ia percaya, juru sembelih halal harus berwibawa, bersih, dan memiliki adab.

Target komunitasnya pun sederhana tapi bermakna: satu masjid, satu Juleha. Ini agar saat kurban, DKM tidak perlu mencari orang luar yang belum jelas kompetensinya untuk melakukan penyembelihan 

Satu Gerakan Empat Saluran Vital Putus

Dalam praktik penyembelihan, ada banyak hal teknis yang harus diperhatikan. Dari mulai lokasi penyembelihan, posisi pisau, hingga saluran-saluran yang harus diputus.

"Empat saluran: kerongkongan, saluran napas, dan dua pembuluh darah besar di leher. Harus terputus semua dalam satu atau dua gerakan, tanpa mengangkat pisau," terang Miftah.

Bagi sapi, titik sembelih ideal adalah lima jari dari pangkal leher, di bawah jakun. Untuk kambing, tiga jari. Untuk ayam, satu jempol. Jika tidak bisa meraba jakun, penyembelih harus menggunakan feeling berdasarkan pengalaman.

Kadang Miftah melakukan penyembelihan di rumah potong hewan (RPH), tempat di mana sapi-sapi impor dari Australia diproses. Dalam sebulan, ia bisa satu atau dua kali ke sana. Tujuannya agar keahliannya tidak luntur.

Ia bilang, sapi-sapi jenis BX ini biasa dirawat tidak di dalam kandang. Sehingga tidak bisa ditangani manual, perlu strategi khusus agar para pekerja tidak terluka akibat sapi mengamuk. Salah satunya dengan cara "stunning". 

Miftah lalu menampilkan video ketika dirinya hendak menyembelih sapi di RPH. Di hadapannya, seekor sapi berbobot setengah ton telah tenang. Tenang bukan karena jinak, tetapi karena metode "stunning" yang telah melumpuhkan geraknya sejenak sebelum penyembelihan. 

Miftah menatap leher binatang itu. Dengan satu gerakan mantap, ia mengarahkan golok ke bawah jakun—tepat lima jari dari pangkal leher. Seketika darah menyembur. Jantung binatang masih berdetak, memompa darah keluar secara alami. 

Akan tetap metode "stunning" sempat menimbulkan kontroversi di publik. Banyak yang mengira sapi-sapi itu ditembak. Padahal, teknik stunning hanya membuat hewan pingsan sebentar.

"Yang penting, hewan itu masih hidup saat disembelih. Ada waktu 30 detik dari stunning sampai sembelih. Kalau lewat, bisa mati dan jadi bangkai," kata Miftah.

Karena itulah, operator stunning pun harus bersertifikat. Penyembelihan yang tidak benar tidak hanya membuat ibadah kurban tidak sah, tapi juga merusak kualitas daging. 

"Kalau hewan stres, darah tidak keluar sempurna. Daging jadi keras, alot, bahkan bisa bau," bebernya.

Kini, setiap tahun Idul Adha, Miftah sibuk dari pagi hingga sore. Kadang menyembelih, kadang menjadi pengawas untuk memastikan proses sesuai syariat. 

Dia dan komunitasnya aktif mendatangi masjid-masjid yang ada di Bandung Raya. Tujuannya untuk mensosialisasikan pentingnya juru jagal yang memiliki sertifikat.

Tak jarang ada yang meminta untuk melakukan penyembelihan, biayanya berkisar Rp300-500 ribu. Sedangkan paket sembelih hingga pembungkusan daging biayanya sekitar Rp2,5 juta. Tapi ia menyebut ini bukan tujuan utamanya.

"Saya ingin masyarakat sadar. Bahwa menyembelih itu bukan asal potong. Ini ibadah. Dan harus dilakukan dengan hati."

Miftah bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga menyembelih stigma tentang profesinya. Bahwa juru sembelih bukan jagal. Bahwa profesi ini bukan kotor dan brutal. Bahwa tangan yang mengucap basmalah sebelum menyayat leher hewan, adalah tangan yang paham adab, tajam dalam ilmu, dan lembut dalam niat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)