Merangsang Kreativitas, Merayakan Kertas

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang cerah itu, saat asyik bermain layang-layang di sawah milik Pa H, tiba-tiba istri berkirim pesan yang disertai foto dua halaman teks bacaan.

"Kanggo Aa diajar pidato, saurna énjing dites ku Bu Dedeh."

Kujawab singkat, “Muhun.”

Sudah tiga hari ini, Aa Akil, anak kedua (10 tahun) ini memang sedang giat belajar dan menghafal teks pidato lomba Bahasa Sunda tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Saat mencetak teks bertajuk Ngajaga Lingkungan, kuajukan pertanyaan, "Ieu kangge iraha, A?"

Ananda kelas lima ini menjawab, "Buat latihan hari Senin. Terus kata Bu Guru, lombanya di tingkat kecamatan pas Hari Anak, Bah?"

Senangnya Aa Akil foto bersama dengan Layang-layang "Goang" hasil moto, Ahad 13 Oktober 2024 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Senangnya Aa Akil foto bersama dengan Layang-layang "Goang" hasil moto, Ahad 13 Oktober 2024 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE

Momentum Hari Anak Nasional 2025

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan ke-41 Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) tidak lagi dipusatkan di satu kota, melainkan digelar serentak di seluruh daerah di Indonesia dengan dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga.

“Kemen PPPA tahun ini mengusung konsep perayaan Hari Anak Nasional yang lebih merata. Tujuannya agar anak-anak dari Sabang sampai Merauke bisa ikut merasakan semangat Hari Anak Nasional di lingkungan tempat mereka tinggal. Mulai dari desa, sekolah, komunitas, hingga pemerintah daerah, semua kami ajak untuk merayakan Hari Anak Nasional bersama pada 23 Juli 2025.  Anak-anak harus merasakan kehadiran negara, bukan hanya di pusat, tetapi juga di tempat mereka tinggal dan tumbuh,” ungkap Titi Eko Rahayu, Sekretaris Kemen PPPA.

Tema HAN 2025 bertajuk “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” dengan tagline “Anak Indonesia Bersaudara.” Ini mencerminkan komitmen bersama untuk membangun generasi anak yang sehat, cerdas, tangguh, dan berdaya saing, sekaligus menanamkan nilai kebersamaan di tengah keragaman bangsa.

Dalam rangka memperluas dampak peringatan, publik diajak untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu perlindungan anak melalui berbagai kanal komunikasi. Narasi kunci yang digaungkan secara nasional pada HAN 2025 antara lain: Anak Hebat, Indonesia Kuat, Anak Cerdas Digital, Pendidikan Inklusif untuk Semua, Stop Perkawinan Anak dan Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital, Molly Prabawati menyampaikan dunia digital membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi anak-anak.

“Data UNICEF menunjukkan bahwa setiap setengah detik, satu anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di Indonesia, dari 221 juta pengguna internet, lebih dari 9 persen adalah anak usia di bawah 12 tahun. Ini menempatkan mereka pada risiko tinggi terhadap konten berbahaya, penipuan digital, hingga eksploitasi daring. Oleh karena itu, Komdigi menegaskan pentingnya literasi digital sejak dini dan tata kelola ruang digital yang ramah anak,” ungkapnya.

Sebagai wujud perlindungan konkret, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Ramah Anak (PP TUNAS).

Regulasi ini mengatur agar penyedia layanan digital menjamin keamanan dan kenyamanan anak di ruang siber.

Peringatan HAN 2025 tidak hanya menjadi simbol perhatian negara terhadap anak, tetapi menjadi bukti atas keterlibatan seluruh elemen bangsa untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan memberdayakan anak-anak Indonesia.

Kemen PPPA mengajak seluruh pemangku kepentingan  seperti pemerintah, masyarakat, media, dunia usaha, dan keluarga untuk bersama-sama menjaga, mendampingi, dan memperkuat anak sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. (www.kemenpppa.go.id).

Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol, dalam rangkaian acara Festival Cirendeu 2024 di halaman sekolah SD Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu 7 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol, dalam rangkaian acara Festival Cirendeu 2024 di halaman sekolah SD Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu 7 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sarana Pengendalian Diri Menuju Tuhan 

Dalam konteks Jabar, untuk menciptakan generasi hebat yang berkualitas, tangguh, kreatif, jujur, sehat, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia menuju Indonesia emas ini dengan cara melestarikan, ngamumule kaulinan barudak baheula sebagai khazanah kesundaan. 

Tentunya syarat makna, merangsang kreativitas, melatih kecerdasan anak dan menjadi sarana pengenalan diri yang berhubungan dengan alam, dan Tuhan.  

Ini dibenarkan oleh Mohammad Zaini Alif, Komunitas Hong menjelaskan permainan rakyat memiliki kelebihan dibandingkan dengan permainan modern.

Bila permainan modern hanya terbatas melatih saraf motorik, kreativitas, dan kecerdasan anak, kaulinan barudak merangsang kreativitas dan kecerdasan anak serta menjadi sarana pengenalan rasa si anak terhadap diri, alam, dan Tuhan.

Permainan Sunda itu sarat dengan nilai ketuhanan, seperti hompimpa. Kalimat hompimpa alaium gambreng itu bermakna dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain! (Kompas, edisi 21 Mei 2010).

Hans Daeng menjelaskan permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak dan permainan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak. (Andang Ismail, 2009: 17)

Bagi Saleh Danasamita menguraikan permainan dan bermain merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan anak-anak serta mempunyai kedudukan sangat penting di masyarakat Sunda. 

Pasalnya, segala kaulinan barudak terangkum dalam naskah Siksa Kandang Karesian.“...Hayang nyaho di pamaceuh ma: ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun le(m)bur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini; singsawatek (ka) ulinan mah empul tanya" ("Bila ingin tahu permainan, seperti ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubangubangan, neureuy panca, munikeun le(m)bur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini, segala macam permainan, tanyalah empul"). (Saleh Danasamita, 1986: 83, 107)

Ya naluri bermain memang bagian dari fitrah manusia. Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf Belanda, menegaskan manusia sebagai homo ludens, makhluk yang bermain.

Dalam budaya, bermain bukan sekadar aktivitas kosong, melainkan sarana pembentukan nilai, kreativitas, dan spiritualitas.

Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol, dalam rangkaian acara Festival Cirendeu 2024 di halaman sekolah SD Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu 7 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional, seperti egrang, bakiak batok, bedil jepret dan perepet jengkol, dalam rangkaian acara Festival Cirendeu 2024 di halaman sekolah SD Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu 7 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ayo Bermain Bersama Anak

Dalam liputan bertajuk 10 Menit Kebersamaan Ayah-Anak Tingkatkan Prestasi Anak di Sekolah menunjukkan ayah yang rutin menggambar, bermain, dan membaca bersama anaknya yang berusia tiga tahun membantu anak berprestasi lebih baik di sekolah pada usia lima tahun.

Kebersamaan ayah dan anak dalam bermain dan membaca bisa membawa manfaat positif bagi prestasi sang anak. Sesibuk apa pun ayah, meluangkan waktu 10 menit saja sudah sangat berarti bagi peningkatan prestasi anak di sekolah.

Penemuan  ilmuwan dari University of Leeds, Inggris, yang dimuat dalam laporan berjudul "What a Difference a Dad Makes: Paternal Involvement and Its Effects on Children’s Education (PIECE) Study” (2023) yang tak memandang jenis kelamin anak, usia, etnis, dan pendapatan rumah tangga.

Hasil peneliti menemukan anak-anak akan berprestasi lebih baik di sekolah dasar jika ayah mereka secara teratur menghabiskan waktu bersama dalam aktivitas interaktif, seperti membaca, bermain, bercerita, menggambar, dan bernyanyi.

Uniknya, para peneliti menganalisis nilai ujian sekolah dasar anak usia lima dan tujuh tahun dengan menggunakan sampel representatif dari hampir 5.000 rumah tangga (orangtua terdiri dari ibu dan ayah) di Inggris. Data dikumpulkan dari Millennium Cohort Study yang berisi data tentang anak-anak yang lahir pada 2000-2002 saat mereka tumbuh dewasa.

Simpulannya ayah yang rutin menggambar, bermain, dan membaca bersama anak yang berusia tiga tahun membantu anak berprestasi lebih baik di sekolah pada usia lima tahun.

Keterlibatan ayah pada usia lima tahun dapat membantu meningkatkan nilai dalam Penilaian Tahap Utama (Key Stage Assessments) anak di usia tujuh tahun. (Kompas edisi 25 Sep 2023)

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dalam buku Cara Membangun Kedekatan Balita dan Ayah, dijelaskan berbagai upaya yang dapat dilakukan orang tua, khususnya ayah, untuk membangun kedekatan dengan buah hatinya. Untuk anak usia di atas 5 tahun, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan agar hubungan emosional antara ayah dan anak semakin kuat.

1. Berbicara secara Terbuka

Salah satu cara paling efektif untuk mendekatkan diri dengan anak adalah dengan membuka ruang komunikasi yang terbuka. Ayah dapat mengajak anak berbicara tentang kehidupan sehari-harinya, tentang teman-temannya di sekolah, aktivitas yang disukai, atau hal-hal yang sedang dipikirkan.

Dengan cara ini, anak akan merasa dihargai dan didengarkan, yang berdampak positif pada kedekatan emosional.

2. Mengajak Anak ke Tempat Favoritnya

Ayah bisa mengajak anak ke tempat-tempat yang disukai oleh anak, seperti taman bermain, museum, atau tempat-tempat lain yang bisa menarik minat anak.

Dengan cara ini, anak akan merasa senang dan bersenang-senang bersama ayahnya, yang pada akhirnya akan memperkuat ikatan antara ayah dan anak.

3. Bermain Bersama

Bermain bersama merupakan cara yang efektif untuk mempererat hubungan antara ayah dan anak. Aktivitas bermain bisa dilakukan di rumah maupun di luar, seperti  bermain game, sepak bola, bermain layang-layang, atau menonton film bersama.

Saat ayah terlibat langsung dalam aktivitas yang digemari anak, anak akan merasa dicintai dan diperhatikan.

Kedekatan emosional ini penting bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam membentuk rasa percaya diri dan kepekaan sosialnya. Walhasil, peran aktif ayah dalam keseharian anak mampu menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis di dalam keluarga. (JJ. Fidela Asa, 2023: 41–45).

Sambil menunggu istri pulang dari pelatihan di Kota Bandung, anak ketiga Kakang (4 tahun) terbangun dari tidur dan langsung merengek, minta dibelikan es krim.

Melihat adiknya mulai rewel, Aa Akil memberi usul, “Bah, ayo beli di sana, biar bisa sekalian menggambar?”

Bisa, A?” tanya Kakang polos, penuh harap.

“Iya, tadi Aa kan lama bareng A Vio, menggambar dulu,” jawabnya sambil tersenyum.

Benar saja. Saat masuk ke gerai es krim, penjaganya menyambut dengan ramah, “Ada yang bisa dibantu? Mau beli apa saja? Kebetulan, dalam rangka Hari Anak, anak-anak bisa menggambar dan mewarnai di sini.”

Tanpa pikir panjang, Aa Akil dan Kakang langsung mengambil tempat duduk dekat pintu, langsung tancap gas larut dalam aktivitas menggambar dan mewarnai, ditemani suasana musik khas bocil yang hangat dan ceria.

Sungguh menyenangkan menyaksikan anak-anak bebas mengekspresikan kreativitasnya. Sesekali terdengar tawa dan canda, terutama saat saling memilihkan warna untuk menyelesaikan gambar masing-masing. Pilih warna merah, kuning, biru, hijau, ungu yang belum. Semua dicoba satu per satu.

Selesai mewarnai penjaga gerai tersenyum sambil ikut memoto hasilnya. Barulah diberikan es krim yang dibelinya tadi.  Stiker menjadi hadiah kecil yang tak terlupakan setelah bermain dan berani mewarnai.  

"Hore, hore, hore dapat hadiah!" celetuk Kakang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)