Suara Aktivis Diancam Perisakan Digital, Perlindungan Jangan Tunggu Berdiri Lembaganya!

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Neni Nurhayati, Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia. (Sumber: Dok. DEEP Indonesia)
Neni Nurhayati, Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia. (Sumber: Dok. DEEP Indonesia)

Neni Nurhayati mungkin tak pernah menyangka bahwa kritiknya terhadap kebijakan anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan berujung pada teror digital yang begitu menyakitkan.

Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership atau DEEP itu hanya menyuarakan haknya sebagai warga negara. Ia mempertanyakan transparansi dan penggunaan dana untuk belanja media yang dianggap tidak tepat.

Namun sejak unggahan foto dirinya muncul di akun resmi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat, Neni menjadi sasaran serangan siber yang sistematis.

Dua akun media sosial miliknya, Instagram dan TikTok, dibanjiri komentar kasar, ancaman, dan tudingan yang menyudutkan. Identitas pribadinya disebar tanpa izin.

Serangan itu terjadi secara terorganisasi dan berpotensi menyeret anak-anaknya dalam pusaran kebencian yang sama sekali tidak berhubungan dengan substansi kritik yang ia lontarkan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruang digital di Indonesia belum menjadi tempat aman bagi warga yang bersuara kritis, apalagi bagi perempuan.

Pengalaman serupa juga dialami Fatrisia Ain, seorang aktivis perempuan dari Buol, Sulawesi Tengah, yang selama ini mendampingi masyarakat adat dalam menolak eksploitasi sawit PT Hardaya Inti Plantation milik konglomerat nasional.

Ketika suaranya mulai terdengar di forum-forum lokal dan nasional, serangan digital pun datang bertubi-tubi. Akun-akun anonim menyebarkan tuduhan palsu, merusak reputasinya, dan mengancam keselamatan keluarganya.

Ia mengalami tekanan psikologis luar biasa hingga akhirnya menghentikan semua kegiatan advokasinya. Semua itu bermula dari satu unggahannya di Facebook.

Neni dan Fatrisia bukan satu-satunya korban. Mereka bagian dari gelombang besar aktivis lingkungan dan pembela hak warga yang menghadapi kekerasan digital secara global.

Laporan Global Witness yang dikutip The Guardian mencatat bahwa sembilan dari sepuluh aktivis lingkungan pernah mengalami pelecehan digital.

Dalam survei yang melibatkan lebih dari dua ratus responden dari lima puluh negara, ditemukan bahwa intimidasi di media sosial, penyebaran data pribadi, dan ancaman kekerasan fisik kerap terjadi terhadap para pembela lingkungan.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa platform digital seperti Facebook menjadi tempat paling banyak terjadinya kekerasan, terutama terhadap perempuan muda.

Ironisnya, Meta sebagai perusahaan induk justru menghentikan kebijakan perlindungan khusus bagi aktivis sejak awal tahun ini.

Dari 126 kasus yang dicatat Global Witness, mayoritas tidak mendapat respons serius dari perusahaan. Pelaku serangan pun bebas beraksi tanpa konsekuensi hukum.

Ava Lee dari Global Witness menyebut banyak aktivis akhirnya mundur dari ruang publik karena tidak tahan tekanan. Ketakutan dan trauma menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ketika suara kritis dibungkam lewat cara digital, ruang publik kita sesungguhnya tengah tergerus secara perlahan.

Absennya Lembaga

Neni Nurhayati dalam postingan Diskominfo Jabar. (Sumber: Instagram/Diskominfo Jabar)
Neni Nurhayati dalam postingan Diskominfo Jabar. (Sumber: Instagram/Diskominfo Jabar)

Dalam konteks Indonesia, hal ini makin diperburuk oleh absennya lembaga pengawas perlindungan data pribadi. Padahal Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 telah disahkan dan dijadwalkan berlaku penuh Oktober 2024.

Undang-undang itu memandatkan pembentukan lembaga independen untuk menerima laporan pelanggaran, menyelidiki kebocoran data, memberikan sanksi administratif, dan memastikan kepatuhan semua pengendali data.

Namun hingga pertengahan 2025, lembaga tersebut belum terbentuk. Pemerintah berdalih masih menunggu peraturan presiden dan penunjukan struktur kelembagaan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, bahkan sempat menjanjikan kehadiran lembaga ini dalam pernyataannya pada November 2024. Tetapi hingga kini, belum ada kejelasan mengenai realisasinya.

Akibatnya, meski regulasi sudah ada, pelaksanaannya lumpuh. Tanpa lembaga pengawas, warga seperti Neni dan Fatrisia tidak memiliki jalur resmi untuk mengadukan pelanggaran yang mereka alami. Mereka dibiarkan menghadapi kekerasan digital seorang diri.

Di tengah kekosongan kelembagaan ini, solusi sementara yang dapat digunakan adalah memaksimalkan kerja aparat penegak hukum dengan instrumen hukum yang ada.

Pasal-pasal dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, serta ketentuan terkait pencemaran nama baik dan ancaman bisa menjadi dasar tindakan hukum terhadap pelaku kekerasan digital. Namun semua itu tetap bersifat reaktif dan belum menjamin pencegahan berkelanjutan.

Kita sungguh berada di persimpangan genting. Tanpa lembaga pengawas independen, penerapan UU Perlindungan Data Pribadi hanya menjadi formalitas.

Negara harus segera hadir secara penuh. Sebab perlindungan data bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut hak hidup aman, hak atas nama baik, dan keberanian warga untuk bersuara tanpa rasa takut.

Publik berhak terus menagih janji Menkomdigi. Karena hari-hari ini, ancaman digital tidak lagi bersifat dugaan. Ia nyata, menyakitkan, dan terus memakan korban.

Bila janji pembentukan lembaga ini terus ditunda, maka warga seperti Neni dan Fatrisia akan terus berada dalam ancaman. Mau sampai kapan? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)