Pocong Lembang Kena Tegur Polisi, Jangan Kebablasan!

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Pocong di Lembang ditegur polisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Pocong di Lembang ditegur polisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Beberapa orang di pinggir jalan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kerap tampil beda. Mengenakan balutan kain putih kusam menyerupai kafan, wajah dilukis pucat, dan tubuh melompat-lompat seperti makhluk yang keluar dari liang lahat. Mereka bukan pemeran horor dalam produksi film, melainkan pelaku hiburan jalanan yang mencari nafkah dari kostum pocong.

Sayangnya, atraksi ini tak selalu disambut tawa. Sebagian wisatawan justru merasa terganggu. “Kami menerima laporan dari warga dan pengguna jalan yang merasa tidak nyaman dengan cara mereka beraksi,” kata Kapolsek Lembang, Komisaris Polisi Hadi Mulyana, Selasa, 10 Juni 2025.

Hadi menyebut, sejumlah pelaku hiburan tidak hanya berdiri di pinggir jalan, tetapi juga secara aktif mendekati kendaraan yang melintas, mengejutkan pengendara, bahkan mengetuk kaca mobil sambil meminta imbalan. Aksi itu dianggap membahayakan dan bisa mengarah ke bentuk pemaksaan terselubung.

“Jika sampai menimbulkan rasa takut demi mendapatkan uang, itu bisa menjurus ke tindakan premanisme,” ujarnya.

Fenomena pocong dadakan ini muncul seiring tingginya kunjungan wisatawan ke Lembang, terutama pada musim liburan. Kostum seram dan aksi teatrikal di jalan dimanfaatkan sebagai cara untuk menarik perhatian dan, harapannya, mendapatkan uang dari pengunjung.

Pihak kepolisian mengaku tak ingin mematikan kreativitas warga. Hanya saja, kata Hadi, ruang publik harus tetap dijaga agar tidak berubah menjadi panggung intimidasi. “Kami tidak melarang kreativitas, tapi tetap harus ada batasannya,” tuturnya.

Selain menegur langsung pelaku hiburan kostum tersebut, polisi juga memberikan edukasi agar mereka memahami batasan hukum dalam berkegiatan di jalanan. Petugas mengingatkan bahwa meminta uang kepada orang lain sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak memaksa, apalagi menakut-nakuti.

Untuk mencegah insiden yang lebih serius, polisi mengimbau masyarakat agar segera melapor bila merasa terganggu atau terancam. “Tujuan kami bukan untuk mematikan hiburan rakyat, tapi untuk menjaga agar semuanya tetap dalam koridor hukum dan tidak merugikan orang lain,” kata Hadi.

Pocong Juga Ingin Hidup Layak

Pilihan menjadi pocong jalanan untuk menghibur wisatawan bukanlah perkara mudah. Butuh keberanian, kesabaran, dan sedikit kekuatan untuk menahan pilu. Tak ada jaminan penghasilan tetap. Tidak pula kepastian kapan uang akan mengalir. Hanya harapan dari tangan-tangan yang sekadar iseng memberi receh. Jika hari cerah dan ramai pengunjung, mungkin bisa pulang dengan cukup untuk makan. Tapi jika hujan turun, atau jalanan sepi, maka itu berarti hari tanpa hasil.

Pocong jalanan seperti yang ada di Lembang atau Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, adalah potret buram dari mereka yang tak punya banyak pilihan. Cari kerja susah, berdiam pun bukan pilihan.

Dede Supriatna misalnya. Pria kepala dua ini adalah pocong yang kerap gentayangan di Jalan Asia Afrika. Dia pernatau, datang ke Bandung membawa impian sederhana: hidup yang lebih baik. Setelah berpindah dari Semarang dan sempat mencicipi kerasnya bertahan hidup di Palembang, Bandung menjadi kota persinggahan yang dipilihnya bersama istri.

Dede Supriatna, sosok pocong di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Dede Supriatna, sosok pocong di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Tapi kota ini tak serta-merta menjanjikan kemudahan. Jalanan, taman kota, hingga pelataran masjid pernah menjadi tempat bernaung. Sempat jualan kopi di pinggir jalan, tidur di Masjid Agung saat istrinya hamil. Namun bisnis kopi tak membuatnya kenyang. Sampai suatu malam, ia melihat para hantu-hantuan di Jalan Asia Afrika. Ia tawarkan diri untuk menyewakan kostum. Tapi karena tak tega ambil bagian terlalu besar dari hasil sewa, Dede akhirnya ikut turun langsung: jadi pocong juga.

Bertahun-tahun sudah ia berdandan kain kafan. “Daripada kita berbuat jahat, lebih baik begini. Asal enggak gengsi,” katanya. Ia punya mimpi: jadi satpam. Tapi dengan ijazah SD pun tak tamat, itu masih mimpi yang jauh.

Profesi sebagai pocong ia geluti bukan karena ingin menakuti orang. Justru sebaliknya, ia ingin menghibur, membuat wisatawan tersenyum atau sekadar terkejut. Tidak ada paksaan dalam meminta uang. Tak ada pula tipu daya. Hanya diam dan berdiri, menanti orang yang rela menghargai keberadaannya. Namun pekerjaan ini tetap penuh risiko. Tak jarang orang yang ketakutan bersikap agresif. Ada pula yang menghina, menyamakan mereka dengan pengemis atau pengganggu ketertiban.

Penghasilannya? Cuma ratusan ribu dalam sebulan. Tapi Dede menerima itu, dengan sabar dan sepi yang menemaninya malam-malam. Hujan turun, penghasilan turun. Hari biasa, sepi. Tapi Dede tak pernah memaksa orang memberi uang, apalagi menakut-nakuti.

Di balik kain kafan dan riasan seram itu, ada manusia yang memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ada anak yang perlu diberi makan, istri yang harus dipenuhi kebutuhannya, dan masa depan yang masih samar. Meski pekerjaannya sering dianggap sepele, bahkan memalukan, bagi Dede ini adalah pilihan yang lebih baik ketimbang merampas hak orang lain.

Ia masih menyimpan harapan untuk suatu hari bisa berganti seragam, bukan lagi sebagai pocong, tapi sebagai satpam. Ia tahu itu tak mudah. Ijazah sekolah yang tidak selesai, pengalaman kerja yang terbatas, dan persaingan yang ketat membuat langkahnya berat. Tapi setidaknya, ia masih melangkah. Tetap berdiri, meski dalam diam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)