Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

4 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Tuntutan kehidupan sudah selayaknya mewarnai setiap musim kehidupan selama hayat masih dikandung badan. Himpitan hidup kian membengkak dari berbagai aspek, mulai dari dinamika sosial, ekonomi, hingga gaya hidup. Situasi tersebut perlahan menjadi “makanan sehari-hari” yang seolah tak kunjung usai. Perkembangan teknologi pun turut memperkeruh keadaan, sebab generasi saat ini kerap menetapkan standar hidup berdasarkan gambaran yang terus digaungkan melalui media sosial.

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini. Ketidakpastian dalam menghadapi siklus kehidupan kerap dianggap sebagai ancaman eksternal yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Fenomena kecemasan tentang kehidupan—yang mayoritas berakar pada kekhawatiran akan masa depan—kemudian membuka ruang bagi Komunitas Temu Tumbuh untuk menyediakan wadah diskusi bebas yang berpusat di kawasan Antapani.

Meski bersifat home-based dalam pelaksanaan kegiatannya, lokasi komunitas ini tidak serta-merta membatasi keanggotaan hanya bagi warga Antapani atau mereka yang memiliki kriteria tertentu.

Handry Sidrata selaku pendiri Temu Tumbuh mengatakan komunitasnya menerima siapa pun yang berminat untuk ikut bergabung. "Mari kita saling berbagi dan terbuka satu sama lain di ruang aman Temu Tumbuh,” ungkap Handry sambil menyambut setiap anggota baru yang datang.

Temu Tumbuh hadir di tengah masyarakat Antapani untuk membuka ruang diskusi yang aman, nyaman, dan tenteram. Ruang ini diharapkan dapat menjadi peluang untuk saling mengenal satu sama lain, sekaligus berdiskusi mengenai topik-topik yang telah disesuaikan setiap minggunya oleh tim konten dan pengelola.

Salah satu topik yang paling diminati warga Kota Bandung, khususnya masyarakat sekitar Antapani, adalah seminar yang berkaitan dengan self-improvement dan self-development. Topik ini kerap bermuara pada pembahasan soft skill dan hard skill, termasuk isu kesehatan mental serta konten self-help yang relevan dengan pengalaman mayoritas generasi Z dan milenial saat ini.

Kelas diskusi diawali dengan pemaparan konsep kecemasan secara sederhana, yang dapat langsung dirasakan oleh para partisipan. Nadhira Meindy, M.Psi., selaku pembicara sekaligus Psikolog Klinis dari Palamarta Psychological Center, memimpin sesi awal dengan memancing sisi “kecemasan” audiens secara tidak langsung. Ia mengawali sesi dengan mengajak audiens memainkan permainan sederhana, yakni suit, untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Metode tersebut terbukti menjadi pemantik yang efektif. Seusai permainan, beberapa audiens mengaku merasakan gejala kecemasan dalam diri mereka. Ada yang merasakan jantung berdebar kencang, bahkan telapak tangan menjadi basah karena terlalu gugup mengikuti ritme permainan.

“Kecemasan, atau yang sering kita sebut sebagai anxiety, dewasa ini merupakan sebuah peringatan layaknya fitur ‘alarm’ dalam handphone yang kita pakai. Keberadaannya sebagai respons alami tubuh bisa terjadi secukupnya pada manusia,” jelas Nadhira.

Ia melanjutkan bahwa ‘alarm’ kecemasan akan muncul setiap kali manusia menghadapi situasi yang memicu adrenalin atau peristiwa yang dirasa mengancam. Namun, pada seseorang yang mengalami anxiety disertai overthinking, respons tersebut kerap terasa berlebihan, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata di sekitarnya.

Temu Tumbuh secara selektif memilih narasumber yang kompeten di bidangnya agar audiens dapat mengenali dan memahami proses munculnya rasa cemas, sekaligus mempelajari cara menyikapinya. Pendekatan ini tidak menekankan penolakan atau penghilangan rasa cemas secara instan, melainkan pengelolaan yang sehat. Hal tersebut selaras dengan penjelasan Nadhira melalui perumpamaan yang mudah dipahami.

“Kita pasti punya alarm pagi setiap hari. Ketika alarm berbunyi, hal pertama yang kita lakukan biasanya menekan tombol ‘snooze’ di ponsel. Setelah itu, kita tidur lagi dan menunggu alarm berbunyi lima menit kemudian, bukan?

Sama halnya dengan anxiety dan overthinking. Kita tidak seharusnya mematikan gejala yang dirasa secara keseluruhan secara mendadak atau terpaksa. Sebaliknya, kita bisa memangkasnya sedikit demi sedikit agar gejalanya tidak semakin parah dan frekuensinya tidak terlalu sering hadir dalam keseharian,” ungkap Nadhira dengan lugas.

Salah satu metode yang dinilai relevan dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah adalah teknik pernapasan 5-4-3-2-1. Metode ini berfokus pada prinsip grounding, yakni mengajak individu untuk kembali menyadari keberadaannya di masa kini sambil mengaktifkan pancaindra.

Angka lima merujuk pada lima hal yang dapat dilihat oleh mata, angka empat pada benda di sekitar yang bisa diraih atau disentuh saat cemas, dan angka tiga pada suara-suara yang dapat didengar ketika pikiran negatif mulai muncul.

Selanjutnya, angka dua merujuk pada aroma yang dapat dicium di sekitar, sementara angka satu mengacu pada hal yang dapat dirasakan melalui indera pengecap. Pada tahap ini, Nadhira menjelaskan bahwa minum air putih secara perlahan atau menggunakan aroma seperti lilin aromaterapi maupun inhaler sudah cukup membantu indera dalam merasakan tekstur dan bau saat kecemasan muncul.

Tidak berhenti di situ, Nadhira juga membagikan berbagai alternatif lain selain teknik pernapasan untuk membantu seseorang tetap hadir di masa kini dan mengelola kecemasan.

Menurutnya, individu dengan gejala anxiety dan overthinking berlebih dapat meluangkan waktu sekitar 15–30 menit untuk merilis kecemasan melalui journaling, self-talk, melakukan butterfly hug pada diri sendiri, atau berbagi perasaan dengan teman sebaya—tanpa disertai unsur adu nasib kehidupan.

Di akhir sesi, Nadhira menyampaikan harapannya agar para peserta yang masih merasakan gejala anxiety dapat berangsur pulih.

“Teman-teman bisa mendekatkan diri dengan rasa optimisme agar lebih peka. Seiring berjalannya waktu, jika kita melihat lebih jauh dan mendalam, ternyata ada lebih banyak kesempatan baik yang hadir di dunia nyata dibandingkan berbagai kemungkinan buruk yang kita pikirkan secara berlarut-larut, padahal belum tentu satu pun terjadi,” pungkasnya di akhir sesi berbagi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)